Bila ‘Salam Pancasila’ dan ‘Salam Oplosan’ untuk Ganti Salam Akhir Shalat

 

Ada orang yang mengusulkan agar salam Islam ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’ diganti dengan Salam Pancasila. Alasannya ya dia bikin-bikin sekenanya.


Yudian Ketua BPIP/ Rektor UIN Jogja Usulkan Ganti Assalamu’alaikum dengan Salam Pancasila?
https://www.nahimunkar.org/yudian-ketua-bpip-rektor-uin-jogja-usulkan-ganti-assalamualaikum-dengan-salam-pancasila/

 

Ada pula orang-orang yang mengamalkan dalam membuka pidatonya dengan salam oplosan. Itu terjadi di mana-mana. Yaitu salam Islam ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’ dilanjutkan dengan salam-salam agama-agama lain.


 SHARE


Salam Oplosan Mencopot Iman, Miras Oplosan Mencopot Nyawa

Islam jelas bertuhan satu, ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas. Dalam bahasa lain disebut monotheisme. Sedang

 OKT 22

 
 

 SHARE


Salam ‘Oplosan’ Merusak Iman dalam Pidato dan Doa pada Sidang Tahunan MPR 16 Agustus 2019

https://www.nahimunkar.org/salam-oplosan-merusak-iman-dalam-pidato-dan-doa-pada-sidang-tahunan-mpr-16-agustus-2019-2/

 

Islam jelas bertuhan satu, ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas. Dalam bahasa lain disebut monotheisme. Sedang monothetisme itu sangat dikecam oleh Hindu.
Kaum Hindu juga sangat membanggakan konsep Tuhan mereka yang bersifat pantheistik dan bukan monotheistik. Lebih jauh buku karya Ngakan Made Madrasuta berjudul “Tuhan, Agama dan Negara” (Media Hindu, 2010) menyatakan: “Monotheisme mengajarkan kebencian dan kekerasan, memecah belah manusia ke dalam apartheid orang beriman versus orang kafir. Tuhan pemecah belah. Pantheisme mengajarkan hal-hal sebaliknya; penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, semua manusia adalah satu keluarga, ahimsa, welas asih, Tuhan pemersatu.” (hal. 214).
Oleh karena itu, orang Islam yang mengucapkan salam Hindu, Om Swastiastu (yang itu kental dengan ketuhanan Hindu) maka dapat mengeluarkannya dari Islam alias bisa murtad dan musyrik. Na’udzubillahi min dzalik! Bila meninggal dalam keadaan tetap belum bertaubat, bila terhitung musyrik, maka haram masuk surga, dan kekal di nereka. Na’udzubillahi min dzalik!

{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ} [المائدة: 72]

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72).

Walaupun sama-sama sangat berbahaya antara salam oplosan dengan miras oplosan, namun sejatinya lebih berbahaya salam oplosan, karena jatuhnya ke syirik, menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya, yang itu dosa paling besar dan tidak diampuni bila meninggal dalam keadaan belum bertaubat.

https://www.nahimunkar.org/salam-oplosan-mencopot-iman-miras-oplosan-mencopot-nyawa/

Orang-orang yang mengamalkan salam oplosan ataupun mengusulkan untuk mengganti salam Islam dengan salam Pancasila itu sudah ‘lancang pangucap’ (Bahasa Jawa, lancang dalam berkata-kata). Sudah menginterupsi, menginovasi, dan mengintervensi agama Islam yang itu hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada yang berhak untuk mengaduk-aduk semaunya, apalagi memasukkan hal-hal yang sangat bertentangan dengan Islam.

Itu disamping ‘lancang pangucap’, masih pula mengubah kayakinan Islam, dari Tauhid (menyembah hanya kepada Allah Ta’ala) menjadi syirik (menyekutukan Allah dengan lain-Nya). Satu kemunkaran terbesar alias paling puncak. Makanya bila sampai meninggal belum bertaubat, akibatnya masuk neraka selama-lamanya dan haram masuk surga, seperti telah ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Maaidah ayat 72 di atas.

Konsekuensi logis dari orang yang mau mengganti Assalamu’alaikum dengan salam Pancasila maka ketika dia mengakhiri shalatnya atau bahkan jadi imam shalat, maka shalatnya ditutup dengan ‘Salam Pancasila (toleh kanan), ‘Salam Pancasila’ (toleh kiri).

Astaghfirulaah… Astaghfirullaah… Astaghfirullaah…

Demikian pula konsekuensi logis dari orang yang mengamalkan salam oplosan dalam membuka pidato-pidatonya, maka seperti imam besar Masjid Istiqlal Jakarta Nasaruddin Umar (wong NU), Ketua Lajnah Pentashihan Al-Qur’an Kementerian Agama Mukhlis Hanafi (wong NU juga, sebagaimana Yudian Wahyudi pengusul salam Pancasila itu juga wong NU pula), Mukhlis Hanafi menulis pembelaan terhadap Salam Oplosan di media Kemenag, dan siapa saja yang berbuat lancang begitu itu, ketika mereka mengakhiri shalatnya atau bahkan jadi imam shalat, (konsekuensi logisnya) maka shalatnya ditutup tidak cukup dengan yang biasa dalam Islam yaitu ‘Assalamu’alaikum warahmatullaah’, tetapi masih dilanjutkan dengan salam agama Hindu (yang aqidahnya tidak sama dengan Islam tersebut) dan salam-salam agama lain. Maka sempurnalah praktek amalan kemusyrikan mereka.

Dari konsekuensi logis seperti itu akan lebih sempurna lagi, ketika dipimpin oleh ulamanya (wong NU juga) yang telah bertekad menerapkan Islam Nusantara.

Di Depan Partai Nasdem, Ma’ruf Amin Janji Terapkan Islam Nusantara Jika Terpilih


Posted on 17 September 2018

by Nahimunkar.org
https://www.nahimunkar.org/di-depan-partai-nasdem-maruf-amin-janji-terapkan-islam-nusantara-jika-terpilih/

 

Ketika sudah begitu, konsekuensi logisnya pula, maka Dzikir pagi dan petangnya, di antaranya diganti dengan:

Rodhiitu bi…. robban

Wa bi… (Islam Nusantara) diinan

Wa bi…. nabiyyan

 

Komplitlah sudah dalam merusak agama secara ramai-ramai menggunakan kekuasaan yang duit gaji mereka disedot dari rakyat yang penduduknya mayoritas Muslim, bahkan jumlah penduduk Muslimnya terbesar di dunia. Betapa mengerikannya…

Na’uudzubillaahi min dzalik!

(nahimunkar.org)