Ilustrasi/ rimanews

.

 

  • Nama wapres Boediono disebut ikut bersama-sama menyalahgunakan wewenang dalam menetapkan Bank Century sebagai bank gagal yang berdampak sistemik.
  • Jaksa menyebutkan pemberian fasilitas jangka pendek bagi Bank Century, ketika menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia, merugikan negara sekitar Rp 7,4 miliar menurut perhitungan BPK.
  • Setelah Nama Boediono disebut, Publik Berharap ada Titik Terang Dalang Skandal Century
  • Teman Boediono bunuh diri gara-gara kehilangan Rp 18 miliar di Bank Century

 

Di antaranya yang bunuh diri gara-gara Bank Century itu adalah rector Universitas Katolik Atmajaya Jogjakarta, Profesor Dibyo Prabowo, teman senior dan tetangga Wapres Boediono di Jogjakarta.

Dibyo Prabowo mengakhiri hidupnya karena kehilangan Rp 18 miliar di Bank Century. Kasus ini diungkapkan oleh Siput salah satu nasabah Bank Century dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi III DPR yang berlangsung pada hari Selasa tanggal 24 November 2009. Teman Boediono yakni Dibyo Prabowo bunuh diri di bulan Ramadhan 1430H/ 2009 lalu.

Kini nama wapres Boediono disebut ikut bersama-sama menyalahgunakan wewenang dalam menetapkan Bank Century sebagai bank gagal yang berdampak sistemik.

Inilah beritanya.

***

 

Boediono Terlibat Dalam Kasus Bank Century?

 

Jakarta – Wakil Presiden Boediono disebut dalam sidang perdana kasus dugaan korupsi pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek FPJP Bank Century, dengan terdakwa mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Bidang Pengelolaan Moneter dan Devisa, Budi Mulya.

Dalam sidang perdana kasus dugaan korupsi pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek Bank Century dengan terdakwa Mantan Deputi Gubernur BI Budi Mulya, nama wapres Boediono disebut ikut bersama-sama menyalahgunakan wewenang dalam menetapkan Bank Century sebagai bank gagal yang berdampak sistemik.

“Bahwa terdakwa Budi Mulya selaku deputi gubernur Bank Indonesia bidang pengelolaan moneter dan devisa, bersama-sama dengan Boediono selaku Gubernur Bank Indonesia, Miranda Swaray Goeltom selaku deputi gubernur senior Bank Indonesia, Siti Halimah Fajriah selaku deputi gubernur bidang VI pengawasan bank umum dan bank syariah, Budi Rochadi (almarhum) selaku Deputi Gubernur Bidang 7, serta bersama-sama dengan Robert Tantular dan Harmanus H Muslim dalam kaitannya dengan pemberian FPJP,” jelas Jaksa KMS Roni.

Jaksa menyebutkan pemberian fasilitas jangka pendek bagi Bank Century, ketika menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia, merugikan negara sekitar Rp 7,4 miliar menurut perhitungan BPK. Dalam persidangan Budi Mulya mengatakan hanya menjalankan tugas sebagai deputi gubernur BI.

“Yang mulia hakim ketua, para hakim anggota majelis hakim, saya secara bahasa mendengar seluruh dakwaan dan mengerti, namun secara hukum saya tidak mengerti, mohon maaf karena saya hanya menjalankan tugas,” kata Budi Mulya.

Budi Mulya didakwa dengan Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Serta, Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Dalam Kasus dugaan Bank Century, KPK telah memeriksa ratusan saksi termasuk mantan Gubernur BI, Boediono. Sejak awal, Boediono berpendapat bahwa penyelamatan Bank Century diperlukan agar tidak berdampak pada kejatuhan bank-bank swasta lainnya. Mungkin Januari 2015 nanti, Boediono akan menjadi pesakitan seperti Budi Mulya yang diancam hukuman 20 tahun. (afgh/dbs/voa-islam.com) Selasa, 12 Jumadil Awwal 1435 H / 11 Maret 2014 18:08 wib

***

Teman Boediono Bunuh Diri gara-gara Bank Century

Sudah empat orang nasabah Bank Century bunuh diri akibat stress karena sejumlah uang mereka belum ada tanda-tanda kembali. Di antaranya yang bunuh diri itu adalah rector Universitas Katolik Atmajaya Jogjakarta, Profesor Dibyo Prabowo, teman senior dan tetangga Wapres Budiono di Jogjakarta.Namun sampai kini nasib nasabah bank Century tetap tidak jelas.

Kasus Bank Century tidak hanya menghasilkan stress berat bagi nasabah yang dananya tidak bisa cair, tetapi lebih jauh dari itu menghasilkan kasus bunuh diri. Salah satu korbannya adalah Prof. Dibyo Prabowo, Guru Besar Ekonomi Universitas Gadjah Mada Jogjakarta yang juga senior Boediono (mantan Gubernur BI yang kemudian menjadi Wakil Presiden mendampingi SBY).

Dibyo Prabowo mengakhiri hidupnya karena kehilangan Rp 18 miliar di Bank Century. Kasus ini diungkapkan oleh Siput salah satu nasabah Bank Century dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi III DPR yang berlangsung pada hari Selasa tanggal 24 November 2009.

Menurut Siput, sebelum meninggal Profesor Dibyo Prabowo menjabat sebagai Rektor Universitas Atmajaya Yogyakarta. Beliau meninggal di bulan Ramadhan 1430H/ 2009 lalu. Bahkan, Boediono ikut menghadiri persemayaman terakhir Dibyo di rumahnya yang terletak di Sawitsari, Sleman, berdekatan dengan rumah Boediono. Profesor Dibyo bukan satu-satunya korban Century yang berakhir dengan bunuh diri. Masih terdapat tiga korban lainnya, salah satunya adalah Sayuti, pejabat Bank Century yang berdomisili di Jambi. (lihat nahimunkar.com, Macam-macam Bunuh Diri dan Penyebabnya, December 14, 2009 9:28 pm) (nahimunkar.com, Kordinator Nasabah Bank Century Ancam Adakan Aksi, 7 MARCH 2010)

***

Setelah Nama Boediono disebut, Publik Berharap ada Titik Terang Dalang Skandal Century

Fri, 07/03/2014 – 06:40 WIB

 RIMANEWS – Publik berharap ada titik terang yang terungkap dalam mega skandal Century setelah nama mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono disebut 67 kali dalam dakwaan jaksaan penuntut umum dalam sidang perdana kasus ini dengan tersangka mantan Deputi Gubernur BI, Budi Mulya, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor)

“Benarkah Boediono terlibat dan bersalah dalam mega skandal tersebut?,” sebut Ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Lidya Natalia Sartono, (Kamis, 6/3).

Menurut Lidya, komitmen pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memberantas korupsi harus ditunjukan kepada rakyat. Oleh karena itu dugaan keterlibatan Boediono, yang kini menjabat Wakil Presiden, seharusnya juga mendapat dukungan dari presiden.

Di sisi lain, lanjut Lidya, situasi ini juga sepertinya sangat rawan untuk dimanfaatkan oleh banyak kepentingan politik. Rakyat tentu bertanya, setelah selesai Pansus, sikap parlemen terkesan melemah dan lalu kembali ganas dimasa mendekati pemilu.

“Kita tentu berharap pengungkapan kasus mega skandal century berjalan dalam proses hukum yang benar dan tanpa tebang pilih. Wapres Boediono kita harapkan agar dapat menunjukan sikap kenegarawanannya dalam situasi yang sangat politis ini,” tantang Lidya. (IM/RM)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 507 kali, 1 untuk hari ini)