Ulama Sunni & Ribuan Santri Tolak Ajaran Syi’ah di Bondowoso Jatim, Ahad 3/ 4 2016 / foto bondowoso.memo-x.com/


Kesepakatan para ulama yang menolak aliran sesat syiah, dan Pergub Jatim tetang pengawasan aliran sesat, ternyata tidak digubris oleh aliran sesat syiah. Kelompok aliran sesat syiah tetap mengadakan acara di Bondowoso Jatim, Rabu (6/4/2016). Padahal tiga hari sebelumnya, ribuan Umat Islam turun ke jalan ramai-ramai menolak syiah yang telah difatwakan sesat oleh MUI Jatim No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 TENTANG KESESATAN AJARAN SYI’AH. (Fatwa seutuhnya dapat dibaca di sini: https://www.nahimunkar.org/fatwa-mui-jawa-timur-tentang-kesesatan-ajaran-syiah/ ).

Bahkan sudah ditetapkan Peraturan Gubernur Jawa Timur: No. 55 Tahun 2012 Tentang Pembinaan Kegiatan Keagamaan dan Pengawasan Aliran Sesat di Jawa Timur. Kemudian Kiai se-Jawa Timur Minta Kaum Syiah Patuhi Pergub Jatim No 55 Th 2012 tersebut. Namun aliran sesat syiah tetap mengadakan acara lalu disiarkan dengan bangganya, seakan justu menampar umat Islam terang-terangan.

Berikut ini berita tentang ribuan Umat Islam Bondowoso menolak syiah, namun dua hari berikutnya syiah Bondowoso nekat mengadakan acara.
Inilah beritanya.

***

Tolak Milad Fatimah

Bondowoso, Ribuan Massa Saat Turun ke Jalan untuk Melakukan Long March Tolak Milad Fatimah

Gabungan Ormas Islam di Bondowoso Tolak Milad Fatimah

BONDOWOSO – Ribuan massa turun ke jalan melakukan long march dari masjid Al Muhibbin sampai paseban alun-alun Kota Bondowoso, Minggu (03/04). Ribuan massa yang tergabung dalam Forum Komunikasi Ulama’ Sunni (Fokus) ini menolak Milad Fatimah yang akan digelar oleh Golongan Syiah.

Informasi yang berhasil dihimpun Suarajatimpost.com, Rencananya Kaum Syiah ini akan menggelar acara tersebut pada tanggal 4 hingga 6 April 2016 di Kampung Arab, Bondowoso. Namun hal tersebut mendapat penolakan dari berbagai golongan di Kabupaten Bondowoso. Tak hanya NU saja, tapi ormas Islam lain seperti Muhammadiyah dan Al Irsyad juga ikut menolak.

Menurut Koordinator Aksi, K.H. Muhammad Hasan Abdul Muiz, Forum Komunikasi Ulama’ Sunni(Fokus) ini terdiri dari, as Shofwah Niqobah Bondowoso (Himpunan Alumni Sayyid Muhammad Alawai al-Maliki, Makkah), IKSAS (Ikatan Santri Alumni Sukorejo), IASS (Ikatan Alumni dan Santri Sidogiri) Cabang Bondowoso, IAS (Ikatan Alumni Santri Sarang) Cabang Bondowoso, Tanaszaha (Ikatan Alumni dan Santri Zianul Hasan Genggong), beberapa MWC NU, puluhan pesantren dan beberapa Ormas Islam di Kabupaten Bondowoso.

“Ada kurang lebih 3.000an massa perwakilan dari 30 pesantren yang ada di Bondowoso. Selain itu, ribuan massa ini bukan hanya dari unsur NU, melainkan juga dari unsur Muhammadiyah, dan Al-Irsyad yang juga bergabung dengan kita,” jelas koordinator aksi K.H. Muhammad HasanAbdul Muiz, yang juga pengasuh PP Sayyid Muhammad Alawi Almaliki Koncer.

K.H. Muhammad HasanAbdul Muiz menambahkan bahwa pada tahun ini penolakan Kaum Sunni terhadap pelaksanaan Milad Fatimah lebih tegas dan kompak. Hal ini dikarenakan, pelaksanaan Milad Fatimah kali ini akan menghadirkan salah seorang penceramah yang sering menghina Nabi Muhammad SAW dan tiga orang sahabatnya selain Ali Bin Abi Thalib yakni Abu Bakar As Shiddiq, Umar Bin Khattab dan Ustman bin Affan. Sedangkan Golonganan Sunni atau Ahlussunnah Wal Jama’ah sangat menghormati Nabi Muhammad, keluargaNya dan para sahabatNya.

“Golongan-golongan yang mencaci maki nabi, keluarga Nabi dan Sahabat-sahabatnya, apapun nama alirannya itu, kita tolak,” tegasnya.

Menurutnya, aksi long march ini untuk mendorong aparat keamanan ataupun Pemerintah Kabupaten Bondowoso supaya mengatur dan mengontrol acara Milad Fatimah supaya tidak mangandung provokasi terhadap hak mayoritas yaitu masyarakat Sunni. Jika pelaksanaannya ada unsur provokatif dan menyinggung hak mayoritas, maka ia dan ormas lainnya yang tergabung dalam Fokus akan datang dengan massa yang lebih besar lagi.

“Jika dalam pelaksanaan Milad Fatimah nanti ada unsur provokasi dengan mencaci sahabat maupun keluarga nabi yang lain, maka kita akan datang dengan kekuatan yang lebih besar lagi,” tambahnya.

Aksi damai yang mengusung tema “Penguatan Aqidah Ummat Demi Keutuhan NKRI” mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, dan hingga akhir aksi, suasana tetap berjalan lancar.(*)

Reporter : Abdul Wahet/Suarajatimpost.com/03/04/2016

***

5000 Warga NU Bondowoso Turun Kejalan Menolak Syiah

Warga NU Bondowoso

Islamedia – Penolakan terhadap ajaran sesat Syiah terus bermunculan di Indonesia, kali ini penolakan dari Umat Islam berasal dari Bondowoso Jawa Timur. Lebih dari 5000 massa yang mayoritas merupakan warga Nahdlatul Ulama (NU) menggelar aksi turun ke jalan untuk menolak aktivitas Syiah di Bondowoso, ahad (3/4/2016).

Aksi ini dikuti oleh sekitar 5000 masa dari beberapa elemen masyarakat terdiri dari pondok pesantren, ormas ikatan alumni pondok peaantren yg tergabung dlm Fokus ( forum komunikasi ulama sunni) dengan agenda aksi membentengi aqidah ahlus sunnah dari tipu daya dan rongrongan syiah rofidhah” ujar salah satu peserta aksi bernama ustadz Danok sebagaimana dilansir bersamadakwah.

Peserta aksi terhimpun dalam Forum Komunikasi Ulama Sunni (FOKUS) yang berasal dari berbagai pesantren, seperti : as Shofwah niqobah Bondowoso-Situbondo (himpunan alumni Sayyid Muhammad Alawi al Maliki, Makkah), IKSAS (Ikatan Santri dan Alumni Sukorejo) Cab. Bondowoso, IASS (Ikatan Alumni dan Santri Sidogiri) Cab. Bondowoso, IAS (Ikatan Alumni Sarang) Cab. Bondowoso, Tanaszaha (Ikatan Alumni dan Santri Zainul Hasan Genggong) Cab. Bondowoso, Ar Ruhama (Ikatan Alumni Pesantren Sayyid Muhammad al Maliki, Bondowoso), beberapa MWC NU, puluhan pesantren dan ORMAS Islam di Bondowoso

Dengan mengenakan pakaian dan kopyah warna putih para peserta memulai aksi sekitar pukul 07:30 pagi dengan berjalan menyusuri ruas jalan Bondowoso. Para peserta juga membawa atribut yang bertuliskan penolakan terhadap ajaran syiah yang sudah menyimpang dari Islam dan cenderung melecehkan Islam, khususnya Ahlu Sunnah Wal Jamaah.

“DEMI PERSATUAN NKRI KITA TOLAK AJARAN PENCACI SAHABAT NABI SAW” bunyi salah satu atribut peserta aksi. Ada juga peserta yang membawa atribut bergambar foto pendiri NU Syeikh Hasyim Asyari dengan bertuliskan “KAMI BERGERAK ATAS DASAR FATWA-FATWA HADROTUS SYEIKH KH.HASYIM ASYARI”.

HADROTUS SYEIKH KH.HASYIM ASYARI”.

FOKUS juga telah melakukan audensi dengan Bupati Bondowoso agar menggagalkan acara-acara yang akan dilaksanakan oleh kelompok Syiah. Yang secara hukum melanggar PERGUB No. 55 tahun 2012. [islamedia/mh]

Sumber: islamedia.id/Senin, 4 April 2016

***

Bondowoso Darurat Syiah, Ribuan Penganut Syiah Hadiri Maulid Fatimah

, Ritual Syiah di Indonesia, 2013

Illustrasi, Ritual Syiah di Indonesia, 2013

Syaihindonesia.com – Ribuan pengikut ajaran Syiah menghadiri acara Milad putri Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah Az-Zahra RA di Kota Bondowoso, Rabu (6/4/2016).

Mereka berasal berbagai daerah di Karesidenan Besuki. Tampak berjajar rapi puluhan bahkan ratusan motor, mobil hingga truk mulai dari alun-alun kota Bondowoso sampai belakang kawasan Yayasan Islam Madrasah Al-Falah Al-Khairiyah (YIMA), Kademangan.

Sebelumnya, acara yang berlangsung dari tanggal 4 April itu mendapat penolakan keras dari umat Islam di Bondowoso. Ribuan umat Islam melakukan long march untuk membubarkan acara yang berlangsung sekitar dua jam itu, namun acara tahunan itu tetap berlangsung.

“Semakin kencang angin berhembus maka semakin tegak kami melangkah,” demikian salah satu pernyataan penganut Syiah di media sosial.

Salah seorang pengurus Pondok Pesantren Al Ishlah Bondowoso yang enggan disebut namanya menuturkan keresahanya terkait acara tersebut.

“Aqidah kota Bondowoso terancam, karena acara Syiah berjalan dengan lancar. Kalimat ‘Bondowoso damai bersama Milad Fatimah as’ menandakan Syiah punya ruang gerak yang sangat luas di kota Bondowoso ini,” ujarnya.

Bondowoso, kota yang sering disebut sebagai kota kecil atau kota mati itupun tidak layak diremehkan. Kota kecil itu disulap menjadi basis Syiah terbesar di Jawa Timur. Mereka pun tak canggung lagi menampakkan diri, salah satunya adalah perayaan Milad Fathimah yang digelar setiap tahunnya. (jurnalislam)
Sumber: syiahindonesia.com

***

Kiai se-Jawa Timur Minta Kaum Syiah Patuhi Pergub Jatim No 55 Th 2012

SAMPANG (VoA-Islam) – Kiai NU se-Jawa Timur mendesak kaum Syiah di wilayah Jawa Timur, khususnya Sampang dan sekitarnya agar mematuhi Peraturan Gubernur Jawa Timur: No. 55 Tahun 2012 Tentang Pembinaan Kegiatan Keagamaan dan Pengawasan Aliran Sesat di Jawa Timur.

Rais Syuriah PWNU Jatim KH Abdurrahman Navis mengimbau agar Tajul Muluk dan pengikutnya agar kembali ke Sunni, dan anak-anak yang dahulunya belajar di pesantren Syiah, agar dikembalikan untuk dimasukkan ke pesantren Sunni. “Ini untuk mencegah agar tidak terjadi konflik berkelanjutan. Dan tidak ada lagi kader Syiah yang dibentuk di pesantren milik Syiah. Pemerintah punya kekuatan hukum di Jatim yang telah memberlakukan Pergub No 55 tahun 2012. Tajul Muluk dan pengikutnya harus patuh pada hukum yang berlaku. “

Seperti diketahui, Surat Keputusan (SK) Gubernur Jawa Timur tentang Pembinaan Keagamaan dan Pengawasan Aliran Sesat bisa menjadi acuan aparat penegak hukum untuk menciptakan harmonisasi hubungan kelompok-kelompok dan aliran keagamaan di Jawa Timur, khususnya dalam menyangkut hubungan Sunni dan Syiah.

Di antara pasal ada tertulis, “Setiap orang apabila mengetahui adanya aliran yang diduga sesat, berkewajiban untuk memberitahukan kepada aparat berwenang dan tidak bertindak di luar ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.”

Dalam pasal 1 poin 6 bahkan tertulis yang dianggap aliran sesat manakala ia menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama yang bersangkutan.

“Aliran sesat adalah faham atau ajaran yang menamakan diri sebagai suatu ajaran agama dan pemikiran atau pendapat-pendapat tentang ajaran agama yang isinya menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama berdasarkan pertimbangan dari masing-masing majelis agama yang bersangkutan.”

Selanjutnya dalam pasal 4 poin 1, dijelaskan, “Setiap kegiatan keagamaan dilarang berisi hasutan, penodaan, penghinaan dan/atau penafsiran yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama yang dianut di Indonesia, sehingga dapat menimbulkan gangguan ketentraman dan ketertiban masyarakat.”

“Terhadap kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Pemerintah Daerah harus segera menghentikan kegiatan tersebut.” (pasal 5, poin 1)

Aparat juga berhak menegur kelompok bersangkutan jika dinilai ada kemungkinan akan menimbulkan gesekan dan disharmoni. Namun jika diabaikan, kelompok yang bersangkutan bisa ditindak secara hukum.

“Apabila setelah mendapat teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam kurun waktu 1 (satu) bulan terhitung sejak diterimanya teguran, masih tetap melakukan kegiatan, kepada yang bersangkutan dikenakan sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.” (pasal 6).*

Di bawah ini cuplikan lengkap SK Gubernur Jawa Timur :

Peraturan Gubernur Jawa Timur: No. 55 Tahun 2012 Tentang Pembinaan Kegiatan Keagamaan dan Pengawasan Aliran Sesat di Jawa Timur).

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: PERATURAN GUBERNUR TENTANG PEMBINAAN KEGIATAN KEAGAMAAN ALIRAN SESAT DI JAWA TIMUR

Pasal 1

Dalam Peraturan Gubernur ini yang dimaksud dengan

  1. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Jawa Timur
  2. Kegiatan keagamaan adalah kegiatan berupa penyebaran faham atau bentuk lainnya yang berisi tentang ajaran agama
  3. Masyarakat adalah masyarakat yang berada dalam wilayah Provinsi Jawa Timur.
  4. Pembinaan kegiatan keagamaan adalah upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah bersama instansi terkait untuk mewujudkan tercapainya kerukunan kehidupan umat beragama.
  5. Pengawasan aliran sesat adalah upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah bersama instansi terkait untuk menjamin agar kerukunan kehidupan umat beragama dapat berjalan secara harmonis, saling pengertian, saling menghormati.
  6. Aliran sesat adalah faham atau ajaran yang menamakan diri sebagai suatu ajaran agama dan pemikiran atau pendapat-pendapat tentang ajaran agama yang isinya menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama berdasarkan pertimbangan dari masing-masing majelis agama yang bersangkutan

Pasal 2

Dalam rangka memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat dalam kehidupan beragama, kegiatan keagamaan harus dapat menumbuhkembangkan keharmonisan, saling pengertian, dan saling menghormati di antara umat beragama.

Pasal 3

(1) Pembinaan kegiatan keagamaan dilakukan oleh Pemerintah Daerah dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat.

(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib rnelibatkan unsur Kementerian Agama Provinsi dan Kabupaten/Kota dan masing-masing majelis agama yang bersangkutan.

Pasal 4

(1) Setiap kegiatan keagamaan dilarang berisi hasutan, penodaan, penghinaan dan/atau penafsiran yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama yang dianut di Indonesia, sehingga dapat menimbulkan gangguan ketentraman dan ketertiban masyarakat.

Pasal 5

(1) Terhadap kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Pemerintah Daerah harus segera menghentikan kegiatan tersebut.

(2) Kegiatan keagamaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikategorikan sebagai aliran sesat apabila memenuhi kriteria dan pertimbangan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk agama Islam dan untuk agama lain dari majelis agama yang bersangkutan. [Baca 10 Kreteria Alisan Sesat MUI]

Pasal 6

(1) Pemerintah Daerah memberikan teguran -secara tertulis terhadap pelaku kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1).

(2) Apabila setelah mendapat teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam kurun waktu 1 (satu) bulan terhitung sejak diterimanya teguran, masih tetap melakukan kegiatan, kepada yang bersangkutan dikenakan sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 7

Setiap orang apabila mengetahui adanya aliran yang diduga sesat, berkewajiban untuk memberitahukan kepada aparat berwenang dan tidak bertindak diluar ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 8

Peraturan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Acara setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Gubernur ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Provinsi Jawa Timur.

DIUNDANGKAN DALAM BERITA DAERAH

PROVINSI JAWA TIMUR

Dr. H. Soekarwo

Ditetapkan di Surabaya, Pada tanggal 23 Juli 2012

Desastian/dbs/hidcom/voaislam.com, Rabu, 1 Rajab 1437 H / 29 Agutus 2012

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.275 kali, 2 untuk hari ini)