Warga net sedang rama-ramainya membahas soal brosur dari Direktorat Jenderal Perpajakan atau Ditjen Pajak. Pasalnya, dalam brosur tersebut menggunakan nama Yesus, tuhannya Ummat kristian.

Yang dibuat hebohnya, Yesus dikatakan sebagai orang yang taat pajak. “Yesus juga memberi contoh sikap taat dalam membayar Bea Bait Allah,” tulis brosur tersebut lengkap dengan gambar Yesus. Pada halaman lain dalam brosur tersebut, terpampan salah satu ayat injil yang berbicara soal perpajakan.

Brousur tersebut pertamakali diunggah oleh akun twitter @Gmontadaro. “Hmmm kenapa contohnya pake Yesus ya @DitjenPajakRI ?,” tulisnya.

Alhasil beberapa warga net ikut mengomentari brosur tersebut yang dianggap sebagai kesalahan dari Ditjen Pajak.

“Wah… ini kantor pajek salah nulis mas… umat lah yg membayar pajak @DitjenPajakRI ganti ganti pak ….dari kutipan ayat ayat di Injil tidak ada ayat yang menyatakan Yesus bayar pajak.. tapi ajar kan umat nya utk taat pajak .. duh yang bikin siapa nih ganti pak, tulis akun @bengkeldodo.

“Tuhan kok bayar pajak, dmn nalar manusianya,” kata akun @panjiGarutFm

“Kalo ini bukan hoax.. luar biasa ditjen pajak. Sangat luar biasa KEBLINGER nya.” sindir akun @bandabening.

Secara terpisah, Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat (P2Humas) Ditjen Pajak, Hestu Yoga Saksama kepada Wartawan menjelaskan bahwa, dalam brosur tersebut memang sengaja diambil dalam sudut pandang agama. Bukan saja agama Kristen, namun juga Agama lainnya yang ada di Indonesia, seperti agama Islam, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

“Iya, itu materialisasi kesadaran pajak dari perspektif agama Kristen. Kami juga buat yang dari perspektif agama Islam, Hindu, Budhha, dan Konghucu,” jelas Yoga.

Namun Yoga menjelaskan, penggunaan materi tersebut tidak pada semua kalangan, hanya kepada kalangan tertentu.  “Tentunya penggunaan materi-materi tersebut untuk kalangan yang sesuai,” sambungnya. (dal/fajar)

Sumber : fajar.co.id

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.177 kali, 1 untuk hari ini)