.

Kasus Pertama: 

Kisah Nyata Seorang Mahasiswi Yang Diculik Lalu Dimurtadkan

Nadiyah ( Nanin) menghembuskan nafas terahirnya Rabu (19/2/14), pukul 06.30,  di rumah sakit Darmais, Jl. S.Parman, Slipi-Jakarta Barat. Nadiyah menderita penyakit kanker payudara kronis setelah sebelumnya ia sempat dirawat di Rumah Sakit PMI Bogor. Kematiannyapun diperebutkan antara keluarga yang muslim dengan kelompok misionaris Kharismatik yang telah memurtadkan Nadiyah.

Keluarga yang mendapingi Nadiyah di Rumah Sakit Kangker Darmais hingga anak malang ini menghembuskan nafas terakhir adalah ibu kandungnya. Ibu Nadiyah  mengakui kalau Nadiyah meninggal secara Islam karena saat sakaratul maut ia ditalkinkan dan sempat mengucapkan syahadat. Oleh karena itu keluarga meminta agar dimakamkan secara Islam.

Tapi dari keluarga yang mengaku sebagai Suami, Nadiyah sudah dibaptis menjadi seorang Kristen dan dia harus dimakamkan secara Kristen. Perebutan mayat  Nadiyah berlangsung tegang. Namun Karena ibu nadiyah hanya seorang diri berjuang, ia kalah kuat. Akhirnya ibu Nadiyah yang menjagai putrinya di rumah sakit terpaksa mengalah. Tak mampu menghadapi tekanan dan ancaman dari kelompok misionaris Kharismatik yang telah memurtadkan Nadiyah. Nadiyah direlakan dimakamkan secara Kristen di Bogor, Jawa Barat.

Kisah nyata yang dialami  keluarga Nadiyah asal Bukit Tinggi, Sumatera Barat ini, menarik menjadi pelajaran (Ibroh) bagi keluarga yang melepaskan anaknya terutama putri  menuntut ilmu jauh dari lingkungan keluarga. Sebab, di perguruan tinggi terlalu banyak lembaga misionaris yang setiap saat akan mengancam aqidah  mahasiswa. Dan itulah yang dialami Nadiyah.

Al Kisah, sekira tahun 2009,  Nadiyah menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi pertanian milik pemerintah di Kabupaten Bogor-Jawa Barat. Seperti layaknya mahasiswa mereka akrab dengan aktifitas kemahasiswaan. Nadiyah pun termasuk mahasiswa yang sangat aktif berorganisasi. Ia memasuki salah satu oranisasi Islam non kampus.

Nadiyah juga aktif dalam kegiatan tarbiyah di kampusnya. Seperti melakukan kajian Islam, diskusi dan berbagai kegiatan Islam yang dikelola mahasiwa. Para aktifis kampus memang menjadi incaran misonaris yang juga bergerak di kampus kampus.

Ia tak sadar jika aktifitasnya menjadi perhatian kelompok missionaris yang beroperasi di kampusnya. Menurut ustadz Drs. Abu Deedat Syihabuddin, MH, seorang  pakar Kristologi dari Tim Fakta/Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan di kampus tempat Nadiyah menuntut ilmu ada lemba-lemba Kristen yang sangat aktif menggarap mahasiswa untuk dimurtadkan. Lembaga itu diantaranya, (Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI), Persekutuan Antar Universitas, Navigator, Sion dan Kharismatik.

Nadiyah menjadi incaran missionaris, boleh jadi karena ia anak Bukit Tinggi yang terkenal kuat keimanannya dan memiliki nilai jual  di kalangan missionaries jika berhasil memurtadkannya. Sebab jarang sekali orang Bukit Tinggi yang memeluk Kristen.

Tak  jelas ceritanya. Nadiyah yang cantik dan periang itu tiba-tiba menghilang dari jangkauan keluarga. Tak ada yang tahu kemana perginya Nadiyah. Keluarga sudah berusaha menanyakan ke kampusnya. Tapi jawaban yang diterima tak ada yang tahu.  Nadiyah bagai hilang ditelan bumi.

Setelah empat tahun berlalu, akhirnya keluarga menemukan Nadiyah dalam keadaan sakit kanker payudara di rumah sakit PMI Bogor. Yang membuat hati ibunya hancur adalah putri yang sudah lama ia cari  itu telah berpindah agama. Sudah menjadi seorang Nashrani/Kristen.

Konon katanya Nadiyah diculik lalu disekap dalam waktu yang cukup lama. Selama dalam penyekapan Nadiyah dicecokin dengan ajaran-ajaran Kristen. Entah bagaimana ceritanya Nadiyahpun dinikahkan dengan cara Kristen.

Mengetahui anaknya telah berbeda keyakinan dengannya,  ibu Nadiyah lunglai. Penglihatannya berkunang-kunang serasa tak percaya kalau anak yang paling ia sayangi itu sudah dibaptis sebagai seorang Kristen.

Dalam suasana kalut ibu Nadiyah nyaris tak mampu menahan berat beban tubuhnya karena sangat lemah dan terpukul atas nasib yang diderita anaknya. Sudah murtad, sakit kanker payudara stadium 4 lagi.

Ia berusaha menguatkan diri agar tegar menghadapi musibah yang mengguncang hatinya. Dengan sisa-sisa kekuatan yang dimiliki ia berusaha mengajari anaknya itu kembali ke keyakinannya. Tapi pihak keluarga yang mengaku sebagai suaminya Nadiyah keberatan dengan usaha ibu Nadiyah.

Melihat penyakit yang diderita Nadiyah semakin berat, keluarga sepakat untuk memindahkan perawatan Nadiyah dari Rumah Sakit PMI Bogor ke Rumah Sakit Kanker di Jl. S. Parman, Slipi Jakarta Barat.

Di Rumah Sakit Kanker ini ibu Nadiyah terus mentalkinkan anaknya meski gangguan juga terus datang dari  suaminya dan kelompok missionaris yang telah memurtadkan. Menjelang ajalnya, akhirnya Nadiah menurut ibunya kembali ke Islam dengan mengucapkan dua kalimah syahadah. “Wallohu a’lam”

Kasus itu selayaknya untuk diusut tuntas, dan dikenai hukuman berat, serta ditutup lembaganya, agar kekurangajaran pihak pemurtad dan semacamnya itu tidak semakin menjadi-jadi dan mengancam umat Islam terutama kaum Muslimah, mahasiswi, dan gadis-gadis Umat Islam.

Kepada kaum Muslimin, Alloh sudah mengingatkan kita  lewat Al-Qur’an, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.

Adalah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjaga keyakinan kita kerabat kita jangan sampai berpaling dari dien/agama Alloh yaitu Agama Islam. Oleh karena itu penanaman aqidah di lingkungan keluarga sangat penting. Tak cukup hanya dengan mengajarkan tentang iman kepada Alloh tapi juga bagaimana meyakinkan keluarga terhadap iman dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Kita dapat mengambil pelajaran dari turunnya ayat-ayat Makiyah yang orintasinya tentang keimanan. Selama 13 tahun Nabi Muhammad bin Abdillah Shallallohu’ Alaihi wa Sallam berdakwah di Mekkah sebelum hijirah ke Madinah, Nabi Muhammad Shallallohu’ Alaihi wa Sallam berusaha menanamkan pondasi keimanan terhadap para sahabat. Hasil kita ketahui betapa kuatnya keimanan para sahabat. Mereka tak tergoda dengan pangkat, kedudukan, harta dan wanita.

Salah satu contoh  diantara yang rela mati demi mempertahankan keyakinannya adalah Bilal bin Rabah. Ia disiksa, diseret dipadang pasir hingga tubuhnya luka-luka bahkan ditindih dengan batu yang besar, tapi ia tak mau melepaskan keyakinannya ia tetap beriman kepada Alloh.

Padahal jika ia mau menuruti majikannya dengan meninggalkan Iman dan Islamnya, Bilal bin Rabah tak perlu menderita disiksa oleh majikannya. Bahkan ia dijanjikan untuk dimerdekakan. Bilal bin Rabah adalah sosok muslim imannya yang sangat teguh dan kuat.

Bandingkan dengan keimanan generasi Islam sekarang. Mereka sangat labil imannya tak tertancap dalam  hatinya. Iman hanya sekedar simbol keislaman bukan menjadi keyakinan. Itu sebabnya mereka sangat rentan dengan pemurtadan (kristenisasi).

Lihat nasib Asmiranda dan sejumlah artis yang murtad. Mereka dengan mudah menggadaikan imannya hanya karena seorang pacar yang telah menggaulinya. Mereka merasa bahwa pindah agama seperti pindah dari partai politik yang sebelumnya partai A kemudian pindah ke partai B. Begitu rapuh keyakinan generasi kita sekarang.

Ada benarnya pernyataan ustadz Abu Deedat Syihabuddin, seorang Kristolog yang aktif menyelamatkan umat Islam yang pernah dimurtadkan.

Menurut Abu Deedat, aksi-aksi pemurtadan lewat Memacari, Menghamili dan Memurtadkan alias Sandi Air Mata atau 3 M sudah menjadi salah satu gaya pemurtadan yang dilakukan missonaris di Indonesia.

“Banyak orang yang tak percaya dengan uangkapan itu karena belum menimpa dirinya. Tapi kalau sudah menimpa dirinya baru sadar kalau keluarganya tak luput dari incaran missionaris untuk dimurtadkan” kata Abu Deedat.

Semoga kisah nyata yang dialami Nadiyah itu menjadi ibroh/pelajaran bagi umat Islam, terutama yang memiliki gadis Muslimah. Perhatikanlah siapa teman gadis kita. Jangan sudah tahu berteman dengan Kristen masih tetap dibiarkan dengan alasan teman biasa. Padahal jangan-jangan gadis kita sudah menjadi target pemurtadan. Jika gadis kita sudah jatuh cinta apalagi sudah merelakan dan menyerahkan kehormatannya selangkah lagi gadis kita akan murtad. “Kalau sudah jatuh cinta tai kambing terasa coklat” pepatah itu berlaku bagi gadis-gadis Islam yang dimurtadkan. Semoga Alloh melindungi kita dan keluarga kita dari aksi-aksi pemurtadan.***

Catatan   : Ini kisah nyata. Jika ada kebetulan nama yang sama yang terlutis dalam kisah ini tak dimaksud untuk melecehkan. Nama Nadiyah itu bukan nama sebenarnya.

 ___

 

Kasus Kedua:

Hati-hati dengan Modus Pemurtadan lewat Facebook.

Lagi-lagi kasus pemurtadan menimpa umat Islam. Seorang gadis asal Dumai minggat selama 6 bulan. Saat ditemukan ia dalam kondisi hamil. Korban tertipu teman pria yang dikenalnya lewat facebook.

Lagi-lagi situs jejaring sosial facebook bikin kalang kabut orang tua, pasalnya anak gadisnya yang berumur (16) dibawa kabur oleh pria kenalannya di jejaring sosial tersebut. Kali ini kasus terkuak dari Bunga (16) (nama samaran) seorang anak dari pasangan Rubio dan Darmawati warga Dumai, dan sekaligus siswi kelas III SMK Taruna Persada Kota Dumai, sejak 11 Juli 2011 lalu meninggalkan kedua orang tua untuk kabur bersama kenalannya yang didapat dari jejaring sosial facebook.

Mendapati anak gadisnya pergi tanpa pamit, membuat kedua orangtuanya melakukan pencarian, selama enam bulan akhirnya kedua orang tuanya menemukan anak gadisnya di Perawang Kabupaten Siak, dengan kondisi sudah dinikahi oleh pria kenalannya yang berinisial J (21) yang juga warga Kota Dumai. Kendati sudah dinikahi oleh pria kenalannya itu, Bunga merasa depresi. Sebab hal itu dipicu dengan keterkaitan soal beda keyakinan dengan sang pria kenalannya tersebut.

Sementara pengakuan secara langsung Bunga kepada orangtuanya dengan kejadian ini mengatakan, bahwa tidak lama kenalan akhirnya sempat menjalin hubungan cinta melalui jejaring social tersebut. Setelah menjalin hubungan cinta, dirinya langsung diajak oleh kekasihnya untuk keluar kota. Dengan bermodalkan cinta dan kasih sayang, akhirnya dirinya pun mengikuti kehedak sang kekasih pujaan hatinya tersebut untuk keluar kota, yaitu ke Medan Provinsi Sumatera Utara tempat sanak familynya.

Masih pengakuan Bunga lagi, setelah sampai di Kota Medan Sumut, dirinya di inapkan oleh kekasihnya di salah satu  Gereja. Tak hanya itu saja, dirinya juga dididik untuk mempelajari tentang keyakinan soal agama. Tentunya dengan kejadian tersebut, membuat dirinya syok, sebabBunga menganut keyakinan agama Islam. Setelah tak banyak bisa melakukan apa-apa, Bungapun akhirnya mengikuti kehendak sang pria yang menikahi dirinya.

Tak hanya itu saja, dirinya juga dipaksa oleh kekasihnya untuk mengonsumsi makanan daging babi. “Saya dipaksa untuk makan daging babi oleh keluarga dan sanak familynya. Dengan tidak adanya siapapun yang saya kenal, akhirnya saya pun memaksakan untuk memakannya meskipun saya mual-mual,” jelas Bunga kepada orang tuanya sembari melanjutkan. “Setelah usai melakukan prosesi pernikahan itu, saya langsung membangun rumah tangga dan tinggal di Perawan Kabupaten Siak bersama pria bernisial J itu,” ungkapnya.

Dikatakan Bunga, selain sudah membina rumah tangga dengan sang pria kenalannya tersebut selama kurang lebih enam bulan lamanya, dirinya kini juga tengah mengandung janin hasil hubungan intim bersama sang pria yang menikahinya tersebut. Demikian informasi ini disampaikan Rubio, ayah Bunga, gadis yang dilarikan oleh sang kekasih selama enam bulan lamanya ini ke pihak Kepolisian Sektor Wilayah Dumai Barat, dalam lapornya baru-baru ini.

Kapolres Dumai AKBP Ristiawan Bulkaini SH ketika dikonfirmasi melalui Kapolsek Dumai Barat Kompol Komang Sudana, membenarkan bahwa saat ini pihaknya sedang menangani kasus tersebut. Bahkan dalam kasus ini, pihaknya sudah melakukan tahap penyidikan untuk membongkar siapa-siapa dalanganya yang terlibat dalam kasus pelarian dan pernikahan dibawah umur ini.

Sumber: RiauTerkini.com

Hidup adalah pilihan, jadi kita jangan sampai salah pilih dalam berbuat. Karena setiap perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti..

(Muhammad Faisal,  S.Pd, M.MPd/Aktivis Anti Pemurtadan dan  Aliran Sesat)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 6.684 kali, 1 untuk hari ini)