Jawaban telak Rocky Gerung soal pindah Ibu Kota negara.

“Buat apa ibukota baru? Memerintah bisa dari smartphone. Kredit HP baru aja cukup,” kata Rocky Gerung di akun twitternya (18/8/2019).

Ahli filsafat ini cukup membalikkan omongan Presiden Jokowi soal studi banding ke Luar Negeri yang menurutnya tidak perlu karena semua bisa diakses lewat smartphone.

Jadi buat apa buang-buang duit Rp 466 Triliun untuk pindah Ibu Kota??

Buat apa ibukota baru? Memerintah bisa dari smartphone. Kredit HP baru aja cukup.

— Rocky Gerung (@rockygerung) August 18, 2019

 


[portal-islam.id] , Senin, 19 Agustus 2019

***

 

 
 

Daripada Buat Mindahin Ibukota 500 T, Mending Alokasikan ke…



[portal-islam.id] Twit Ini Super Nampol Jokowi !!

“Bayar BPJS Ga Sanggup, Kok Mau Mindahin Ibukota ?
Bangun Rumah Korban Bencana Belum Selesai, Kok Mau Bangun Ibukota 500 T 😂

Dari Pada Buat Mindahin Ibukota 500 T, Mending Alokasikan Ke Rakyat Yang Terkena Bencana Di Mana-Mana 🙏,” kicau akun twitter @TanYoana.

Ini cara mikir yang bener👍

Presiden itu dipilih untuk mengurus rakyatnya. Mendahulukan yang penting, mendesak, darurat.

Bayar BPJS Ga Sanggup, Kok Mau Mindahin Ibukota ?
Bangun Rumah Korban Bencana Belum Selesai, Kok Mau Bangun Ibukota 500 T
😂
Dari Pada Buat Mindahin Ibukota 500 T, Mending Alokasikan Ke Rakyat Yang Terkena Bencana Di Mana-Mana
🙏

— Aline Yoana Tan (@TanYoana) August 8, 2019

portal-islam.id Jumat, 09 Agustus 2019

***

Anak di pangkuan dilepaskan, beruk di hutan disusukan

Utang-utang dan kebutuhan mendesak yang harus dibayar itu statusnya wajib untuk dibayar.

Memindahkan ibu kota dengan biaya sangat besar, sedang ibu kota yang ada (Jakarta) juga masih dapat ditempati itu sama sekali bukan hal yang wajib. Maka mendahulukan / memprioritaskan hal yang tidak wajib dengan mengesampingkan (tidak langsung menuntaskan) yang wajib (yaitu utang2 dan hal2 yang wajib segera dituntaskan) itu hanya akan memperbanyak beban hingga akan ada kewajiban2 yang terlantarkan.

Dalam pembahasan ilmu Islam tentang ‘Wajib lebih utama daripada sunnah’, Ust M Abduh T mengemukakan: ada hal yang menarik yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar,

مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ

“Siapa yang tersibukkan dengan yang wajib daripada yang sunnah dialah orang yang patut diberi udzur. Sedangkan siapa yang tersibukkan dengan yang sunnah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang benar-benar tertipu.” (Fath Al-Bari, 11: 343)/ rumaysho.com

Telah ada sindiran pepatah lama: Anak di pangkuan dilepaskan, beruk di hutan disusukan.

Maksudnya, sindiran bagi orang yang tidak mengurusi sesuatu yang wajib dan harus dilakukannya tetapi mengerjakan hal-hal lain yang belum tentu perlu.

(nahimunkar.org)

 


 

(Dibaca 371 kali, 1 untuk hari ini)