Oleh: Fadh Ahmad Arifan

Awalnya saya kira hanya ada 5 bangsa yang gemar mendatangi makam yang dianggap keramat. Yahudi (Israel), Mesir, India, Jawa dan Persia (Iran). Ternyata bangsa Turki juga punya kebiasaan demikian. Tiap kaum atau bangsa punya motivasi tersendiri saat ziarah ke Makam keramat. Sebatas pengetahuan saya, ada 3 motivasi seseorang gemar ke Makam keramat, meminta restu (agar mulus karir atau usahanya), memohon barokah dan mencari ketenangan batin.

Ribuan warga Zionis Israel tiap tahun ke makam Nabi Yusuf di Nablus. mereka menggelar Haul dan mengadakan doa bersama. Sudah menjadi tradisi, orang Yahudi selalu memperingati haul para nabi dan pemuka agama mereka (Tempo 5 juli 2011). Begitu pula calon presiden USA ketika meminta restu ke komunitas Yahudi, mereka berkunjung ke tembok ratapan dan juga ke makamnya Theodor Herzl.

Tahun 2013 Obama terlihat ke makam Herzl dan Yitzhak Rabin. Di depan nisannya Herzl, Pria yang juga anggota dari the Council on Foreign Relations (CFR) ini nampak bersedekap dan menundukkan kepalanya tanpa bicara. Obama lantas bertanya pada Netanyahu di mana dia harus meletakkan sebuah batu kecil sebagai perlambang tradisi kaum Yahudi saat mengunjungi makam. Setelah dijawab, batu yang dipegang Obama pun berpindah di atas nisan.

Orang Jawa sudah tidak perlu ditanyakan lagi akan kebiasaan klasik mereka mengagung-agungkan sekaligus ngalap berkah ke makam keramat. Sultan Agung diketahui pernah datang ke makam Sunan Tembayat (penyebar Islam di Jawa Tengah). Bahkan menyuruh makam itu dilengkapi dengan bangunan-bangunan megah. Para bangsawan Banten juga acap kali berziarah ke makam leluhurnya yakni Sunan gunung Jati.

Pada umumnya di makam-makam orang yang dianggap wali tersebut terdapat sebuah sumber air atau sumur. Airnya dianggap keramat dan diminum oleh para peziarah. Fenomena seperti itu mengingatkan kita akan konsep Meru dan air “amerta” dalam kebudayaan India. Tampaknya merupakan warisan dari tradisi Pra-Islam di Jawa. Itulah yang ditulis Henri Chambert-Loir dalam bukunya “Ziarah dan wali di dunia Islam” terbitan PT. Serambi (red, termasuk dalam daftar https://www.nahimunkar.org/inilah-daftar-63-penerbit-dan-buku-buku-syiah-di-indonesia/).

Beralih ke Turki, di negeri tersebut ada tiga makam keramat. Pertama, makam Mustafa Kemal Atatürk (bapak sekularisme Turki), Kedua, Makam Jalaluddin Rumi (Penyair shufi) dan Ketiga,  Makam nabi khidir di Antakya. Seorang teman yang studi di Universitas Oslo menceritakan kepada saya kebiasaan politikus AKP Turki. Entah cerita ini benar ataukah karangan belaka. Sebelum politikus AKP Turki berlaga di pemilu dan pelantikan sebagai anggota dewan, mereka terlebih dulu ziarah ke makam Atatürk di Ankara. Bedanya dengan sultan Ottoman, bila sebelum perang mereka ziarah ke sultan-sultan terdahulu, maka politikus AKP ziarahnya ke pria berdarah yahudi tersebut.

Selanjutnya Makam Rumi. Penyair yang juga seorang Sufi ini dikebumikan di kota Konya. Makam Rumi berdampingan dengan Putranya, yakni sultan Walad. Makam bermarmer biru itu tidak telanjang, tapi ditutupi kain yang berhiaskan ayat-ayat suci Al-Quran dalam bordiran benang emas. Kain itu merupakan hadiah dari Sultan Abdulhamid II pada 1894 (Republika 20 Maret 2012). Tiap tanggal 17 Desember, ribuan para pengagumnya melakukan perayaan mengenang wafatnya sang penyair. Orang-orang tampak menengadahkan tangan, berdoa bagi sang ‘Maulana’.

Terakhir, terdapat makam yang diduga adalah makamnya Khidir di kota Antakya-Turki. Makam tersebut di dalam sebuah masjid kecil. Orang-orang yang berziarah ke sana melakukan ritual yang mirip dengan orang Syiah di Iran. Menghadiahkan bacaan Quran untuk khidir, Menciumi kuburan tersebut dan berkeliling mengitarinya alias berthawaf (program “Musafir” di Trans 7, 23 Juni 2015).

Dalam pandangan saya, Tradisi ziarah ke Makam keramat seperti ini harus dihentikan, hal ini tergolong sikap ghuluw (berlebih-lebihan dalam perkara agama). Selain itu dapat merusak Tauhid seseorang. Ingatlah seruan ayat al-Quran yang rutin kita baca dalam Sholat 5 waktu,

{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} [الفاتحة: 5]

Kepada Engkaulah kami menyembah, dan kepada Engkaulah kamu memohon pertolongan” (al-Fatihah: 5). Wallahu’allam.

*Pengajar Aqidah Akhlak di Madrasah aliyah Muhammadiyah 2 kota Malang

(nahimunkar.com)

(Dibaca 6.735 kali, 1 untuk hari ini)