Pertiwi atau Prithvi atau Pṛthvī atau Pṛthivī atau पृथ्वी (Sanskerta) adalah Ibu/Dewi Bumi.(keyakinan kemusyrikan)/ Dony Arif Wibowo

Dalam kehidupan di Indonesia sering berlangsung hal-hal yang rawan kemusyrikan, merusak aqidah Islam. Di antara contohnya, ungkapan dalam upacara penguburan mayit sering menggunakan kata-kata yang bukan dari Islam, bahkan rawan kemusyrikan. Misalnya menyebut kuburan sebagai tempat peristirahatan yang terakhir. Dan menguburnya dengan ungkapan menyerahkan kepada Ibu Pertiwi.

Perlu diyakini oleh setiap Muslim, bahwa kuburan bukan tempat peristirahatan yang terakhir, tetapi adalah alam barzakh. Di alam kubur itu ada fitnah kubur dan ada ni’mat kubur. Tergantung orangnya, termasuk yang mendapatkan fitnah/ adzab atau kah mendapatkan ni’mat kubur. Selanjutnya kelak dibangkitkan di hari qiyamat untuk menjalani aneka proses sehingga akhirnya masuk neraka atau masuk surga. Maka ungkapan tempat peristirahatan yang terakhir untuk menyebut kubur adalah ungkapan dari konsep kekafiran, yang tidak mengimani aqidah Islam. Maka wajib dihindari oleh setiap Muslim. Dan kalau itu merupakan ungkapan dalam upacara resmi, maka wajib dihapus.

Demikian pula ungkapan menyerahkan kepada Ibu Pertiwi. Lafal Ibu Pertiwi itu kalau dimaksudkan bermakna tanah, maka penyerahan jasad kepada tanah tidaklah tepat. Lebih tidak tepat lagi kalau Ibu Pertiwi dimaksudkan dari keyakinan kemusyrikan yang menganggap adanya sangyang ibu pertiwi. Itu jelas kemusyrikan yang merusak aqidah atau keyakinan Islam. Padahal dalam Islam sudah dituntun oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِذَا وَضَعْتُمْ مَوْتَاكُمْ فِي الْقَبْرِ ، فَقُولُوا : بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (أحمد ، وابن حبان ، والطبرانى ، والحاكم ، والبيهقى)

Dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda: Apabila kamu sekalian meletakkan mayitmu di kubur maka ucapkanlah: Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR Ahmad, Ibnu Hibban, At-Thabrani, Al-Hakim, dan al-Baihaqi, berderajat hasan menurut Al-Albani).

Persoalannya bukan hanya masalah ucapan bismillah itu tadi, namun penyerahannya itu ketika tidak kepada Allah tetapi keada Ibu Pertiwi, maka jelas bukan keyakinan Islam. Karena Islam hanyalah menyerahkan mayat itu kepada Allah Ta’ala, bukan kepada tanah, walau dikuburnya di tanah. Karena matinya si Muslim bukan untuk tanah tetapi untuk Allah:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ  [الأنعام/162، 163]

  1. Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
  2. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.(QS Al-An’am: 162, 163).

Oleh karena itu, ungkapan penyerahan jenazah kepada ibu pertiwi yang sering diucapkan, ditulis dan diupacarakan di mana-mana itu wajib dihapus. Bila tidak, maka jelas rawan kemusyrikan.

Untuk sekadar contoh digunakannya ungkapan dari konsep keyakinan kufur namun beredar di masyarakat, kami kutip berita berikut ini.

***

Tepat pukul 13.00 siang, sesudah sembahyang Jum’at, kedua jenazah diberangkatkan dari Aula Hankam menuju ke tempat peristirahatan yang terakhir. Jalan yang dilalui iringan ini dimulai Jalan Merdeka Barat, Jalan M.H. Thamrin, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Gatot Subroto, Jalan Pasar Minggu dan akhirnya sampai Kalibata. Sepanjang jalan yang dilalui antara Merdeka Barat dan Kalibata, puluhan ribu rakyat berjejal menundukkan kepala sebagai penghormatan terakhir diberikan kepada kedua Pahlawannya. Turut mengiringi dan mengantar kedua jenazah ini, pihak kedua keluarga, para Menteri Kabinet Pembangunan.

Laksamana R. Muljadi, Letjen Kartakusumah, Perwira-perwin Tinggi ABRI, Korps Diplomatik, Ormas dan Orpol, dan tidak ketinggalan para pemuda dan pelajar serta masyarakat. Upacara pemakaman ini berjalan dengan penuh khidmat dan mengharukan. Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Letjen Sarbini. Atas nama Pemerintah Letjen Sarbini menyerahkan kedua jasad Pahlawan ini kepada Ibu Pertiwi dan dengan diiringi doa semoga arwahnya dapat diberikan tempat yang layak sesuai dengan amal bhaktinya.

Dengan didahului tembakan salvo oleh pasukan khusus dari keempat angkatan, peti jenazah diturunkan dengan perlahan-lahan ke liang lahat. Suasana bertambah haru setelah diperdengarkan lagu Gugur Bunga.

Pengorbanan dan jasa yang disumbangkan oleh Usman dar Harun terhadap Negara dan Bangsa maka Pemerintah telah menaikkan pangkat mereka satu tingkat lebih tinggi yaitu Usmar alias Janatin bin Haji Muhammad Ali menjadi Sersan Anumerta KKO dan Harun alias Tohir bin Mandar menjadi Kopral Anumerta KKO. Sebagai penghargaan Pemerintah menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Sakti dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

(Pahlawan Dari Bawean (BAG 7)

Diposting Oleh: PULAUBAWEAN.com on 01 Januari 2007 | 00:01, pulaubawean.com).

***

Semoga ungkapan-ungkapan yang rawan kemusyrikan dan merusak aqidah yang selama ini berseliweran di masyarakat itu segera dihapus, sehingga Ummat Islam terhindar dari keyakinan batil yang membahayakan aqidahnya. Untuk menyimak lebih jauh masalah ini dapat dibaca di buku-buku Hartono Ahmad Jaiz, di antaranya dalam bab Merusak Agama Lewat Bahasa.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.335 kali, 1 untuk hari ini)