syiahali.wordpress.com

  • Rekomendasi seminar pun berlindung  di balik Risalah Amman
  • Padahal dalam Risalah Amman itu Syi’ah tidak disebut sebagai kelompok yang tidak boleh dikafirkan

Seminar internasional yang tampaknya untuk menghindar dari pengkafiran syiah yang telah diputuskan oleh para ulama, ternyata hanya mengeluarkan rekomendasi yang berlindung di balik Rislah Amman.

Ratusan Massa Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin (MM) ,dan  Wahdah Islamiyah beserta sejumlah Mahasiswa Islam mendatangi kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar untuk menolak acara seminar  Internasional “Persatuan Dunia Islam” yang diadakan oleh UMI Makassar bersama Kedutaan besar Iran untuk Indonesia Senin (5/11 2012).

“Kami menentang acara persatuan sunni-syiah. Tidak mungkin, aqidah kami yang mendoakan Sahabat dengan Radhiallahu anhu disatukan dengan aqidah yang mencaci Sahabat dengan laknatullah,” kata Ketua FPI Makassar Ustadz Agus Salim kepada arrahmah.com, Senin (5/11).

Kata Ustadz Agus, FPI Makassar tidak mau kota Makassar dijadikan markas penyebaran Syiah di Sulawesi Selatan. Bahkan penyebaran syiah di Indonesia Timur.

“Kita akan terus berusaha agar keberadaan syiah tidak menyebar di Makassar,” ujarnya.

Seperti diketahui, Universitas Muslim Indonesia Makassar bekerjasama dengan Kedutaan Republik Iran untuk Indonesia menyelenggarakan Seminar Internasional Persatuan Dunia Islam dengan tema “Islam Rahmatan lil Alamin”, pada senin (5/11) di Makassar, Sulawesi Selatan.

Dalam acara tersebut, dihadiri oleh Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, Rektor UMI, Prof.DR.Hj.Masruroh Mokhtar, MA,NB. , Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin, KH Hasyim Muzadi, tokoh syiah Internasional, Ayatullah M. Ali Tashkiri, Maulawi Ishaq Madani Ulama Sunni penasehat Presiden Iran untuk urusan Ahlussunah wal Jama’ah, dan Deputi Universitas terbuka Iran, Dr.Mazaher. Demikian ringkasan dari berita  arrahmah.com.

Dari segi bobot, ketika seminar itu tidak ada ulama yang diakui secara internasional dan dikenal tsiqqah, tentu rekomendasinya tidak akan mampu mengalahkan fatwa seorang ulama terkemuka yang tsiqqah. Sedangkan ulama yang tsiqqah, yang menyatakan kafirnya syiah itu cukup banyak (bukan hanya satu orang). Sehingga seminar itu walau dikuati oleh kedutaan Iran, dan disebutnya internasional, namun dari segi keilmuan ataupun herargi kelayakannya untuk dirujuk, maka tetap jauh di bawah tingkat fatwa ulama, apalagi para ulama.

Apalagi fatwa para ulama dalam mengkafirkan Syiah itu dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sedang rekomendasi seminar ini tanpa dalil.

Oleh karena itu, perlu dilihat kembali fatwa-fatwa para ulama tentang kafirnya syiah, lalu dilihat rekomendasi seminar ini, dan sorotan tentang syiah yang kini berlindung pada Rislah Amman.

Inilah materi yang dapat diperbandingkan satu sama lain.

***

Fatwa 8 Ulama yang Mengkafirkan Syi’ah Rafidhah

Oleh: Ahmad ‘Isy Karim

Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Syi’ah termasuk sekte Islam yang sudah berusia ratusan tahun. Sejak abad-abad awal Islam sudah menunjukkan jati dirinya. Namun dalam kurun waktu yang lama tersebut, kebencian mereka kepada pihak-pihak lain tetap eksis. Mereka mencela, mencaci, menfasikkan, dan mengafirkan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, dan ‘Aisyah. Bahkan mereka menyatakan kekafiran mayoritas sahabat. Selanjutnya mereka mengafirkan dan memusuhi setiap orang yang memuliakan para sahabat di atas. Sehingga dari sini, para ulama Islam menghukumi mereka sudah keluar dari Islam berdasarkan keterangan yang jelas dari Al-Qur’an dan Sunnah tentang keutamaan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Pendapat Tentang Kafirnya Sekte Syiah

Kami tidak menghakimi. Tugas kami hanya menyampaikan keterangan dan menunjukkan bukti. Dan ternyata didapati, yang berpendapat bahwa Syi’ah itu kafir adalah para Imam-Imam Besar Islam, seperti: Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Bukhari dan lain-lain. Berikut ini beberapa pendapat dan fatwa para ulama Islam mengenai golongan Syi’ah Rafidhah yang disebut dengan Itsna Asy’ariyah dan Ja’fariyah.

Pertama: Imam Malik

Al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al Marwadzi, ia berkata: “Saya mendengar Abu Abdullah berkata, bahwa Imam Malik berkata:

الذي يشتم أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ليس لهم اسم أو قال : نصيب في الإسلام

Orang yang mencela shahabat-shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam.” (As Sunnah, milik al-Khalal:  2/557)

Ibnu katsir berkata saat menafsirkan firman Allah Ta’ala:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا [الفتح/29]

“ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Beliau berkata: “Dari ayat ini, dalam satu riwayat dari Imam Malik –rahmat Allah terlimpah kepadanya-, beliau mengambil kesimpulan tentang kekafiran Rafidhah yang membenci para shahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Beliau berkata: “Karena mereka ini membenci para shahabat, dan barangsiapa membenci para shahabat, maka ia telah kafir berdasarkan ayat ini.” Pendapat ini disepakati oleh segolongan ulama radhiyallahu ‘anhum.” (Tafsir Ibnu Katsir: 4/219)[i]

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata:

لقد أحسن مالك في مقالته وأصاب في تأويله فمن نقص واحداً منهم أو طعن عليه في روايته فقد رد على الله رب العالمين وأبطل شرائع المسلمين

“Sungguh sangat bagus ucapan Imam Malik itu dan benar penafsirannya. Siapa pun yang menghina seorang dari mereka (sahabat Nabi) atau mencela periwayatannya, maka ia telah menentang Allah, Tuhan alam semesta dan membatalkan syari’at kaum Muslimin.” (Tafsir al-Qurthubi: 16/297)

Kedua: Imam Ahmad

Banyak riwayat telah datang darinya dalam mengafirkan golongan Syi’ah Rafidhah. Di antaranya: Al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al Marwadzi, ia berkata: “Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar, dan ‘Aisyah?” Beliau menjawab,

ما أراه على الإسلام

“Aku tidak melihatnya di atas Islam.”

Al-Khalal berkata lagi: Abdul Malik bin Abdul Hamid memberitakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata:

من شتم أخاف عليه الكفر مثل الروافض

Barang siapa mencela (sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) maka aku khawatir ia menjadi kafir seperti halnya orang-orang Rafidhah.

Kemudian beliau berkata:

من شتم أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم لا نأمن أن يكون قد مرق عن الدين

Barangsiapa mencela Shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam maka kami khawatir ia telah keluar dari Islam (tanpa disadari).(Al-Sunnah, Al-Khalal: 2/557-558)

Al-Khalal berkata: Abdullah bin Ahmad bin Hambal menyampaikan kepadaku, katanya: “Saya bertanya kepada ayahku perihal seseorang yang mencela salah seorang dari Shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka beliau menjawab:

ما أراه على الإسلام

Aku tidak melihatnya di atas Islam”.(Al-Sunnah, Al-Khalal: 2/558. Bacalah: Manaakib al Imam Ahmad, oleh Ibnu Al-Jauzi, hal. 214)

Tersebut dalam kitab As Sunnah karya Imam Ahmad, mengenai pendapat beliau tentang golongan Rafidhah:

هم الذين يتبرأون من أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم ويسبونهم وينتقصونهم ويكفرون الأئمة إلا أربعة : علي وعمار والمقداد وسلمان وليست الرافضة من الإسلام في شيء

Mereka itu adalah golongan yang menjauhkan diri dari shahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mencelanya, menghinanya serta mengkafirkannya kecuali hanya empat orang saja yang tiada mereka kafirkan, yaitu: Ali, Ammar, Miqdad dan Salman. Golongan Rafidhah ini sama sekali bukan Islam.(Al-Sunnah, milik Imam Ahmad: 82)

Ibnu Abdil Qawiy berkata: “Adalah imam Ahmad mengafirkan orang yang berlepas diri dari mereka (yakni para sahabat) dan orang yang mencela ‘Aisyah Ummul Mukminin serta menuduhnya dengan sesuatu yang Allah telah membebaskan darinya, seraya beliau membaca:

يَعِظُكُمَ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Allah menasehati kamu, agar kamu jangan mengulang hal seperti itu untuk selama-lamanya, jika kamu benar-benar beriman.” (QS. Al-Nuur: 17. Dinukil dari Kitab Maa Dhahaba Ilaihi al-Imam Ahmad: 21)

Ketiga: Imam Al Bukhari (wafat tahun 256 H)

Beliau berkata:

ما أبالي صليت خلف الجهمي والرافضي ، أم صليت خلف اليهود والنصارى ولا يسلم عليهم ولا يعادون ولا يناكحون ولا يشهدون ولا تؤكل ذبائحهم

Bagi saya sama saja, apakah aku shalat di belakang seorang Jahmi (beraliran Jahmiyah) atau seorang Rafidzi (beraliran Syi’ah Rafidhah), atau aku shalat dibelakang Imam Yahudi atau Nashrani. Dan (seorang muslim) tidak boleh memberi salam kepada mereka, mengunjungi mereka ketika sakit, kawin dengan mereka, menjadikan mereka sebagai saksi dan memakan sembelihan mereka.(Khalqu Af’al al-Ibad: 125)

Keempat: Abdurrahman bin Mahdi

Imam al-Bukhari berkata: Abdurrahman bin Mahdi berkata: “Keduanya adalah agama tersendiri, yakni Jahmiyah dan Rafidhah (Syi’ah).” (Khalqu Af’al al-Ibad: 125)

Kelima: Al-Faryabi

Al-Khalal meriwayatkan, ia berkata: “Telah menceritakan kepadaku Harb bin Ismail al- Kirmani, ia berkata: “Musa bin Harun bin Zayyad menceritakan kepada kami, ia berkata: “Saya mendengar al-Faryabi dan seseorang yang bertanya kepadanya tentang orang yang mencela Abu Bakar. Jawabnya: “Dia Kafir.” Lalu ia berkata: “Apakah orang semacam itu boleh dishalatkan jenazahnya?” Jawabnya: “Tidak.” Dan aku bertanya pula kepadanya: “Apa yang dilakukan terhadapnya, padahal orang itu juga telah mengucapkan Laa Ilaaha Illallah?” Jawabnya: “Jangan kamu sentuh (Jenazahnya) dengan tangan kamu, tetapi kamu angkat dengan kayu sampai kamu menurunkan ke liang lahatnya.” (al-Sunnah, milik al-Khalal: 2/566)

Keenam: Ahmad bin Yunus

Kunyahnya adalah Ibnu Abdillah. Ia dinisbatan kepada datuknya, yaitu salah seorang Imam (tokoh) As-Sunnah. Beliau termasuk penduduk Kufah, tempat tumbuhnya golongan Rafidhah. Beliau menceritakan perihal Rafidhah dengan berbagai macam alirannya. Ahmad bin Hambal telah berkata kepada seseorang: “Pergilah anda kepada Ahmad bin Yunus, karena dialah seorang Syeikhul Islam.” Para ahli Kutubus Sittah telah meriwayatkan Hadits dari beliau. Abu Hatim berkata: “Beliau adalah orang kepercayaan lagi kuat hafalannya”. Al-Nasaai berkata: “Dia adalah orang kepercayaan.” Ibnu Sa’ad berkata: “Dia adalah seorang kepercayaan lagi jujur, seorang Ahli Sunnah wal Jama’ah.” Ibnu Hajar menjelaskan, bahwa Ibnu Yunus telah berkata: “Saya pernah datang kepada Hammad bin Zaid, saya minta kepada beliau supaya mendiktekan kepadaku sesuatu hal tentang kelebihan Utsman. Jawabnya: “Anda ini siapa?” Saya jawab: “Seseorang dari negeri Kufah.” Lalu ia berkata: “Seorang Kufah menanyakan tentang kelebihan-kelebihan Utsman. Demi Allah, aku tidak akan menyampaikannya kepada Anda, kalau Anda tidak mau duduk sedangkan aku tetap berdiri!” Beliau wafat tahun 227 H. (Tahdzibut Tahdzib, 1:50, Taqribut Tahdzib, 1:29).

Beliau (Ahmad bin Yunus) rahimahullah berkata,

لو أن يهودياً ذبح شاة ، وذبح رافضي لأكلت ذبيحة اليهودي ، ولم آكل ذبيحة الرافضي لأنه مرتد عن الإسلام

Seandainya saja seorang Yahudi menyembelih seekor kambing dan seorang Rafidhi (Syi’i) juga menyembelih seekor kambing, niscaya saya hanya memakan sembelihan si Yahudi, dan aku tidak mau makan sembelihan si Rafidhi. Karena dia telah murtad dari Islam.(Al-Sharim al-Maslul, Ibnu Taimiyah: 57)

Ketujuh: Al-Qadhi Abu Ya’la

Beliau berkata, “Adapun Rafidhah, maka hukum terhadap mereka . . . sesungguhnya mengafirkan para sahabat atau menganggapnya fasik, yang berarti mesti masuk neraka, maka orang semacam ini adalah kafir.” (Al Mu’tamad, hal. 267)

. . sesungguhnya mengafirkan para sahabat atau menganggapnya fasik, yang berarti mesti masuk neraka, maka orang semacam ini adalah kafir. . .

Sementara Rafidhah (Syi’ah) sebagaimana terbukti di dalam pokok-pokok ajaran mereka adalah orang-orang yang mengkafirkan sebagian besar Shahabat Nabi. Silahkan baca kembali tulisan yang telah kami posthing:

Kitab Syi’ah Melaknat dan Mengafirkan Abu Bakar, Umar dan ‘Aisyah

Kedelapan: Ibnu Hazam al-Zahiri

Beliau berkata: “Pendapat mereka (Yakni Nashrani) yang menuduh bahwa golongan Rafidhah (Syi’ah) merubah Al-Qur’an, maka sesungguhnya golongan Syi’ah Rafidhah bukan termasuk bagian kaum muslimin. Karena golongan ini muncul pertama kalinya setelah dua puluh lima tahun dari wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Syi’ah Rafidhah adalah golongan yang mengikuti langkah-langkah Yahudi dan Nashrani dalam melakukan kebohongan dan kekafiran.” (Al-fashl fi al-Milal wa al-Nihal: 2/213)[ii]

Beliau berkata: “Salah satu pendapat golongan Syi’ah Imamiyah, baik yang dahulu maupun sekarang ialah Al-Qur’an itu sesungguhnya telah diubah.”

Kemudian beliau berkata: “Orang yang berpendapat, bahwa Al Qur’an ini telah diubah adalah benar-benar kafir dan men-dustakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.(Al Fashl: 5/40)

Beliau berkata: “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan semua kelompok umat Islam Ahlus Sunnah, Mu’tazilah, Murji’ah, Zaidiyah, bahwa adalah wajib berpegang kepada Al Qur’an yang biasa kita baca ini ” Dan hanya golongan Syi’ah ekstrim sajalah yang menyalahi sikap ini. Dengan sikapnya itu mereka menjadi kafir lagi musyrik, menurut pendapat semua penganut Islam. Dan pendapat kita sama sekali tidak sama dengan mereka (Syi’ah). Pendapat kita hanyalah sejalan dengan sesama pemeluk agama kita.” (Al Ihkam Fii Ushuuli Ahkaam: 1/96)

Beliau berkata pula: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah menyembunyikan satu kata pun atau satu huruf pun dari syariat Ilahi. Saya tidak melihat adanya keistimewaan pada manusia tertentu, baik anak perempuannya atau keponakan laki-lakinya atau istrinya atau shahabatnya, untuk mengetahui sesuatu syariat yang disembunyikan oleh Nabi terhadap bangsa kulit putih, atau bangsa kulit hitam atau penggembala kambing. Tidak ada sesuatu pun rahasia, perlambang ataupun kata sandi di luar apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah kepada umat manusia. Sekiranya Nabi menyembunyikan sesuatu yang harus disampaikan kepada manusia, berarti beliau tidak menjalankan tugasnya. Barang siapa beranggapan semacam ini, berarti ia kafir. (Al Fashl, 2:274-275)

Orang yang berkeyakinan semacam ini dikafirkan oleh Ibnu Hazm. Dan keyakinan semacam ini dipegang oleh Syi’ah Itsna Asy’ariyah. Pendapat ini dikuatkan oleh guru-guru beliau pada masanya dan para ulama sebelumnya.

Penutup

Dan Masih banyak lagi perkataan-perkataan para ulama yang sangat tegas terhadap Syi’ah Rafidhah yang memiliki keyakinan berbeda dari aqidah kaum muslimin dan menyimpang dari ketentuan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Rasanya tidak ada habisnya menjelaskan keyakinan batil golongan syi’ah, baik dari ulama terdahulu maupun belakangan. Namun sayang kenapa banyak manusia bisa disesatkan dan tertarik kepada ajaran yang sangat jelas kebatilannya. Semoga Allah melindungi kita dan kaum mukminin secara keseluruhan dari jerat dan tipu daya golongan Syi’ah Rafidhah. [PurWD/voa-islam.com] 2012/01/06

Catatan kaki oleh nahimunkar.com


[i]   تفسير ابن كثير – (ج 7 / ص 362)

{ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ } .

ومن هذه الآية انتزع الإمام مالك -رحمه الله، في رواية عنه-بتكفير الروافض الذين يبغضون الصحابة، قال: لأنهم يغيظونهم، ومن غاظ الصحابة فهو كافر لهذه الآية. ووافقه طائفة من العلماء على ذلك. والأحاديث في فضائل الصحابة والنهي عن التعرض لهم بمساءة كثيرة  ، ويكفيهم ثناء الله عليهم، ورضاه عنهم.

 [ii]    الفصل في الملل – (ج 2 / ص 65)

وأما قولهم في دعوى الروافض تبديل القراءات فإن الروافض ليسوا من المسلمين إنما هي فرق حدث أولها بعد موت النبي صلى الله عليه و سلم بخمس وعشرين سنة وكان مبدؤها إجابة من خذله الله تعالى لدعوة من كاد الإسلام وهي طائفة تجري مجرى اليهود والنصارى في الكذب والكفر وهي طوائف أشدهم غلوا يقولون بالهية علي بن أبي طالب والآلهية جماعة معه وأقلهم غلوا يقولون أن الشمس ردت على علي بن أبي طالب مرتين فقوم هذا أقل مراتبهم في الكذب أيستشنع منهم كذب يأتون به وكل من يزجره عن الكذب ديانة أو نزاهة نفس أمكنه أن يكذب ما شاء وكل دعوى بلا برهان فليس يستدل بها عاقل سواء كانت له أو عليه ونحن أن شاء الله تعالى نأتي بالبرهان الواضح الفاضح لكذب الروافض فيما افتعلوه من ذلك

https://www.nahimunkar.org/10820/fatwa-8-ulama-yang-mengkafirkan-syiah-rafidhah/

***

Ternyata seminar Internasional “Persatuan Dunia Islam”yang diadakan oleh UMI Makassar bersama Kedutaan besar Iran untuk Indonesia Senin (5/11 2012) mengeluarkan rekomendasi, yang entah hanya rekayasa panitia plus dari pihak Iran atau memang hasil seminar, karena tidak tampak dalam rekomendasi itu apa-apa yang diucapkan oleh pembicara.

Inilah isi apa yang mereka sebut rekomendasi seminar itu.

***

Rekomendasi Seminar Internasional Persatuan Umat Islam Dunia.

Bahwa Rasulullah Muhammad saw diutus oleh Allah swt sebagai nabi dan rasul untuk seluruh umat manusia, menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Setelah melakukan seminar internasional dengan tema “ISLAMIC WORLD UNITY (Persatuan Umat Islam Dunia)”, dengan ini seminar merekomendasikan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Bahwa hendaknya umat Islam di berbagai belahan bumi dengan penuh kesadaran terus membangun dan menjaga persaudaraan sebagai sesama umat Islam dengan menampilkan Islam yang damai dan penuh kasih sayang.
  2. Bahwa umat Islam yang menurut realitasnya terdiri atas penganut beberapa  mazhab hendaknya tidak menjadikan perbedaan mazhab sebagai kendala atau hambatan untuk menjalin ukhuwah islamiah dan kerjasama dalam berbagai kegiatan keduniaan dan keagamaan.
  3. Bahwa merujuk pada Deklarasi Amman atau  The Amman Message (9-11-2004) yang dideklarasikan bersama oleh 200 ulama dari lebih 50 negara, yang dikukuhkan kembali oleh pernyataan bersama lebih dari 500 ulama dan cendekiawan Islam dari seluruh dunia pada tahun 2006, yang menyatakan bahwa Siapapun pengikut salah satu dari empat mazhab hukum Islam Suni (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali), dua mazhab hukum Islam Syiah (Ja’fari dan Zaidi), mazhab hukum Islam Ibadhi serta mazhab hukum Islam Zahiri adalah seorang Muslim. Maka hendaknya umat Islam dengan mazhab-mazhab yang disebutkan di atas semakin memperkokoh ukhuwah Islamiah untuk menunjukkan Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin.
  4. Bahwa umat Islam Indonesia  dari berbagai mazhab hendaknya dapat menjadi role model bagi umat Islam dunia, yang dapat saling menerima untuk hidup berdampingan dalam ikatan persaudaraan yang kuat.
  5. Ormas dan lembaga-lembaga keislaman serta para da’i, muballig dan cendekiawan muslim agar mengambil peran aktif untuk selalu mengupayakan kokohnya persaudaraan Islam, dan menghindari dakwah yang berakibat lemahnya ukhuwah Islamiyah..
  6. Pemerintah diharapkan ikut menciptakan iklim yang kondusip bagi terwujudnya persaudaraan diantara penganut berbagai mazhab dalam Islam dan persaudaraan diantara sesama pemeluk agama.
  7. Agar perbedaan (ikhtilaf) di kalangan umat Islam disikapi dengan mendahulukan etika dan akhlaqul karimah demi kemaslahatan umat.

Tokoh Umat Islam:

  1. Prof.Dr.H.Nasaruddin Umar, MA (Wakil Menteri Agama R.I)
  2. Grand Ayatollah Syekh Muhammad Ali Taskhiri (Presiden of High Council of Islamic School of Thought)
  3. Syekh Maulawi Ishaq Madani (Advisor to the Presiden of the Islamic Republic of Iran

For Ahlussunnah Wal-Jamaah)

  1. Dr.Mazaheri (Deputy of open University of The Islamic Republic of Iran)
  2. Prof.Dr.KH.Umar Shihab,MA (Ketua MUI Pusat)
  3. Prof.Dr.KH.Din Syamsuddin,MA (Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah)
  4. Prof.Dr.KH. Hasyim Muzadi, MA (Presiden  Ikatan Cendekiawan Muslim Dunia)
  5. Prof.Dr.H.M.Ghalib,MA (Wakil Koordinator Kopertais Wil.VIII)                            ­
  6. H.Muh.Mokhtar Noer Jaya (Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI)
  7. Prof.Dr.Hj.Masrurah Mokhtar, MA (Rektor UMI)

Makassar, 5 Nopember 2012

Steering Committee

Ketua,                                                                                                               Sekretaris,

 

 

Dr.Ir.H.Fuad Rumi, MS                                              Drs.KH.M.Zein Irwanto, S, MA

Organizing Committee

Ketua,                                                                                                      Sekretaris,

Dr.H.M.Arfah Shiddiq,MA                                           Dr.H.M.Ishaq Shamad,MA

***

Dalam Risalah Amman itu Syi’ah tidak disebut sebagai kelompok yang tidak boleh dikafirkan

Masalah syiah berlindung di balik Risalah Amman, di samping tidak dapat menepis fatwa para ulama terpercaya seperti tersebut di atas, masih pula sejatinya Risalah Amman itu sama sekali bukan tempat perlindungan bagi Syi’ah. Kecuali bagi orang-orang yang dapat dibodohi oleh antek-antek aliran sesat Syi’ah. Karena dalam Risalah Amman itu Syi’ah tidak disebut sebagai kelompok yang tidak boleh dikafirkan, sedangkan Salafi disebut . Maka LPPI Makassar menulis:

… mari kita perhatikan teks selanjutnya dari poin pertama (Risalah Amman) ini, “Lebih lanjut, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti akidah Asy’ari atau siapa saja yang mengamalkan tasawuf (sufisme). Demikian pula, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti pemikiran Salafi yang sejati. Sejalan dengan itu, tidak diperbolehkan mengkafirkan kelompok Muslim manapun yang percaya pada Allah, mengagungkan dan mensucikan-Nya, meyakini Rasulullah (saw) dan rukun-rukun iman, mengakui lima rukun Islam, serta tidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan disepakati dalam agama Islam.” (pada poin ini tidak disebutkan ‘percaya pada imamah’ yang merupakan pokok keyakinan Syiah)

Pada teks ini larangan takfir (mengkafirkan) hanya berlaku pada tiga kelompok kaum Muslimin, mereka itu; Asy’ariyyah, Sufi dan Salafi. Titik! Dan tidak disebutkan “Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah”, tentu para ulama tersebut mempunyai pandangan yang tajam dan alasan yang kuat mengapa “Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah” tidak dimasukkan dalam deretan kelompok yang tidak boleh dikafirkan. Teks inilah yang banyak dilupakan oleh kaum Muslimin.

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak ulasan LPPI Makassar berikut ini:

Syiah Berlindung di Balik Risalah Amman

Menyambut Seminar Internasional “Persatuan Umat Islam Sedunia” di Auditorium Al-Jibra Universitas Muslim Indonesia, Makassar, atas kerjasama dengan Kudebes Iran, Senin, 5 Nov 2012

Risalah Amman atau Amman Message adalah sebuah nota kesepahaman antar-mazhab dalam Islam yang ditandatangani oleh ratusan ulama lintas mazhab dan negara dari segenap penjuru dunia, merupakan seruan persatuan umat Islam sedunia, agar tidak terpecah belah meskipun berbeda mazhab.

Secara khusus, orang-orang Syiah menjadikan Risalah Amman sebagai legitimasi keabsahan mazhab mereka. Karena itu kita dapati akhir-akhir ini Syiah sering menjadikannya sebagai tameng untuk mengadakan taqrib (pendekatan atau penyatuan) antara Sunni dan Syiah. Sering kali mereka mengobralnya kepada masyarakat Islam bahwa “Syiah salah satu mazhab dalam Islam”.

Salah satu bukti getolnya Syiah mensosialisasikan Risalah Amman adalah diterbitkannya bukuMenuju Persatuan Umat yang dilengkapi dengan teks Risalah Amman. Buku ini pada awalnya berjudul Satu Islam, Sebuah Dilema yang merupakan kumpulan tulisan para cendikiawan muslim Indonesia, di antaranya Quraish Shihab, Jalaluddin Rakhmat, Nurkholis Majid, dsb. Sehingga dengan usaha-usaha yang dilakukan orang-orang Syiah, tidak terhitung lagi betapa banyak kaum Muslimin yang terkecoh oleh Syiah melalui Risalah Amman.

Namun bukan berarti kami ingin mempertanyakan keabsahan Risalah Amman itu sendiri, karena nota kesepahaman ini telah ditandatangani oleh 552 ulama dari berbagai belahan dunia yang menunjukkan keasliannya dan kebenaran isinya, Insya Allah. Kami lebih kepada usaha untuk mencermati poin-poin yang tertuang dalam Risalah Amman tersebut, terutama pada poin pertama.

Poin Pertama Risalah Amman

Untuk mendapat pengakuan, sering kali orang Syiah mengutip sebagian teks dari poin pertama Risalah Amman yang berbunyi, “Siapa saja yang mengikuti dan menganut salah satu dari empat mazhab Ahlus Sunnah (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali), dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), mazhab Ibadi dan mazhab Zhahiri adalah Muslim. Tidak diperbolehkan mengkafirkan salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas. Darah, kehormatan dan harta benda salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas tidak boleh dihalalkan.”

Memang tidak mungkin kita menyalahkan teks ini, apalah artinya kami di hadapan ratusan ulama yang ikut tanda tangan menyetujui isi teks Risalah Amman ini. Namun kami mengajak pembaca mencermati lebih mendalam poin ini. Mazhab yang dimaksud di sini adalah pandangan seseorang dalam masalah fiqh, dan bukan mazhab akidah. Artinya semua yang melaksanakan ibadah-muamalah yang sesuai dengan kedelapan mazhab di atas adalah muslim, tidak boleh dikafirkan.

Apakah kita menganggap seseorang itu keluar dari statusnya sebagai muslim hanya karena dia sujud di atas tanah karbala? Apakah dia langsung divonis kafir karena dia tidak bersedekap dalam shalat? Apakah seseorang boleh dikafirkan hanya karena dia tidak mengucapkan “Amin” dalam shalat? Apakah seseorang murtad hanya karena mengusap kaki dalam wudhu dan tidak membasuhnya? Apakah kita boleh menganggap kafir seseorang hanya karena dia mengorientasikan pandangan fiqhnya pada mazhab ja’fari? Tentu jawaban dari ini semua adalah ‘tidak’.

Seseorang tidak boleh dikafirkan hanya karena berbeda mazhab fiqh, inilah yang dimaksud dalam bunyi poin di atas.

Berikutnya mari kita perhatikan teks selanjutnya dari poin pertama ini, “Lebih lanjut, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti akidah Asy’ari atau siapa saja yang mengamalkan tasawuf (sufisme). Demikian pula, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti pemikiran Salafi yang sejati. Sejalan dengan itu, tidak diperbolehkan mengkafirkan kelompok Muslim manapun yang percaya pada Allah, mengagungkan dan mensucikan-Nya, meyakini Rasulullah (saw) dan rukun-rukun iman, mengakui lima rukun Islam, serta tidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan disepakati dalam agama Islam.” (pada poin ini tidak disebutkan ‘percaya pada imamah’ yang merupakan pokok keyakinan Syiah)

Pada teks ini larangan takfir (mengkafirkan) hanya berlaku pada tiga kelompok kaum Muslimin, mereka itu; Asy’ariyyah, Sufi dan Salafi. Titik! Dan tidak disebutkan “Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah”, tentu para ulama tersebut mempunyai pandangan yang tajam dan alasan yang kuat mengapa “Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah” tidak dimasukkan dalam deretan kelompok yang tidak boleh dikafirkan. Teks inilah yang banyak dilupakan oleh kaum Muslimin.

Larangan takfir ini dilanggar oleh Syiah. Mereka justru mengkafirkan tiga kelompok di atas (Asya’ari, sufi dan salafi) dan seluruh kaum Muslimin yang tidak mengenal atau mengikuti imam zamannya (tentu yang dimaksud adalah 12 imam Syiah) maka ia mati jahiliyah, mati di luar Islam. (Emilia Renita Az, 40 Masalah Syiah, Buku Pedoman Dakwah IJABI, hal 98)

Kemudian larangan takfir juga berlaku untuk semua kaum Muslimin yang percaya pada Allah, meyakini Rasulullah, dan rukun-rukun iman, mengakui lima rukun Islam, sertatidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan disepakati dalam agama Islam. Sehingga yang berbeda atau menyalahi keyakinan ini –menurut Risalah Amman- maka larangan takfirnya tidak berlaku, atau dengan kata lain bisa masuk dalam kelompok yang bisa dikafirkan. (kata-kata yang tebal inilah yang merupakan batasan pembeda antara kelompok Islam yang boleh divonis kafir atau tidak, kelompok Islam yang lurus akidahnya atau menyimpang)

Selanjutnya mari kita bandingkan poin-poin ini dengan akidah Syiah.

Pertama, Syiah memiliki Tuhan dan Nabi yang berbeda dengan Tuhan dan Nabi-nya kaum Muslimin, Sayyid Nikmatullah Al-Jazairi –seorang ulama rujukan Syiah- mengatakan,

وحاصله إنا لم نجتمع على إله ولا على نبي ولا على إمام، وذلك أنهم يقولون أن ربهم هو الذي كان محمد صلى الله عليه وسلم نبيه وخليفته بعده أبو بكر. ونحن لا نقول بهذا الرب ولا بذاك النبي، بل نقول إن الرب الذي خليفته أبو بكر ليس ربنا ولا ذلك النبي نبينا.

Kesimpulannya: kita (Syiah Imamiyah dan Ahlus Sunnah) tidak satu Tuhan, tidak satu Nabi dan tidak satu Imam. Pasalnya, Tuhan yang mereka (Ahlus Sunnah wal Jamaah) akui adalah Tuhan yang menjadikan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Nabi-Nya dan Abu Bakar sebagai khalifahnya sepeninggal beliau, sedangkan kami (Syiah Imamiyah) tidak mengakui Tuhan yang seperti ini. Akan tetapi Tuhan yang menjadikan Abu Bakar sebagai khalifah bukanlah Tuhan kami, dan Nabi itu pun bukanlah Nabi kami. (Al-Anwar Annu’maniyyah, Sayyid Nikmatullah Al-Jazairi, jilid 2, hlm. 278, Mu’assasah Al-‘Alami Lil Matbu’at, Beirut, Lebanon.)

Dengan keyakinan seperti ini, Syiah keluar dari kelompok kaum Muslimin yang tidak boleh ditakfir.

Kedua, rukun Iman dan rukun Islam yang dimaksud dalam poin di atas tentunya rukun Iman yang enam dan rukun Islam yang lima yang selama ini kita kenal dan telah menjadi ijma’ kaum Muslimin.

Sedangkan Syiah memiliki rukun iman dan rukun Islam sendiri, yang berbeda dengan ijma’ kaum Muslimin.

Rukun Iman versi Syiah, (1) Tauhid, (2) Adalah (percaya pada keadilan ilahi), (3) Nubuwwah, (4) Imamah, (5) Al-Ma’ad (percaya pada hari akhir)

Rukun Islam versi Syiah, (1) Shalat, (2) Puasa, (3) Zakat, (4) Khumus (kewajiban mengeluarkan seperlima harta), (5) Haji, (6) Jihad, (7) Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, (8) Tawalla (membenci apa yang dibenci Rasul saw dan ahlul baitnya), (9) Tabarra (mencintai apa yang dicintai Rasul saw dan Ahlul Baitnya), (10) Amal Shaleh (Lihat buku 40 Masalah Syiah, Emilia Renita Az, Buku pedoman dakwah IJABI).

Rukun Iman dan Rukun Islam yang berbeda menegaskan kembali bahwa Syiah keluar dari kelompok Islam yang tidak boleh divonis kafir.

Ketiga, tidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan disepakati dalam agama Islam. Salah satu pokok ajaran dalam Islam yang sangat fundamental dan telah disepakati dalam agama Islam dari dulu sampai sekarang, bahkan sampai hari kiamat adalah keaslian Al-Qur’an, tidak ditambah dan tidak dikurangi. Sedangkan Syiah mengingkari keaslian Al-Qur’an, mayoritas ulama Syiah berpandangan demikian demikian, di antaranya, Al-Fadhl bin Syadzan An-Naisaburi, Furat bin Ibrahim Al-Kufi, Al-Ayyasyi, Al-Qummi, Al-Kulaini, Ali bin Ahmad Al-Kufi, Muhammad bin Ibrahim An-Nu’mani, Al-Mufid, Abu Manshur Ath-Thubrusi, Abul Hasan Al-Irbili, Al-Faidh Al-Kasyani, Al-Hurr Al-‘Amili, Hasyim Al-Bahrani, Muhammad Baqir Al-Majlisi, Ni’matullah Al-Jaza’iri, Yusuf bin Ahmad Al-Bahrani dan masih banyak lagi. Inilah ulama-ulama Syiah yang menjadi rujukan sepanjang abad. Bahkan seorang ulama Syiah yang sangat kesohor dan kuburannya sangat diagungkan oleh Syiah –sebagai bukti pemuliaan mereka terhadapnya- An-Nuri Ath-Thabarsi menulis satu kitab khusus yang menetapkan dan menegaskan akan adanya perubahan pada Al-Qur’an (Fashl Khithab Fi Istbat Tahrifi Kitabi Rabbil Arbaab), bahkan dalam muqaddimah bukunya tersebut ia mengetengahkan hampir 40 nama ulama Syiah yang mendukung pendapatnya! Sehingga pendapat mereka yang mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak asli lagi sudah menjadi akidah dan ajaran pokok Syiah.

Tiga batasan yang dilanggar Syiah ini semakin menegaskan bahwa Syiah bukanlah kelompok Islam yang lurus akidahnya dan keluar dari  kelompok-kelompok Islam yang tidak boleh divonis kafir menurut Risalah Amman yang telah ditandatangani oleh lebih dari 500 ulama sedunia.

 Oleh: Muh. Istiqamah, Wakil Sekretaris LPPI Makassar

(lppimakassar.com) JUMAT, NOVEMBER 02, 2012  LPPI MAKASSAR

***

Hasil dari seminar itu

Demikianlah apa yang dapat kita sebut bahwa seminar di UMI atas kerjasama dengan Kedutaan Iran itu gagal dalam menepis hujjah para ulama yang telah mengkafirkan syiah.

Di samping itu, qadarullah, Ummat Islam Indonesia bahkan dunia berkesempatan untuk menyimak bahwa orang-orang seperti Nasaruddin Umar wakil menteri agama, Din Syamsuddin ketua umum Muhammadiyah, Hasyim Muzadi bekas ketua umum NU dan sebagainya adalah orang-orang yang gagal pula dalam menepis hujjah para ulama yang telah mengkafirkan syiah.

Apakah mereka gagal pula dalam mempertahankan keimanannya, demi kepentingan dunia, itu urusan mereka dengan Allah Ta’ala.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.002 kali, 1 untuk hari ini)