Ilustrasi

.

Diplomat Amerika di Sudan Masuk Islam lalu dipaksa mundur dari posnya.

Di negeri Cina, polisi menembak mati warga Muslim Uighur.

Itulah bukti sangat bencinya dua Negara, Amerrika dan Cina, terhadap Umat Islam. Dan itu telah dijeaskan dalam Al-Qur’an, manusia yang paling keras permusuhannya tehadap umat Islam adalah Yahudi dan Musyrikin.

تَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

82. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (QS Al-Maaidah/ 5:82)

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ} [آل عمران: 118]

118. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. (QS Ali Imran/ 3: 118).

 Inilah beritanya.

***

  

Memeluk Islam, diplomat AS di Sudan dipaksa mundur dari posnya

Ameera Jum’at, 6 Rabiul Akhir 1435 H / 7 Februari 2014 10:20

Joseph Stafford, diplomat AS di Sudan memeluk Islam

KHARTOUM (Arrahmah.com) – Diplomat AS di Khartoum, Joseph D Stafford, mengundurkan diri dari jabatannya setelah ia masuk Islam, kata sumber-sumber media lokal Sudan, sebagaimana dirilis oleh Anadolu Agency, Kamis (6/2/2014)

Stafford mengatakan kepada kementerian luar negeri Sudan bahwa pengunduran dirinya dibuat karena alasan pribadi, namun sumber Sudan mengklaim bahwa dubes tersebut dipaksa mengundurkan diri setelah ia memilih untuk memeluk Islam.

Sumber-sumber mengatakan bahwa Stafford telah melakukan kunjungan ke markas Ansar al-Sunnah di Sudan dan menjalin hubungan erat dengan sejumlah ulama Sudan melalui kunjungan ini.

Departemen Luar Negeri AS belum membuat pernyataan untuk mengkonfirmasi atau menyangkal berita tentang Joseph Stafford.

Setelah mengundurkan diri, Stafford menerbitkan sebuah artikel di Sudan Tribune dan berkata, “Saya dan istri saya sangat beruntung bertemu dengan begitu banyak orang-orang hebat di seluruh Sudan yang memiliki keinginan dan kemauan yang kuat untuk meningkatkan komunitas mereka. Kami akan selalu ingat kepada Anda dan negara Anda yang sangat menarik, dan saya tahu Anda akan terus bekerja keras untuk kehidupan yang lebih baik, seperti yang Anda katakan setiap hari ‘Fi Kulu Harakah Barakah’ (pepatah bahasa Arab yang artinya ‘di setiap usaha ada berkah’).”

AS belum menunjuk seorang duta besar untuk kedutaan besarnya di Khartoum sejak tahun 1998 dan telah membuat perwakilannya di sana dengan level diplomat meskipun  Sudan minta ditingkatkan menjadi duta besar. (ameera/arrahmah.com)

***

Lagi, seorang warga Uighur ditembak mati polisi di Xinjiang

Siraaj Kamis, 5 Rabiul Akhir 1435 H / 6 Februari 2014 17:00

(Arrahmah.com) – Seorang warga Uighur, seorang ayah dari dua orang anak, ditembak mati oleh polisi Cina di desa Dolan, Xinjiang.

Radio Free Asia (RFA) melansir bahwa pada 29 Januari, Qurban Tursun, warga etnis Muslim Uighur, ditembak mati oleh polisi yang sedang melakukan “pemeriksaan keamanan” ke rumah-rumah warga. Polisi mengklaim bahwa Tursun ditembak mati karena menolak polisi untuk masuk ke rumahnya.

Kepala kepolisian Karatal Wang Guochen mengklaim bahwa Tursun mengatakan anaknya akan takut jika polisi masuk ke dalam rumah dan meminta mereka untuk datang pada hari berikutnya.

Guochen juga mengklaim bahwa Tursun bersenjatakan pisau setelah tim polisi memaksa masuk ke rumahnya dengan mendobrak pintu rumah.

Wakil kepala polisi Ghalipjan Emet, yang menembak mati Tursun, mengklaim bahwa Tursun baru-baru ini pernah dipenjara atas tuduhan menyembunyikan seorang “separatis” (sebutan yang biasanya dilayangkan kepada warga Muslim Uighur yang menentang pemerintah Cina, red) di rumahnya dan pihak berwenang melakukan penggeledahan terhadap rumahnya sejak ia bebas.

“Dia menolak bekerja sama, jadi kami menembaknya,” ujar Emet, dikutip RFA.

Emet menambahkan bahwa ia hanya mematuhi perintah standar dari atasan untuk operasi penggeledahan itu.

“Mereka mengatakan jika mereka tidak mau bekerja sama maka tembaklah, jadi kami melakukannya,” katanya.

Rezim komunis Cina akhir-akhir ini telah mengintensifkan tindakan keras terhadap warga Muslim Uighur di Xinjiang. Berdasarkan catatan resmi, dalam jangka waktu dari April-Mei sekitar 100 orang Uighur diyakini telah tewas ditembak, otoritas Cina menuduh mereka terlibat “terorisme” dan “separatisme” tanpa proses pengadilan. (siraaj/arrahmah.com)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 6.213 kali, 1 untuk hari ini)