.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berencana menututup lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, gang Dolly, Surabaya, 19 Juni 2014.

Cawapres Hatta Rajasa yang mendampingi Capres Prabowo mengatakan di Jakarta, Jumat (23/5/2014): “Saya pribadi sangat setuju dengan menutup tempat-tempat lokalisasi.”

Dukungan terhadap rencana Wali Kota Surabaya ini sudah meluas. Pemprov Jatim, MUI dan ormas-ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, telah mendukung penuh rencana ini.

Naifnya, pihak yang menolak akan ditutupnya pusat pelacuran itu justru dipelopori Wakil Wali Kota Surabaya Wisnu Sakti Buana  dan partainya, PDIP.

Kelompok pembela pusat pelacuran terbesar itu membuktikan jati diri mereka memiliki sifat munafik yang telah dikecam dalam Al-Qur’an:

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka saling menyuruh membuat yang munkar dan saling melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (sangat pelit). (QS. At-Taubah: 67).

Betapa memalukan dan memilukannya, bila kita sampai bergabung dengan orang-orang yang hidup satu kali saja umurnya digunakan untuk membela pelacuran.

Inilah beritanya.

***

Hatta Rajasa Dukung Penutupan Pelacuran Gang Dolly

Sabtu, 24/05/2014 15:59:14

 

Jakarta (SI Online) – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berencana menututup lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, gang Dolly. Namun niat baik ini menuai pro dan kontra. Apa komentar cawapres Hatta Rajasa?

“Saya pribadi sangat setuju dengan menutup tempat-tempat lokalisasi,” kata Hatta saat ditemui di kediaman Sholahuddin Wahid atau Gus Sholah di Jalan Bangka 2C, Mampang, Jakarta Selatan, Jumat (23/5/2014).

Risma berencana menutup Dolly dan Jarak di Surabaya dengan berbagai alasan rasional. Sang wali kota sudah menyiapkan strategi, termasuk jalan keluar bagi para PSK dan pekerja di sana.

Dukungan terhadap rencana Wali Kota Surabaya ini sudah meluas. Pemprov Jatim, MUI dan ormas-ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, telah mendukung penuh rencana ini.

Naifnya pihak yang menolak justru dipelopori Wakil Wali Kota Surabaya Wisnu Sakti Buana  dan partainya, PDIP.

Wisnu menegaskan penolakan tempat maksiat itu merupakan sikap resmi PDI-P dalam melihat realitas sosial pelacuran di Dolly. Ia meminta Pemkot Surabaya untuk mengkaji ulang waktu penutupan, karena menyangkut hajat orang banyak.

Wakil Wali Kota Surabaya itu pun menyerang atasannya, yakni Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Ia menyebut Risma arogan, karena menargetkan penutupan lokalisasi Dolly, tetap pada 19 Juni 2014.

Wisnu juga menyatakan bahwa dirinya bersama kader partai akan siap berada dibarisan warga kota Surabaya sekitar lokalisasi gang Dolly yang terdampak, jika pemkot Surabaya memaksakan program penutupannya pada tanggal 19 Juni mendatang.

“Ya kita lihat saja nanti, karena kami tidak akan tinggal diam, dan saya bersama kader PDIP akan berada disana bersama warga setempat,” tegasnya.

red: abu faza/dbs/ si online

(nahimunkar.com)

(Dibaca 6.005 kali, 1 untuk hari ini)