Sebelumnya, mungkin Anda akan bertanya-tanya : ‘apa dan siapakah Salafi/Salafiyyah itu?’

Keduanya berasal dari kata Salaf [سلف], yang secara bahasa bermakna: ‘telah berlalu atau berlampau’. Nah, ditarik dari makna tersebut, secara ‘pragmatis’ kita bisa menyimpulkan bahwa Salafi adalah seorang yang tersifati sebagai pengikut masa lampau dan Salafiyyah adalah sebuah pemikiran atau ideologi yang berikatan erat dengan masa lampau.

Kesimpulan di atas meski belum menyentuh kebenaran mutlak, namun sudah mendekat kepada kebenaran. Karena sejatinya, [langsung saja saya katakan] bahwa Salafi adalah orang yang mendasari kehidupannya sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah [hadits Nabi] dengan pemahaman kaum Salaf. Dan Salafiyyah adalah pemikiran atau cara sikap beragama yang berdasarkan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah [hadits Nabi] dengan pemahaman kaum Salaf.

Siapakah kaum Salaf? Kaum Salaf yang dimaksud adalah mereka yang telah Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa Sallam- rekomendasikan di haditsnya yang agung:

خير القرون قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

“Sebaik-baik generasi adalah generasi [di zaman] ku, kemudian yang berikutnya, kemudian yang berikutnya.” [H.R. Bukhary dan Muslim]

Jadi, manhaj atau tata pemikiran salafi mengacu pada manhaj tiga generasi tersebut, yaitu generasi Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’iin.

Ulasan mengenai Salafiyyah sendiri bisa berbentang panjang. Saya merekomendasikan link berikut untuk Anda [semoga meng-illuminati, mengenyahkan kabut dan memberi manfaat]:

http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-salaf-dan-salafi.html

Ada sebuah kasus belakangan ini, yang merupakan kesalahan sebuah pewartaan di TV One, menyeruak dan cukup bingar di kalangan saudara-saudara kita dari kalangan Salafi. Saya meminjam tulisan deskriptif dari saudara Hendi Setiawan:

“Dua hari lalu TVOne menyiarkan berita penangkapan terduga teroris bernama Baderi, lengkap dengan ilustrasi foto yang bersangkutan.  Ternyata TVOne melakukan hal fatal, foto yang ditayangkan bukannya foto teroris yang dimaksud, tapi foto seorang dosen Sekolah Tinggi Agama Islam di Jember, bernama lengkap Dr Muhammad Arifin Badri, seorang doktor agama Islam lulusan Arab Saudi.  Pak Badri yang satu ini bukan terduga teroris yang ditangkap Densus 88 Polri.

Kesalahan penayangan foto ini sangat fatal dan sangat merugikan Dr Muhammad Arifin Badri.  Pak Badri yang dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam di Jember, juga mengajar di sebuah Sekolah Tinggi Agama Islam di Surabaya dan Universitas Muhamadiyah Surakarta, ternyata malahan bertolak belakang aktivitasnya dibanding seorang teroris.  Alih-alih berbuat yang merugikan masyarakat, pak dosen saat mengajar justru menganjurkan hal sebaliknya, ia mengingatkan terorisme yang mengatasnamakan Islam itu tidak benar, ada kesenjangan memahami Quran dan Hadis pada sekelompok masyarakat kita, demikian pendapat pak Badri.” [http://unik.kompasiana.com/2012/09/26/cara-tvone-minta-maaf-pada-dr-badri/]

Dan alhamdulillah, petang ini dengan ksatria dan sikap bertanggung jawab pihak TV One mengkonfirmasi secara langsung permintaan maaf pada beliau dan juga umat Islam akan kekhilafan yang telah diperbuat sebelumnya. Bonus yang menggembirakan adalah pihak TV One mengundang langsung beliau untuk berbicara bermenit-menit perihal sikap dirinya terhadap terrorisme, yang mau tidak mau mencerminkan pula sikap siapapun dari Muslim yang ’se-aliran’ dengan beliau.

Dengan penuh ketenangan dan kewibawaan, beliau menjelaskan sikap Islam terhadap terrorisme. Meskipun beliau adalah spesialis di bidang Fiqh, bukan berarti kesempatan untuk berbicara mengenai terrorisme dan ekstrimisme tertutup begitu saja. Karena, seperti yang diutarakan Dr. Muhammad Arifin Badri, ilmu syariat itu satu paket dan tidak parsial. Jadi, terrorisme itu berkaitan dengan ideologi. Sehingga, untuk menangkal bibit pemikiran terrorisme secara preventif, kita harus meluruskan dulu kesimpangan ideologi, yang dalam ilmu Syariat dikenal dengan nama: Aqidah Islamiyyah.

Begitu juga dalam menyikapi eksistensi non-muslim, beliau menjelaskan bahwa tiap individu non-muslim tidak bisa disamaratakan. Tujuan pembelajaran syariat Islam adalah untuk mengetahui hukum-hukum ilahiyyah yang suci; tanpa ekstrimisme dan juga tanpa kompromi yang terlalu longgar. Sehingga dapat menghadirkan kerukunan, keadilan dan kesejahteraan, meskipun tanpa adanya partai.

Dalam syariat Islam, kata Dr. Muhammad Arifin Badri, non-muslim [baca: kafir] terbagi menjadi 3.

Pertama: Kafir Harby, yaitu orang non-muslim yang terang-terangan menyerang Islam dan pemeluknya. Maka, mereka layak dilawan, ditentang dan dimusuhi.

Kedua: Kafir Ahdy, yaitu orang non-muslim yang melakukan perjanjian dengan orang muslim untuk hidup damai dan rukun di suatu negeri. Dan inilah yang berlaku untuk negeri kita. Orang non-muslim memiliki hak dan haram untuk dizalimi, meskipun sekadar pedang lisan.

Ketiga: Kafir Musta’min, yaitu orang non-muslim yang datang ke daerah kekuasaan orang Muslim untuk meminta keamanan. Untuk jenis ketiga ini, maka orang muslim wajib memberi keamanan pada non-muslim.

Nah, konsep atau pembagian tersebut sedianya tidak berlaku bagi para muslim terrorist; karena mereka cenderung menyamaratakan semua non-muslim adalah layak dibunuh dan disakiti.

Dan, Salafi Tidak Seperti Itu, karena Salafi justru menentang Terrorisme dan ekstrimisme, bahkan juga menentang hal-hal yang memicu keduanya.

Karena Salafiyyah berada di sebuah lembah antara dua bukit. Lembah tersebut bernama ‘keadilan’. Di satu sisi ada sebuah bukit berwujud ekstrimisme, di sisi lainnya berbukit permisifme atau liberalisme. Maka, siapapun dari manusia layaknya berada di tengah dan berjalur menengah.

Adapun jika Anda menemukan seseorang yang mengklaim dirinya sebagai pengikut Salafiyyah, sementara menurut Anda ia bersikap ekstrim, maka pasti ada kesalahan. Bisa jadi kesalahan orang tersebut [karena sikap ekstrimnya yang mungkin disebabkan salah memahami ajaran atau terlalu bersemangat], dan bisa juga justru kesalahan Anda dalam memandang. Karena bisa saja bagi Anda itu ekstrim, namun bagi syariat itu adalah kewajaran. Maka, mari, kita sama-sama mengaca dan belajar untuk memahami.

Jika Anda menyaksikan penjelasan beliau di TV One, maka saya harap-harap tanpa kecemasan, bahwa beliau adalah orang yang menengah. Terbukti pula ketika beliau mengatakan, yang intinya: ‘Kami ingin menjadi partner pemerintah dalam memberantas terrorisme!’ Dan sikap seperti itu bukan hanya tampilan semata karena di siaran televisi, melainkan sikap menengah itulah yang beliau ajarkan ketika di pengajian dan studi kampus dalam keseharian.

Saya pribadi -tanpa melabeli diri sebagai ini atau itu dan tanpa merasa lebih baik dari siapapun- berharap dengan tulisan singkat ini dapat memberi -at least- gambaran kecil bahwasanya Salafi [atau seringkali ‘dijuluki’ Salafi-Wahabi] bukanlah sebuah aliran ekstrim dalam Islam. Semoga mencerahkan.

Bagi yang ingin melihat rekaman siaran tersebut, silahkan buka link berikut:

http://www.youtube.com/watch?v=HOufvEycN9A

Terima kasih atas atensinya. Mohon maaf jika ada pendataan yang kurang atau bahkan kesalahan.

http://hankam.kompasiana.com/2012/09/26/bukti-salafi-yang-antiterorisme/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.328 kali, 1 untuk hari ini)