foto eveline.co.id/ Noviadi


Buku 7 Dalil Umat Islam DKI dalam Memilih Gubernur yang muatannya mendukung Ahok ternyata menyebarkan kebohongan publik.

Di sampul depan buku saku itu terpampang tulisan jelas, Pengantar  KH. DR. Ahmad Ishomudin, MA, (Rais Syuriah PBNU). Belakangan terkuak, sang Kyai Haji yang Dokror yang terpampang di cover depan sebagai pengantar buku itu ternyata bukan doktor dan bukan pula orang yang sudah berhaji, karena memang dia belum berhaji.

Adapun titel KH (Kyai Haji) itu entah dicomot dari mana. Karena tetangga tempat tinggal sang Kyai Haji Doktor itu di rumah tempat ia mengontrak di Lampung pun mereka tidak begitu kenal siapa itu Ahmad Ishomuddin yang digelari oleh Buku 7 Dalil sebagai KH. DR. itu.

Ketika Umat Islam protes keras, terutama Umat Islam Lampung, karena Ahmad Ishomuddin jadi saksi meringankan Ahok terdawa penista an agama, bahkan sampai berani membatalkan berlakunya Al-Qur’an Surat Al-Maidah 51; maka media pun melacak keberadaan Ishomuddin di Lampung dan menanyakannya kepada tetangga Ishomuddin.

Radarlampung.co.id  memberitakan, Nama Ishom sepertinya tidak begitu dikenal warga setempat. Namun demikian, ada beberapa warga yang mengaku tahu dengan sosok Ishom meski tidak mengenalnya secara dekat. ’’Orangnya agak tertutup. Mungkin karena dia jarang berada di rumah. Dan status dia di rumah itu sebatas mengontrak,” ujar warga sekitar yang enggan disebut namanya.

Di samping keadaan orang yang dipampang namanya di Buku 7 Dalil itu sebagai KH.DR ternyata seperti itu, seorang dosen yang memang kenal dengan Ishom mengungkap kebohongan publik berkaitan dengan titel palsu tersebut.

Berita berikut ini mengungkap kebohongan yang dimaksud.

***

Geger, Saksi Ahli Agama Ahok Ketahuan Lakukan Dua Pembohongan Publik, Ini Kesaksian Rekan Dosennya

by Nahimunkar.com, 23 Maret 2017

Dalam sidang ke-15 dugaan penistaan agama yang melibatkan Gubernur DKI Ahok, KH. Ahmad Ishomuddin menjadi saksi atas kapasitasnya sebagai ahli tafsir. Hal ini rupanya mendapatkan tanggapan serius dari masyarakat Muslim Lampung khususnya dari para dosen kampus Ishomudin mengajar yaitu IAIN Raden Intan Lampung. Informasi yang kami dapatkan dari beberapa dosen menyebutkan bahwa banyak sekali info palsu tentang Ishomudin. Selasa, 21 Maret 2017.

  1. Bukhori Abdul Shomad, MA yang juga dosen IAIN Raden Intan Lampung dan juga merupakan anggota MUI Lampung serta pimpinan ponpes Al Mujtama menyebutkan bahwa kapasitas beliau bukanlah sebagai ahli tafsir, Pasalnya Bukhori menilai apa yang disampaikan Ahmad Ishomuddin menjadi saksi itu bukan kapasitasnya sebagai ahli tafsir karena beliau di IAIN adalah pengajar mata kuliah fiqh bukan ahli tafsir.

Selain itu Ahmad Ishomuddin sudah melakukan pembohongan publik, pertama (DR. KH. Ahmad Ishomuddin) belum pernah menyandang gelar Doktor karena belum pernah ada keterengan bahwa beliau menyelesaikan program doktoralnya alias di DO dan juga belum melaksanakan Haji, kedua Ahmad Ishomuddin bersaksi sebagai pakar/ahli tafsir padahal ia bukan pakar tafsir ia adalah pengajar fiqh, dan yang ketiga sudah melanggar etika/akhlak terhadap tradisi yang sudah dibangun dalam NU”. Tegas Bukhori melalui pesan whatsapp.

Sumber : jabungonline.com/tribunislam.com

(nahimunkar.com)

***

Terhadap kasus Ishomuddin yang disebut dalam cover buku 7 Dalil itu sebagai pengantar  buku, lalu dia jadi saksi ahli meringankan Ahok, hingga menganggap bahwa Al-Maidah 51 tidak berlaku, maka ramai di masyarakat Islam Indonesia. Hingga ada yang menulis surat terbuka ke petinggi NU sebagai berikut.

***

Mustinya KH Ahmad Ishomuddin Disingkirkan dari PBNU, MUI, dan IAIN

Ilustrasi: Ulama cap apa/foto Yusuf Anas. Wah Parah, Saksi Ahli Agama Ahok, Ternyata Penulis Pengantar di Buku Ahok “7 Dalil Memilih Pemimpin DKI”/ foto harianpublik.com

Assalmu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pak Kyai Ma’ruf Amin,  Rais Aam PBNU dan Ketua Umum MUI yang kami hormati.

Kenapa Ahmad Ishomuddin tidak diguwak saja dari NU, malah khabarnya diberi kedudukan lagi di Tanfidziyah (eksekutif) PBNU. Padahal, dari dulu abang ijone (merah hijaunya) organisasi itu ya tergantung eksekutifnya (tanfdziyahnya). Bukan dewan syuro atau syuriyahnya.

Masih dieman-eman apanya itu Kyai Ahmad Ishomuddin yang telah membela Ahok terdakwa penista agama, bahkan dikabarkan berani membatalkan berlakunya Al-Maidah 51.

Sebagaimana telah beredar berita santer di media:

Saksi ahli Ahok: Al Maidah 51 sudah tidak berlaku.

Rais Syuriah PBNU yang dihadirkan sebagai saksi ahli agama Islam oleh tim pengacara Ahok, KH Ahmad Ishomuddin, menyatakan larangan memilih pemimpin nonmuslim dalam surat Al Maidah 51 tidak berlaku lagi untuk saat ini.

“Ayat itu dulu diturunkan dalam kondisi peperangan dan sedang ramai penghianatan. Untuk kondisi damai seperti saat ini ayat itu tidak berlaku lagi,” kata dia dalam sidang yang digelar di auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa ( 21/3 2017), sebagaimana diberitakan Republik.in.

Dari ilmu apapun tidak akan ketemu juntrungannya pembatalan berlakunya Al-Maidah 51 itu. Karena menurut hadits dan ilmu tafsir, justru Al-Maidah itu turunnya belakangan, maka tidak ada lagi ayat yang menasakhnya. Hingga yang haram tetap haram, yang halal tetap halal. Maka Ahmad Ishomuddin itu perkataannya sama dengan mengingkari Al-Qur’an itu sendiri.

Ada hadits shahih sebagai berikut:

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، قَالَ دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ فَقَالَتْ: هَلْ تَقْرَأُ سُورَةَ الْمَائِدَةِ؟ قَالَ قُلْتُ: نَعَمْ. قَالَتْ: ” فَإِنَّهَا آخِرُ سُورَةٍ نَزَلَتْ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهَا مِنْ حَلَالٍ فَاسْتَحِلُّوهُ، وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهَا مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ “

وَسَأَلْتُهَا عَنْ ” خُلُقِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “؟ فَقَالَتْ: ” الْقُرْآنُ “. والحديث صححه شعيب الأرناؤوط في تحقيق المسند. مسند أحمد ط الرسالة (42/ 353)

‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha- berkata: Surat terakhir yang diturunkan adalah surat al Maidah.

Ahmad (25588) meriwayatkan dari Jubair bin Nufair berkata:

Saya telah menemui ‘Aisyah dan beliau berkata: “Apakah kamu membaca (hafal) surat al Maidah?, saya menjawab: “Ya”. Beliau berkata:Surat al Maidah adalah surat terakhir yang diturunkan dari al Qur’an, jika kalian mendapatkan yang halal di dalamnya maka katakan itu halal, dan jika kalian mendapatkan yang haram maka katakan itu haram. Saya juga bertanya kepada beliau tentang akhlak Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- maka beliau berkata: “Akhlak Nabi adalah al Qur’an”. (Hadits ini dishahihkan oleh Syu’aib al Arnauth dalam Musnad yang sudah diteliti)./ https://islamqa.info/id/21916

Jadi amat disayangkan, kalau Pak Kyai Ma’ruf Amin selaku Rais Aam PBNU dan Ketua Umum MUI masih memberi kedudukan pada pengkhianat Islam itu di Tanfidziyah PBNU. Kecuali kalau memang biar NU itu rusak sekalian ya monggo-monggo saja…

Sekadar tambahan, masalah yang menentukan abang ijone (merah hijaunya) organisasi di antaranya dapat dibaca di sini https://www.nahimunkar.org/dari-dulu-kerusakan-itu-akibat-ulah-penguasa-yang-tidak-menggubris-nasehat/

Tulisan ini hanya karena prihatin atas semakin berani dan kurangajarnya pembela Ahok, orang yang terdakwa menista agama, hingga Al-Qur’an yang seharusnya jadi pedoman justru diumumkan kematian berlakunya secara resmi di pengadilan. Na’udzubillahi min dzalik!

Dan itu merupakan bukti bahwa buku yang saya tulis berjudul Ada Pemurtadan di IAIN yang sudah kami bedah di berbagai IAIN di Indonesia bahkan sampai kami bedah di Timur Tengah itu ternyata memang pantas dicermati kembali. Karena KH Ahmad Ishomuddin yang berani membatalkan berlakunya Al-Maidah 51 itu adalah dosen IAIN Lampung.

(Tentang buku itu dapat di lihat pada artikel Masalah Ada Pemurtadan di IAIN dan karakteristik para tokohnya

by Nahimunkar.com, 20 Januari 2013

Semoga para ulama yang tsiqqah cepat tanggp terhadap keadaan darurat yang sangat membahayakan bagi keselamatan aqidah Umat Islam ini. Bagaimanapun, harus ada upaya gigih dari para Ulama yang tsiqqah dan para da’i yang amanah untuk membimbing Umat Islam agar dapat terwujud seruan ayat suci yang berulang-ulang dibacakan pada setiap Jum’at kepada Umat Islam, yaitu ayat:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]

  1. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam [Al ‘Imran102]

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hartono Ahmad Jais

(nahimunkar.com)

(Dibaca 7.794 kali, 1 untuk hari ini)