Menyerahkan Zakat Kepada Saudara yang Fakir

Soal: Saya memiliki seorang saudara laki-laki dan saudara perempuan yang menikah dengan laki-laki fakir dan terlilit hutang. Apakah saya boleh menyerahkan zakat harta saya seluruhnya kepada mereka berdua? Bilamana uang zakat tersebut dapat menutupi hutang mereka berdua. Dan apakah mereka punya hak dari harta zakat?

Jawab: Tidak ada larangan menyerahkan zakat kepada mereka berdua jika keduanya muslim dan benar-benar terlilit hutang hingga uang zakat tersebut dapat menutupi hutang yang tidak sanggup mereka lunasi. Sebab mereka berdua termasuk salah satu dari delapan jenis orang yang berhak menerima zakat yang disebutkan Allah dalam surat at-Taubah ayat 60. (Syaikh Ibnu Baz)

Hukum Menyerahkan Zakat Kepada Ibu Kandung

Soal: Apakah boleh menyerahkan zakat kepada ibu kandungnya sendiri?

Jawab: Seorang muslim tidak boleh menyerahkan zakat hartanya kepada kedua orang tuanya sendiri, dan tidak boleh pula menyerahkannya kepada anak-anak kandungnya sendiri. Bahkan kewajibannya terhadap kedua orang tua dan anak-anaknya adalah menafkahkan sebagian hartanya kepada mereka jika mereka membutuhkannya. Sementara ia tergolong mampu menafkahkan hartanya untuk mereka. Wabillahi taufiq. (Syaikh Ibnu Baz)

Kriteria Miskin dan Fakir

Soal: Siapakah orang miskin yang berhak menerima zakat? Dan apa bedanya antara fakir dan miskin?

Jawab: Orang miskin adalah orang fakir yang tidak dapat menutupi kebutuhan hidupnya dengan cukup. Sementara fakir lebih rendah lagi keadaannya daripada miskin. Keduanya termasuk salah satu dari delapan jenis orang yang berhak menerima zakat yang disebutkan Allah dalam surat at-Taubah ayat 60, berbunyi:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Biajaksana.” (QS. 9:60)

Siapa saja yang punya pemasukan yang dapat memenuhi kebutuhan makan, minum, pakaian dan tempat tinggalnya, baik berupa tunjangan, usaha, gaji atau sejenisnya maka ia tidak disebut fakir atau miskin dan tidak boleh menyerahkan zakat kepadanya. (Syaikh Ibnu Baz)

Hukum Menyerahkan Zakat Kepada Saudara Kandung atau Paman

Soal: Bolehkah menyerahkan zakat kepada saudara kandung yang membutuhkan (miskin, punya pekerjaan namun penghasilannya tidak mencukupi) dan bolehkah menyerahkan zakat tersebut kepada paman yang miskin? Apakah boleh seorang wanita menyerahkan zakat hartanya kepada saudaranya laki-laki atau perempuan atau kepada pamannya?

Jawab: Tidak masalah seorang menyerahkan zakatnya kepada saudara, paman atau bibi yang fakir, saudara lelaki maupun perempuan. Demikian juga boleh menyerahkannya kepada segenap kerabat yang fakir berdasarkan dalil-dalil umum. Bahkan menyerahkan zakat kepada kaum kerabat terhitung sedekah dan penyambungan tali silaturahim. Dan berdasarkan sabda nabishallallahu ‘alaihi wasallam“Bersedekah kepada fakir miskin hanya terhitung sedekah, namun bersedekah kepada kerabat terhitung sedekah dan penyambungan tali silaturrahim”. Kecuali kedua orang tua, termasuk kakek nenek dan seterusnya, anak lelaki maupun perempuan serta cucu dan seterusnya, ia tidak boleh menyerahkan zakat kepada mereka. Meskipun mereka fakir. Namun kewajibannya terhadap mereka adalah memberi nafkah kepada mereka dari hartanya jika ia sanggup dan tidak ada orang yang lain menanggung nafkah mereka kecuali dia seorang. (Syaikh Ibnu Baz)

Menyerahkan Zakat Kepada Mujahidin Afghanistan 

Soal: Ada seorang yang dapat dipercaya mengatakan bahwa ia sanggup menyampaikan zakat kepada seorang syaikh yang dapat dipercaya untuk kemudian dibagikan kepada mujahidin Afghanistan. Apakah saya boleh menyerahkan zakat emas saya kepada orang itu? Atau adakah penyaluran lain yang lebih baik? Terutama sangat sulit bagi saya sebagai seorang wanita untuk mencari orang yang berhak menerimanya.

Jawab: Dibolehkan menyerahkan zakat kepada mujahidin Afghan sebagaimana yang dijelaskan dalam fatwa alim ulama. Hal itu karena para mujahidin tersebut sekarang tengah memerangi kaum kafir. Apabila seseorang mendapatkan orang yang dapat dipercaya untuk menyerahkannya kepada mujahidin Afghanistan atau mengirimnya langsung, maka ia boleh menyerahkan zakatnya kepada orang tersebut. Dengan demikian telah gugur kewajiban atas dirinya dan pahalanya ada di sisi Allah. (Syaikh Ibnu Jibrin)

Menyerahkan Zakat Kepada Saudara Perempuan

Soal: Saya mempunyai seorang saudara perempuan yang telah berkeluarga, keadaannya sangat memprihatinkan. Apakah saya boleh menyerahkan zakat harta kepadanya untuk menaikkan taraf hidupnya dan membantunya untuk mendidik anak-anaknya? Lebih-lebih suaminya sudah tidak mengacuhkan dirinya lagi dan kami sudah kehabisan akal untuk memperbaiki keadaan suaminya itu!

Jawab: Jika saudara perempuan Anda itu benar-benar miskin sementara suaminya tidak memberi nafkah kepadanya dan Anda telah kehabisan akal untuk memperbaiki keadaannya serta tidak ada orang yang mampu memaksanya untuk memberi nafkah, maka boleh menyerahkan zakat kepada saudara perempuan Anda tersebut sekadar kebutuhannya. (Syaikh Ibnu Baz)

Menyerahkan Zakat Kepada Orang yang Hendak Menikah

Soal: Seorang pemuda yang taat beragama ingin segera berumah tangga. Sudah barang tentu ia membutuhkan bantuan biaya untuk penyelenggaraan pernikahannya itu. Apakah saya boleh menyerahkan sebagian zakat saya kepadanya untuk membantunya melang-sungkan pernikahan?

Jawab: Boleh menyerahkan zakat kepada pemuda tersebut untuk membantunya melangsungkan pernikahan apabila ia tidak mampu membiayainya. Wallahu waliyut taufiq. (Syaikh Ibnu Baz)

Hukum Menyerahkan Zakat Kepada Suami yang Miskin

Soal: Bolehkah seorang istri menyerahkan zakat hartanya kepada suaminya sendiri, jika suaminya itu seorang fakir?

Jawab: Seorang istri boleh menyerahkan zakat kepada suaminya yang fakir untuk menutupi kefakirannya itu berdasarkan firman Allah subhaanahu wata’ala:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

”Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu keteta-pan yang diwajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Biajaksana.” (QS. 9:60)(Lajnah Da’imah)

Hukum Menyediakan Permadani dan Merenovasi Masjid dari Uang Zakat

Soal: Apakah boleh mengalokasikan uang zakat untuk membeli permadani masjid, merenovasinya dan sejenisnya. Sebagai catatan, tidak ada seorangpun yang mampu mengurusinya sementara penduduk sekitar masjid adalah orang-orang fakir.

Jawab: Tidak syak lagi bahwa pengurusan masjid berkaitan dengan Departemen Agama yang merupakan lembaga yang bertanggung jawab untuk mengurus dan memperbaiki masjid-masjid, termasuk menyediakan permadani dan mencukupi kebutuhan masjid. Jika Departemen Agama tidak mampu untuk mengurus seluruh kebutuhan masjid karena mengurus urusan yang lebih penting serta menunda pengurusan masjid, sementara penduduk tidak sabar menunggu, maka hendaknya mereka segera memperbaiki masjid tersebut dari harta mereka. Adapun zakat terkhusus untuk delapan jenis orang yang telah ditentukan Allah dalam firman-Nya:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

”Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Biajaksana.” (QS. 9:60)

Dari situ jelaslah bahwa masjid bukanlah salah satu dari delapan jenis yang disebutkan dalam ayat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhammad, kepada keluarga serta sahabat-sahabat beliau. Wabillahi taufiq. (Lajnah Da’imah)

Menyerahkan Zakat Kepada Orang yang Terkena Hukum Pidana dan Terlilit Hutang

Soal: Apakah boleh menyerahkan zakat kepada orang yang terkena hukum pidana atau terkena denda (diyat) dan orang yang terlilit hutang bilamana mereka meminta bantuan?

Jawab: Allah telah menjelaskan orang-orang yang berhak menerima zakat dalam firman-Nya:
”Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Biajaksana. ” (QS. 9:60)

Di antara orang yang berhak menerima zakat tersebut adalah orang yang berhutang. Orang yang berhutang ada dua jenis:

(Pertama) Yang berhutang demi mendamaikan dua orang yang bersengketa. Yaitu orang yang menjadi penengah untuk mendamaikan dua kelompok besar yang bertikai. Misalnya antara dua kabilah besar atau dua keluarga besar yang bersengketa tentang darah dan harta hingga menjurus kepada permusuhan, kemudian si penengah tersebut menanggung pembayaran harta yang dipersengketakan untuk meredam permusuhan di antara mereka. Maka dibolehkan menyerahkan zakat kepada si penengah tersebut sejumlah uang yang ditanggungnya meskipun ia orang kaya. Hal itu jika uang yang dipakai oleh si penengah tersebut uang pinjaman, jika uangnya sendiri, maka tidak boleh menyerahkan zakat kepadanya.

(Kedua)Orang yang berhutang untuk menebus dirinya dari orang kafir, atau untuk perniagaan yang dibolehkan atau yang diharamkan kemudian ia bertaubat. Jika ia seorang fakir, maka dibolehkan menyerahkan zakat kepadanya untuk melunasi hutangnya sekalipun karena Allah. (Lajnah Da’imah)

Hukum Menyerahkan Zakat Kepada Satu Keluarga

Soal: Apabila seorang ingin mengeluarkan zakat hartanya yang jumlahnya sedikit, misalnya dua ratus riyal. Manakah yang lebih utama, menyerahkannya kepada satu keluarga (yang berhak menerima zakat) atau membagi-bagikannya kepada beberapa keluarga. Berilah kami jawaban semoga Anda mendapat pahala.

Jawab: Jika jumlah zakat yang akan dikeluarkan jumlahnya sedikit, tentu saja menyerahkannya kepada satu keluarga yang membutuhkan lebih utama dan afdhal. Sebab membagi-bagikannya kepada beberapa keluarga sementara jumlahnya sedikit tentu saja manfaatnya juga berkurang. (Syaikh Ibnu Baz)

Tidak Boleh Menyerahkan Zakat Kepada Ibu dan Orang yang Meninggalkan Shalat

Soal: Apakah saya boleh menyerahkan sejumlah harta kepada ibu saya dan menganggapnya sebagai zakat? Perlu diketahui bahwa ayah saya masih memberi nafkah kepadanya dan keadaannya juga baik-baik saja, alhamdulillah?

Demikian pula saya mempunyai seorang saudara laki-laki yang mampu bekerja dan belum menikah, sementara dia tidak menjaga shalat lima waktu (semoga Allah memberi petunjuk kepadanya), apakah saya boleh menyerahkan zakat kepadanya? Berilah saya jawaban semoga Allah senantiasa menjaga Anda.

Jawab: Anda tidak boleh menyerahkan zakat Anda tersebut kepada ibu Anda, sebab ibu bapak tidak termasuk orang yang berhak menerima zakat. Dan juga ibu Anda tersebut telah tercukupi kebutuhannya oleh bapak Anda.

Sementara saudara lelaki Anda itu, maka tidak boleh menyerahkan zakat kepadanya selama ia masih meninggalkan shalat. Sebab shalat merupakan rukun Islam yang terpenting setelah syahadatain. Dan juga orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja kafir hukumnya. Ditambah lagi ia seorang yang berkemampuan dan sanggup berusaha. Bilamana ia membutuhkan nafkah, maka orang tuanyalah yang berhak memenuhinya, sebab orang tuanyalah yang bertanggung jawab atas dirinya dalam hal nafkah selama mereka berkemampuan. Semoga Allah memberi hidayah kepadanya dan membimbingnya kepada jalan yang benar serta melindunginya dari keburukan dirinya, dari godaan setan dan teman-teman yang jahat. (Syaikh Ibnu Baz)

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=indexkajian&id=1488§ion=kj056
http://www.alsofwah.or.id/cetakkajian.php?id=1508&idjudul=1488

 

Bunga Rampai Fatwa Tentang Zakat

Nafkah untuk Amal-amal Kebaikan Tidak Dapat Dijadikan Sebagai Pengganti Zakat

Soal: Ada sebuah koperasi di negeri kami yang menetapkan ketentuan menyisakan sepuluh persen dari laba bersihnya untuk amal-amal kebaikan. Di lain pihak Bazis meminta kepada koperasi agar membayar zakat keuntungannya. Pertanyaannya adalah apakah koperasi wajib membayar zakat keuntungannya? Perlu diketahui bahwa koperasi selalu mengeluarkan sepuluh persen dari keuntungannya untuk amal-amal kebaikan. Apabila koperasi wajib membayar, apakah zakat tahun-tahun terdahulu yang belum keluarkan wajib dibayarkan juga?

Jawab: Status hukum koperasi seperti itu sama dengan perusahaan produksi, wajib mengeluarkan zakat hartanya. Adapun sistem yang berlaku pada koperasi yang Anda sebutkan dalam soal di atas tadi, yaitu menyisihkan sepuluh persen dari laba bersihnya untuk amal-amal kebaikan tidaklah menghapus kewajiban zakat. Sebab sepuluh persen tersebut dianggap sebagai sedekah biasa saja, tidak dapat menggantikan sedekah wajib (zakat). Dan juga zakat adalah ibadah yang wajib hukumnya, harus disertai dengan niat saat membayar zakat tersebut. Sementara uang sebesar sepuluh persen laba bersih tadi tidaklah diniatkan sebagai zakat, hanya sebagai sedekah biasa saja. Oleh karena itu, berdasarkan hukum agama, koperasi tersebut wajib mengeluarkan zakat hartanya dan menyerahkannya kepada pemerintah yang berwenang bila memintanya. Demikian pula untuk tahun-tahun sebelumnya, koperasi wajib mengeluarkan zakat tahun-tahun sebelumnya itu. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad, kepada keluarga dan sahabat beliau.Wabillahi taufiq. (Lajnah Da’imah)

Mengeluarkan Zakat Harus Disertai Dengan Niat

Soal: Bolehkah saya bersedekah dengan sejumlah uang kepada orang yang membutuhkan dengan meniatkannya sebagai zakat ?

Jawab: Jika Anda mengeluarkan sejumlah uang lalu menyerahkannya langsung kepada kaum fakir dengan meniatkannya sebagai zakat harta Anda saat menyerahkannya maka terhitung sebagai zakat. (Lajnah Da’imah)

Hukum Mengeluarkan Zakat Harta Berupa Makanan, Pakaian atau Lainnya

Soal: Bolehkah mengeluarkan zakat harta dalam bentuk lain seperti makanan, pakaian dan barang-barang lainnya yang dibeli lalu diserahkan kepada yang berhak? Bolehkah menyerahkan sebagian zakat kepada karib kerabat? Dan siapakah yang termasuk karib kerabat?

Jawab: Dianjurkan mengeluarkan zakat dari jenis harta yang dibayarkan zakatnya, kecuali zakat perniagaan. Sebab cara mengeluarkan zakat perniagaan adalah dikalkulasi terlebih dahulu kemudian dikeluarkan zakatnya berupa uang. Namun jika si pembayar zakat memilih untuk membeli kebutuhan pokok untuk kaum fakir, seperti pakaian, nafkah dan barang yang diperlukan, maka hal itu kelihatannya dibolehkan. Satu hal lagi, hendaklah zakat tersebut diserahkan kepada delapan jenis orang yang telah disebutkan Allah dalam al-Qur’an. Meskipun mereka masih tergolong kerabat, bahkan yang afdhal adalah menyerahkan zakat kepada karib kerabat selama tidak ada unsur pilih kasih, mengkhususkan karib kerabat dari orang lain. Dan tidak dibolehkan menyerahkan zakat kepada ahli waris dan tidak pula kepada orang tua atau anak, termasuk di dalamnya kakek, cucu dan seterusnya. (Syaikh Ibnu Jibrin)

Hobinya Mengoleksi Mata Uang Asing, Apakah Wajib Mengeluarkan Zakatnya?

Soal: Seorang lelaki punya hobi mengoleksi mata uang asing. Di antara mata uang tersebut ada yang berharga dan ada pula yang tidak. Apakah wajib dikeluarkan zakatnya jika telah genap satu haul? Berilah kami jawaban semoga Anda mendapat pahala.

Jawab: Benar, ia wajib mengeluarkan zakatnya jika telah genap satu haul dan telah mencapai nishab, berdasarkan dalil-dalil umum dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebab status hukumnya sama seperti uang, dan kedudukannya sama seperti mata uang resmi. (Syaikh Ibnu Baz)

Bagaimanakah Caranya Mengeluarkan Zakat untuk Tahun-tahun Terdahulu?

Soal: Bagaimanakah caranya saya membayarkan zakat tahun-tahun sebelumnya jika tidak diketahui secara pasti jumlah uang yang harus dikeluarkan ?

Jawab: Sebagaimana dimaklumi bahwa zakat merupakan salah satu rukun Islam yang lima. Hukumnya wajib bagi yang terkena kewajiban zakat. Jika ia mengetahui secara pasti jumlah uang yang harus dikeluarkan, maka ia harus segera membayarkannya. Jika ia tidak mengetahui jumlahnya secara pasti, maka hendaknya ia mengeluarkan sejumlah uang dengan niat zakat hingga ia beranggapan kuat (zhann) bahwa jumlah uang yang dikeluarkannya tadi telah menutupi kewajiban zakatnya. Dan mendasarkan suatu perkara dengan zhann merupakan salah satu asas syariat. (Lajnah Da’imah)

Hukum Zakat yang Diserahkan ke Bazis atau Lembaga Pemerintah

Soal: Saya memiliki sebuah perusahaan. Saya selalu menyerahkan uang sebesar dua setengah persen dari modal saya kepada Bazis atau Lembaga Peme-rintah. Dengan niat uang tersebut adalah zakat harta saya. Jika saya tidak menyerahkan dua setengah persen tadi, maka kepentingan saya akan terganggu, seperti pengajuan proposal, pengajuan surat-surat dan sebagai-nya. Oleh karena itu saya tertuntut menyerahkan dua setengah persen tersebut. Akan tetapi saya pernah baca dalam beberapa kitab bahwasanya uang tersebut tidak sah dianggap sebagai zakat. Berarti saya harus mengeluarkan zakat selain dua setengah persen yang saya serahkan kepada Bazis atau Lembaga Pemerintah tersebut. Mohon jawabannya, karena demikianlah keadaan seluruh perusahaan di Saudi Arabia ini. Semoga Allah memberi taufik bagi Anda kepada kebaikan.

Jawab: Selama Anda diminta menyerahkan dua setengah persen sebagai zakat dan Anda juga mengeluarkannya dengan niat zakat, maka dua setangah persen tadi terhitung zakat. Sebab dalam hal ini Pemerintah berhak menarik zakat dari warganya yang kaya untuk disalurkan kepada yang berhak. Anda tidak perlu mengeluarkan zakat lagi selain uang yang tadi Anda serahkan kepada Pemerintah. Adapun bila Anda memiliki harta lainnya atau laba lainnya yang belum dikeluarkan zakatnya kepada Pemerintah, maka Anda wajib mengeluarkan zakatnya untuk diserahkan kepada kaum fakir atau kepada yang berhak. Wallahu waliyut taufiq. (Syaikh Ibnu Baz)

Bagaimanakah Cara Orang yang Berdomisili di Luar Negeri Mengeluarkan Zakatnya?

Soal: Seorang lelaki berdomisili di luar negeri. Bagaimanakah cara ia mengeluarkan zakatnya? Apakah ia mengirim zakatnya tersebut ke negeri asalnya? Ataukah cukup membagikannya di negeri tempat ia berdomisili? Atau bolehkah sebagai wakilnya ia menugasi keluarganya untuk membagi-bagikan zakatnya?

Jawab: Hendaknya ia melihat cara manakah yang paling bermanfaat bagi para penerima zakat. Apakah lebih bermanfaat ia bagikan zakatnya itu di negeri asalnya, ataukah yang lebih bermanfaat ia kirimkan kepada kaum fakir di negeri lain? Jika kedua-duanya sama bermanfaat, maka sebaiknya ia membagikannya di negeri tempat ia berdomisili. (Syaikh Ibnu Utsaimin)

Tidak Ada Kewajiban Zakat Pada Sayur-sayuran

Soal: Apakah sayur-sayuran, seperti tomat, kentang, bawang dan sejenisnya, wajib dibayarkan zakatnya?

Jawab: Yang wajib dibayarkan zakatnya adalah biji-bijian dan segala macam buah-buahan yang ditakar dan dapat disimpan. Adapun sayur-sayuran, tidak ada kewaji-ban membayarkan zakatnya. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh ad-Daraquthni dengan sanadnya dari Ali radhiyallahu ‘anhu

لَيْسَ فِي الخَضْرَاوَاتِ صَدَقَةٌ

“Tidak ada kewajiban membayarkan zakat pada sayur-sayuran.”

Demikian pula diriwayatkan dari ‘Aisyah d dan juga diriwayatkan oleh al-Atsram bahwa seorang pegawai Umar di daerah Karuum menulis surat kepadanya berisi berita bahwa di daerahnya banyak terdapat buah firsik dan delima. Maka Umar membalas suratnya itu sebagai berikut: “Tidak ada kewajiban zakat padanya, karena barang-barang tersebut termasuk pepohonan.” (Lajnah Da’imah)

Mengeluarkan Zakat Melalui Orang Lain yang Ditunjuk Sebagai Wakil

Soal: Saya memiliki beberapa ekor sapi di Mesir. Apakah saya wajib mengeluarkan zakatnya sementara saya sekarang berada di Irak? Ataukah saya menundanya hingga saya kembali ke Mesir?

Jawab: Anda wajib segera membayarkan zakatnya setiap kali genap satu haul. Wakilkanlah kepada seseorang di Mesir untuk mengeluarkan zakat Anda tersebut. Penunjukan wakil dalam mengeluarkan zakat hukumnya dibolehkan. Karena Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam juga mengutus para pegawai dan pekerja untuk menarik zakat dari pemilik harta kemudian membawanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Telah dinukil secara shahih bahwa beliau menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai wakil beliau dalam pelaksanaan penyembelihan sisa hewan korban pada Haji Wada’.

Wakilkanlah kepada orang yang Anda percayai di Mesir untuk mengeluarkan zakat hewan ternak Anda itu. Tidak boleh bagi Anda mengulur pembayaran zakat hingga Anda kembali ke Mesir, sebab hal itu dapat merugikan orang yang berhak menerimanya. Dan juga siapa tahu Anda meninggal dunia sebelum kembali ke Mesir? Dan barangkali ahli waris Anda tidak menunaikan zakat Anda sehingga kewajiban tersebut masih terbeban di pundak Anda! Tunaikanlah segera zakat Anda itu wahai saudaraku semoga Allah mencurahkan berkah-Nya kepada Anda janganlah ditunda-tunda. (Syaikh Ibnu Utsaimin)

Zakat Biji-bijian yang Disimpan

Soal: Saya mengambil sejumlah biji-bijian dari beberapa petani. Biji-bijian itu saya simpan dengan tujuan sebagai bekal makanan pokok anak-anak saya di masa mendatang dengan izin Allah. Apakah saya wajib mengeluarkan zakatnya?

Jawab: Biji-bijian tersebut, begitu juga seluruh barang yang disimpan untuk kebutuhan manusia tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah barang-barang yang disimpan untuk perniagaan, atau barang berupa uang, emas, perak atau uang sejenisnya. Itulah karunia dan anugrah Allah kepada hamba-Nya. Puji dan Syukur bagi-Nya atas karunia tersebut. (Syaikh Ibnu Baz)

Tidak Ada Kewajiban Zakat Pada Empat Ekor Unta

Soal: Jika seseorang memiliki empat ekor unta, sehari sebelum genap satu haul salah satu dari keempat ekor unta itu melahirkan anaknya. Apakah dengan lahirnya anak unta tersebut nishabnya terhitung sempurna?

Jawab: Jika seseorang memiliki kurang dari nishab zakat, misalnya tiga puluh ekor kambing, kemudian bertambah jumlah karena melahirkan sebelum genap satu haul bagi induknya, maka hitungan haulnya dimulai setelah genap nishabnya menurut pendapat yang diamalkan oleh jumhur ulama. Namun Imam Malik menyelisihi pendapat itu, ia mengatakan bahwa jika jumlahnya bertambah menjadi empat puluh kambing karena melahirkan sebelum genap satu haul, maka wajib dikeluarkan zakatnya yaitu seekor kambing bila telah genap satu haul. Menurut Imam Malik haul anak kambing yang lahir sebelum genap satu haul itu mengikuti hitungan haul induknya. Demikian pula dinukil dari Imam Ahmad dalam satu riwayat. Kesimpulannya, berdasarkan pendapat yang masyhur dan diamalkan bahwasanya tidak ada kewajiban zakat pada empat ekor unta, dan bahwasanya haul unta tersebut dihitung setelah genap nishab (lima ekor). (Lajnah Da’imah)

Hukum Menggugurkan Hutang Dengan Niat Zakat 

Soal: Apabila orang yang saya beri pinjaman kesulitan melunasi hutangnya, kemudian saya gugurkan hutangnya dengan meniatkannya sebagai zakat, apakah hal itu dapat terhitung sebagai zakat?

Jawab: Jika Anda meminjamkan uang kepada seseorang, maka tidak boleh Anda gugurkan hutangnya dan meniatkannya sebagai zakat. Sebab tindakan itu terhitung sebagai perlindungan terhadap harta Anda. Sebab Anda telah melepaskan piutang yang belum berada di tangan Anda sebagai zakat harta Anda. Sementara harta yang seharusnya Anda keluarkan sebagai zakat tetap berada di tangan Anda. Wabillahi taufiq. (Lajnah Da’imah)

Apakah Pena Emas Wajib Dikeluarkan Zakatnya ?

Soal: Saya diberi hadiah beberapa pena yang terbuat dari emas, apa hukum memakainya? Apakah wajib dikeluarkan zakatnya? Berilah saya jawaban semoga Anda mendapat pahala.

Jawab: Menurut pendapat yang benar, pena tersebut haram hukumnya dipergunakan oleh kaum lelaki, berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang umum:

أُحِلَّ الذَّهَبُ وَ الحَرِيْرُ لإِنَاثِ أُمَّتِي وَ حُرِّمَ عَلَى ذُكُوْرِ هِمْ

“Dihalalkan emas dan sutera bagi kaum wanita dari umatku dan diharamkan atas kaum prianya.”

Dan juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkenaan dengan emas dan sutera:

هَذَانِ حِلٌّ لإِنَاثِ أُمَّتِي وَ حَرَامٌ عَلَى ذُكُوْرِهِمْ

“Kedua benda ini halal bagi kaum wanita dari umatku, haram bagi kaum prianya.”

Adapun yang berkaitan dengan zakat, maka apabila pena emas tersebut telah mencapai nishab, atau mencapai nishab bila digabung dengan emas lain yang Anda simpan, maka wajib dikeluarkan zakatnya bila telah genap satu haul. Demikian pula wajib dikeluarkan zakatnya bila Anda memiliki perak atau barang perniagaan yang menggenapkan hitungan nishab pena emas itu, menurut pendapat ulama yang paling benar. Sebab emas dan perak sama saja kedudukan hukumnya dalam masalah zakat.(Syaikh Ibnu Baz)

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=indexkajian&id=1488§ion=kj056
http://www.alsofwah.or.id/cetakkajian.php?id=1512&idjudul=1488

 

Gharim
Selasa, 10 Mei 11
Gharim adalah orang yang memikul hutang demi satu dari dua kepentingan: Kepentingan (kemaslahatan) umum, seperti seseorang yang berhutang demi membayar ganti rugi kerusuhan atau pertikaian di antara dua pihak dari kaum muslimin, dia melakukan hal itu demi mendamaikan kedua kubu dan menghentikan pertikaian. Kepentingan pribadi yang mubah dan menjadi tuntutan hidupnya, seperti berhutang untuk membiayai pengobatan dirinya atau untuk membeli kendaraan yang diperlukannya.

Dalam kedua keadaan di atas, gharim berhak menerima zakat dalam rangka membantunya terbebas dari belitan hutang.

Bila gharim untuk kebutuhan sekunder atau dalam rangka pamer atau bermewah-mewah atau kesombongan dan semacamnya, atau gharim dalam rangka durhaka dan maksiat kepada Allah, maka dia tidak berhak diberi zakat, karena zakat membantu dalam ketaatan bukan dalam kemaksiatan.

Zakat memotong hutang

Atau dengan kata lain, bisakah menggugurkan hutang dengan memperhitungkannya ke dalam zakat. Anda misalnya sebagai muzakki (wajib zakat), seseorang berhutang kepada Anda, bisakah hutang tersebut Anda anggap lunas dengan memotong zakat yang harus Anda keluarkan?

Tidak bisa, karena dalam kasus ini Anda sebagai muzakki mengambil keuntungan dari zakat, Anda melindungi harta Anda dengan zakat Anda sendiri. Sebagian ulama berkata, bila pihak penghutang mampu membayar, maka bisa karena dalam kasus ini anda tidak mengambil keuntungan, namun bila pihak penghutang tidak mampu maka tidak.

Mayit meninggalkan hutang

Bila mayit meninggalkan hutang, sementara dia tidak meninggalkan warisan atau meninggalkan tetapi tidak cukup dan ahli warisnya juga tidak mampu membayar hutangnya sedangkan pemilik hak tetap menuntut, apakah hutang yang dipikulnya bisa dibayar dari zakat? Bisa, karena yang bersangkutan termasuk gharim yang berhak menerima. Wallahu a’lam.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatfiqih&id=232
http://www.alsofwah.or.id/cetakfiqih.php?id=232

 

(Dibaca 1.160 kali, 1 untuk hari ini)