Kebijakan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang mendorong masyarakat untuk kembali kepada ajaran-ajaran asli Sunda merupakan bagian dari gerakan nativisasi.

Nativisasi sendiri, menurut Sejarawan Muslim Tiar Anwar Bachtiar, adalah upaya mengembalikan masyarakat kepada budaya-budaya pra-Islam yang dianggap asli dan bersifat klenik.

Nativisasi sendiri, imbuh Tiar, tidak selalu bermakna mengembalikan ke ajaran Hindu. “Pokoknya mengembalikan ke ajaran-ajaran asli yang musyrik,” tandasnya.

Ilustrasi: Umat Islam Purwakarta Jawa Barat kembali membuktikan semangatnya untuk meruntuhkan kemunkaran di kotanya. Siang ini, Minggu (18/9 2011) massa gabungan sejumlah Ormas Islam, dan pondok pesantren merobohkan patung di sejumlah sudut kota./ ermslm/inilah

Perlu diketahui, dalam Islam, kemusyrikan itu dosa terbesar, tidak diampuni bila seseorang meninggal alam keadaan musyrik (belum bertaubat). Nasib orang musyrik, amalnya sia-sia, dan kelak tempatnya di neraka kekal selama-lamanya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [Al-An’am: 88]

Juga firman Allah Ta’ala,

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

“Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapuslah amalanmu.” [Az-Zumar: 65]

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maidah: 72]

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluq.” [Al-Bayyinah: 6]

Sejarawan: Bupati Purwakarta Lancarkan Gerakan Nativisasi

KIBLAT.NET, Jakarta – Sejarawan Muslim Tiar Anwar Bachtiar menilai kebijakan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang mendorong masyarakat untuk kembali kepada ajaran-ajaran asli Sunda merupakan bagian dari gerakan nativisasi.

“Itu gerakan nativisasi,” katanya saat dihubungi Kiblat.net pada Senin malam (07/13)

Nativisasi sendiri, menurut Tiar, adalah upaya mengembalikan masyarakat kepada budaya-budaya pra-Islam yang dianggap asli dan bersifat klenik.

Nativisasi bukan saat ini saja terjadi, nativisasi merupakan warisan strategi kolonial Belanda untuk melemahkan umat Islam sudah dilakukan sejak lama dan terus berlangsung hingga sekarang.

“Ketika umat Islam lemah, jauh dari aqidah, lebih mudah untuk dikalahkan,” ucap Tiar.

Belanda melalui nativisasi, ingin berargumen bahwa Indonesia berakar budaya dari Hindu.

Tiar Anwar Bachtiar

Sejarawan Muslim, Tiar Anwar Bachtiar

Salah satu tokoh Barat yang melakukan nativisasi adalah Thomas Stamford Raffles. Raffles mantan Gubernur di era kolonial itu melakukan eskavasi beberapa candi, di antaranya Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Panataran.

“Benda-benda sejarah Hindu itu sebagai argumen ilmiah bahwa Indonesia asalnya adalah Hindu,” papar Tiar.

Tokoh Indonesia, lanjut Tiar, juga banyak yang mengusung upaya nativisasi. Salah satunya adalah Mohammad Yamin. Dia sangat kencang menyerukan dihidupkannya budaya-budaya pra-Islam di Indonesia.

“Walau namanya Mohammad Yamin, dia yang menggagas bahwa kejayaan politik Indonesia adalah pada zaman Sriwijaya dan Majapahit. Dia juga pernah membuat buku berjudul 600 tahun Sang Saka Merah Putih, dia mengaitkan jauh sekali dengan masa hindu. Dia ingin membangun argumen bahwa aslinya Indonesia itu bukan Islam,” paparnya.

Nativisasi sendiri, imbuh Tiar, tidak selalu bermakna mengembalikan ke ajaran Hindu. “Pokoknya mengembalikan ke ajaran-ajaran asli yang musyrik,” tandasnya.

Reporter: Bilal Muhammad
Editor: Fajar Shadiq

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.309 kali, 1 untuk hari ini)