SERIKAT Pengacara Rakyat (SPR) melaporkan Direktur Eksekutif Lembaga Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi terkait pernyataannya di konferensi pers yang dilakukan pada 10 Juli 2014. Pernyataan yang telah dikeluarkan Burhanuddin dinilai provokatif dan meresahkan masyarakat.

Menurut  Juru bicara SPR, Sahroni, pernyataan yang telah dikeluarkan Burhanuddin juga bertentangan dengan undang-undang.

“Apabila KPU dalam real count berbeda dengan quick count, pastilah hasil KPU salah dan yang paling benar quick count kami,” ucap Sahroni meniru pernyataan Burhanuddin 10 Juli lalu di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Senin (14/7/2014).

“Pernyataannya ini diduga erat kaitannya dengan upaya dan persekongkolan jahat untuk memenangkan salah satu kandidat presiden,” tambah Sahroni.

Sahroni mengatakan, apa yang diucapkan Burhanuddin bertentangan dengan pasal 15 UU no 1 tahun 1946. Bunyi pasal tersebut, berisi “Barang siapa yang menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar berkelebihan atau yang tidak lengkap sedangkan dirinya mengerti atau setidak-tidaknya patut diduga kabar demikian akan atau mudah menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, dihukum dengan hukum penjara selama 2 tahun

“Kami khawatir sepak terjang Burhanudin merupakan bagian dari konspirasi jahat untuk memenangkan Jokowi-JK dengan menghalalkan berbagai cara, termasuk memanipulasi hasil hitung cepat,” tegas Sahroni seperti dikutip Liputan6.com.

Menurut Sahroni, lembaga yang paling berwenang untuk memutuskan pemenang pilpres adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU), melalui perhitungan rekapitulasi surat suara pada 22 Juli 2014. Jika dicermati, sambung Sahroni, pernyataan BM juga merupakan intimidasi terhadap KPU.

“Upaya ini merupakan bentuk intimidasi pelaksana KPU di daerah dan pusat agar condong memilih salah satu quick count yang mereka nyatakan,” tandas Sahroni seraya masuk ke ruangan Bareskrim. [Pz/Islampos] Senin 16 Ramadhan 1435 / 14 Juli 2014 20:43

***

Demi Jokowi dan Yahudi, Burhanuddin Muhtadi Takabur dan Pojokkan Islam

Bila tentara-tentara Yahudi Israel senantiasa membunuh kaum Muslim Palestina dengan kejam, maka intelektual-intelektual Yahudi mengendalikan negeri-negeri Muslim dengan membentuk lembaga-lembaga survei.

Burhanuddin Muhtadi yang kini terkenal sebagai pengamat politik, ternyata semasa kuliah di Faculty of Asean Studies, Australian National University, pernah membuat tulisan yang memojokkan intelektual Islam. Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia ini,  saat itu menulis di Graduate Journal of Asia-Pacific Studies, 2007, dengan judul The Conspiracy of Jews: The Quest for Anti-Semitism in Media Dakwah (Konspirasi Yahudi: Pencarian Anti Semitisme di Media Dakwah).

Direktur Indikator Politik Indonesia (IPI), Burhanudin Muhtadi yang menjadi salah satu lembaga survei pro Jokowi-JK melalui quick count-nya memenangkan pasangan nomor urut dua (Jokowi-JK).

Burhanudin Muhtadi meyakini kalau hitung cepatnya itu benar. Bahkan, dia menuding kalau hitungan real count KPU berbeda jauh dengan hasil hitungannya, maka KPU telah salah hitung.

Selain Indikator, masih ada lagi sejumlah lembaga survei yang memenangkan pasangan Jokowi-JK, yakni Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Populi Center, CSIS, Litbang Kompas, RRI, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), dan Poltracking Institute.

Beberapa waktu lalu menjelang pemilu 9 April 2014 Burhanudin juga meremehkan fatwa MUI. Ketika pimpinan MUI mengeluarkan agar umat Islam memilih caleg Muslim, Dosen UIN dan Paramadina ini buru-buru menyatakan : “Saya yakin seruan FUI-MUI itu tidak akan punya efek besar.”

Sosok liberal kelahiran Rembang 1977 yang kini dinilai takabur ini tak diragukan keliberalannya karena dia adalah Editor di Jaringan Islam Liberal (JIL), Jakarta (sejak tahun 2001), masa awal dikenalnya JIL. Bahkan sejak kuliah di Australia, Burhanuddin sudah menunjukkan dirinya membela Yahudi, hingga Burhanudin Muhtadi cenderung mengikuti pendapat orientalis, bahwa tidak ada konspirasi Yahudi.

– See more at: https://www.nahimunkar.org/demi-jokowi-dan-yahudi-burhanuddin-muhtadi-takabur-dan-pojokkan-islam/#sthash.XIyk0bp4.dpuf

(nahimunkar.com)

(Dibaca 491 kali, 1 untuk hari ini)