Seorang pengamat mengatakan, tindakan yang dilakukan oleh Mabes Polri sangat melanggar kebebasan berpendapat yang selama ini digaungkan oleh Indonesia. Karenanya, dirinya melihat kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) sudah menunjukan kediktatorannya.

Tukang Sate Penghina Jokowi Dibela Netizen

100327_medium

Pemuda 24 tahun berinisial MA, ditahan di Markas Besar Polisi Republik Indonesia karena tuduhan menghina Presiden Joko Widodo di media sosial Facebook. Penahanan MA ini sontak mengejutkan warga dunia maya yang biasa disapa netizen. Mereka menyayangkan penahanan MA.
Quote:
“Loh, kok, belum apa-apa sudah mau ikut-ikutan gaya orba?” cuit akun @kang_aden, seperti yang dikutip Tempo, Kamis, 28 Oktober 2014.

Akun @Bemz_Q ikut mencuit, “Cuma lulusan SMP, dan tukang sate (kalau infonya benar) yang mem-bully Jokowi, kenapa tidak dilakukan pendekatan baik-baik saja dulu?” ujar akun itu.
Quote:
Bahkan, Stand Up Comedian Sammy, melalui akunnya @NOTASLIMBOY yang memiliki pengikut lebih dari 84 ribu orang, ikut mencuit dengan me-mention langsung Presiden Joko Widodo. “Pak @jokowi_do2… Itu yang perang status di Facebook ada yang ditangkap polisi, Pak… Semoga bapak baca mention saya,” kata dia.
Inilah beritanya.
***

Soal Bullying, Jokowi Harus Berguru kepada SBY

104600_medium

JAKARTA – Pengamat Politik dari Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit mengeluhkan aksi penangkapan Bareskrim Mabes Polri yang menangkap MA (23), karena mem-bully Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurut dia, tindakan yang dilakukan oleh Mabes Polri sangat melanggar kebebasan berpendapat yang selama ini digaungkan oleh Indonesia. Karenanya, dirinya melihat kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) sudah menunjukan kediktatorannya.

“Ini (MA) harus dibebaskan, kalau tidak Jokowi sebagai pemimpin bisa dicap diktator,” ujarnya kepada Okezone di Jakarta, Rabu (29/10/2014).

Arbi Sanit melanjutkan, penangkapan tersebut sangat tidak dibenarkan. Dia pun meminta Jokowi belajar kepada mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang sering di-bully dengan lontaran kata-kata yang parah oleh warga dunia maya (netizen).

Namun, SBY hanya diam saja. Karena dia tahu, kebebasan menyampaikan pendapat tidak bisa dilarang. “Iya waktu dahulu SBY mukanya diganti jadi kerbau, dan SBY dibilang kerbau juga tidak melapor,” tegasnya.

Dengan demikian, alangkah baiknya pihak Mabes Polri mengkaji kembali penangkapan tersebut, dan melihat apakah yang dilontarkan MA lewat akun Facebooknya memang tidak pantas dilakukan.

“Kalau bahasanya masih sopan itu berati tidak melanggar apa-apa, dan itu juga tidak jadi soal karena subtansi Indonesia adalah demokratis,” pungkasnya. (fid) (ded) Rabu, 29 Oktober 2014 – 10:03 wib | Gunawan Wibisono – Okezone

***

Apes, Tukang Sate Ditangkap Karena Mem Bully Jokowi di Media Sosial

Apes betul nasib Warga Ciracas, Jakarta Timur, harus merasakan dinginnya penjara Bareskrim Mabes Polri karena dituding mem-bully Presiden Indonesia ke 7 Joko Widodo (Jokowi) di akun jejaring sosial (facebook) miliknya.

Kuasa hukum tersangka, Irfan Fahmi, mengatakan bahwa pelaku ditangkap di rumahnya pada Kamis 23 Oktober 2014 oleh empat penyidik Mabes Polri tanpa pakaian dinas. Dia dilangsung digelandang ke Mabes Polri, dan dalam waktu 1×24 jam langsung dilakukan penahanan.

“Dia dilaporkan tanggal 27 Juli 2014 berdasarkan dokumen yang saya lihat. Kemudian prosesnya bergulir terus dari penyelidikan, penyidikan hingga sekarang,” ujar Irfan kuasa hukum pelaku, Selasa (28/10/2014).

Irfan mengaku tidak tahu siapa yang melaporkan MA atas tuduhan pencemaran nama baik tersebut. Namun, dalam dokumen kepolisian, MA ditetapkan dengan pasal berlapis yaitu Pasal 310 dan 311 KUHP, Pasal 156 dan 157 KUHP, Pasal 27, 45, 32, 35, 36, 51 UU ITE.

“Sampai sekarang MA masih ditahan,” tukasnya.

Pasal yang dikenakan adalah UU ****ografi, pencemaran nama baik, dan UU ITE. Terkait dengan jeratan UU ****ografi, diduga MA memasang editan foto pihak pelapor yang digabung dengan gambar yang berbau ****ografi.

“Pada masa pilpres kemarin banyak foto-foto editan tersebar. Namun nanti saya cek lagi,” imbuhnya.

Pria asal Ciracas, Jakarta Timur ini berjenis kelamin lelaki. Usianya sekitar 24 tahunan, situs Okezone menyebutnya 23 tahun. Dia hanya tamatan SMP dan bekerja sebagai pembantu tukang tusuk sate.

“Saya lihat jempol tangannya luka karena keseringan nusuk sate,” imbuh Fahmi. (okezone)


Ibu MA Siap Bersimpuh ke Jokowi

Penahanan MA membuat ibunya sangat bersedih. Ia syok berat ketika mengetahui anaknya ditangkap polisi. Hampir setiap hari ia menangis meratapi nasib anaknya itu.

Menurut Irfan, ibu MA rela jika dirinya harus bersimpuh di hadapan Jokowi demi meminta maaf atas kesalahan anaknya. Ibu MA juga berharap anaknya tidak dipenjara, meskipun ia telah salah karena menghina orang yang kini menjadi Presiden.

Tukang Sate Penghina Jokowi Dibela Netizen

Pemuda 24 tahun berinisial MA, ditahan di Markas Besar Polisi Republik Indonesia karena tuduhan menghina Presiden Joko Widodo di media sosial Facebook. Penahanan MA ini sontak mengejutkan warga dunia maya yang biasa disapa netizen. Mereka menyayangkan penahanan MA.

Quote:

“Loh, kok, belum apa-apa sudah mau ikut-ikutan gaya orba?” cuit akun @kang_aden, seperti yang dikutip Tempo, Kamis, 28 Oktober 2014.

Akun @Bemz_Q ikut mencuit, “Cuma lulusan SMP, dan tukang sate (kalau infonya benar) yang mem-bully Jokowi, kenapa tidak dilakukan pendekatan baik-baik saja dulu?” ujar akun itu.

Quote:

Bahkan, Stand Up Comedian Sammy, melalui akunnya @NOTASLIMBOY yang memiliki pengikut lebih dari 84 ribu orang, ikut mencuit dengan me-mention langsung Presiden Joko Widodo. “Pak @jokowi_do2… Itu yang perang status di Facebook ada yang ditangkap polisi, Pak… Semoga bapak baca mention saya,” kata dia.

MA ditahan di Markas Besar Polisi Republik Indonesia sejak Kamis pekan lalu hingga hari ini. Warga Ciracas, Jakarta Timur ini memuat beberapa konten yang menghina Jokowi dalam akun Facebook pribadinya saat kampanye pemilihan presiden Juli lalu.

Menurut Irfan Fahmi, kuasa hukum MA, dia hanya ikut-ikutan pengguna Facebook lain yang riuh rendah mengikuti perkembangan politik. “Dia hanya terjebak situasi politik saat itu,” kata Irfan.

Sementara itu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli mengatakan belum mengetahui kejelasan kasus ini. “Saya belum dapat informasinya. Saya cek dulu besok,” kata dia melalui pesan singkat. (sumber: tempo) / http://forum.viva.co.id/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.212 kali, 1 untuk hari ini)