Busuk Ketekuk, Pinter Keblinger (yang bodoh tertindas, yang pintar pun menyeleweng)

 

  • Peringatan lantang bagi para pengusung ajaran penjajah kafir namun atas nama Islam.

***

 

Pepatah jawa: Busuk ketekuk, pinter keblinger (yang bodoh tertindas, yang pintar pun menyeleweng).

Apakah pepatah ini muncul di zaman penjajah kafir ya? Wallahu a’lam. Tapi biasanya pepatah Jawa model begini merupakan sindiran ataupun peringatan. Boleh jadi ini menyindir orang yang bodoh tertindas penjajah, sedang yang pinter meng-antek ke penjajah atau pun yang ga’ percaya akherat misalnya, maka keblinger, sesat, nyeleweng. Walau pinter bahkan kyai atau ulama pun bila kecemplung ke kancah yang dipimpin manusia tidak percaya akherat, ya keblinger namanya. Bisa2 mungkin saja sampai bilang, ga’ halal ya ga’ apa2.

Ha?

Kalau menyangkut penjajahan, entah karena bodohnya yang dijajah atau pinternya sang penjajah, kadang keadaannya menggelikan. Contohnya begini. Sudah jelas penjajah2 kafir itu anti Islam, memusuhi Islam. Dalam perkembangan zaman, balakangan, para penjajah kafir itu meninggalkan negeri2 jajahannya karena diusir. Karena penduduk Islam yang dijajah berjuang untuk merdeka dengan berjihad melawan penjajah kafir hingga sang penjajah terpaksa hengkang pergi dari negeri2 Islam jajahannya. Anehnya, kemudian tahu2 orang2 pinter dari bekas negeri jajahan itu malah ngantri untuk belajar ke negeri2 penjajah kafir untuk meneruskan dan meniru sepak terjang sang penjajah.

Ha?

Mereka yang pinter2 dari negeri2 bekas jajahan orang kafir itu ramai2 pergi ke negeri2 penjajah kafir untuk belajar Islam ke negeri2 kafir yang tadinya menjajah mereka. Aneh. Padahal, sudah jelas negeri kafir penjajah itu bukan pusat sumber Islam. Bahkan penjajah kafir itu mempelajari Islam demi memuluskan penjajahan di negeri2 Islam. Lha kok malah bekas2 jajahan mereka, orang2 pinternya belajar Islam ke negeri2 kafir penjajah? Untuk apa kalau tidak untuk menirukan jejak langkah penjajah dalam menipu Umat Islam dan tujuan2 busuk lainnya? Apakah negeri2 Islam bahkan pusat diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah dan Madinah sudah tidak ada lagi ulama para pewaris ilmu Nabi? Jelas masih ada bahkan banyak ulama di sana. Tetapi tentunya ada maksud2 lain, ketika justru yang dipelajari ilmu ‘Islamnya’ itu yang ada di negeri2 kafir penjajah.


Ketika pulang dari belajar ilmu ‘Islam’ dari negeri2 penjajah, rata2 mereka mengajar di perguruan2 tinggi Islam bahkan menduduki jabatan2 tinggi yang berkaitan dengan urusan agama Islam. Lalu disingkirkanlah lafal kafir dan sebagainya, diganti dengan lafal yang tidak menyakiti orang bukan Islam, katanya. Dikobarkanlah istilah2 dari bukan ilmu Islam, misalnya Islam liberal, pluralisme agama, inklusivisme, multikulturalisme dan semacamnya. Hingga Umat Islam tidak faham, apa itu maknanya dan maksudnya. Padahal itu semua adalah bermuatan kemusyrikan baru, yaitu menjurus ke ‘merelatifkan kebenaran Islam’ dianggap relatif sama benarnya dengan agama2 kemusyrikan, agama2 selain Islam.

Bila dijelaskan dengan istilah2 Islam, bahwa merelatifkan kebenaran Islam (padahal Islam itu benar mutlak) itu berarti pemurtadan, mengeluarkan keimanan dengan menyuntikkan keragu-raguan; maka Umat akan menolak mentah2. Tetapi ketika yang dibawa itu istilah2 bukan dari Islam, bahkan diajarkan di perguruan2 tinggi Islam, maka akibatnya bisa ditelan oleh para mahasiswanya, tanpa tahu bahwa itu sebenarnya adalah pemurtadan, pemusyrikan, penyuntikan racun keragu-raguan terhadap Islam.

Nah, ketika alumni2 Barat atas nama studi Islam itu tadi ramai2 mengajarkan ‘islam’ yang produk para guru2 besar negeri2 kafir penjajah itu secara serempak menggarap para mahasiswa perguruan tinggi Islam se-Indonesia, pada dasarnya mereka adalah ibarat misionaris2 bekas penjajah kafir yang terjun ramai2 merata di mana2.

Yang bagai misionaris2 itulah boleh dibilang sebagai orang2 pinter keblinger menurut pepatah Jawa itu. Sedang para mahasiswa yang dicocok hidungnya secara ramai2 oleh ‘misionaris2 barat’ itu ibaratnya adala busuk ketekuk.

Waduh. Hanya untuk mewujudkan busuk ketekuk pinter keblinger secara massal saja ternyata Umat Islam harus membiayainya ramai2?

Jadinya, betapa jahatnya penjajah kafir masa kini dan antek2nya dalam menggarap Umat Islam. Sudah duit Umat Islam disedot, masih pula diperuntukkannya adalah untuk menjadikan jajahannya yang statusnya ‘merdeka’ itu dijadikan manusia2 yang ‘BUSUK KETEKUK PINTER KEBLINGER’. Bahkan sudah sekeblangsak itupun masih ada yang bangga lagi! Ciloko mencit! (celaka paling puncak).

Dikhawatirkan, mereka itu akan sengsara selama-lamanya di akherat, menjadi sekolam dengan para kafir penjajah nasibnya kelak. Itulah yang harus sangat dikhawatirkan. Benar2 busuk ketekuk pinter keblinger, tapi kadang malah bangga. Aneh bin ajaib tenan!



Ilustrasi. anak2 berpeci dengan logo NU membaca puisi Jumat Agung/hari paskah karya Ulil Abshar Abdalla Foto/ytb

. Ulil Anak Kyai Kalangan NU Korban Ajaran Romo Jesuit Jadi Pentolan Liberal?

Posted on 5 Agustus 2020

by Nahimunkar.org

 

Semoga Allah Ta’ala melindungi hamba2nya yang istiqomah memegangi Islam sesuai dengan yang disampaikan oleh Nabi-Nya, bukan Islam yang direkayasa oleh para penjajah di dunia ini dan antek2nya. Aaamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 484 kali, 1 untuk hari ini)