Buzzer bagai Seonggok Kompresor, Kerjanya Cuma Satu, Meniup-niup

  • kompresor termasuk mesin yang dungu.
  • Kerjanya cuma satu, meniup!

Dari segala macam jenis mesin, kompresor termasuk mesin yang dungu. Nggak ada otaknya dibanding mesin-mesin lain yang lebih pintar. Dari jenis yang paling keren seperti kompresor yang tidak banyak uap air dan suara lebih jernih sejenis air compressor screw yang mampu meniup selama 24 jam, atau yang paling berisik semacam kompresor tukang tambal ban, maupun kompresor mini untuk pengecatan. Kerjanya cuma satu, meniup! Tentu saja setiap benda punya keunggulan. Keunggulan kompresor adalah mampu meniup-niup tanpa kenal lelah. Bahkan ada yang mampu sampai 24 jam nonstop.

 

Begitulah para buzzeRp. Buzzer dari jenis apapun, baik yang suaranya nggak bising sampai yang paling bising, tidak kenal lelah setiap hari meniup-niup isu yang nggak ada manfaatnya. Karena pekerjaan utamanya adalah meniup maka buzzer perutnya lebih besar ketimbang otaknya.

 

Nggak usah banyak-banyak. Ambil satu contoh saja buzzer yang paling “pintar” dan punya jabatan. Dia meniupkan rasa permusuhan pada satu kelompok sekaligus menghina pribadi seseorang. Dia mengatakan, Rocky Gerung yang nggak jelas agamanya tapi bisa diterima di kalangan Islam intoleran.

 

Kata intoleran yang populer selama ini kan ditujukan pada muslim yang dituduh tidak mau menerima perbedaan agama. Lha, kalau muslim yang tidak toleran tapi bisa menerima orang yang agamanya nggak jelas kan sama saja dia membantah ucapannya sendiri. Muslim yang mau menerima orang yang beda agama kan namanya muslim toleran, apalagi kalau menerima yang agamanya nggak jelas, berarti super toleran.

 

Ucapannya itu ditiupkan setelah sehari dia mengatakan, sebagai pejabat di kementerian yang ngurusin soal informasi, dia pernah minta tolong secara gratisan UAS dan Ustadz Haikal Hasan ( UHH ) untuk mengedukasi umat Islam dalam menghadapi Covid19. Dan itu telah dilakukan dengan ihlas oleh kedua ustadz itu. Satu ucapan UAS yang terkenal dalam edukasi itu adalah perbandingan virus corona dengan kandang singa.

 

Sedangkan fatwa kakak pembina para buzzer telah menetapkan UAS, UHH, dan lainnya sebagai ulama yang intoleran. Jejak digital para buzzer masih ada di medsos yang menjadikan wajah UAS jadi bahan olok-olok. Dan belum lama ini, para buzzer rame-rame minta polisi menangkap UHH karena dianggap antek-antek HTI.

 

Jadi, bijimane ceritanye sang kompresor minta tolong ulama yang dituduh intoleran mengedukasi umat? Pada saat bersamaan dia memainkan isu Islam intoleran? Ini kan sama saja bukan cuma menjilat ludah sendiri, tapi sudah memakan ludah yang tercampur dengan kotoran.

 

Jubir Istana beda lagi. Dengan percaya diri dia mengatakan, influencer adalah jembatan antara pemerintah dengan rakyat. Bedanya influencer dengan buzzer hanya pada pembagian tugas saja.

Jembatan macam apa kalau guru influencer yang digaji pemerintah kerjaannya nyinyirin goodbener Anies Baswedan sebagaimana yang terpajang di akun Yosi sang guru buzzer.

 

Kalau buzzer sebagai jembatan, berarti buzzer rela diinjak-injak. Mana mau buzzer kaya gitu. Anggap saja sebagai jembatan rusak. Jembatan yang menjebak. Bisa dilalui satu dua orang, tapi kalau yang lewat jembatan itu sudah kelewat banyak, rame-rame nyebur ke sungai. Di sungai itu banyak buaya pula yang sengaja dipelihara. Nasib…nasib…

 

-Balyanur

Via fb

Bang Rojak

13 jam (yang lalu)

***

Pengamat: Influencer Lebih Pake Otak, Buzzer Hanya Pake Jempol

 



 

Jakarta (PARADE.ID)- Pengamat politik Hendri Satrio menyebutkan setidaknya ada dua perbedaan antara influencer dengan buzzer. Pertama, kata dia, influencer itu lebih mengutarakan opini pribadi, sementara buzzer hanya mempromosikan opini dari orang lain.

“Ini yang kedua, influencer lebih pake otak sementara buzzer cuma pake jempol #Hensat,” kata dia, (30/8/2020), di akun Twitter-nya.

 
 

“jadi jangan juga Buzzer dibilang Influencer. Influencer beda dengan Buzzer,” sambungnya.

Selain itu, menurut Hendri, cara kerja buzzer dengan influencer bisa dikatakan berbeda. Ide influencer datang dari diri sendiri, sedangkan buzzer beramai-ramai (kolektif).

“Nah selama ini situ pake otak atau cuma ngandelin jempol, kalo cuma ngandelin jempol ya bukan influencer lah.”

(Robi/PARADE.ID)  by redaksi

 
 

 Agustus 30, 2020

 
 

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 123 kali, 1 untuk hari ini)