Besok Rabu (17/4) dijadwalkan Pemilu Serentak 2019 dilaksanakan. Namun disisa waktu tersisa, petaka yang berpotensi menggerus elektoral petahana terjadi. Ya, nama Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin disebut-sebut menerima aliran dana suap Rektor.

Nama Cak Imin seakan menggenapi pemakluman perilaku korup di lingkar Jokowi. Sebelumnya, Setya Novanto yang fenomenal dengan kasus ‘papa minta saham’ yang mencatut nama Jokowi juga berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan kasus korupsi e-KTP. Ditambah lagi dengan kasus dugaan korupsi mantan menteri Jokowi, Idrus Marham, terkait dugaan korupsi PLTU Riau.

Kata-katanya nih, uang sumber korupsi tersebut mengalir ke tubuh Partai Golkar. Aliran dana korupsi itu diduga menjadi sumber pendanaan Munaslub Golkar. Keterangan tersebut didapatkan dari kesaksian Eni Saragih yang juga merupakan kader Golkar yang ikut diciduk KPK bersamaan dengan Idrus Marham dalam kasus PLTU Riau.

Aliran dana korupsi yang diduga mengalir kelembaga politik juga dialami partai besutan Megawati Soekarnoputri. Dugaan itu muncul dari kasus yang menimpa Wali Kota Kendari bernama Asrun. Dalam sidang di Pengadiln Tipikor, Rabu (4/9/2018), Hasmun Hamzah mengaku menyerahkan uang sebesar Rp 5 miliar ke kantor Pusat PDIP untuk kepentingan Asrun sebagai Gubernur Sulawesi Tenggara pada Pilkada 2018.

Kasus korupsi yang mengalir ke PDIP juga diduga terjadi atas kasus korupsi Bupati Cirebon Sunjaya Purwadi. Diketahui, dana tersebut mengalir ke PDIP sebagai sumbangan untuk kegiatan Parpol di hari Sumpah Pemuda tahun 2018. PDIP yang dicap partai terkorup seolah-olah tidak pernah berbenah dan memaklumi perilaku korup para kadernya.

Peristiwa korupsi paling bombastis pasca reformasi juga dilakukan kader PDIP. Kader PDIP yang menjadi Bupati Kotawaringin Timur, Supian Hadi, diduga melakukan korupsi sebesar Rp 5,8 triliun dan dengan kebocoran anggaran negara mencapai Rp 500 triliun. Sebuah angka yang fantastis jika dilakukan sendiri tanpa ada backup yang besar.

Kasus terdekat, mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy alias Romi diciduk KPK terkait dugaan kasus jual beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag). Romi ditangkap bertepatan diseberang Posko Tim Kampanye Daerah (TKD) Jawa Timur pasangan Jokowi-Ma’ruf. Diciduknya Romi dinilai banyak pengamat menggerus elektoral Jokowi hingga lebih satu persen.

Kembali ke Cak Imin, kasus dugaan suap Rektor sebelumnya sudah pernah diungkap Mahfud MD dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC). Dalam keterangannya kala itu, Mahfud mengaku punya data yang valid untuk mengungkap hal tersebut. Apakah ada keterangan Mahfud yang menjadi dasar dalam kasus ini, allahualam.

Jika ditarik garis peristiwa kasus dugaan suap rektor tersebut, berkemungkinan bisa ditemukan benang merahnya. Mulai dari orang dekat Cak Imin yang menjadi perantara, lalu kemungkinan masuk ke Cak Imin, lalu berlanjut ke menteri yang kebetulan juga berasal dari irisan yang sama dengan PKB. Terlepas dari tersangkut atau tidaknya Cak Imin dalam kasus ini, tapi setidaknya kasus ini menyiratkan bahwa pemakluman perilaku korup terjadi di lingkar Jokowi.

Berry Salam, Pegiat Masyarakat Berkeadilan

Sumber : http://politiktoday.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.293 kali, 1 untuk hari ini)