ilutrasi/ foto kabarmakkah.com


Menginovasi Agama Itu Jelas Terbalik

Urusan dunia pada dasarnya senantiasa perlu inovasi (selama tidak mengandung keharaman). Namun tampaknya justru Umat Islam banyak yang tidak punya  greget untuk mengadakan inovasi. Hingga kemajuan dalam hidup jadi kalah atau lemah.

Sebaliknya, ursan ibadah yang haram diinovasi, justru sebagian orang (bahkan disebut ahli dalam Islam) justru berani membuat inovasi. Akibatnya, yang diamalkan justru yang tidak ada suruhan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdampak amaliyahnya dalam hal itu tertolak, dan berakibat mundur serta lemah ekonominya. Karena ibadah bikinan itu kadang pakai biaya bahkan bisa mahal. Jadi sudah repot-repot lagi payah, namun tidak diterim, dan mengakibatkan lemah pula dalam kehidupan.

Rusaknya Umat Islam di antaranya dari golongan macam ini, sudara-saudara. Tapi kalau diingatkan malah mencak-mencak tidak keruan.

Padahal sudah ada peringatan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَاَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِي كُلِّ خَيْرًا

‘Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukaiAllah daripada orang Mukmin yang lemah. Masing–masing ada kebaikannya.’ (HR Muslim).

Orang yang tidak menginovasi urusan agama, maka terhindar dari keharaman soal itu. Dan ketika ibadahnya sesuai dengan yang dituntunkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (karena tidak diinovasi, tidak diberi masukan- tambah-tambahan) dan dengan ikhlas untuk Allah Ta’ala, maka insya Allah diterima. Hingga jadi orang mukmin yang kuat imannya. Sedangkan ketika dia kreatif dalam menginovasi urusan dunia, maka menjadi maju kehidupannya, sehingga kuat ekonominya. Insya Allah menjadi orang yang kuat imannya dan kuat kehidupannya.

Sebaliknya, ketika seorang Muslim menginovasi urusan agama (ibadah) atau ikut-ikutan inovasi-inovasi  ibadah bikinan orang, maka jelas tidak diterima amalan ibadah inovasian itu. Hingga kemungkinan menjadi mukmin yang lemah. Dan akan sulit menjadi mukmin yang kuat, karena ibadahnya tidak sesuai dengan yang dituntunkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sudah diinovasi. maka rugi. Sudah payah-payah beramal, namun tidak diterima, karena tidak sesuai dengan yang dituntunkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kadang masih ditambah lagi, dalam urusan kehidupan dunia, tidak berinovasi, hingga kalah dengan yang lainnya, bahkan mungkin jadi lemah. Sehingga, gabungan dari prilaku yang terbalik ini menjadikan pelakunya (dan bahkan banyak korbannya) berupa orang-orang Muslim yang imannya menjadi lemah (karena ibadahnya inovasian), sedang kehidupannya juga lemah (karena justru tak mau berinovasi) dalam urusan dunia. Sehingga lemah imannya, dan lemah kehidupannya.

Kondisi yang menjadi korban inovasian urusan agama ini akan lebih parah lagi ketika  mereka berbelok jalan dengan menjadi pembela-pembela orang kafir, acara-cara orang kafir, kepentingan-kepentingan orang kafir, hanya sekadar untuk kepentingan dunianya, tanpa mempedulikan agamanya.

Ini menambah lemahnya lagi, dan bahkan akan sulit dalam mempertanggung jawabkannya. Karena bagaimanapun, Allah tidak ridho kepada kekufuran.

وَلَا يَرۡضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلۡكُفۡرَۖ

dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; (QS Az-Zumar: 7).

Bagaimana ketika yang ditempuh justru ketidak ridhoan Allah Ta’ala semacam itu? Sudah lemah imannya, lemah kehidupannya, masih pula yang ditempuh justru jalan yang tidak diridhoi oleh Allah Subahanahu wa Ta’ala. betapa ruginya.

Gara-gara menginovasi urusan agama, akibatnya betapa ruginya. Dan itu tampaknya begitu banyak korbannya.

Hanya kepada Allah lah kami menyembah, dan hanya kepada Allah lah kami minta pertolongan.

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.280 kali, 1 untuk hari ini)