Cara Cepat Meredakan dan Menyembuhkan Batuk yang Perlu Anda Tahu

 

Batuk adalah respons alami tubuh yang bertujuan menyingkirkan berbagai zat yang bisa mengiritasi saluran pernapasan. Akan tetapi, batuk terus-menerus dapat menjadi gejala dari suatu penyakit. Kondisi ini bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Untungnya, terdapat berbagai cara yang bisa Anda lakukan untuk menyembuhkan batuk, mulai dari pengobatan di rumah, bahan alami, hingga menghilangkan batuk dengan obat over-the-counter (OTC).

 

Cara menyembuhkan batuk

Batuk adalah respons alami tubuh sekalipun Anda tidak sedang sakit. Namun, batuk karena kondisi tertentu, seperti pilek atau flu bisa jadi mengganggu. Orang yang memiliki alergi, sinusitis dan asma bisa mengalami batuk saat penyakitnya kambuh.

Batuk yang terus muncul, bisa membuat Anda merasa tidak nyaman dan tubuh menjadi lemah sehingga aktivitas sehari-hari pun terganggu. Pasalnya, batuk membuat otot di sekitar dada terasa nyeri dan tenggorokan terasa kering dan perih.

Agar aktivitas Anda tak terus terganggu batuk yang Anda alami, simak cara menghilangkan batuk berikut ini:

1. Minum banyak cairan

Saat pilek atau flu, virus membuat produksi lendir atau dahak jadi lebih banyak. Dahak berlebih tersebut bisa mengalir dari hidung ke bagian belakang tenggorokan dan membuat Anda mengalami batuk berdahak.

Salah satu cara efektif dan mudah dilakukan dalam menyembuhkan batuk berdahak adalah memperbanyak minum air putih. Akan lebih efektif jika Anda mengonsumsi air hangat.

Menurut studi klinis yang dilakukan Cardiff Univeristy pada jurnal Rhinology, cairan hangat bisa membantu melegakan tenggorokan dan mengencerkan lendir yang mengental sehingga dahak lebih mudah dikeluarkan saat batuk. Ketika dahak tak lagi menyumbat saluran napas, batuk pun akan berkurang dan Anda bisa bernapas dengan lebih lega.

Cara menyembuhkan batuk yang satu ini paling baik jika dibarengi dengan menambah waktu istirahat. Dengan begitu, daya tahan tubuh Anda bisa lebih optimal menghentikan penyakit penyebab batuk.

2. Konsumsi obat batuk alami


Beberapa bahan atau obat batuk alami yang bisa Anda gunakan untuk menghilangkan batuk, antara lain teh madu dan irisan lemon. Bahan ini juga dapat membantu meredakan hidung tersumbat dan melegakan tenggorokan.

Dalam banyak penelitian, salah satunya dari jurnal Family Physicians of Canada, madu diketahui efektif menyembuhkan batuk pada anak-anak jika dikonsumsi secara rutin selama batuk berlangsung.

Anda juga bisa mencoba minuman hanga seperti wedang jahe atau jus nanas untuk obat batuk alami. Buah nanas mengandung senyawa bromelain yang berifat antiradang dan mukolitik, yaitu membantu tubuh memecah dan mengalirkan lendir yang menghambat tenggorokan.

 

3. Berendam air hangat

Cara ini memiliki khasiat yang sama dengan minum minuman hangat untuk menghilangkan batuk. Uap yang dihasilkan dari air hangat yang Anda hirup, bisa membantu melonggarkan sekresi yang menghasilkan lendir di hidung hingga ke tenggorokan sehingga batuk semakin berkurang.

Mandi air hangat bisa menjadi cara mengatasi batuk yang tidak hanya disebabkan oleh pilek, tapi juga alergi. Banyak yang percaya mandi tidak diperbolehkan jika selama batuk Anda juga mengalami demam mengiggil. Padahal membersihkan tubuh tetap penting untuk kesehatan Anda.

Sebagai cara menyembuhkan batuk yang disertai demam, Anda bisa menggunakanlah lap yang direndam air hangat untuk membersihkan tubuh.

4. Menjaga kelembapan dan kebersihan udara

Udara yang kering dan kotor bisa bisa memicu terjadinya alergi rhinitis, salah satu gejala dari raksi alergi ini adalah batuk. Cobalah menjajal kegunaan humidifier untuk menjaga udara di dalam ruangan tetap lembap sekaligus menjernihkan sirkulasi udara dari partikel kotor, debu, dan kuman penyakit penyebab batuk.

 

5. Berhenti merokok

Selain udara yang kering, semprotan parfum dan asap rokok juga bisa memicu produksi lendir lebih banyak. Akibatnya, batuk jadi lebih parah.

Cara terbaik dan cepat menyembuhkan batuk adalah dengan berhenti merokok. Selain itu, salah satu bahaya merokok dapat merusak jaringan silia yang berfungsi membersihkan dinding paru dari kotoran dan lendir. Inilah mengapa perokok aktif biasanya mengalami gejala batuk yang berkepanjangan dibandingkan dengan non-perokok.

 

6. Berkumur air garam

Larutan air garam dapat menjadi obat alami untuk batuk berdahak. Cara memanfaatkan larutan garam untuk meredakan batuk adalah dengan berkumur secara rutin (3-4 kali dalam sehari) selama gejala berlangsung.

Selain dapat membantu mengencerkan dahak yang menggumpal di belakang tenggorokan, berkumur dengan air garam dapat membersihkan bakteri dan zat alergen yang menempel di dalam mulut. Anda hanya membutuhkan 1/2 sendok garam yang dilarutkan ke dalam air hangat. Berkumurlah selama beberapa menit, tapi berhati-hatilah jangan sampai larutan garam tertelan.

6. Minum obat

Jika tips sebelumnya tidak cukup ampuh untuk meredakan batuk, Anda bisa mencoba obat pereda batuk. Anda bisa mendapatkan obat batuk nonresep dengan mudah di apotek.

Namun, ingat pastikan dulu jenis batuk yang Anda derita: apakah batuk kering atau batuk berdahak? Cara ini membantu Anda untuk memilih obat yang tepat untuk menyembuhkan batuk.

Beberapa jenis obat pereda batuk yang sebaiknya Anda pilih, meliputi:

  • Dekongestan: umumnya tersedia dalam obat batuk sirup jenis phenylephrine dan pseudoefedrin.
  • Supresan atau antitusif: terdiri atas dextromethrophan, kodein
  • Ekspektoran: obat pengencer dahak guaifenesin,
  • Mukolitik: obat yang melarutkan lendir bromhexine dan asetilsisitein
  • Antihistamin: obat untuk mengatasi reaksi alergi seperti chlorphenamine, hydroxyzinepromethazine, loratadin, cetirizine, dan levocetirizine.
  • Obat batuk kombinasi dalam bentuk sirup atau tablet terdiri dari campuran kandungan ekspektoran dan supresan dengan antihistamin, dekongestan, dan pereda nyeri.
  • Obat balsam usap yang mengandung kampor, minyak kayu putih, dan mentol untuk memberi efek hangat dan lega di saluran napas.

Penting untuk diketahui obat batuk nonresep hanya membantu menghilangkan gejala batuk, tapi tidak menyembuhkan penyakit penyebabnya.

Oleh karena itu, jika batuk tidak juga sembuh setelah melakukan cara pengobatan rumahan dan meminum obat batuk nonresep, sebaiknya Anda segera memeriksakan diri ke dokter. Batuk yang berlangsung lebih dari 3 minggu (batuk kronis) bisa menandakan gangguan pernapasan yang serius.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Fashner, J., Ericson, K., & Werner, S. (2012). Treatment of the Common Cold in Children and Adults. American Family Physician, 86(2), 153-159. Retrieved from https://www.aafp.org/afp/2012/0715/p153.html

Guppy, M., Mickan, S., Del Mar, C., Thorning, S., & Rack, A. (2011). Advising patients to increase fluid intake for treating acute respiratory infections. Cochrane Database Of Systematic Reviews. Retrieved 18 June, from https://doi.org/10.1002/14651858.cd004419.pub3

Goldman R. D. (2014). Honey for treatment of cough in childrenCanadian family physician Medecin de famille canadien, 60(12), 1107–1110.

SATOMURA, K., KITAMURA, T., KAWAMURA, T., SHIMBO, T., WATANABE, M., & KAMEI, M. et al. (2005). Prevention of Upper Respiratory Tract Infections by GarglingA Randomized Trial. American Journal Of Preventive Medicine, 29(4), 302-307. Retrieved 18 June, from https://doi.org/10.1016/j.amepre.2005.06.013

A, S., & R, E. (2008). The Effects of a Hot Drink on Nasal Airflow and Symptoms of Common Cold and Flu. Rhinology, 46(4). Retrieved 18 June, from https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19145994/

Kalolella A. B. (2016). Sleeping position and reported night-time asthma symptoms and medication. The Pan African medical journal, 24, 59. Retrieved 18 June, from https://doi.org/10.11604/pamj.2016.24.59.9159

Verma, N., Meena, N. K., Majumdar, I., & Paul, J. (2017). Role of Bromelain as Herbal Anti-Inflammatory Compound Using. Retrieved from https://autoimmunediseases.imedpub.com/role-of-bromelain-as-herbal-antiinflammatory-compound-using-in-vitro-and-in-vivo-model-of-colitis.php?aid=21395

NHS. (2020). Hot Drinks Ease Cold and Flu. Retrieved 18 June, from https://www.nhs.uk/news/food-and-diet/hot-drinks-ease-cold-and-flu/

Cleveland Clinic. (2020). Common Cold Management and Treatment. Retrieved 18 June 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/12342-common-cold/management-and-treatment

Cleveland Clinic. (2020). Avoiding Dehydration, Proper Hydration. Retrieved 18 June 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/9013-dehydration

Mayo Clinic Health System. (2017). 7 ways to combat coughs and colds. Retrieved 18 June 2020, from https://www.mayoclinichealthsystem.org/hometown-health/speaking-of-health/7-ways-to-combat-coughs-and-colds


 

 

Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 02/03/2021

Ditinjau oleh dr. Tania Savitri – Dokter Umum

 

ARTIKEL SELANJUTNYA

Sering Minum Obat Batuk? Waspadai, Efek Samping Berikut Ini!

 

Mengalami batuk yang tak kunjung henti, baik batuk kering maupun berdahak, bisa sangat mengganggu. Pasalnya, batuk kering bisa menimbulkan rasa nyeri di tenggorokan, sedangkan batuk berdahak membuat Anda perlu mengeluarkan dahak hampir setiap waktu. Salah satu cara untuk menyembuhkan batuk adalah dengan meminum obat batuk
over-the-counter (OTC) atau nonresep. Obat batuk ini memang bisa diperoleh dengan mudah, tapi berhati-hatilah dengan efek samping yang mungkin muncul jika terlalu sering mengonsumsinya.

 

Efek samping obat batuk berdahak

 

Obat batuk terdiri dari berbagai macam, mulai dari bentuk sirup hingga tablet. Penggunaannya perlu disesuaikan dengan jenis batuk Anda alami dan penyakit penyebab batuk. Fungsi obat batuk utamanya adalah meringankan batuk, mengencerkan dahak di tenggorokan, mengurangi lendir yang menyumbat, dan mengurangi frekuensi batuk.

Beberapa jenis obat batuk yang kerap digunakan atau bahkan diresepkan oleh dokter adalah:

  • Obat supresan, seperti dextromethorpan dan kodein
  • Dekongestan, seperti phenylephrine dan pseudoefedrin
  • Antihistamin, seperti diphenhydramine
  • Obat batuk kombinasi yang terdiri dari beberapa kandungan di atas

Namun, selain menguntungkan Anda juga berkemungkinan mengalami berbagai efek samping jika mengonsumsi obat nonresep. Efek samping yang lebih parah akan muncul apabila dikonsumsi secara rutin dan dalam jangka waktu yang panjang.

Beberapa efek samping obat batuk yang mungkin terjadi, antara lain:

1. Mengantuk

Sebagian besar obat batuk golongan antihistamin bisa menimbulkan efek samping yang terjadi secara langsung, seperti rasa kantuk yang berat. Hal ini disebabkan obat batuk ini bekerja menekan frekuensi batuk dengan cara menghentikan rangsangan batuk dari otak.

Agar efek sampingnya tidak mengganggu aktivitas Anda, sebaiknya konsumsi obat ini pada waktu malam hari sebelum tidur.

Penting untuk diketahui, badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat, FDA, melarang penggunaan obat antihistamin, seperti diphenhydramine pada anak-anak di bawah 4 tahun.

Penelitian dari International Journal of Clinical Pharmacy menyebutkan, obat tersebut dapat berisiko tinggi menimbulkan efek samping penurunan fungsi otak.

2. Pusing

Rasa pusing yang muncul setelah meminum obat tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Ini adalah efek samping obat batuk yang cukup umum terjadi pada sebagian orang. Namun, Anda perlu mewaspadai jika rasa pusing menetap selama berhari-hari dan justru bertambah parah. Sebaiknya segera periksakan ke dokter.

3. Muncul ruam pada kulit

Ruam atau kemerahan pada kulit termasuk efek samping yang bisa terjadi meskipun terbilang jarang. Biasanya, efek ini terjadi pada Anda yang mengonsumsi obat batuk yang mengandung guaifenesin (Mucinex). Tak hanya ruam, iritasi kulit seperti gatal-gatal juga bisa terjadi pada sebagian orang.

4. Sakit perut

Efek samping lainnya yang bisa terjadi setelah meminum obat batuk ialah sakit perut. Tak hanya sakit perut, Anda juga bisa mengalami gangguan pencernaan seperti mual, muntah, sampai diare. Namun, kondisi ini biasanya terjadi dalam intensitas yang ringan sehingga tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

5. Alergi

Pada sebagian orang, obat batuk bisa mengakibatkan efek samping berupa reaksi alergi. Alergi akibat obat umumnya ditandai dengan gatal-gatal di kulit, sesak napas, pembengkakan pada beberapa bagian tubuh seperti bibir, lidah, wajah, dan tenggorokan serta ruam kemerahan. Segera konsultasikan ke dokter jika Anda melihat gejala ini setelah mengonsumsi obat yang satu ini.

6. Ketergantungan

Kandungan kodein pada obat batuk dapat menyebabkan adiksi atau efek ketergantungan. Meskipun diminum dalam dosis normal, obat batuk dengan kodein juga bisa membuat Anda merasa perlu mengonsumsinya setiap hari. Oleh karena itu, jangan pernah meminum obat batuk dengan kodein di atas dosis yang telah ditentukan oleh dokter.

Orang yang memiliki riwayat ketergantungan dengan obat-obatan terutama golongan narkotika sebaiknya menghindari penggunaan obat batuk dengan kodein.

Dalam beberapa kasus, obat yang dikonsumsi berlebihan dan tidak sesuai dosis juga dapat menyebabkan masalah pada ginjal. Untuk itu, selalu konsumsi obat sesuai dengan dosis yang dianjurkan untuk meminimalisir efek samping yang mungkin terjadi.

Efek samping lain dari obat batuk

Jika Anda sedang mengandung, sebaiknya hindarilah konsumsi obat batuk nonresep, kecuali jika dokter yang menyarankannya. Pasalnya, efek samping dari obat OTC lebih berisiko terjadi pada ibu hamil dan memungkinkan memunculkan reaksi yang lebih kuat, misalnya memicu gangguan hingga komplikasi jantung, asma, dan glaukoma.

Selain itu, efek samping obat batuk juga dapat memengaruhi perkembangan janin. Dalam beberapa kasus, obat OTC alergi, bahkan yang lebih parahnya dapat mengancam keselamatan jiwa, baik ibu maupun janinya.

Setiap obat-obatan pasti memiliki efek samping, termasuk obat batuk. Akan tetapi, efek samping dari obat ini cenderung ringan bahkan jarang terjadi jika dikonsumsi dengan benar. Oleh karena itu, sebaiknya Anda selalu membaca aturan pemakaian yang tertera dalam kemasan sebelum mengonsumsinya.

Segera hentikan pemakaian apabila muncul gangguan efek samping yang parah dan berkonsultasilah dengan dokter.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Smith, S., Schroeder, K., & Fahey, T. (2014). Over-the-counter (OTC) medications for acute cough in children and adults in community settings. Cochrane Database Of Systematic Reviews. Retrieved 24 June, from https://doi.org/10.1002/14651858.cd001831.pub5

Dicpinigaitis, P., Dhar, S., Johnson, A., Gayle, Y., Brew, J., & Caparros-Wanderley, W. (2015). Inhibition of cough reflex sensitivity by diphenhydramine during acute viral respiratory tract infection. International Journal Of Clinical Pharmacy, 37(3), 471-474. Retrieved 24 June, from https://doi.org/10.1007/s11096-015-0081-8

Bolser, D. (2006). Cough Suppressant and Pharmacologic Protussive Therapy. Chest, 129(1), 238S-249S. Retrieved 24 June, from https://doi.org/10.1378/chest.129.1_suppl.238S

Woo, T. (2008). Pharmacology of Cough and Cold Medicines. Journal Of Pediatric Health Care, 22(2), 73-79. Retrieved 24 June, from https://doi.org/10.1016/j.pedhc.2007.12.007

American Academy of Pedriatrics. (2020). Antibiotics for Respiratory Illness in Children | Choosing Wisely. Retrieved 24 June 2020, fromhttps://www.choosingwisely.org/patient-resources/antibiotics-for-respiratory-illness-in-children/

U.S. Food and Drug Administration. (2018). Removes approval of Rx opioid cough and cold med in kids under 18.  Retrieved 24 June 2020, from https://www.fda.gov/drugs/drug-safety-and-availability/fda-drug-safety-communication-fda-requires-labeling-changes-prescription-opioid-cough-and-cold

U.S. Food and Drug Administration. (N.d.). Concomitant use of opioids with benzodiazepines or other central nervous system (CNS) depressants. Retrieved 24 June 2020, from https://www.accessdata.fda.gov/drugsatfda_docs/label/2017/005213s038lbl.pdf

Mayo Clinic. (2020). Dextromethorphan (Oral Route) Side Effects. Retrieved 24 June 2020, from https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/dextromethorphan-oral-route/side-effects/drg-20068661?p=1

Michigan Medicine. (2020). Side effects of codeine, guaifenesin, and pseudoephedrine. Retrieved 17 July 2020, from https://www.uofmhealth.org/health-library/d03398a1


 

 

Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 02/03/2021

Ditinjau oleh dr Mikhael Yosia

 

ARTIKEL SELANJUTNYA

Batuk Makin Parah? Hindari Makanan yang Dilarang dan Pantangannya Berikut Ini

 

Ketika batuk, selain minum obat, Anda biasanya dianjurkan untuk tidak sering keluar malam, banyak beristirahat sampai menghindari stres. Tujuannya tentu untuk segera meredakan batuk menerus ataupun gangguan kesehatan lain yang menyertai. Tak hanya itu, mematuhi pantangan makanan dan minuman yang dilarang saat batuk juga bisa membantu mencegah batuk atau memperparah kondisi Anda.

Apa saja makanan dan minuman yang dilarang saat batuk?

Secara umum batuk adalah salah satu gejala penyakit flu. Meskipun batuk yang disebabkan oleh flu biasanya bersifat ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya, sebaiknya jangan pernah menyepelekan kondisi tersebut. Selain membuat tubuh tidak nyaman, batuk berkepanjangan bisa memicu infeksi saluran pernapasan lainnya sehingga kondisi batuk semakin serius.

Pengobatan batuk baik melalui obat batuk nonresep (over-the-counter/obat bebas), maupun obat batuk alami tidak akan efektif apabila Anda tidak menaati beberapa pantangan batuk, salah satunya dengan terus mengonsumsi makanan dan minuman yang dapat memperparah kondisi batuk.

Menghindari makanan dan minuman yang dilarang saat batuk bisa membantu Anda mempercepat penyembuhan. Tak hanya itu, menaati pantangan makanan juga membantu Anda mencegah kondisi ini semakin memburuk

1. Makanan yang digoreng

Mungkin Anda sering kali mendengar anjuran untuk menghindari makanan yang digoreng saat batuk. Ternyata, hal ini memang benar adanya. Sebenarnya bukan makanannya yang memperparah batuk, melainkan minyak yang digunakan untuk menggoreng.

Minyak, terutama minyak jelantah yang telah dipakai berulang kali, menghasilkan senyawa akrolein yang akan memicu rasa gatal menyiksa di tenggorokan. Semakin sering dan banyak jumlah minyak yang digunakan, akan semakin buruk pula kualitas minyak. Hal itu tentu membahayakan kesehatan.

Bottom of Form

Tidak hanya itu, tekstur kasar dari gorengan juga bisa membuat dinding tenggorokan mengalami iritasi. Dampaknya akan lebih parah jika Anda mengalami batuk kering.

Alasan lain kenapa gorengan menjadi makanan yang perlu dihindari saat batuk, yaitu makanan ini dapat menyebabkan naiknya asam lambung dan alergi makanan. Refluks asam lambung yang naik dapat memicu terjadinya penyempitan saluran napas kemudian menyebabkan batuk.

Jadi, selama kondisi batuk belum juga membaik, sebaiknya hindarilah konsumsi makanan yang dilarang saat batuk ini untuk mencegah kondisi ini semakin parah.

2. Minuman yang mengandung kafein

 

Selain makanan, terdapat juga jenis minuman yang perlu dihindari konsumsinya secara berlebihan saat batuk. Minuman mengandung kafein adalah beberapa di antaranya.

Hal ini disebabkan karena kafein dapat memicu gas asam dari lambung naik kembali ke tenggorokan. Kondisi ini bisa menyebabkan tenggorokan terasa gatal. Akibatnya, batuk Anda semakin memburuk dan tidak kunjung sembuh.

Kafein terdapat dalam kopi, teh, dan soda yang perlu dihindari konsumsinya selama batuk berlangsung. Untuk meredakan batuk, Anda tidak harus berhenti mengonsumsi minuman kafein sama sekali. Namun, penting bagi Anda untuk membatasinya.

3. Makanan olahan

Anda bisa mencegah batuk semakin memburuk dengan menjauhi makanan olahan, seperti makanan kemasan, fast food, dan keripik. Bukan tanpa alasan, sebuah studi yang diterbitkan oleh British Journal of Nutrition, menyatakan bahwa nutrisi punya peran penting untuk mendukung kerja sistem kekebalan tubuh yang akan melawan infeksi.

Dengan kata lain, asupan nutrisi yang optimal dalam tubuh bisa memperkuat sistem imun untuk melawan batuk. Makanan olahan cenderung tidak padat gizi. Itu sebabnya, cobalah mengonsumsi dengan nutrisi lengkap ketika sakit.

Jika bingung makanan olahan apa saja yang dilarang saat batuk, Anda bisa mengonsumsi makanan yang kaya akan kandungan protein nabati, seperti kacang kedelai dan sayuran. Makanan ini dapat membantu melawan infeksi virus penyebab batuk.

4. Makanan pemicu alergi

Berbagai masalah kesehatan dapat menyebabkan batuk. Selain infeksi virus, batuk menjadi salah satu gejala dari reaksi alergi. Kondisi alergi terjadi ketika adanya reaksi berlebihan dari sistem imun terhadap zat di dalam makanan.

Ada beberapa makanan penyebab alergi sehingga memperburuk kondisi batuk Anda. Makanan tersebut dapat berupa makanan laut, telur, kacang, dan lainnya. Mengenali makanan yang bisa memicu alergi dalam tubuh sekaligus menghindarinya, adalah salah satu cara tepat untuk meredakan atau bahkan mencegah batuk sama sekali.

Selain menyebabkan batuk, terus mengonsumsi makanan penyebab alergi juga dapat memicu reaksi alergi yang lebih serius seperti kejang dan sesak napas. Makanan pemicu alergi dengan bahan dasar susu juga bisa menyebabkan gangguan pencernaan pada anak-anak dan balita.

Pantangan untuk mencegah batuk semakin parah

Saat terserang batuk memang banyak pantangan makanan dan minuman yang harus diikuti. Agar semakin meminimalisir tingkat keparahan batuk, selain memperhatikan apa yang dikonsumsi Anda juga perlu menghindari gaya hidup tidak sehat.

Selama gejala batuk belum mereda, berhentilah melakukan beberapa kebiasaan yang berdampak buruk bagi kesehatan ini:

1. Merokok

Asap rokok dapat mengiritasi lapisan tenggorokan dan paru-paru sehingga batuk semakin parah pemulihan bahkan dapat meningkatkan risiko kanker. Apabila Anda mengalami batuk akibat infeksi pernapasan biasa seperti pilek, merokok bisa menyebabkan masalah paru-paru, seperti bronkitis.

Tidak hanya perokok aktif yang perlu mewaspadai bahaya merokok saat batuk. Perokok pasif juga perlu sebisa mungkin menghindari asap rokok jika ingin batuknya segera mereda dan tidak mengalami komplikasi penyakit pernapasan.

2. Makan banyak saat malam hari

Saat batuk, usahakan untuk jangan makan berlebihan pada malam hari, terutama saat menjelang tidur. Makan terlalu banyak sebelum tidur dapat memicu batuk menerus pada orang yang mengalami gastroesophageal reflux (GERD) alias penyakit asam lambung.

Akibatnya, asam lambung bisa mengalir kembali ke bagian atas saluran pencernaan dan menyebabkan iritasi sehingga memicu batuk. Jarak makan dan waktu tidur yang ideal minimalnya adalah 2 jam.

3. Tidur telentang

Posisi tubuh ketika tidur merupakan salah faktor yang memengaruhi kondisi batuk Anda. Tidur telentang dapat memicu batuk di malam hari, terutama jika Anda memiliki batuk berdahak. Posisi tidur ini bisa menyebabkan dahak menumpuk di saluran pernapasan sehingga memicu batuk menerus. Untuk mencegah batuk, cobalah tidur dengan posisi miring sehingga dahak dapat mengalir.

 

4. Bekerja terlalu larut

Lembur dan melakukan aktivitas berlebihan hingga terlalu malam sebaiknya dihindari saat Anda tengah batuk. Kelelahan akibat lembur bisa melemahkan sistem kekebalan tubuh. Padahal imunitas tubuh berperan penting dalam melawan penyakit yang menyebabkan Anda batuk.

Jenis makanan yang dianjurkan saat batuk

Selain perlu menghindari konsumsi makanan yang dilarang saat batuk, Anda sebaiknya juga menambah konsumsi makanan lain sehingga batuk cepat teratasi, seperti:

  • Memperbanyak konsumsi sayuran dan buah-buahan sehari-hari.
  • Minum obat batuk alami dari campuran madu, teh herbal, dan lemon secara rutin. Jika terlalu banyak mengonsumsi teh, Anda bisa mengganti teh herbal dengan air hangat.
  • Mengonsumsi makanan berkuah hangat dan kaya protein, seperti sup ayam. Makanan berkuah membantu mengencerkan dahak yang menyumbat saluran pernapasan. Selain itu, kombinasi sayuran dan kaldu dapat menjadi bahan ampuh yang membantu meredakan inflamasi di salauran napas.
  • Memperbanyak cairan agar terhindar dari dehidrasi sehingga proses penyembuhan bisa berlangsung lebih cepat.

Penting untuk diingat, menerapkan pola makan sehat dengan menu makanan bernutrisi tidak lantas menghentikan batuk berkepanjangan yang Anda alami. Namun, dengan menghindari makanan yang dilarang saat batuk dan mengonsumsi makanan sehat, sistem imun Anda untuk melawan infeksi akan meningkat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Solomons, N. (2007). MALNUTRITION AND INFECTION: AN UPDATE. British Journal Of Nutrition, 98(S1), S5-S10. doi: 10.1017/s0007114507832879

Thomas Campbell, MD. (2014). Diet and the Common Cold – Center for Nutrition Studies. Retrieved 6 May 2020, from https://nutritionstudies.org/diet-common-cold/

Bartley, J., & McGlashan, S. (2010). Does milk increase mucus production?. Medical Hypotheses, 74(4), 732-734. doi: 10.1016/j.mehy.2009.10.044

Calder, P., & Kew, S. (2002). The immune system: a target for functional foods?. British Journal Of Nutrition, 88(S2), S165-S176. doi: 10.1079/bjn2002682

Cleveland Clinic. (2019). What to Eat When You’re Sick. Health.clevelandclinic.org. Retrieved 6 May 2020, from https://health.clevelandclinic.org/what-to-eat-when-youre-sick/

Cleveland Clinic. (2020). Chronic Cough Overview Prevention. Retrieved 12 June 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15048-chronic-cough-overview/prevention

Asthma UK. (2020).Food as an asthma trigger. Retrieved 12 June 2020, from https://www.asthma.org.uk/advice/triggers/food/

CDC. (2019). Common Colds Prevention. Retrieved 12 June 2020, from https://www.cdc.gov/features/rhinoviruses/index.html

 

Sumber: https://hellosehat.com/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 203 kali, 1 untuk hari ini)