Diskotik, Karaoke dan Klab Malam akan Dibebaskan Pajak

Mendapatkan ekstasi di dalam diskotik, menurut Reno (seorang “anak malam”), hanya sedikit lebih sulit dari memesan bir. “Ada uang, ada barang!”

Dengan dibebaskannya pajak bagi Diskotik, Karaoke dan Klab Malam; secara tersirat mengandung makna membiarkan tingkat kesuburan peredaran narkoba.

ilustrasi nesia

Ilustrasi/ nesia.

Tempat-tempat maksiat yang bahasanya dihaluskan menjadi tempat hiburan kini didukung dan dikembang suburkan dengan cara legal formal, yaitu dengan membebaskannya dari pajak, itu sekaligus menyuburkan pula peredaran ekstasi dan semacamnya.

Sikap itu jelas merupakan pertolongan secara nyata terhadap keburukan, kemaksiatan alias kemunkaran. Padahal, negeri ini berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Seharusnya, aturan apapun yang dibuat, wajib tidak melanggar aturan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sedangan aturan yan telah tegas dari Ketuhanan Yang Maha Esa di antaranya telah mengancam siapa saja yang menolong keburukan maka memikul dosa.

{مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا } [النساء: 85]

مَّن يَشۡفَعۡ شَفَٰعَةً حَسَنَةٗ يَكُن لَّهُۥ نَصِيبٞ مِّنۡهَاۖ وَمَن يَشۡفَعۡ شَفَٰعَةٗ سَيِّئَةٗ يَكُن لَّهُۥ كِفۡلٞ مِّنۡهَاۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ مُّقِيتٗا ٨٥ [سورة النساء,٨٥]

  1. Barangsiapa yang memberikan syafa´at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa´at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu

[An Nisa”85]

Dalam Tafsir Al-Wajiz, Al-Wahidi menerangkan:

الوجيز للواحدي (ص: 279)

{ومَنْ يشفع شفاعة سيئة} أَيْ: ما لا يجوز في الدين أن يشفع فيه

Dan barangsiapa memberi syafa´at yang buruk, artinya apa saja yang tidak boleh dalam agama untuk diberi pertolongan (halaman 279), niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Jenis-jenis kemaksiatan tersebut jelas tidak boleh diberi pertolongan menurut agama Islam. Ketika kenyataannya dibebaskan dari pajak dengan dibuatkan peraturan resmi untuk itu, berarti telah melanggar dasar negara yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi hanya ada dua maknanya: Sengaja melanggar dasar negara, tetapi atas nama penyelenggara negara. Dan sengaja membela hal-hal yang dilarang agama (Islam).

Kenyataan yang seperti itu telah didoakan oleh Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam.

Doa Nabi Saw, Laknat Allah atas pemimpin yang menyulitkan Umat Islam

 

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ _أحمد ، ومسلم عن عائشة

Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit  urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

 وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ _ رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat  bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Amien ya Rabbal ‘alamien.

Inilah beritanya.

***

Diskotik, Karaoke dan Klab Malam akan Dibebaskan Pajak

Jumat, 21/08/2015 17:18:34 | Dibaca : 1602

11

88

suasana diskotic

Suasana diskotik (ilustrasi)

Jakarta (SI Online) – Pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor: 158/PMK.010/2015 yang ditandatangani Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro pada tanggal 12 Agustus 2015, telah menetapkan sejumlah jenis jasa kesenian dan hiburan dalam kelompok yang tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Ada delapan jenis jasa kesenian dan hiburan yang tidak dikenai PPN. Peraturan ini akan diberlakukan pada 12 September 2015. Sebab, berdasarkan bunyi pasal 3 dalam PMK tersebut, peraturan mulai berlaku setelah 30 hari terhitung sejak tanggal diundangkan. Peraturan ini diundangkan pada 13 Agustus 2015.

Berikut jenis jasa kesenian dan hiburan yang tidak dikenai PPN:

  1. Tontonan film
  2. Tontonan pagelaran kesenian, tontonan pagelaran musik, pagelaran tari, pagelaran busana
  3. Tontonan kontes kecantikan, kontes binaraga, kontes sejenisnya
  4. Tontonan berupa pameran
  5. Diskotik, karaoke, klab malam dan sejenisnya
  6. Tontonan pertunjukan sirkus, pertunjukan akrobat, sulap
  7. Tontonan pertandingan pacuan kuda, pertandingan kendaraan bermotor, permainan ketangkasan
  8. Tontonan pertandingan olahraga

red: adhila/ si online

***

Narkoba di Tengah-tengah Kita

Seperti pelarangan minuman keras, pemberantasan narkoba pun merupakan lelucon yang sangat absurd. Tempat peredarannya sangat jelas, tetapi tak pernah disikat tuntas. Jalan cari nafkah bagi banyak orang?

Dentuman house music memekakkan telinga, menggedor rongga dada. Nyaris semua pengunjung, bergoyang seirama ritme musik yang menyeruak dari puluhan speakerberkekuatan total 20 ribu watt di ruangan seluas 35 x 50 m2 itu.

Cahaya kerlap-kerlip, menembus pekatnya asap rokok. Meski sesak dengan para clubbers, suhu ruangan itu sangat dingin.

Jelas bukan situasi yang suitable buat manusia normal. “Huahahaha… Tak mungkinlah bisa tahan di dalam diskotik tanpa nekan obat,” kata Reno, sebut saja begitu, seorang kawan yang memang saya kenal betul sebagai “anak malam”.

ekstasi

Ekstasi made in luar. Susah didapat.

Obat yang dimaksud Reno, tentu saja bukan sebangsa Bodrex atau Panadol, tetapi pil kecil yang (semestinya) mengandung amfetamin. (Belakangan kandungan amfetamin dalam ekstasi yang banyak dijual sudah semakin sedikit, karena dioplos dengan berbagai zat beracun lainnya).

Reno bahkan berani bertaruh, orang normal paling hanya bisa bertahan setengah jam. “Aku aja, kalau nggak nekan, ngga mungkin ke sini,” akunya.

Mendapatkan ekstasi di dalam diskotik, menurut Reno, hanya sedikit lebih sulit dari memesan bir. “Ada uang, ada barang!”

Harganya? Konon sebelum Sutanto jadi Kapolri, ada dua kelas ekstasi; yang berkualitas rendah bisa didapat seharga Rp50 ribu per butir, dan yang berkualitas bagus tiga kali lipatnya.

Efeknya tak terlalu jauh berbeda. Yang membedakan adalah masalah “purna jualnya”. “Makeobat yang murah, kita bisa sengok. Bibir pecah-pecah, tenggorokan sakit, ngga nafsu makan, tak bisa tidur. Pokoknya menderitalah.” (Yeee… tau menderita dijabanin)

Entah berhubungan atau tidak, setelah Sutanto jadi orang nomor satu di Polri, yang ada hanya obat berharga Rp150 ribu, walaupun “sialnya ada juga yang efeknya kayak obat murah itu.Gimanalah, orang tak ada standarnya,” sesal Reno yang mengaku ingin berhenti, namun tak pernah berhasil itu.

Sebenarnya, puncak kejayaan ekstasi adalah di akhir 90-an. Saat itu, obat yang beredar masih impor yang kualitasnya “bagus”. Penandanya adalah logo yang tercetak rapi di kedua sisi pil ekstasi itu.

“Yang sekarang, boro-boro pake logo, press dan cetakannya pun tak rapi dan sangat rapuh kalau digigit. Rasanya pun tak ada pahitnya,” rutuk bujang lapuk ini.

*****

Bila Anda berkesempatan masuk ke diskotik–atau jangan-jangan Anda seniornya Reno?–rasanya segala “sajian” di dalam itu memang bukan untuk manusia “normal”. Musik nonstop bertempo tinggi, diselingi cekikikan cewek-cewek terbalut pakaian kurang bahan namun dengan riasan berlebihan.

Jika mata jeli memperhatikan di keremangan cahaya, di sana-sini pengunjung itu memang melakukan gerakan seperti menenggak sesuatu. Kadang, seseorang “menyuapkan” sesuatu itu kepada rekannnya yang menggelayut mesra.

Apakah aparat tidak tahu itu?

Rasanya kok tidak mungkin. Sutanto yang saat itu menjadi Kepala Harian Badan Narkotika Nasional (Kalakhar BNN) mengakui, “Hampir semua diskotik di kota-kota besar tidak bebas dari peredaran narkoba.”

Jadi kok tidak bisa dihentikan?

Reno punya jawabnya. “Bisnis hiburan malam, adalah jalan uang masuk bagi banyak pihak. Mulai dari yang legal seperti pajak, sampai yang ilegal, seperti setoran dari BD (bandar, atau pengedar-Pen) kepada oknum aparat. Apa bedanya dengan minuman keras atau rokok,” pungkas Reno.

Rokok? Kok bawa-bawa rokok?

https://nesia.wordpress.com

(nahimunkar.com)