nurhasan ubaidah

Ustadz Hasyim Rifai di Kediri Jawa Timur yang setia mengaji selama 17 tahun kepada Nur Hasan Ubaidah pendiri aliran sesat Islam Jama’ah atau Darul Hadits, mengisahkan: Pernah sampai pemimpinnya (Nur Hasan Ubaidah) beralasan untuk mengetes atau mencoba ketaatan pengikutnya (istilahnya taat amir, kalau tidak taat maka masuk neraka), dia mau menimbang badannya yang beratnya 86 kilogram itu dengan emas. Maka para pengikutnya pun mengumpulkan emas hingga seberat 86 kilogram, lalu untuk menimbang badan sang amir.

Setelah berjangka lama ternyata emas seberat 86 kilogram itu tidak dikembalikan, maka para pengikutnya menanyakan. Ya cukup dijawab dengan perkataan, tidak dikembalikan. Demikian kisah yang disampaikan Ustadz Hasyim Rifai yang kini sudah lama keluar dari aliran sesat itu dan mengasuh para santrinya bersama menantunya alumni Universitas Islam Madinah dan asatidz lainnya.

 

Tuman menipu dan memelihara lahan tipuan

Di Indonesia ini ada firqoh sesat yang pemimpinnya tuman (kebiasaan) menipu namun tampak berhasil dalam memelihara lahan untuk ditipu. Walaupun dikecam sebagai pemungut harta secara tidak sah dan tak syar’I hingga doanya tak diterima, disejajarkan dengan doa pelacur yang menjajakan kemaluannya, namun praktek memungut harta itu dilangsungkan tiap bulan.

Orang-orang seperti itu mestinya menerapkan apa yang dikaji, bukan hanya bangga dengan mengaku bahwa mengajinya paling manqul, quran hadits jamaah. Namun haditsnya hanya dibanggakan manqulnya, bukan diamalkan dengan baik. Sehingga kecaman yang sangat tinggi pun dilanggar. Yatu hadits:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ نِصْفَ اللَّيْلِ فَيُنَادِي مُنَادٍ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَيُسْتَجَابُ لَهُ ؟ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَيُعْطَى ؟ هَلْ مِنْ مَكْرُوبٍ فَيُفَرَّجُ عَنْهُ ؟ فَلَا يَبْقَى مُسْلِمٌ يَدْعُو دَعْوَةً إلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ إلَّا زَانِيَةً تَسْعَى بِفَرْجِهَا أَوْ عَشَّارًا } . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ صحيح الترغيب والترهيب – (ج 2 / ص 305) 2391 – ( صحيح )

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Pintu-pintu langit dibuka tengah malam maka pemanggil menyeru, adakah yang berdoa, maka (pasti) diijabahi baginya. Adakah yang meminta, maka (pasti) diberi. Adakah yang dirundung keruwetn, maka (pasti) dilapangkan darinya. Maka tidak tersisa seorang muslim pun yang berdoa dengan suatu doa kecuali Allah ‘Azza wa Jalla mengabulkan baginya kecuali pezina yang berusaha dengan farjinya (kemaluannya) atau pemungut (harta orang) persepuluhan. (HR Ahmad dan At-Thabarani, lafal ini bagi At-Thabrani, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat-Tarhib nomor 2391).

Nah, para pentolan Islam Jama’ah atau 354 dengan jajarannya itu tiap bulannya memungut sepersepuluh harta tiap orang yang dianggap sebagai jamaahnya. Bahkan kalau waktu-waktu tertentu seperti menjelang lebaran, khabarnya pemungutan pun bertambah tinggi. Apakah bukan عَشَّارًا yang doanya tertolak dan disejajarkan dengan pelacur, mereka itu?

Ketika dirasa masih kurang, kadang diadakan tipuan jenis lain. Ustadz Hasyim Rifai di Kediri Jawa Timur yang setia mengaji selama 17 tahun kepada Nur Hasan Ubaidah pendiri aliran sesat Islam Jama’ah atau Darul Hadits, mengisahkan: Pernah sampai pemimpinnya (Nur Hasan Ubaidah) beralasan untuk mengetes atau mencoba ketaatan pengikutnya (istilahnya taat amir, kalau tidak taat maka masuk neraka), dia mau menimbang badannya yang beratnya 86 kilogram itu dengan emas. Maka para pengikutnya pun mengumpulkan emas hingga seberat 86 kilogram, lalu untuk menimbang badan sang amir.

Setelah berjangka lama ternyata emas seberat 86 kilogram itu tidak dikembalikan, maka para pengikutnya menanyakan. Ya cukup dijawab dengan perkataan, tidak dikembalikan. Demikian kisah yang disampaikan Ustadz Hasyim Rifai yang kini sudah lama keluar dari aliran sesat itu dan mengasuh para santrinya bersama menantunya alumni Universitas Islam Madinah dan asatidz lainnya.

Kejadian semacam itu tampaknya menjadikan tergiurnya sebagian anak buah, hingga ingin pula menipu. Lahan tipuan sudah ada, kenapa tidak digunakan, kira-kira saja seperti itu kalau diungkap pakai perkataan. Maka terjadilah apa yang di kalangan mereka disebut Kasus Maryoso. Yaitu mengumpulkan dana, awalnya untuk pembayaran rekening listrik dan apa yang disebut untuk usaha bersama, dengan janji akan diberi keuntungan tiap bulannya sekian persen. Kemudian terkumpullah dana dari lahan-lahan yang sudah biasa diserap tiap bulannya itu, totalnya hampir sebelas triliun rupiah. Dan ternyata mak pletis…boro-boro keuntungan yang dijanjikan perbulan. Modal yang disetor saja tidak bisa diambil. Itu hampir rata-rata. (Untuk lebih lengkapnya bisa dibaca buku LPPI berjudul Akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiah, Jakarta, 2004).

Tampaknya firqoh LDII yang oleh Munas MUI 2005 dinyatakan sesat dan membahayakan aqidah sebagaimana bahayanya Ahmadiyah ini di samping masalah kesesatan, ada pula kasus-kasus lain. Makanya mereka yang sadar akan aneka tipuan itu akhir-akhir ini banyak yang keluar dari firqoh sesat ini. Bahkan di antaranya adalah petinggi yang dalam kasus Maryoso tidak terdengar ketersangkutannya, beliau kemudian keluar dari firqoh sesat ini dan sekarang khabarnya ada di pesantren yang sunnah di Jawa. Sebagaimana ustadz-ustadz yang lain sudah banyak yang membubarkan diri dari keikut sertaan mereka pada firqoh sesat itu di mana-mana.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 6.955 kali, 1 untuk hari ini)