• Haul Gus Dur di Klenteng Gudo Jombang, Sabtu (7/12 203) sore
  • Gejala Berwala’ dan ibadah dengan Orang Kafir dan Musyrik
  • Siapakah aimmah mudhillin (imam-imam/ pemimpin-pemimpin atau tokoh-tokoh yang menyesatkan) itu?

 .

Doa bersama di Klenteng Gudo, Jombang, Jawa Timur, usai Sarasehan Pemikiran Gus Dur. Yang berbaju batik putih dengan berpeci hitam ini adalah adik Gus Dur, KH Salahuddin Wahid, Kyai yang memimpin pesantren NU di Jombang, ikut doa bersama di klenteng ini, dalam rangka Haul (peringatan kematian) Gus Dur di Klenteng Hong San Kiong, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Sabtu (7/12 203) sore. / photo junanto/kompasiana.

Seorang penulis di kompasiana mengemukakan, Memperingati 4 tahun wafatnya Gus Dur, siang tadi (7/12) saya diundang kawan saya, Ardian Purwoseputro (tokoh muda Tionghoa, red NM), ke Klenteng Gudo di Jombang, Jawa Timur, untuk menghadiri sarasehan kebangsaan tentang pemikiran Gus Dur. Acaranya unik, karena dihadiri banyak santri dan ulama, namun mengambil lokasi di klenteng Tionghoa.

Mas Ardian berperan sebagai moderator sarasehan, sementara hadir sebagai pembicara dalam sarasehan tersebut adalah KH Sholahudin Wahid atau Gus Solah (Pengasuh Ponpres Tebuireng Jombang), Pak Joaquin Monserrate (Konjen AS di Surabaya), Putu Sutawijaya (seniman), Bingky Irawan (tokoh pluralis), dan Inayah Wahid (putri Gus Dur). Diskusi berlangsung seru karena membahas legacy dari Gus Dur.

Dalam tulisan itu disebutkan, Menurut Gus Solah, menerima perbedaan bukan berarti bahwa juga menerima ajaran agama lain. Baginya tetap, setiap agama itu tidak sama. Agama itu benar bagi penganutnya. Ia meyakini agama Islam yang benar, orang Kristen tentu meyakini agama Kristen benar. Itu adalah hak masing-masing orang. Jadi kemajemukan bukan berarti semua agama sama, namun kemampuan untuk menerima atau menghormati orang lain, terlepas dari apapun agamanya.

***

Demikian penuturan seorang penulis di kompasiana.

Mari kita analisa. Orang yang tidak jeli kadang menganggap Salahuddin Wahid tidak seperti Gus Dur. Namun ternyata hanya beda cara saja mungkin. Perkataannya tersebut di atas seolah masih memegangi Islam, padahal tidak. Kenapa? Karena di Islam, tidak ada yang namanya agama itu benar menurut masing-masing penganutnya. Benarnya agama itu hanya menurut Allah Ta’ala. Yaitu hanya Islam:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (١٩)

19. Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS Ali ‘Imran/3: 19).

[189] Maksudnya ialah Kitab-Kitab yang diturunkan sebelum Al Quran.

Juga ayat:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (٨٥)

85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi. (QS Ali ‘Imran/3: 85).

Resiko dari tidak benarnya selain Islam sebagai agama, juga telah Allah Ta’ala jelaskan nasib penganutnya, yaitu kekal di neraka jahannam:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ (٦)

6. Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS Al-Bayyinah: 6).

Di samping perkataan Salahuddin Wahid bertentangan dengan ayat-ayat Al-Quran, masih pula dia lakukan ibadah yang tidak mengikuti Al-Qur’an. Buktinya, Salahuddin Wahid juga ikut doa bersama dengan orang-orang kafir di dalam klenteng itu. Padahal doa itu adalah ibadah. Sedangkan di dalam Islam sudah ada ketegasan:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (١)

1. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,

لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (٢)

2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (٣)

3. dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.

وَلا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (٤)

4. dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,

وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (٥)

5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (٦)

6. untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS Al-Kafirun: 1-6).

Lebih tegas lagi, ada ayat:

] قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ[

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,” (al-Mumtahanah: 4).

Ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tegas.

Dalam sebuah hadits panjang, disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تُعبَد الأَوْثَان

َ“…Kiamat tidak akan terjadi hingga sekelompok kabilah dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sampai-sampai berhala pun disembah…” (Shahih Ibni Hibban Juz XVI hal. 209 no. 7237 dan hal. 220 no. 7238 Juz XXX no. 7361 hal 6, Syu’aib al-Arnauth berkata, “Sanad-sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim).

Di samping itu, dalam hal berkasih-kasihan bahkan membawa santri-santrinya ke klenteng juga jelas-jelas bertentangan dengan ayat Al-Qur’an:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ [المجادلة/22]

22. Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. (QS Al-Mujadilah/ 58: 22).

 Nah, ayat-ayatnya sudah jelas. Namun dalam kehidupan zaman sekarang, ada kelompok-kelompok yang mengaku Muslim, namun lebih berkasih sayang kepada kafirin. Padahal yang dikasih sayangi itu ternyata bukan bapaknya, bukan anaknya bukan pula saudaranya. Padahal yang satu jelas kafir dan yang lain mengaku beriman.

Di balik itu, kita saksikan dalam kenyataannya, justru mereka yang mengaku beriman itu galak terhadap orang-orang yang beriman, sambil menuding dengan suara sengit, bahkan memprovokasi massa untuk ikut membenci orang-orang Islam (yang dibencinya) bahkan agar mengusirnya segala, ketika mereka merasa terusik praktek-praktek penyimpangannya yang tidak sesuai dengan Islam. Ini bagaimana? Benar-benar al-Qur’an telah dibelakangi. Karena contoh dalam Al-Qur’an adalah bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi saling kasih sayang di antara sesama mukminin. (lihat QS Al-fat-h/ 48: 29).

Wala’ dan bara’nya tidak dijaga

Sebelum melakukan doa bersama dengan orang-orang kafir, Salahuddin Wahid ketika jadi pembicara di klenteng ini  dia membanggakan hal-hal yang dapat dinilai kebablasan menyangkut tidak dijaganya akidah Islam dan kaitannya dengan wala’ (kecintaan kepada Islam dan Muslimin) dan bara’ (lepas diri) dari kekafiran dan orang kafir. Batas-batas wala’ dan bara’ tampak diterjangnya. Hingga bukan hanya “membawa” para santri ke klenteng dalam acara ini, namun bicara yang melewati batas-batas wala’ dan bara’ pula, dengan seolah nada bangga.

Menurut seorang penulis di kompasiana, dalam acara di klenteng itu Gus Solah bercerita bahwa di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang kerap kali dijadikan tempat para pendeta atau calon pastur untuk menginap dan belajar, khususnya di bulan puasa. Dengan demikian, para pastur tadi bisa melihat sendiri bahwa agama Islam tidak pernah mengajarkan terorisme, melainkan kasih sayang. Hal serupa juga demikian, beberapa santri diharapkan dapat tinggal di seminari untuk melihat bagaimana agama lain.

Itulah sebagian dari yang diceritakan Salahuddin Wahid.

Perlu dipertanyakan, apakah Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam mengajari agar para sahabatnya belajar kepada pendeta di seminari? Bukankah justru Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam marah ketika melihat Umar bin Khatthab membaca lembaran dari Taurat?

Umar bin Khaththab ketika itu memegang dan membaca lembaran Taurat, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، لَا تَسْأَلُوهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ، أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا، مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي “

“Apakah engkau merasa ragu, wahai Umar bin Khaththab? Demi yang diri Muhammad ada di tangan Allah, sungguh aku telah membawa kepada kalian agama ini dalam keadaan putih bersih. Janganlah kalian tanya kepada mereka tentang sesuatu, sebab nanti mereka kabarkan yang benar, namun kalian mendustakan. Atau mereka kabarkan yang bathil, kalian membenarkannya. Demi yang diri Muhammad berada di tanganNya, seandainya Nabi Musa itu hidup, maka tidak boleh bagi dia, melainkan harus mengikuti aku”. [HR Ahmad, III/387; ad Darimi, I/115; dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitabus Sunnah, no. 50, dari sahabat Jabir bin Abdillah. Dan lafazh ini milik Ahmad. Derajat hadits ini hasan, karena memiliki banyak jalur yang saling menguatkan. Lihat Hidayatur Ruwah, I/136 no. 175]

.

Hadits ini memuat kandungan :

• Wajib bagi para nabi untuk ittiba’ kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seandainya mereka hidup pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

• Jika para nabi saja wajib berittiba’ kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam,, maka terlebih lagi bagi kaum muslimin, mereka harus berittiba` kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,.

• Umar yang tidak diragukan keimanannya dan dijamin pasti masuk surga, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetap menegur ketika beliau Radhiyallahu ‘anhu memegang kitab Taurat.

• Hendaknya kita lebih mengutamakan untuk mempelajari al Qur`an dan as Sunnah, memahami dan mengamalkannya, siang dan malam.

http://almanhaj.or.id/content/2959/slash/0/kewajiban-ittiba-kepada-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-1/

Untuk mengetahui sikap dan tindakan Salahuddin Wahid atau tokoh-tokoh serupa itu tercela atau tidak, perlu merujuk ayat-ayat, agar kita berhati-hati.

تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ !

  “Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. (QS Al-Maaidah: 80)

Bila merujuk kepada ayat Allah Ta’ala dan penjelasan Ulama yang terpercaya, tampaknya makin bermunculan orang yang perlu dipertanyakan wala’ (loyalityasnya/ kecintaanya) dan Bara’ (berlepas diri)nya.

Seharusnya, wala’ setiap Muslim apalagi tokoh Islam adalah kepada Allah, Rasul-Nya, Islam, dan Umat Isam. Sebaliknya, bara’nya adalah kepada setiap kekufuran, pelakunya, pendukungnya dan aneka rangkaiannya.

Namun sangat disayangkan, Ormas-ormas Islam terutama yang besar telah menjadi pemandangan yang tak sesuai dengan tuntutan wala’ dan baro’ itu, akibat tingkah-tingkah para pentolannya. Ada tokoh-tokohnya yang terang-terangan bercumbu mesra dengan pentolan-pentolan kekufuran, kesesatan, dan para penyesat, baik tingkat dunia maupun local. Bahkan berani merelakan dirinya berkiprah bersama dalam kepentingan atau acara-acara kekufuran mereka (pihak non Islam) atau pihak sesat yang membahayakan Islam seperti Syiah. Semua itu sebenarnya adalah menipu diri mereka sendiri, dan kalau ditirukan orang pun dosanya akan menimpa pula kepada pemberi contoh buruk itu, tanpa berkurang dari dosa para penirunya.

Benarlah firman Allah Ta’ala:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا وَمَا يَمْكُرُونَ إِلا بِأَنْفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (١٢٣)

 Dan  demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri pembesar-pembesar  yang  jahat  agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri  itu.  Dan mereka  tidak  memperdayakan melainkan  dirinya  sendiri,  sedang mereka tidak menyadarinya. (QS Al-An’aam/ 6: 123). (Terjemahan ini menurut Al-Quran dan  Tafsirnya,  Depag  RI 1985/1986, juz 8 halaman 266).

Lafal أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا  akaabiro mujrimiihaa itu terjemah Depag sendiri ada  dua macam.  1,  penjahat-penjahat yang terbesar (dalam  Al-Quran  dan Terjemahnya,  Depag  RI  1971, halaman  208),  dan  2,  pembesar-pembesar  yang  jahat  (dalam Al-Quran dan  Tafsirnya,  Depag  RI 1985/1986, juz 8 halaman 266). Dua makna itu berbeda  pengertiannya. Yang satu pembesar-pembesarnya yang jahat, sedang yang satunya lagi penjahat-penjahatnya yang besar.

Bahaya sikap-sikap yang menjerumuskan itu telah diingatkan pula oleh Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa vsallam.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan ummatnya dari bahaya tokoh sesat lagi menyesatkan. Haditsnya sebagai berikut:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِى الأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ ».

Dari Tsauban, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang aku takuti (bahayanya) atas ummatku hanyalah imam-imam/ pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. (HR Ahmad, rijalnya tsiqot –terpercaya menurut Al-Haitsami, juga dikeluarkan oleh Abu Daud, Ad-Darimi, dan At-Tirmidzi, ia berkata: Hadits Shahih. Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah berkata, isnadnya shahih atas syarat Muslim).

Siapakah aimmah mudhillin (imam-imam/ pemimpin-pemimpin atau tokoh-tokoh yang menyesatkan) itu?

( إنما أخاف على أمتي الأئمة ) أي شر الأئمة ( المضلين ) المائلين عن الحق المميلين عنه(التيسير بشرح الجامع الصغير ـ للمناوى – (ج 1 / ص 728))

Imam-imam yang menyesatkan (al-Aimmah al-mudhillin) artinya seburuk-buruk imam/ pemimpin, yang menyimpang dari kebenaran dan menyelewengkan darinya. (Al-Munawi, At-Taisir bisyarhil Jami’is Shaghir juz 2 halaman 728).

أئمة مضلين أي داعين إلى البدع والفسق والفجور (تحفة الأحوذي – (ج 6 / ص 401))

Imam-imam yang menyesatkan, artinya penyeru-penyeru kepada bid’ah-bid’ah, kefasikan (pelanggaran-pelanggaran) dan fujur (kejahatan-kejahatan). (Al-Mubarokafuri, Tuhfatul Ahwadzi, syarah Jami’ At-Tirmidzi juz 6 halaman 401).  (lihat nahimunkar.com, Pemilihan Umum dan Gejala Ulama Blusak-blusuk, https://www.nahimunkar.org/487/pemilihan-umum-dan-gejala-ulama-blusak-blusuk/comment-page-1/#comment-4608)

Pertanyaannya sekarang, apa yang dicari oleh kyai NU itu, kok sampai doa (ibadah) bersama di klenteng?

Na’udzubillahi min dzalik! Kami berlindung kepada Allah dari hal yang demikian (buruk lagi berbahaya) itu.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.941 kali, 1 untuk hari ini)