Suasana Pilgub di DKI sudah terasa di masyarakat. Padahal, Pilgub akan berlangsung pada tanggal 15 Februari 2017. Salah satu isu yang sedang hangat di masyarakat adalah isu perbedaan agama dalam menentukan kepemimpinan. Umat Islam meyakini Allah melarang umat Islam mengambil Non Muslim sebagai wali mereka. Ini dengan jelas terdapat dalam surat Ali Imran 28, 118, 149-150, an-Nisa 144, al-Maidah 51, al-Mumtahanah 1, dan berbagai ayat al-Qur’an lainnya.

Menanggapi kondisi tersebut, para pendukung Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memunculkan berbagai isu seperti kualitas kepemimpinan tidak terkait dengan agama; pemimpin adil lebih baik dari pemimpin Muslim yang korup; rasis, pikiran umat picik, sempit, fundamentalis, radikal, tidak toleran, dan berbagai stigma negatif terus menerus dibombardir kepada masyarakat. Berbagai rekayasa, strategi dan usaha dilakukan.  Tujuannya agar umat ragu atau terbujuk untuk memilih pemimpin Non-Muslim.

Semua fitnah dan kekeliruan ini harus dijawab. Umat Islam meyakini dan menaati perintah Allah sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an. Janganlah meremehkan keyakinan umat yang meyakini dan menaati perintah Allah. Allah perintahkan agar umat Islam memilih pemimpin dari umat Islam agar aturan aturan dan nilai nilai keislaman akan lebih mungkin untuk diwujudkan. Bagi Muslim, Miras adalah haram. Sementara bagi pemimpin Non Muslim, miras dianggap sebagai salah satu sumber keuangan. Di sini, konflik persepsi terjadi. Jika pemimpin Non Muslim berusaha agar Miras bisa tersebar di masyarakat, tentu akan merugikan umat Islam. Itulah sebabnya Allah melarang umat Islam memilih pemimpin Non Muslim. Tentu banyak lagi persoalan seperti pelacuran dan sebagainya yang bisa merugikan kehidupan umat Islam yang ingin hidup dalam keberkahan-Nya.

Allah perintahkan umat Islam memilih pemimpin Muslim agar ajaran Islam terjaga. Banyak contoh menunjukkan kepemimpinan Non Muslim merugikan umat Islam. Pemerintah Myanmar beragama Buddha dan umat Islam Rohingya yang hidup sungguh mengenaskan. Di dalam negeri, diskriminasi kepada umat Islam juga dilakukan seperti di Tolikara. Umat Islam yang sedang beribadah melakukan shalat Idul Fitri 2015 terpaksa membatalkan shalat karena diserbu oleh umat Kristiani yang dipelopori oleh Gereja Injili Di Indonesia (GIDI).
Selama ini, banyak kalangan Cina memilih sesuai dengan etniknya dan agamanya. Namun, Muslim tidak mempermasalahkan hal tersebut. Mengapa ketika Muslim memilih Muslim, pendukung Ahok mempermasalahkan itu?

Perlu diingat, Ahok juga tidak disukai karena banyak isu. Wataknya dan sikapnya yang temperamental dan mudah marah, ungkapan kata katanya yang tidak santun dan tidak mendidik, dugaan praktek kolusi terkait pembelian RS Sumber Waras, Reklamasi yang menguntungkan para Taipan, keinginannya untuk melegalkan lokalisasi pelacuran, dan berbagai pikirannya dan tindakannya yang kontroversial telah menjadi catatan kelam umat Islam di Jakarta.

Adnin Armas

Presiden Muslim Cinta Jakarta

Sumber: muslimlebihbaik.com/18 Mar,2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.183 kali, 1 untuk hari ini)