Hasan Al-Jaizy

Ada suatu cerita terpendam yang dahulu luput dari banyak media massa; karena memang saat itu jejaring sosial tak semudah dan internet tak semurah sekarang. Cerita tahun 2005. Kejadian pada Ahad, 18 Desember 2005. Di Masjid Nurul Ikhlas, Ciracas. Yang tidak dilupakan ikhwah pengajian sana dahulu. Cerita bagaimana perjuangan dai.

Ada seorang dai yang telah memperjuangkan muslimin dari aliran sesat sejak era 80-an, diundang kajian di masjid tersebut untuk presentasikan bedah buku “Aliran dan Paham Sesat di Indonesia” yang kala itu dan sampai sekarang merupakan salah satu buku terlaris namun luput dari hitungan media. Datanglah beliau.

Tahukah kita? Saat itu rupanya para perusuh, dari kalangan L*ii sudah kumpulkan pasukan di masjid. Akhirnya kemudian setelah sekian perjalanan kajian, suasana memanas dan kacau. Sang dai bercerita:

“Mereka melempari saya dengan gelas hingga pecah berantakan, alhamdulillah meleset lalu membentur pintu kaca dan mengenai kaki panitia, Ust Syarif Lubis, hingga berdarah. Massa di luar telah mengepalkan tangan mau menghantam saya ketika saya mau keluar dari pintu mihrab sebelah mimbar, maka saya urung keluar, dan pintu segera dikunci. Mereka berteriak-teriak dan menggedor-gedor pintu. Penjaga pintu, Rizki, mengaku dipiting (disikep) lehernya oleh perusuh lalu dipukuli kepalanya, dibanting kemudian diinjak-injak. Panitia yang berbadan kecil kurus ini, kepalanya benjol-benjol dan badannya sakit.

Perusuh yang di dalam masjid pun berteriak-teriak, maju ke depan mimbar lalu memukuli panitia, di antaranya Irfan, Riki, dan Didi sampai pecah hidungnya. Tas beserta buku-buku, makalah dan berkas-berkas di meja tempat saya berbicara dicuri perusuh, dan dibawa lari. Terdengar teriakan-teriakan, “tas…tas… tas…”. Mereka pun mencuri bahan-bahan milik panitia, di antaranya dua rekaman.”

Itu salah satu sejarah legendaris Masjid Nurul Ikhlas Ciracas, yang tidak akan dilupakan oleh dai, panitia dan hadirin kala itu. Tidak sekadar teguran, melainkan main fisik sebagaimana yang telah diceritakan. Sekiranya itu terjadi sekarang, hebohlah dunia maya. Jangan kejadian semacam itu, hal-hal kecil yang menyakiti dai favorit saja sampai dibalas berlebihan oleh sebagian murid dan sebagian pembelanya.

Dan itu hanya satu dari entah sekian banyak cobaan dan ancaman berat yang dialami oleh dai tersebut, sejak lama berperan di medan. Hanyasaja, tidak terekspos. Beberapa tahun kemudian, dai tersebut pun sebelum mengadakan tabligh di Karanganyar, ribuan L*ii sudah berbaris menunggu. Bayangkan jika hal semacam itu terjadi sekarang, pasti sudah diekspos dan dibela di mana-mana. Namun begitulah dakwah dahulu kala. Belum lagi, di era 90-an. Juga era 80-an.

Jum’at pagi, penulis ditelepon oleh seseorang. Panitia Masjid Nurul Ikhlas. Beliau menawarkan kepadanya untuk menjadi pemateri kajian tematik sore itu juga. Asalnya, kajian itu diisi oleh Ustadz Abu Usamah. Namun beliau rupanya sedang sakit, dan kemudian beliaulah yang merekomendasikan kepada panitia agar digantikan oleh penulis.

Semua itu tanpa kami rencanakan. Alhamdulillah. Dan berjalan lancar.

Barulah merasakan kemudian. 11 tahun lalu, bapak saya diserang di masjid ini. 11 tahun kemudian, Allah takdirkan putranya mengisi di sini. Hanya memang, yang tahu hanyalah orang-orang lama. Cerita mengerikan itu, ada di sini:

http://infolppi.blogspot.co.id/…/02/massa-ldii-mengamuk.html

Yang mana….sebenarnya ujian buat ustadz-ustadz muda sekarang, bukan seperti ujian untuk dai-dai era 80-90-an. Yang sekarang, tinggal menikmati rintisan. Ujian mereka sekarang: keikhlasan, DUIT, akhwat dan apalagi?

Maka, inilah rekaman kajian si anak, yang pada Desember 2005, dia baru lulus pesantren dan mengajar di Kalimantan. Dan Maret 2016, dia mengisi di sana.

Selamat menikmati:

KAJIAN TEMATIK – “3 Surat Terakhir”

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.565 kali, 1 untuk hari ini)