Jakarta – Sebagian penumpang Lion Air JT 552 tujuan Yogyakarta menaruh kekesalan terhadap perusahaan penerbangan ini, Kamis pagi, 16 Oktober 2014. Pasalnya, mereka batal berangkat dengan alasan konter check in sudah ditutup. (Baca: Manajer Lion Air Damprat Penumpang Pesawat)

Beberapa di antara penumpang tersebut adalah rombongan wartawan yang akan meliput acara Komisi Pemilihan Umum, Kamis siang. Mereka sudah kumpul di Terminal Keberangkatan 1A Bandara Internasional Soekarno-Hatta sekitar pukul 06.00.

Ada dua keberangkatan wartawan saat itu. Rombongan pertama akan naik pesawat pukul 07.30, sedangkan rombongan kedua naik pesawat yang berikutnya pukul 09.00. (Baca: Mengamuk, Manager Lion Air Bakal Kena Sanksi)

“Rombongan pertama sudah check in sejak pukul 06.00. Tapi saat rombongan kedua akan check in, sekitar pukul 07.00, mereka masih ada di sana, sedang protes dengan petugas konter check in,” kata wartawan Antara, Fransiska Ninditya, yang ikut dalam rombongan kedua. (Baca: YLKI Minta Kemenhub Evaluasi Lion Air)

Dia mengatakan petugas beralasan para penumpang yang telantar ini tak tepat waktu untuk check in. Padahal, mereka sudah mengantre sejak 1,5 jam sebelum keberangkatan. Rombongan pertama wartawan ini terdiri atas wartawan Sinar Harapan dan Lensa Indonesia, sedangkan rombongan kedua berasal dari sejumlah media, termasuk dirinya.

Pagi itu hanya ada sedikit konter check in yang dibuka untuk semua penerbangan. Jadi, kata dia, banyak penumpang yang menumpuk dari berbagai nomor penerbangan. “Seharusnya kalau sudah tahu penumpang antre, pihak maskapai membuka beberapa konter lainnya. Bukan asal cut,” kata dia.

Akhirnya, para penumpang yang terlantar ini minta Duty Manager Lion Air Terminal 1A Dodi Andriyansyah untuk menjelaskan alasan konter check in ditutup sebelum waktunya. Namun, yang mereka dapatkan adalah amarah sang manajer yang tak terima maskapainya dibilang tak bertanggung jawab. “Ini perusahaan jasa. Kalau Anda terlambat, jangan salahkan kami. Saya tak takut dengan Anda semua,” kata Dodi.

Siska, nama pendek Fransiska, mengatakan Dodi tak memberi jalan keluar kepada lebih dari sepuluh penumpang yang terlantar tersebut. Akhirnya, salah seorang wartawan menghubungi Direktur Utama Lion Air Edward Sirait untuk melaporkan kejadian ini.

Dia mengatakan Edward menyanggupi untuk bertanggung jawab dengan memperbolehkan para penumpang naik pesawat pukul 09.00 WIB. “Saya langsung menyerahkan pesan singkat Edward kepada petugas konter check in,” kata dia.

Namun, petugas masih beralasan tak ada kursi kosong. Jadi, penumpang yang telantar untuk flight pukul 07.30 dialihkan ke pukul 11.00. Pesawat ini pun rupanya delayed dua jam sehingga pukul 13.00 pesawat baru berangkat menuju Yogyakarta.

“Padahal, di pesawat yang saya tumpangi pukul 09.00 masih banyak kursi kosong di barisan depan dan belakang. Saya tak tahu alasan mereka tetap bilang full seat apa,” kata dia. Hal ini tak hanya terjadi pertama kali bagi Siska. Sebelumnya, sudah dua kali dia mengalami hal sama. “Saya bahkan sudah web check in, tinggal print boarding. Nama saya sudah dipanggil, tapi petugas kekeuh menutup konter,” kata dia.

Hal yang janggal dirasakan Siska dan penumpang lainnya. Pasalnya, salah satu penumpang yang terlantar ini sempat ditawari tiket oleh calo di jam yang sama (07.30) dengan harga yang jauh lebih tinggi. “Diduga ada pihak dalam yang menjual lagi tiket kami. Ini sepertinya sudah sistemik,” kata dia.

YOLANDA RYAN ARMINDYA
TEMPO.CO, JUM’AT, 17 OKTOBER 2014 | 16:00 WIB

(Dibaca 1.908 kali, 1 untuk hari ini)