China dan Tiananmen, Dua Wajah dalam Kunjungan Santri ke Sana


Ilustrasi:  Milisi Cina Indonesia yang dikenal sebagai ‘Po An Tui’ yang dibentuk oleh Administrasi Belanda untuk membantu mereka (penjajah Belanda) melawan Pejuang (Kemerdekaan) Indonesia. Beberapa unit (seperti di Jawa Tengah) Laskar Cina Indonesia  ini terlibat dalam Agresi, dan beberapa dugaan mereka melakukan kejahatan perang dengan membunuh POW (tawanan perang) di Temanggung./ militaryphotos.net/forums

 

oleh Ainul Mizan

 

Pemerintah Indonesia telah mengirimkan 10 santri terpilih ke China, pada 25 Nopember 2019. Rencananya mereka berada di China selama 5 hari. Kepergian santri ke China ini dalam rangka program “Santri untuk Perdamaian Dunia”.

 

Dalam kunjungan santri Indonesia ke China ini di antaranya, selama di China, santri Indonesia juga diajak untuk mengunjungi lapangan Tiananmen. Kunjungan ke Tiananmen sesungguhnya menjadi menarik. Dalam hal ini, sebenarnya santri Indonesia telah dihadapkan kepada sosok Negara China itu sendiri. Yakni wajah ramah dan wajah bengis.

 

Saat menyambut santri Indonesia dengan hangatnya, tentunya ini wajah ramah dari China. Sedangkan Tiananmen square menjadi wajah bengisnya China.

 

Wajah ramah yang demokratis dijadikan guidence dalam politik luar negeri China. Salah satunya berbagai tawaran investasi bagi negara lain khususnya di jalur sutra OBOR, sebuah mega proyek raksasa ekonomi China di kawasan. Walaupun tentunya itu dilakukan tetap kembali kepada kepentingan politik China sendiri.

 

Sedangkan di dalam mengelola politik dalam negerinya, China memasang wajah bengisnya. Adalah lapangan Tiananmen contoh terbaik dalam hal ini.

 

Pada tahun 1989, terjadi tragedi pembantaian para demonstran oleh pemerintah China. Ketidakstabilan ekonomi yang memicu terjadinya demonstrasi besar – besaran di China, hingga mulai muncul kecenderungan pro demokrasi. Oleh pemerintah China disikapi dengan mengambil tindakan represif. Lapangan Tiananmen akhirnya bersimbah darah.

 

Oleh karena platform China sebagai one state two system. China itu eksistensinya sebagai satu negara dengan menjalankan 2 sistem kenegaraan, yakni demokrasi keluar dan kebijakan ala komunisme dalam pengaturan politik dalam negerinya.

 

Santri sebagai kalangan terpelajar harusnya dapat bersikap proporsional dalam menyikapi kunjungannya ke China. Pada tataran tertentu, santri bisa menyerap hal yang positif seperti terkait kemajuan sainteknya.

 

Sementara itu, sebagai duta perdamaian dunia, tentunya santri menjadi garda terdepan atas setiap kedholiman yang terjadi di dunia. Kebijakan dholim China atas muslim uighur yang dikecam oleh dunia, menjadi peluang bagi santri untuk mengambil posisi guna menyampaikan kecaman atas diskriminasi China terhadap Uighur. Hubungan saudara seiman menjadikan santri untuk berperan di sini, di samping adanya amanat pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

 

Pernyataan di dalam pembukaan UUD 1945 tersebut adalah ungkapan jujur bangsa Indonesia akan kejamnya penjajahan. Di samping itu, kalau menilik pada sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah, tentunya upaya penggembosan oleh orang – orang yang membelot ke penjajah waktu itu, selanjutnya tertulis abadi dalam lembaran sejarah Indonesia sebagai pengkhianat bangsa.

 

#Penulis adalah guru, tinggal di Malang

(nahimunkar.org)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

(Dibaca 254 kali, 1 untuk hari ini)