Muslim Uyghur Dibawah Tekanan Represif Pemerintah China

Tidak seperti di mana pun di dunia, pemerintah Cina memberlakukan peraturan ketat selama Ramadhan, khususnya untuk populasi Muslim Uyghur di Turkistan Timur.

Pemerintah Cina telah melarang pegawai sipil Uyghur, siswa dan guru dari berpuasa selama bulan suci, menyediakan makanan dan air untuk siswa sepanjang hari. Akses ke masjid dikendalikan lebih ketat, restoran telah diperintahkan untuk tetap terbuka dan dalam beberapa kasus, para pemuka  intelektual Uyghur telah ditangkap sebelumnya untuk membungkam kritik.

#China Escalates Religious Persecution of #Uyghur Muslims Before Ramadan https://t.co/WdmbC64zN9#SaveUyghur#Genocidepic.twitter.com/wRJZR70IDX

— Muslim Cyber Army (@MCAOps) May 13, 2018

Batasan dan pelarangan melaksanakan beribadah bagi Muslim Uyghur diberlakukan pertama kalinya pada tahun 2017. Pemerintah Cina mengirimkan petugas dan aparat-aparat pemerintah Cina di rumah-rumah Uyghurs dalam upaya untuk mencegah Uyghur dari berdoa dan berpuasa.

Pemerintah meluncurkan kampanye yang disebut “Bersama dalam Lima Hal” sehari menjelang bulan suci dengan para aparat yang tinggal di rumah Uyghur hingga 15 hari untuk memastikan bahwa penduduk tidak berpuasa atau berdoa. Para aparat pemerintahan Cina tinggal di rumah-rumah Uyghur sebagai cara mengintip “pandangan ideologis” dari keluarga muslim. Untuk kemudian menyebarkan hukum dan peraturan, dan kebijakan etnis dan beragama dari pemerintah Cina.

Para pejabat Cina juga memaksa para pensiunan Uyghur untuk membuat janji menjelang Ramadhan bahwa mereka tidak akan berpuasa atau berdoa selama bulan Ramadhan untuk menjadi teladan bagi masyarakat lainnya dan untuk memikul tanggung jawab untuk memastikan bahwa tidak ada teman atau anggota keluarga mereka yang berpuasa atau berdoa juga.

Sumber: World Uyghur Congress / daimca.com

***

Anak-Anak Sekolah Muslim Uighur Dan Orangtua Mereka Dilarang Berpuasa Ramadhan

Oleh Siraaj

A poster of late Chairman Mao Zedong watches over Uyghur students in a classroom at a middle school in Hotan prefecture, in a file photo.

XINJIANG– Otoritas Cina di wilayah Xinjiang memaksa para pelajar Muslim Uighur dan orangtua mereka untuk menandatangani surat perjanjian bahwa mereka tidak akan berpuasa selama bulan suci Ramadhan, menurut laporan yang dipublikasikan oleh RFA cabang Uighur.

Laporan mengatakan bahwa para pejabat setempat memaksa restoran-restoran untuk tetap buka di siang hari dan membatasi akses ke masjid-masjid selama Ramadhan.

Tahun lalu, sumber-sumber lokal mengatakan kepada RFA cabang Uighur bahwa para kader Partai Komunis dari etnis Uighur, pegawai negeri sipil dan pensiunan pemerintah harus menandatangani dokumen yang menyatakan bahwa mereka tidak akan berpuasa maupun shalat di bulan suci ini, seolah-olah untuk memberi contoh kepada warga Uighur lainnya.

Seorang pelajar di daerah Peryziwat (Jiashi), Kashgar (Kashi, dalam bahasa Cina) baru-baru ini mengatakan kepada RFA bahwa para petugas sekolah menyuruh dia dan teman-teman sekelasnya menandatangan surat persetujuan dengan orangtua mereka bahwa tidak akan berpuasa Ramadhan.

“Karena kami adalah pelajar, kami tidak puasa,” kata pelajar tersebut kepada RFA dalam kondisi anonimitas.

“Kami telah menandatangani surat kesepakatan  sekolah dan juga menulis surat perjanjian.”

Laporan ini mengindikasi bahwa otoritas Cina di Xinjiang melakukan serangan yang belum pernah terjadi terhadap kehidupan personal Muslim Uighur dengan dalih menyingkirkan “ekstremisme” beragama, menurut mereka, dengan menargetkan anak-anak sekolah. (siraaj)

Sumber: arrahmah.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 957 kali, 19 untuk hari ini)