Allah Ta’ala berfirman :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [ QS. Ar Ruum : 41 ]

Imam At Tobari menjelaskan : Telah nampak kemaksiatan dimuka bumi dan lautnya disebabkan tangan manusia melanggar apa yang telah Allah larang darinya. [ Tafsir At Tobari pada ayat tersebut ].

Maka jelaslah, mereka bukan pencinta tanah air tetapi pecinta sistem yang berlaku pada tanah air tersebut.. Karena sistem yang mereka cintai memberikan keleluasaan untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan dengan hukum yang berpihak pada kerakusan. Dengan penegak-penegak hukum yang bisa disogok. Mereka menyerukan pada rakyat untuk mencintai negeri ataupun negara dengan paham nasionalismenya, menyerukan persatuan, sampai menyebarkan hadis palsu (حُبُّ اْلوَطَنِ مِنَ اْلإِيْمَانِ “Cinta tanah air adalah sebagian dari iman” hadist ini adalah hadist maudhu’ sebagaimana disebutkan dalam kitab Silsilatu Ahaaditsu Ad-Dhaifah wal Maudhuah wa Atsarus Sayyi fil Ummah karya Syaikh Al-Bany Hadits ke 36). Tujuannya bukan kesejahteraan dan keadilan rakyat tapi keuntungan pribadi, kelompok atau golongan. Nasionalisme hanya dijadikan alat saja.

https://annajahsolo

Contoh cinta tanah air (dalam keadaan Allah teguhkan kedudukan mereka di muka bumi) tapi kecintaan mereka terhadap tanah air itu tidak dilandasi ilmu dan amal yang benar maka akibatnya dibinasakan oleh Allah Ta’ala, di antaranya silakan baca ini:

{ أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الْأَنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ} [الأنعام: 6]

  1. Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain [Al An’am6]

Sebaliknya, cinta tanah air (dalam keadaan Allah teguhkan kedudukan mereka di muka bumi) yang kecintaan mereka itu dilandasi ilmu dan amal yang benar, silakan simak ini:

{الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ} [الحج: 41]

  1. (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma´ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. [Al Hajj41]

تفسير ابن كثير ت سلامة (5/ 437)

وَقَالَ عَطِيَّةُ الْعَوْفِيُّ: هَذِهِ الْآيَةُ كَقَوْلِهِ: {وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ [كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ] (1) } [النُّورِ: 55] .

وَقَوْلُهُ: {وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ} ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى {وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ} [الْقَصَصِ: 83] .

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, ‘Athiyah Al-‘aufi  berkata, ayat ini seperti firmanNya:

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيۡ‍ٔٗاۚ وَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٥٥ [سورة النّور,٥٥]

  1. Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik [An Nur55]

Dan firmanNya:

{وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ} ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى {وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ} [الْقَصَصِ: 83] .

dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. itu seperti firman Allah Ta’ala dalam Al-Qashash: 83

تِلۡكَ ٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ نَجۡعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوّٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فَسَادٗاۚ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ ٨٣ [سورة القصص,٨٣]

  1. Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa [Al Qasas83]

Demikian penjelasan Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Bila dikaitkan dengan cinta tanah air, maka hanya orang-orang yang beriman yang tidak ingin menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di (muka) bumi sajalah yang akan berkesudahan baik. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Yang harus diselamatkan adalah iman dan taqwa hingga akhir hayat. Bila di suatu tempat keadaannya mengancam iman dan taqwa, maka perlu menyelamatkan diri dari ancaman itu. Karena bila tetap berada di tempat itu dan harus mengikuti acara-acara masyarakatnya yang merusak keimanan, maka diancam masuk neraka, yaitu kelak akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat.

Shahabat ‘Abdullah ibn ‘Amr sampai menyatakan:

مَنْ بَنَى بِأَرْضِ الْمُشْرِكِينَ وَصَنَعَ نَيْرُوزَهُمْ وَمِهْرَجَانَهمْ وَتَشَبَّهَ بِهِمْ حَتَّى يَمُوت حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْم الْقِيَامَة

“Siapa yang membangun rumah di negeri orang-orang musyrik, turut terlibat dalam perayaan Nairuz dan Mihrajan mereka, dan bertasyabbuh dengan mereka sampai ia meninggal, maka kelak akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat.”_ (‘Aunul-Ma’bud kitab al-libas bab fi labsis-syuhrah).

Merayakan hari Nairuz artinya merayakan tahun baru matahari (Masehi). Sementara hari Mihrajan adalah hari pertengahan tahun, tepatnya ketika matahari berada pada titik bintang mizan/gemini di awal musim semi, pertengahan antara musim dingin dan panas (‘Aunul-Ma’bud bab shalatil-‘idain). Ini berarti bahwa hadits di atas dengan tegas menyatakan perayaan Tahun Baru Masehi sebagai perayaan jahiliyyah yang harus ditinggalkan, bukan diikuti meski dengan kemasan yang agak berbeda. / lihat www.optimasidakwah.net

Dari situ dapat difahami, bagaimanapun dan di manapun, yang harus dicintai itu adalah keislaman, keimanan; wajib tetap dijaga jangan sampai rusak apalagi hilang. Hingga di tempat-tempat yang keadaannya mengancam keimanan, maka perlu hindari tempat itu demi menyelamatkan keimanan.

Apabila di suatu negeri, orang-orangnya menggemakan cinta tanah air,   namun di dalam sepak terjang mereka justru membenci orang-orang beriman dan menghalangi serta membuat aneka rekadaya yang menyusahkan kaum mukminin, maka itulah sebenar-benarnya tingkah sombong dan membuat kerusakan di muka bumi. Dan itulahperusak cinta tanah air, membuat kerusakan di muka bumi, namun bila diingatkan justru berdalih bahwa mereka lah yang membuat kemaslahatan demi kepentingan bersama.

{وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ} [البقرة: 11، 12]

  1. Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”
  2. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar [Al Baqarah,11-12]

Ternyata slogan cinta tanah air bila tidak dilandasi ilmu yang benar serta amal yang benar, maka hanya akan mengakibatkan kerusakan; baik kerusakan di dunia maupun bahkan di akherat kelak.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.081 kali, 1 untuk hari ini)