Cobaan dan Wabah


Ilustrasi foto/ radiomutiaraqur’ansemarang

 

Mari kita simak tafsir ayat berikut ini.

Quran Surat Al-Baqarah Ayat 155

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Terjemah Arti: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Surat Al-Baqarah Ayat 155)

Tafsir Quran Surat Al-Baqarah Ayat 155

155. Sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian dengan aneka musibah. Yakni dengan sedikit rasa takut kepada musuh, rasa lapar karena kekurangan makanan, kekurangan harta benda karena hilang atau sulit mendapatkannya, berkurangnya jiwa akibat bencana yang menelan korban jiwa atau gugur di medan jihad fi sabilillah, dan berkurangnya buah-buahan yang tumbuh di muka bumi. Dan berikanlah -wahai Nabi- kabar gembira kepada orang-orang yang sabar menghadapi musibah tersebut, bahwa mereka akan mendapatkan sesuatu yang menyenangkan hati mereka di dunia dan di akhirat.

[ Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) ]

***

Dan kami akan benar-benar menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan dan kekurangannya harta karena kesulitan dalam mendapatkannya atau hilang sama sekali. Dan dari jiwa dengan terjadinya kematian atau mati syahid dijalan Allah, dan dengan berkurangnya buah-buahan kurma, anggur, dan biji-bijian karena sedikitnya hasil panen atau rusak. Dan berilah kabar gembira -wahai nabi- kepada orang-orang yang bersabar dalam menghadapi persoalan ini dan persoalan-persoalan yang serupa dengan apa-apa yang membahagiakan mereka dan menyenangkan mereka berupa kesudahan yang baik di dunia dan akhirat.

)Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia(

Referensi: https://tafsirweb.com/624-quran-surat-al-baqarah-ayat-155.html

***

155-156. Allah bersumpah kepada orang-orang beriman bahwa Dia akan menguji mereka dengan beberapa jenis cobaan; seperti rasa takut dari musuh, kelaparan, kehilangan harta benda, kehilangan orang-orang yang dicintai, dan kekurangan buah-buahan. Hai Rasulullah, berilah kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar atas cobaan tersebut dengan surga.

 

Kemudian Allah menyifati orang-orang yang sabar bahwa saat mereka mendapatkan musibah mereka akan mengingat Allah dengan mengatakan: “Kami adalah hamba-hamba Allah, Dia berbuat atas kami sesuai kehendak-Nya, dan kami akan dibangkitkan pada hari pembalasan.”

 

(Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta’dzhim al-Qur’an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur’an Universitas Islam Madinah)

***

 

155. وَلَنَبْلُوَنَّكُم (Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu) Yakni Kami akan menguji kalian.

 


الْخَوْفِ (ketakutan) Yakni apa yang kalian takutkan dari bahaya musuh dan yang lainnya.


وَالْجُوعِ (kelaparan) Yakni kelaparan dan kekeringan.

 


وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوٰل (kekurangan harta) Yakni berkurangnya harta ketika kalian mengeluarkan zakat dan lainnya.

 


وَالْأَنفُسِ (jiwa) Yakni kematian dan pembunuhan yang terjadi di medan jihad.

 


وَالثَّمَرٰتِ (dan buah-buahan) Yakni yang disebabkan oleh penyakit. Pendapat lain mengatakan maknanya adalah kematian anak keturunan.

 

(Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah)

***

155-156

1 ). Ridho atas takdir-taqdir yang tidak disenangi adalah hal yang sangat dianjurkan, dan sabar atasnya adalah kewajiban, Hasan al-Bashri mengatakan : “keridhoan itu mulia, tetapi kesabaran adalah sandaran yang lebih utama bagi seorang mukmin”.

2 ). Tatkala kamu menjadikan al-Qur’an sebagai tafsir segala kejadian yang menghadapimu dalam kehidupan ini; akan nampak dihadapanmu bahwasanya musibah-musibah itu berganti sejak kejadiannya menjadi kebaikan yang senantiasa menjadi penuntunmu dalam kebaikan dan sabar yang indah. Tadabburilah ayat ini dan ayat setelahnya, agar kamu mengetahui manhaj yang tiada tandingnya yang Allah anugerahkan secara khusus kepada orang-orang beriman :

{ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ } “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

(Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari’ah Universitas Qashim – Saudi Arabia)

 

***

155. Dan supaya Kami bisa membuat kalian berinteraksi dengan ujian untuk mengetahui orang yang kuat dan lemah imannya dengan diselimuti oleh ketakutan (yaitu bahaya dari musuh atau hal lain) kelaparan (kelaparan dan kehausan) atau kekurangan harta yang kalian miliki seperti binatang ternak dan kehilangan nyawa karena mati terbunuh dalam jihad, sakit, serta kekurangan buah karena wabah penyakit. Wahai rasulullah berilah kabar gembira untuk orang-orang yang bersabar dengan kemenangan atas surga, ampunan dan rahmat

( Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah)

Allah menjelaskan bahwasannya Allah akan menguji kalian wahai manusia dengan musibah-musibah yang keras.

(An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi)

***

155. Allah mengabarkan bahwa sudah terjadi keharusan bagi hamba-hambaNya untuk diuji dengan segala cobaan, agar jelas orang yang benar dan orang yang berdosa, orang yang sabar dengan orang yang tidak sabar, dan ini adalah sunnah Allah pada hamba-hambaNya. Karena suatu kesenangan itu bila terus berlanjut bagi orang-orang yang beriman dan tidak diiringi dengan suatu cobaan, niscaya akan terjadi di campur aduk yang merupakan kerusakan baginya, ke mahabijaksanaan Allah memastikan untuk memilah-milah antara orang-orang yang baik dan orang-orang yang jahat. Inilah manfaat dari cobaan dan ujian, bukannya untuk menghilangkan keimanan yang ada pada seorang hamba yang beriman, dan tidak pula untuk memalingkan mereka dari agamanya, karena Allah tidak menyia-nyiakan keimanan kaum Mukminin.

Allah mengabarkan dalam ayat ini bahwasanya Dia akan menguji hamba-hambaNya “dengan sedikit ketakutan” dari musuh-musuh “dan kelaparan” Yakni, dengan sesuatu yang sedikit dari keduanya (ketakutan dan kelaparan, red NM), karena apabila Allah menguji mereka dengan seluruh ketakutan atau seluruh kelaparan niscaya mereka akan binasa, sedangkan cobaan-cobaan itu hanya membersihkan bukannya untuk membinasakan, “dan kekurangan harta” yang meliputi seluruh kekurangan yang bersangkutan dengan harta, baik bencana dari langit, tenggelam, kehilangan, raja-raja yang dholim, dan perompak jalanan yang merampas harta dan sebagainya. “Dan jiwa” yaitu perginya orang-orang yang dicintai, baik anak-anak, kerabat karib, dan teman sejawat, dan dari berbagai macam penyakit pada tubuh seorang hamba atau tubuh orang yang dicintainya, “dan buah-buahan” yaitu biji-bijian hasil pohon kurma dan segala macam pepohonan serta sayur-mayur dengan adanya hawa dingin, gemuruh, kebakaran dan penyakit dari langit seperti adanya hama belalang atau semacamnya. Hal-hal tersebut pasti akan terjadi karena Allah Maha Mengetahui lagi maha mengamati, telah mengabarkan tentangnya dan akhirnya terjadilah apa yang dia kabarkan, maka apabila semua itu terjadi dibagilah manusia ke dalam 2 golongan, orang-orang yang berkeluh kesah dan orang-orang yang sabar.

Orang yang tidak sabar mendapatkan dua musibah, hilangnya sesuatu yang dicintai yaitu adanya musibah tersebut dan hilangnya sesuatu yang lebih besar dari hal pertama, yaitu pahala dengan menunaikan perintah Allah yaitu bersabar, akhirnya dia memperoleh kerugian dan kehampaan serta kekurangan iman, yang ada padanya juga kehilangan kesabaran dan rasa syukur, namun yang ia dapatkan hanyalah kemurkaan yang menunjukkan bahwa banyaknya kekurangan.

Adapun orang yang diberi Taufik oleh Allah dengan kesabaran ketika terjadinya musibah, ia akan menahan diri dari mencaci maki baik secara lisan maupun perbuatan. Ia hanya mengharap pahala di sisi Allah dan ia tahu bahwa kesabarannya lebih besar daripada musibah yang menimpa dirinya, bahkan musibah itu menjadi sebuah kenikmatan tersendiri bagi dirinya. Karena musibah itu menjadi Jalan untuknya dalam memperoleh sesuatu yang lebih baik baginya dan lebih bermanfaat dari musibah itu. Sesungguhnya ia telah menunaikan perintah Allah untuk bersabar yang akhirnya ia memperoleh pahala. Oleh karena itu, Allah berfirman, “Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang bersabar,” maksudnya, kabarkanlah berita gembira bahwa mereka akan mendapat pahala mereka tanpa batas. Orang-orang yang bersabar adalah mereka yang berhasil dengan kabar gembira yang agung dan pemberian yang besar, kemudian Allah menjelaskan tentang mereka dengan firman-Nya

(Tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H)

***

Makna kata :

{ الابتلاء } al-Ibtilaa’ : Ujian yang dilakukan untuk mengetahui kekuatan atau kelemahan orang yang diuji.

{ الأموال } al-Amwal : Kata amwal adalah bentuk jamak dari kata Maal yang artinya harta. Bisa berupa sesuatu yang bergerak seperti hewan ternak, atau yang diam seperti emas, perak, dan lainnya.

Makna ayat : Adapun ayat 155 menerangkan bahwa Allah Ta’ala bersumpah akan menguji hamba-hambaNya dengan sedikit ketakutan, yang berasal dari musuh Allah dan musuh-musuh mereka sendiri. Yaitu orang-orang kafir ketika menyatakan peperangan kepada orang mukmin. Ujian yang lain adalah sedikit kelaparan karena kepungan dari musuh dan sebab-sebab yang lain. Begitu juga ujian dengan berkurangnya harta disebabkan matinya hewan ternak karena peperangan atau paceklik. Allah menguji juga dengan hilangnya jiwa, seperti kematian seseorang, juga dengan rusaknya buah-buahan karena hama. Semua itu demi mengetahui siapakah yang mampu bersabar di atas keimanan dan ketaatannya kepada Allah, dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi larangannya. Bagi orang yang tidak mampu bersabar tidak akan mendapatkan kasih sayang dan pahala dariNya. Lantas Allah memerintahkan rasulNya agar memberikan kabar gembira kepada hamba-hambaNya yang bersabar.

Pelajaran dari ayat :

• Seorang mukmin terkadang diuji dengan musibah dalam diri, keluarga, harta. Maka hendaknya dia bersabar, sehingga kedudukannya terangkat di sisi Rabbnya.

(Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi)

***

Allah ta’ala memberitahukan bahwa Dia akan menguji hamba-hamba-Nya sebagaimana firman-Nya dalam ayat yang lain :


وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS. Muhammad : 31)

Terkadang Dia memberikan ujian berupa kebahagiaan dan pada yang lain Dia memberi ujian berupa kesusahan, seperti rasa takut dan kelaparan. Firman-Nya :


فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl : 112)

Karena orang yang sedang dalam keadaan lapar dan takut, ujian pada keduanya akan sangat terlihat jelas.

Oleh karena itu Dia berfirman, “pakaian kelaparan dan ketakutan”.

Dalam surat Al-baqoroh ini Allah menjelaskan kepastian memberikan ujian kepada manusia, ujian-ujian tersebut dirinci menjadi beberapa macam :

Pertama, ujian ketakutan.

Ibnu Abbas mengatakan maksudnya adalah rasa takut oleh musuh dan kegoncangan saat di medan perang.

Imam Syafi’i mengatakan maksudnya rasa takut oleh Allah ‘azza wajalla.

Kedua, ujian kelaparan.

Artinya Allah memberikan ujian dengan rasa lapar yang luar biasa.

Imam Syafii mengatakan ujian rasa lapar pasti akan Allah berikan kepada setiap mukmin saat bulan Romadhan, yakni saat mereka melaksanakan kewajiban ibadah puasa.

Ketiga, ujian kekurangan harta.

Maksudnya kurang harta disebabkan oleh sibuknya berperang memerangi orang kafir, sehingga membuat mereka sedikit memiliki kesempatan untuk berdagang dan bekerja.

Imam syafi’I mengatakan maksudnya adalah berkurangnya harta disebabkan kewajiban mengeluarkan zakat.

Keempat, ujian kekurangan jiwa.

Ibnu Abbas berkata, berkurangnya jiwa karena kematian baik di medan jihad ataupun karena pembunuhan.

Sedangkan Imam Syafii berkata, berkurang jiwa karena kematian yang disebabkan penyakit.

Kelima, ujian kekurangan buah-buahan.

Ibnu katsir berkata, kurangnya buah-buahan diakibatkan kebun-kebun mereka tidak bisa produksi dengan baik sehingga banyak pohon-pohon yang mati dan tidak berbuah.

Imam Syafi’i berpendapat bahwa maksud “buah” dalam ayat ini adalah anak, yakni buah hati. Artinya, akan ada ujian yang ditimpakan dengan meninggalnya buah hati mereka yang sangat mereka cintai.

Ibnu Abbas mengatakan, maksud ayat ini adalah berkurangnya tumbuh-tumbuhan dan hilangnya kebarokahan.

Dan tidaklah Allah menimpakan semua ujian diatas , kecuali sebagai wasilah untuk membedakan kualitas hamba-hamaba-Nya. Dengan musibah-musibah ini manusia terbagi menjadi dua golongan :

Pertama, orang yang mampu menahan dirinya dari berkata dan berbuat yang menunjukan ketidak relaan akan takdir, maka dia itulah orang yang sabar, dan Allah akan memberikan balasan pahala atas kesabarannya, bahkan balasan yang Allah berikan lebih besar daripada ujian atau musibah yang ditimpakan kepadanya. Bahkan musibah akan berubah jadi anugrah baginya, karena musibah ini menjadi jalan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik dan bermanfaat baginya dengan melaksanakan perintah Allah untuk bersabar dan meraih pahala yang luar biasa atas kesabarannya.

Kedua, orang yang berputus asa dalam menghadapi ujiannya, maka dia sesungguhnya mendapat dua musibah sekaligus dengan sikap putus asanya ini. Musibah pertama adalah hilangnya sesuatu yang dicintai dari dirinya baik itu harta ataupun keluarga, dan musibah yang kedua adalah hilangnya sesuatu yang lebih besar dari musibah itu sendiri, yaitu hilangnya pahala kesabaran dalam menghadapi musibah. Maka hilanglah dari dirinya pahala dan dia mendapati kerugian, berkuranglah keimanan dan hilang rasa syukur kepada Allah Ta’ala.

(Tafsir Tematis / Team Asatidz TafsirWeb)

Referensi: https://tafsirweb.com/624-quran-surat-al-baqarah-ayat-155.html

***

Wabah Penyakit dan Penyebabnya Menurut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sudah mengingatkan tentang akan terjadinya wabah penyakit berikut sebabnya. Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallah anhuma menyampaikan sabda Rasulullah,

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا


“Tidaklah fahisyah (perbuatan keji) tersebar pada suatu kaum kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada kaum sebelum mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 4019. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibn Majah no. 3262)
Perhatikan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam di atas. Beliau telah memperingatkan para sahabat dan umatnya bahwa apabila perbuatan fahisyah (perbuatan keji) telah menyebar dan dilakukan secara terang-terangan, wabah penyakit dan kelaparan yang belum pernah terjadi akan menyebar di tengah-tengah mereka. Penyakit dan virus yang sebelumnya sama sekali tidak diketahui dalam ilmu kesehatan, tiba-tiba muncul dan menyebar dengan sangat cepat.
Penting untuk kita ketahui, apa saja yang termasuk perbuatan fahisyah? Di antara perbuatan fahisyah adalah zina. Allah subhanahu wa ta’ala befirman,


وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا


“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu “fahisyah” dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra’: 32)
Perhatikan ayat di atas. Dengan jelas Allah subhanahu wa ta’ala menggolongkan zina sebagai perbuatan fahisyah (perbuatan keji).
Demikian pula, termasuk perbuatan yang digolongkan dalam kategori fahisyah adalah pebuatan lelaki mendatangi sesama lelaki untuk melampiaskan syahwatnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,


وَلُوطًا إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِۦٓ أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٍ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ


Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka, “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?” (al-A’raf: 80)

Mari kita cermati ayat di atas. Dengan gamblang, Allah subhanahu wa ta’ala memasukkan pula perbuatan kaum Nabi Luth sebagai fahisyah.
Renungan Tentang Fahisyah

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.
Sekali lagi, kami mengajak untuk mencermati dan merenungi sabda Nabi di atas.
“Tidaklah fahisyah (perbuatan keji) tersebar pada suatu kaum kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan; kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada kaum sebelum mereka.”
(Dikutip sebagian kecil dari artikel berjudul ‘Di Antara Sebab Wabah & Musibah Adalah Dosa & Maksiat’ yang ditulis oleh Ustadz Abu Ismail Arif di link
https://asysyariah.com/di-antara-sebab-wabah-musibah-adalah-dosa-maksiat/ 05/03/2020)
***
Wabah Virus corona bermula dari China Komunis pemerkosa wanita2 Muslimah


Wabah virus corona bermula dari China Komunis. Kebejatan apa yang kurang dahsyat di negeri komunis itu. Kaum Muslimah Uighur di Xinjiang dipenjarakan lalu diperkosa ramai2, bila hamil maka dipaksa aborsi, dan bila berkali-kali hamil setelah diperkosa oleh petugas2 China Komunis maka dipaksa aborsi ber kali2 pula. Sedang kaum Muslimin laki2 dilarang shalat, puasa, dan segala ibadah termasuk baca al-Qur’an pun dilarang, mereka ditangkapi dan dipenjarakan untuk dikomuniskan/ dikafirkan dengan paksa. Terakhir Desember 2019, China Komunis mau mengubah Al-Qur’an disesuaikan dengan komunis. Namun tidak sampai jarak sebulan, langsung Allh azab dengan wabah virus corona, hingga China Komunis kalang kabut, bahkan wabah itu mendunia hingga dinyatakan WHO sebagai pandemi, Maret 2020.
***
Ya Allah, kami miris bila menengok ke belakang, di negeri ini (yang penduduknya mayoritas Muslim, hingga Indonesia disebut berpenduduk yang jumlah Umat Islamnya terbesar di dunia) ternyata elit2nya sudah banyak yang terang2an menentangMu ya Allah, dengan mendukung puncak kemaksiatan yaitu LGBT, dan juga mendukung beredarnya pemicu utama kemaksiatan yaitu khamr alias miras yang dalam Islam disebut ummul khabaits induk kemesuman.
Inilah di antara buktinya, keluhan seorang tokoh terkemuka.
***
Geger! Zulkifli Hasan Sebut 5 Fraksi di DPR Setujui LGBT dan Pernikahan Sejenis; 8 Partai Politik di DPR Setuju Minuman Keras Dijual di Warung-Warung

SURATKABAR.ID – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan menyebut bahwa ada lima fraksi di DPR RI yang menyetujui LGBT dan pernikahan sejenis di Indonesia.
Menurutnya, kelima fraksi ini setuju jika perilaku LGBT berkembang di Indonesia. Namun, ia tak menyebut nama partai politik yang fraksinya memberikan dukungan terhadap LGBT.
“Di DPR saat ini dibahas soal undang-undang LGBT atau pernikahan sesama jenis. Saat ini sudah ada lima partai politik menyetujui LGBT,” ujarnya di Kampus Universitas Muhmmadiyah Surabaya, Surabaya, Sabtu (20/1/2018), seperti dilansir republika.co.id.
Menurut Zulkifli, Indonesia kini masih terjangkit kesenjangan politik. Hal ini terbukti dengan banyaknya keinginan rakyat yang berseberangan dengan partai politik atau pun para anggota DPR. Padahal, seharusnya DPR mewakili suara rakyat.
“Saat ini masih terjadi juga kesenjangan politik. Kesenjangan politik seperti apa? Ya lihat saja masyarakat maunya A, tapi partai politik di DPR maunya B,” lanjut Ketua Umum Partai Amanat Nasional ini.
Delapan partai politik di DPR yang menyetujui minuman keras dijual di warung-warung.
Selain mengenai LGBT, Zulkifli juga sempat menyinggung soal perkembangan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Miras di DPR. Menurut Zulkifli, saat ini terdapat delapan fraksi di DPR yang menyetujui minuman keras dijual bebas di warung-warung.
“Sekarang ini sudah ada delapan partai politik di DPR yang menyetujui minuman keras dijual di warung-warung,” ujarnya.
Namun, lagi-lagi Zulkifli enggan menyebutkan nama-nama partai politik tersebut. Ia hanya menegaskan bahwa partainya, PAN, menolak keinginan tersebut.
“Sudah delapan partai yang setuju (miras dijual di warung-warung), mudah-mudahan berubah. Enggak tahu saya (partai apa saja yang menyetujui), yang pasti PAN nolak. Yang lain urusan partai lain,” kata Zulkifli.
Zulkifli berpendapat, peredaran miras secara bebas harus ditolak tegas. Pasalnya, peredaran miras dapat berpengaruh buruk terhadap ketahanan nasional dan menyangkut masa depan generasi penerus bangsa.
“Soal miras itu harus kita tolak tegas. Di negara maju model Amerika saja itu diatur ketat, dibatasi. Ini menyangkut masyarakat Indonesia, menyangkut ketahanan nasional, memyangkut anak-anak kita. Miras betul-betul harus diatur dengan ketat karena berbahaya,” tegasnya.
http://www.suratkabar.id/
Penulis
Dinar Firda Rosa

20 Januari 2018 10:04 pm

Via fb

Hartono Ahmad Jaiz

 14 Maret · 

https://www.facebook.com/HartonoAhmadJaiz/photos/rpp.628420973941589/2711517178965281/?type=3&theater

(nahimunkar.org)

 


 

(Dibaca 296 kali, 1 untuk hari ini)