Dalam buku Ensiklopedi Nurcholish Madjid ada judul SETIAP ORANG AKAN MASUK SURGA. Dengan merujuk kepada Ibnu Arabi (tokoh sufi, bukan Ibnul ‘Arabi ulama Ahlussunnah, red nm), azab itu asalnya dari bahasa Arab Adzab. Tetapi harus diketahui bahwa azab dalam bahasa Arab itu ‘adzbun yang artinya tawar… implikasinya bersifat spiritual bahwa sebetulnya yang dimaksud ‘adzab oleh Tuhan adalah suatu proses penyucian. Jadi, orang yang mendapat ‘adzab itu sebenarnya disucikan oleh Tuhan untuk nanti kembali kepada surga sehingga ‘adzab itu “tidak berarti apa-apa”. (Ensiklopedi Nurcholish Madjid buku ke-4 halaman 3002, entri SETIAP ORANG AKAN MASUK SURGA, Buku yg diterbitkan oleh Yayasan Wakaf Paramadina bekerja sama dengan Penerbit Mizan dan Center for Spirituality and Leadership (CSL) cetakan 1, 2006).

Itu mirip dengan Dharmo Gandul Gato Loco. Gatoloco bilang Mekkah artinya mekakah (wanita melebarkan kakinya waktu mau disetubuhi lelaki), Nurcholish Madjid bilang Adzab (siksa) jadi Adzb (tawar) lalu diarahkan kepada kemauannya, yaitu orang yang mendapat ‘adzab itu sebenarnya disucikan oleh Tuhan untuk nanti kembali kepada surga sehingga ‘adzab itu “tidak berarti apa-apa”.

Mengotak-atik kata untuk memenuhi hawa nafsunya. Kalau Dato Loco bermaksud melecehkan Islam dijuruskan kepada yang jorok-jorok. Sedang Nurcholish Madjid menjuruskan orang kafir pun masuk surga bahkan semua orang masuk surga. Padahal sudah jelas ayatnya, orang kafir dari ahli kitab dab musyrikin di neraka jahannam selama-lamanya. ( lihat QS Al-Bayyinah: 6).

Ensiklopedi Nurcholish Madjid tegaskan setiap orang akan masuk surga, maka disebut menjajakan racun tikus.

Buku teranyar kaum Sepilis (sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme) berjudul Ensiklopedi Nurcholish Madjid, hasil suntingan Budhy Munawar Rachman, salah seorang staf pengajar di Universitas Paramadina, setebal 4000 halaman dalam empat jilid itu, Rabu (14/2 2007), diluncurkan dan dibedah di Universitas Paramadina, Jakarta.
Menurut Budhy, buku tersebut merupakan hasil penyuntingan lebih dari 15 tahun kerja intelektual dan pengajaran Cak Nur di Pusat Studi Islam Paramadina. “Sebagian besar isi buku itu merupakan hasil transkrip kuliah-kuliah Cak Nur yang diberikan kepada para mahasiswa di Paramadina, Pondok Indah, di lebih dari 200 kelas atau setara dengan 400 jam kuliah, ratusan catatan, hand out dan makalah beliau. Kemudian ditranskrip dan diedit untuk kepentingan penerbitan ensiklopedi ini,” tulis Budhy dalam tulisan pembukaan ensiklopedi ini.
Buku ini diterbitkan atas kerjasama Paramadina, Penerbit Mizan dan Center for Spirituality and Leadership (CSL)/ PT Astra.

Dalam buku ini Nurcholish Madjid dengan mengemukakan pendapat Ibnu Arabi (tokoh tasawuf sesat) memprediksi nasib setiap orang di akhirat nanti, setiap orang akan masuk surga. Menurutnya, azab adalah proses penyucian. Jadi, orang yang diazab sebenarnya disucikan oleh Tuhan untuk kemudian kembali ke surga. Karena itu, menurutnya, semua orang bakal masuk surga. (buku ke-4 hlm. 3002).  Atau dengan kata lain, bahwa siapa pun dia, agama apa pun dia, sekafir-kafirnya dia, ujung-ujungnya, akan masuk surga Padahal, ini bertolak belakang dengan prinsip-prinsip Islam.

Keruan saja, ada komentar orang, mengibaratkan buku ini sebagai pasar: Laiknya, sebuah pasar, di sana disediakan barang apa saja, mulai dari madu, gula, cabe, garam, pupuk kandang, pakaian, racun tikus. “Karena itu, pembaca buku ini perlu benar-benar memahami dan membedakan, mana yang madu, cabe, pupuk kandang, pecel dan mana yang racun tikus,” jelas Adian, mengingatkan. (lihat Sabili Edisi 18 Th XIV 22 Maret 2007 3 Rabi’ul Awal 1428).

UngkapanSetiap orang akan masuk surga” itu jelas dusta dan mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ(40)

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lobang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. (QS Al-A’raf/ 7: 40).

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ(6)

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS Al-bayyinah/ 98: 6).

وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ(50)

Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir, (QS Al-A’raf/ 7: 50).

Sebegitu dahsyatnya Ensiklopedi Nurcholish Madjid itu dalam menyebarkan faham yang sangat bertentangan dengan Islam. Ayat-ayat Al-Qur’an sudah jelas benarnya, maka faham dari manapun datangnya, yang bertentangan dengan Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala itu, berarti jelas-jelas dusta. Tebalnya karya berbentuk ensiklopedi sampai 4000 halaman itu tidak menambah apa-apa kecuali menambah dusta, hingga justru menjatuhkan para pembuat dan pengusungnya kepada kubangan yang di sana umat Islam tidak mau mempercayainya, kecuali orang-orang yang hatinya buta dari petunjuk belaka.

 Buku Harun Nasution berjudul Islam Dipandang dari Berbagai Aspeknya, diperuntukkan para mahasiswa IAIN ada pernyataan: Agama monotheisme adalah Islam, Yahudi, Kristen (Protestan dan Katolik) dan Hindu. (dikutip di buku Ada Pemurtadan di IAIN, halaman 115).
Pernyataan Abdul Munir Mulkhan, wakil Rektor IAIN (UIN) Jogjakarta/ petinggi Muhammadiyah: Surga Tuhan itu nanti dimungkinkan terdiri dari banyak “kamar” yang bisa dimasuki dengan beragam jalan atau agama.(Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar, hlm 25). Itu bertentangan dengan QS Ali Imran 85: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang yang rugi.” (buku APdI hlm 78-79).

{ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا (107) خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا } [الكهف: 107، 108]

107. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal,

108. mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya. (QS Al-Kahfi/ 18: 107-108).

 Zainun Kamal dosen UIN Jakarta menikahkan Muslimah dengan lelaki Kristen di Hotel Kristal Pondok Indah Jakarta, Ahad 28 November 2004, yaitu Suri Anggerni dengan Alfin Siagian. Ini bertentangan dengan QS 60:10, mereka (perempuan muslimah) tidak halal bagi lelaki-lelaki kafir dan lelaki-lelaki kafir tidak halal bagi mereka (perempuan muslimah). Orang Kristen ataupun Yahudi termasuk kafir, karena telah ditegaskan dalam QS Al-Bayyinah ayat 6: Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (buku APdI hlm 83).

(Anehnya, Zainun Kamal kini justru diangkat jadi Dekan Fakultas Ushuluddin/ Akidah dan Filsafat UIN Jakarta).

 Kautsar Azhari Noer seorang dosen UIN Jakarta, penggema ajaran Ibnu Arabi dan pluralisme agama. Dr Kautsar Azhari Nur orang liberal dari Paramadina Jakarta ini dalam pidato Debat Fiqih Lintas Agama di UIN (Universitas Islam Negeri) Jakarta, 15 Januari 2004, berkata: “Akidah itu memang tidak sama. Akidah itu buatan manusia bukan buatan Tuhan.”[3] Komentara saya: Kalau aqidah itu buatan manusia, padahal fondasi dalam agama itu justru aqidah, dapatkah agama Allah yaitu Islam itu fondasinya hanya buatan manusia? Barangkali perkataan Dr Kautsar itu betul apabila yang dimaksud hanyalah agama buatan manusia, misalnya agama model Gatoloco dan Darmogandul, suatu kepercayaan di Jawa yang sangat menghina Islam dengan perkataan-perkataan porno dan jorok. Tentang aqidah, penjelasan ini bisa disimak: Wakil Sultan (di Suriah tempat Ibnu Taimiyah bermukim, pen) bertanya tentang iktikad (Aqidah), maka Ibnu Taimiyah ra berkata: Aqidah bukan datang dariku, juga bukan datang dari orang yang lebih dahulu dariku tapi dari Allah SWT dan Rasul-Nya, dan apa yang diijma’i oleh para salaf umat ini diambil dari kitabullah dan hadits-hadits Bukhari dan Muslim serta hadits-hadits lainnya yang cukup dikenal dan riwayat-riwayat shahih dari generasi salaf umat ini.[4] Anggapan pihak Paramadina bahwa aqidah mereka memang beda, yaitu pluralisme agama—menyamakan semua agama–, adalah berbeda dengan orang Muslim yang aqidahnya tegas bahwa hanya Islam lah yang benar. Al-Qur’an menyatakan sesembahan orang non Islam/ kafir itu bukan sesembahan orang Muslim dalam surat Al-Kafirun secara diulang-ulang. Tetapi dosen UIN Jakarta dan Paramadina ini berani mengatakan bahwa muslim tapi aqidahnya berbeda, yaitu pluralisme agama. Bagaimanapun, keyakinan orang pluralis bertentangan dengan Islam, di antaranya bertentangan dengan Al-Qur’an Surat Al-Kafirun.

قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ(1)لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ(2)وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ(3)وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ(4)وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ(5)لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ(6)) ,

Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS Al-Kafirun: 1-6). (buku APdI hlm 85-86).

Drs Nuryamin Aini, MA, pengajar Fakultas Syari’ah UIN Jakarta menyudutkan para ulama (sebenarnya menyudutkan Islam) yang mengharamkan pernikahan beda agama (Islam dengan non Islam). Penyudutan itu hanya dengan dalih hasil penelitiannya mengenai anak-anak hasil pernikahan beda agama, katanya lebih banyak yang ikut ke Islam. Ungkapan yang ditujukan kepada para ulama namun hakekatnya kepada Islam itu adalah hasil wawancara Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL dengan Nuryamin Aini yang disiarkan lewat islamlib.com.

Perlu dipertanyakan kepadanya, kalau anak-anak hasil dari pasangan zina justru banyak yang beragama Islam, apakah berarti larangan zina dalam Islam itu satu hal yang tidak benar? Betapa anehnya cara beristinbath (menyimpulkan hukum) model ngawur-ngawuran dan merusak agama seperti itu.
 Dosen-dosen IAIN/ UIN yang tergabung dalam tim penulis Paramadina Jakarta, menulis buku Fiqih Lintas Agama, 2003, yang sangat merusak aqidah Islam, dari Tauhid diarahkan ke kemusyrikan dengan istilah pluralisme agama, dan memutarbalikkan hukum Islam, yang halal diharamkan dan yang haram dihalalkan. Tim Penulis Paramadina itu sebagian adalah dosen-dosen UIN Jakarta. Semuanya terdiri 9 orang: Nurcholish Madjid, Kautsar Azhari Noer, Komarudin Hidayat, Masdar F. Mas’udi, Zainun Kamal, Zuhairi Misrawi, Budhy Munawar-Rahman, Ahmad Gaus AF dan Mun’im A. Sirry. Buku yang menjungkir balikkan pemahaman Islam itu telah saya bantah dengan buku yang berjudul Menangkal Bahaya JIL dan FLA, 2004.

 Dalam hal mengacak-acak Islam, ada yang lebih gila lagi. Journal Relief terbitan UGM (yang advisornya Achmad Mursyidi, dibiayai pula oleh The Asia Foundation) menyebarkan faham yang sangat memurtadkan, ditulis di cover belakang majalah/ journal Relief kutipan pernyataan seorang dosen IAIN Jogjakarta :
“…kenapa kita ribut menyalahkan orang ateis bahwa ateis adalah musuh orang ber-Tuhan. Padahal Tuhan sendiri ateis. Ia tidak ber-Tuhan.” (cover belakang Majalah Relief, vol 1, No 2, Yogyakarta, Mei 2003).

Ungkapan itu bertentangan dengan firman Allah:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ(23)

Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai. (QS Al-Anbiya’: 23).
Ungkapan di majalah/ Journal Relief itu kalau dikaitkan dengan ucapan Iblis maka akan berbunyi : Kenapa saya (Iblis) disuruh bersujud kepada Adam, toh Tuhan sendiri tidak bersujud kepada Adam.
Kalau dikaitkan dengan perintah-perintah ibadah, menyembah hanya kepada Allah, maka akan diucapkan: Kenapa saya harus menyembah Allah, toh Allah sendiri tidak menyembah siapa-siapa.
Itulah logika yang lebih kurang ajar daripada Iblis itu sendiri. Na’udzubillaahi min dzaalik![6] (ApdI hlm 40-41).
Kenyataan itu bisa dicocokkan pula dengan Kitab Aqidah Mukmin, Syeikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi di antaranya membuat satu judul dengan sebutan golongan Iblisiah, walau keadaannya lebih buruk dibanding iblis. (Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Aqidah Mukmin, Darul Fikr, Beirut, cetakan pertama, 1995, halaman 277).

 

Muhidin M. Dahlan dijuluki si pengasap neraka

Di suatu situs, rekan-rekan Muhidin menjulukinya si pengasap neraka. Sebagaimana mereka tulis:

Muhidin M.Dahlan alias Gus Muh alias Si Pengasap. Dia member yang tidak pernah meracau di multiply karena tidak punya akun di multiply. Tapi, kami berencana membuatkannya nanti agar dia bisa ikut gila-gilaan di sini. Gila-gilaan? Wah..sebenarnya dia inilah member paling gila dengan  tulisan-tulisannya yang bikin kepala anggota MUI dan FPI ngebul karena tersinggung. Kalau gilanya kubugil masih berupa wacana (meminjam istilah Antie), si pengasap neraka ini sudah gila beneran. Ayah dua orang anak ini menetap di kota gudeg dan banyak menulis tentang sejarah dan kebudayaan. Empat novel telah lahir dari otaknya yang “terganggu” itu. Dia kelahiran tahun 1978.

Demikianlah. Kelompok mereka saja menyebutnya si pengasap neraka dan gila beneran. Seperti apa, di antara tulisannya?

Dalam tulisan tentang Liberalisasi Islam di Indonesia, Adian Husaini menyoroti seorang liberal yang merusak hukum Islam, sebagai berikut:

Ketika hukum-hukum yang pasti dirombak, maka terbukalah pintu untuk membongkar seluruh sistem nilai dan hukum Islam. Dari IAIN Yogyakarta muncul nama Muhidin M. Dahlan, yang menulis buku memoar berjudul Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur, yang memuat kata-kata berikut: “Pernikahan yang dikatakan sebagai pembirokrasian seks ini, tak lain tak bukan adalah lembaga yang berisi tong-tong sampah penampung sperma yang secara anarkis telah membelah-belah manusia dengan klaim-klaim yang sangat menyakitkan. Istilah pelacur dan anak haram pun muncul dari rezim ini. Perempuan yang melakukan seks di luar lembaga ini dengan sangat kejam diposisikan sebagai perempuan yang sangat hina, tuna, lacur, dan tak pantas menyandang harga diri. Padahal, apa bedanya pelacur dengan perempuan yang berstatus istri? Posisinya sama. Mereka adalah penikmat dan pelayan seks laki-laki. Seks akan tetap bernama seks meski dilakukan dengan satu atau banyak orang. Tidak, pernikahan adalah konsep aneh, dan menurutku mengerikan untuk bisa kupercaya.” (Buku: Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur: Memoar Luka Seorang Muslimah, SriptaManent dan Melibas, 2005, cetakan ke-7).

Pluralismenya Gus Dur

Inilah pluralismenya Gus Dur yang menyiarkan bahwa taqwa itu tidak pandang agama, “Tidak peduli muslim atau bukan.”

Pernyataan Gus Dur itu dia pidatokan, dan dimuat di situs lembaga dia, The Wahid Institute.
Padahal taqwa itu menurut Umar bin Khathab adalah taqwa (menjaga diri) dari kemusyrikan.
Jadi otomatis orang musyrik sama sekali tidak bertaqwa. Tetapi menurut Gus Dur, tidak peduli muslim atau bukan.

Betapa jauhnya antara pemahaman Gus Dur dengan pemahaman Umar bin Khatab.
Inilah teks berita pidato Gus Dur:

Selasa, 29 Januari 2008 05:01

Islam dan Umat Agama Lain

“Ketakwaan Bukan Monopoli Islam”

Presiden Republik Indonesia ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyatakan, ketakwaan bukanlah ukuran spesifik dalam Islam. Ketakwaan juga dimiliki orang nonmuslim, baik Yahudi, Nasrani maupun yang lain. Ini, katanya, berdasarkan firman Allah Swt: Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah Swt ialah orang yang paling bertakwa. (Qs. al- Hujurat: 13).

“Berdasarkan ayat ini, takwa itu bukan monopoli orang Islam saja.”
Demikian dikatakan mantan ketua PBNU itu saat menjadi narasumber pada Workshop Islam dan Pluralisme V bertema Islam dan Umat Agama Lain di Kantor The WAHID Institute Jl. Taman Amir Hamzah No. 8 Matraman Jakarta, Jum’at (18/01/2008) malam. Hadir juga sebagai narasumber Ketua PCNU Kota Bandung KH. Maftuh Kholil. Dan tampak Direktur the WAHID Institute Yenny Wahid. Sedang peserta forum tersebut adalah pendeta, calon pendeta dan aktivis sosial Kristen.

Takwa atau ketakwaan, kata Gus Dur, itu bermakna takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang betul-betul takut pada Tuhan, imbuhnya, dia telah bertakwa. “Tidak peduli muslim atau bukan,” ujarnya. “Tolong ini dipikirkan lebih jauh lagi. Saya nggak ada waktu lagi untuk semua ini,” imbuhnya disambut tawa.

http://www.wahidinstitute.org/Programs/Print_page?id=67/hl=id/Islam_Dan_Umat_Agama_Lain_Ketakwaan_Bukan_Monopoli_Islam

Komentar kami: Coba bandingkan dengan penjelasan ahli tafsir, bahwa taqwa itu dalam ayat

إن أكرمكم عند الله أتقاكم

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah Swt ialah orang yang paling bertakwa. (Qs. al- Hujurat: 13). Artinya bahwa Allah Ta’ala lebih tahu kepadamu dengan tingkatan-tingkatanmu dalam iman.[1]

Sedangkan menurut Umar bin Khatab, orang yang paling taqwa (menjaga diri) adalah orang yang paling taqwa (menjaga diri) terhadap kesyirikan.[2]

Yang ulama tafsir merujuk kepada Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan, taqwa itu menjaga diri dari kemusyrikan, sedang faham yang disebarkan Gus Dur, taqwa itu “Tidak peduli muslim atau bukan”.

Masa sih orang musyrik bertaqwa, wahai para pendukung Gus Dur?

Mari kita bandingkan, taqwa menurut Gus Dur dengan sifat orang yang bertaqwa menurut Al-Qur’an.

Takwa atau ketakwaan, kata Gus Dur, itu bermakna takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang betul-betul takut pada Tuhan, imbuhnya, dia telah bertakwa. “Tidak peduli muslim atau bukan,” ujarnya.

Pernyataan Gus Dur itu sangat melawan ayat al-Qur’an yang mensifati orang yang bertaqwa dalam awal-awal Surat Al-Baqarah:

Alif Laam Miim.

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,

dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Al-Baqarah: 1-5).

Dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya terbitan Departemen Agama RI ada penjelasan, di antaranya:

– Takwa yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.

– Iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu.

– yang ghaib ialah yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera. percaya kepada yang ghaib yaitu, mengi’tikadkan adanya sesuatu yang maujud yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera, karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya, seperti: adanya Allah, malaikat-malaikat, hari akhirat dan sebagainya.

– Shalat menurut bahasa ‘Arab: doa. menurut istilah syara’ ialah ibadat yang sudah dikenal, yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam, yang dikerjakan untuk membuktikan pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah. mendirikan shalat ialah menunaikannya dengan teratur, dengan melangkapi syarat-syarat, rukun-rukun dan adab-adabnya, baik yang lahir ataupun yang batin, seperti khusu’, memperhatikan apa yang dibaca dan sebagainya.

Mari kita tes: Apakah agama apa saja selain Islam ada yang berimannya sesuai dengan Al-Qur’an?

Apakah agama selain Islam keimanannya terhadap hal ghaib sesuai dengan suruhan Al-Qur’an.

Apakah agama selain Islam, shalatnya sesuai dengan yang dijelaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah seperti yang didefinisikan tersebut di atas?

Apakah selain Islam ada yang beriman kepada Al-Qur’an?

Al-Qur’an pun menjawab:

فَإِنْ آَمَنُوا بِمِثْلِ مَا آَمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (137)

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah: 137)

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (115) إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا (116)

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS An-Nisaa’: 115, 116).

Jelaslah, pendapat Gus Dur tersebut sangat bertentangan dengan Al-Qur’an.

Di samping menganggap taqwa itu tak peduli muslim atau non muslim, masih pula Gus Dur mendirikan pesantren multi agama Soko Tunggal di Mijen, Semarang, Jawa Tengah.

Masih ragukah wahai para pendukung Gus Dur bahwa itu semua bertentangan dengan Islam bahkan pemurtadan model baru?

Lihat :  NU Tersihir Faham Pluralisme dan Multikulturalismenya Gus

– See more at: https://www.nahimunkar.org/kemiripan-antara-habib-munzir-dan-gus-dur/#sthash.6oW9VgLI.dpuf

Demikianlah dangkalnya pandangan dan pikiran mereka. Namun sangat berbahaya, karena merusak Islam. Oleh karena itu, benarlah kata Prof Dr HM Rasjidi salah seorang ketua Dewan Dakwah, bahwa pemikiran Nurcholish Madjid itu berbahaya karena sederhana.

Ya, dalam contoh-contoh itu, lantaran sederhananya, sehingga mereka itu sejajar dengan orang yang tidak mampu membedakan antara emas dengan kotoran manusia hanya karena sama-sama warnanya kuning.

Wallahu a’lam bisshawab.
(Hartono Ahmad Jaiz)

(nahimunkar.com)

 

(Dibaca 8.579 kali, 1 untuk hari ini)