Ilustrasi: Emha dengan grupnya, Kiai Kanjeng, menyuguhkan medley lagu Ave Maria dan Sholawat Nabi dinyanyikan bergantian oleh Kyai Kanjeng dan ibu-ibu gereja di Gereja Katholik Pugeran Yogyakarta Agustus 2007/ foto dok-istimewa

Harus hati-hati.  Ada sosok-sosok nyeleneh yang ternyata tadinya mereka belajar filsafat.

  1. Emha Ainun Nadjib

Emha Ainun Nadjib pernah belajar di Fakultas Filsafat UGM Jogja, tidak tamat, dan kemudian dikenal pendapatnya banyak yang nyeleneh alias aneh bahkan mengusik agama (Islam).

Masa’ Emha menolak hadits Bukhari tentang haramnya alat-alat musik (معازف ma’azif) pakai analogi / qiyas sambel. Diuraikan unsur-unsurnya, lalu di antaranya dia katakan, musik itu di antara unsurnya adalah nada. ’asa’ nada kok diharamkan, kilahnya.

Cara main qiyas sekenanya seperti itu, apalagi sudah ada dalilnya, lalu qiyas sekenanya itu untuk membantah dalil, itu sampai yang namanya khamr (yang jelas haram) pun bisa dihalalkan, ketika diuraikan unsurnya di antaranya anggur, gula dll, lalu dikatakan, masa’ gula kok diharamkan… ya rusak semua kalau caranya begitu.

Selain kerancuan pemikirannya yang menyangkut agama, dalam hal penampilan pun begitu.

Emha dengan grupnya yang disebut Kiai Kanjeng menyuguhkan medley lagu Ave Maria dan Sholawat Nabi dinyanyikan bergantian oleh Kyai Kanjeng dan ibu-ibu gereja di Gereja Katholik Pugeran Yogyakarta Agustus 2007.

Lhah… shalawat itu sendiri dalam Islam merupakan ibadah, malah ini dimusikkan dan dinyanyikan di gereja bergantian dengan ibu-ibu ativis gereja. Na’udzubillahi min dzalik! (kami berlindung kepada Allah dari hal yang emikian)!

Fatwa Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid tentang Haramnya Musik

Sunnah yang jelas lagi shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh telah menunjukkan atas haramnya mendengarkan alat-alat musik. Al-Bukhari telah meriwayatkan secara mu’allaq (tergantung, tidak disebutkan sanadnya) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ. (رواه البخاري).

Layakunanna min ummatii aqwaamun yastahilluunal hiro wal hariiro wal khomro wal ma’aazifa.

Sesungguhnya akan ada dari golongan ummatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan ma’azif (alat-alat musik).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari).Hadits ini telah disambungkan sanadnya oleh At-Thabrani dan Al-Baihaqi (jadi sifat mu’allaqnya sudah terkuak menjadi maushul atau muttasholus sanad, yaitu yang sanadnya tersambung atau yang tidak putus sanadnya alias pertalian riwayatnya tidak terputus). Lihat kitab as-Silsilah as-shahihah oleh Al-Albani hadis nomor 91.

Yang dimaksud dengan الْحِرَ al-hira adalah zina; sedang الْمَعَازِفَ al-ma’azif adalah alat-alat musik.

Hadits itu menunjukkan atas haramnya alat-alat musik dari dua arah:

Pertama: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam يَسْتَحِلُّونَ menghalalkan, maka itu jelas mengenai sesuatu yang disebut itu adalah haram, lalu dihalalkan oleh mereka suatu kaum.

Kedua: Alat-alat musik itu disandingkan dengan yang sudah pasti haramnya yaitu zina dan khamar (minuman keras), seandainya alat musik itu tidak diharamkan maka pasti tidak disandingkan dengan zina dan khamr itu.

(Fatawa Islam, Soal dan Jawabjuz 1 halaman 916, dengan bimbingan Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid. Sumber: www.islam-qa.com, soal nomor12647).

  1. Ulil Abshar Abdalla dedengkot liberal

Ulil Abshar Abdalla dedengkot liberal/ foto intelijen

Ulil Abshar Abdalla dedengkot liberal dikenal sering melontarkan hal-hal yang aneh nyeleneh. Bahkan dia mempertanyakan Al-Qur’an.

“Apakah Quran dengan “sharih” (eksplisit) menjelaskan bahwa kaum sodom disiksa karena orientasi seksual mereka? Apa ada?” kicau Ulil di akun Twitter-nya @ulil.

Perlu diingat, Ulil tampak berani sekali bicara agama (Islam) tanpa dalil yang jelas itu ternyata dia  juga dari menggeluti filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Driyarkara Jakarta, dan terbukti jadinya nyeleneh, sampai2 bilang bahwa vodca (jenis miras) bisa halal di tempat yang dingin sekali. Perkataan Ulil itu kalau dituruti, maka akan ada yang menganggap zina di puncak bisa halal karena udaranya dingin sekali. Nah, pikiran rusak hanya akan membuahkan hasil rusak.

Ulil JIL Tegaskan di Al Quran tak Ada Azab Kaum Sodom

Dedengkot Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla membuat pernyataan kontroversi dan memberikan pembelaan terhadap kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, Trangender (LGBT).

Twitter Ulil Abshar Abdalla (IST)

“Apakah Quran dengan “sharih” (eksplisit) menjelaskan bahwa kaum sodom disiksa karena orientasi seksual mereka? Apa ada?” kicau Ulil di akun Twitter-nya @ulil.

Kicaun Ulil ini langsung mendapat tangggapan pengasuh pesantren Sidogiri Jawa Timur Ustadz Achyat Ahmad. “Ketika seorang liberalis tiba² begitu tekstualis,” kicau di akun Twitter-nya @AchyatAhmad

Sedangkan netizen lainnya bliss fanatic @cracshell: hahaha. Biasanya ngejek ahlusunnah sbg tekstualis picik, bahkan wahhabi jika mmprtahankn agama. Sekarang jilat ludah sendiri.

By: suaranasional.com/02/02/2016 

***

Saggahan untuk Ulil

Untuk menyanggah Ulil, sebenarnya cukup diajukan pertanyaan:

  1. Kaum sodom (kaumnya Nabi Luth ‘alaihissalam) apakah prilaku sexnya bagus menurut Al-Qur’an?
  2. Dengan prilaku sex mereka itu, dalam Al-Qur’an dijuluki mujrimun (penjahat, pendosa) ataukah mushlihun (pembuat kebaikan)?
  3. Dalam Al-Qur’an apakah kaum sodom itu diselamatkan atau diazab oleh Allah?

Ternyata di Al-Qur’an dijelaskan:

وَلُوطًا إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِۦٓ أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٨٠ إِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةٗ مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ٨١ وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوۡمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ أَخۡرِجُوهُم مِّن قَرۡيَتِكُمۡۖ إِنَّهُمۡ أُنَاسٞ يَتَطَهَّرُونَ ٨٢ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ٨٣ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِم مَّطَرٗاۖ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ٨٤ [سورة الأعراف,٨٠-٨٤]

  1. Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah/ keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?
  2. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas
  3. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri”
  4. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)
  5. Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu. [Al A’raf,80-84].

Bagi orang yang masih menggunakan akalnya, ayat-ayat itu sudah jelas. Tapi bagi yang ngotot membela makhluk homo yang sering disebut dengan maho atau homreng, ya masih bercuit macem-macem.

Bila ilmu yang dimilikinya itu untuk kebaikan, maka insya Allah diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, hingga mampu melihat ayat lainnya, hingga dapat membandingkannya. Di antaranya dapat dilihat ayat:

{وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ} [هود: 117]

  1. Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan [Hud: 117]

Dalam tafsir Al-Wajiz oleh Al-Wahidi dijelaskan:

الوجيز للواحدي (ص: 536)

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ (117)

{وما كان ربك ليهلك القرى} أَيْ: أهلها {بظلمٍ} بشركٍ {وأهلها مصلحون} فيما بينهم أَيْ: ليس من سبيل الكفَّار إذا قصدوا الحقَّ في المعاملة أن يُنزِّل اللَّهُ بهم عذاب الاستئصال كقوم لوطٍ عُذِّبوا باللِّواط وقوم شعيب عُذِّبوا ببخس المكيال

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri karena kemusyrikan (mereka), sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan – di antara mereka. Artinya tidak (dibinasakan) dari jalan kekafiran mereka – jika mereka menghendaki kebenaran dalam pergaulan— untuk dituruni Allah azab pembasmian kepada mereka  seperti kaum Luth diazab karena liwath (sodomi, homosex) dan kaum Syu’aib diazab karena mencurangi timbangan.  (Tafsir Al-Wajiz oleh Al-Wahidi halaman 536/ maktaba shamela).

Masih mau ngotot membela kaum homo?

Na’udzubillahi min dzalik!

  1. Ahmad Wahib pengusung awal faham liberal

ahmad wahib/ foto wiki

Ahmad Wahib pengusung awal faham liberal (divonis murtad oleh ulama MUI tahun 1981-an karena buku “warisannya” berjudul Catatan Harian Ahmad Wahib yang mengusik aqidah Islam) juga dari filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Driyarkara, Jakarta.

Buku ‘Catatan Harian Ahmad Wahib Pergolakan Pemikiran Islam’, . isinya sangat menyesatkan, di samping mengkampanyekan faham Pluralisme Agama (menyamakan semua agama) masih pula ditambah dengan pernyataan-pernyataan yang menghina Nabi Muhammad, misalnya Wahib menginginkan Nabi yang tingkat Internasional. (Buku itu hasil suntingan Djohan Effendi, anggota resmi aliran sesat Ahmadiyah).

Demikianlah di antara contoh para penyeleneh yang mengusik Islam, tadinya pernah belajar dan menggeluti filsafat.

Entah apa jadinya nanti murid-murid sekolah tinggi filsafat syiah Sadra di Jakarta (diresmikan 2012) asuhan Hadidar Baqir dan konco2nya yang direstui Nasaruddin Umar waktu masih jadi pejabat kemenag (kmentrian agama). Berarti sudah disiapkan manusia2 yang kemungkinan sekali pikirannya kacau… na’udzubillahi min dzalik!

Ini bukan berarti yang pikirannya masih lurus digolongkan ke sini. Tidak.

Mereka yang dididik dengan filsafat syiah itu diampu oleh wong-wong yang diantaranya keluaran hauzah syiah Qom Iran.

Beberapa dosen di Sekolah filsafat syiah Sadra ini di antaranya Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, Prof Dr. Abdul Hadi MM, Dr. Haidar Bagir (Mizan), Dr Umar Shahab, Dr. Muhsin Labib, Dr. Zainal Abidin Bagir (Center for Religious and Cross-Cultural Studies/CRCS), Dr Donny Gahral Adaian, Prof. Dr Rosikhon Anwar (Guru Besar Ilmu Al-Quran UIN Sunan Gunung Djati Bandung) juga Dr. Khalid Walid, alumnus dari Hawzah Ilmiah Qom, Iran.

Bila dilihat dari contoh-contoh manusia nyeleneh tersebut di atas, mereka sudah sebegitu beraninya mengusik Islam, padahal yang mereka geluti belum dikenal dengan filsafat dari aliran sesat syiah. Bagaimana pula jadinya ketika yang digodok di perguruan filsafat syiah itu nantinya ketika mengusik Islam pakai filsafat yang mereka pelajari dari aliran sesat syiah?

Di saat pemikiran sesat atau pun rancu berseliweran, bahkan manusia-manusia yang diperkirakan akan bermunculan dengan pemikiran rancunya telah dipersiapkn oleh aneka aliran sesat, maka betapa pentingnya kita hayati bahwa sejatinya Allah Ta’ala telah memperingatkan betul-betul, hingga setiap shalat bahkan setiap raka’at kita diwajibkan minta petunjuk kepada Allah jalan yang lurus dan minta agar dihindarkan dari jalan orang-orang yang maghdhub (dimurkai Allah) dan dhoolliin (orang-orang sesat).

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧ [سورة الفاتحة,٦-٧]

  1. Tunjukilah kami jalan yang lurus
  2. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat [Al Fatihah,6-7]

Di akhir tahiyat dalam shalat pun disunnahkan berdoa dengan doa yang diajarkan oleh Nabi Muhamad shallalahu ‘alaihi wa sallam.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbii ‘Alaa Diinik

Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.” (HR. Ahmad dan at Tirmidzi)

(nahimunkar.org)

(Dibaca 5.476 kali, 1 untuk hari ini)