Covid-19 Versus Kesombongan Manusia

 
 

Oleh: Tardjono Abu Muas, Pemerhati Masalah Sosial



Ilustrasi. Tangani Corona, Presiden Jokowi Tawarkan Bantuan Untuk China. Jakarta, Kompas.Tv – Presiden Joko Widodo berkomunikasi lewat telepon dengan presiden Tiongkok, Xi Jinping. Presiden yakin, wabah virus Corona di Tiongkok akan bisa dilalui. Jokowi juga menawarkan bantuan untuk mempercepat penanganan wabah virus Corona.

•Feb 12, 2020/foto ytb/ kpstv


Perjalanan hidup manusia dari masa ke masa selalu ada saja muncul sosok-sosok manusia yang bangga dengan kesombongannya. Puncak dari rentetan kesombongan manusia pada abad kekinian layak kiranya disandang oleh Presiden China, Xi Jinping yang menegaskan ‘tidak ada kekuatan yang bisa mengguncang China’. Hal ini disampaikan Xi Jinping pada peringatan 70 tahun berdirinya China pada 1 Oktober 2019. Sebuah penegasan kesombongan Presiden Xi tidak lain hanya untuk mengintimidasi negara-negara tetangganya menjadi ciut nyali untuk berhadapan dengan China.

Puncak kesombongan manusia yang kini diwakili sosok anak manusia bernama Xi Jinping yang menjabat sebagai Presiden di daratan China Komunis tak berlangsung lama. Dalam hitungan waktu tidak lebih dari tiga bulan, Allah SWT yang Maha Pencipta telah menciptakan bentuk makhluk super kecil yang tidak dapat dilihat mata yang diturunkan di Kota Wuhan Provinsi Hubei China, negara komunis yang notabene anti Tuhan.

Makhluk super kecil yang merupakan ciptaan-Nya, kini oleh manusia diberi nama virus corona atau pandemi Covid-19. Apa pun manusia akan memberi nama si makhluk super kecil ini, realitanya kini makluk yang diberi nama Covid-19 telah meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan di seluruh dunia. Tak ada lagi klaim-klaim negara Super Power baik militer maupun ekonomi, semuanya porak poranda menghadapi covid-19 ini.

Disadari atau tidak, diakui atau tidak, Covid-19 terbukti kini telah dapat membuat kondisi super panik atau paranoid di beberapa negara di dunia. Hanya dalam hitungan hari saja tak terkecuali mereka yang menganggap remeh-temeh wabah covid-19 ini kalang-kabut, bingung, gamang dalam mengambil kebijakan.

Pemerintah kita yang pada awalnya menganggap remeh pandemi covid-19 ini, kini sedang dalam kondisi dilematis. Satu sisi terus bertambahnya jumlah positif terpapar covid-19 dan yang meninggal dunia, di sisi lain tuntutan untuk lockdown terus disuarakan oleh berbagai pihak. Bagaimana pun kondisinya, saat ini kehadiran negara sangat dibutuhkan dalam situasi krisis. Serangan ganas Covid-19 yang menyerang negeri kita saat ini menjadi ujian bagi pemerintah. Akankah pemerintah ada kemampuan untuk mengatasinya ataukah kemungkinan terburuk runtuhnya pemerintahan tergilas oleh serangan covid-19 yang semula dianggap remeh?

demokrasi.co.id, Rabu, Maret 25, 2020Ikuti

***

 

Hukuman Pelaku Sombong di Dunia

Dalam sebuah hadist yang shahih dikisahkan sebagai berikut ,

أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ « كُلْ بِيَمِينِكَ ». قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ « لاَ اسْتَطَعْتَ ». مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ.

“Ada seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu!” Orang tersebut malah menjawab, “Aku tidak bisa.” Beliau bersabda, “Apakah kamu tidak bisa?” -dia menolaknya karena sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya” (H.R. Muslim no. 3766).

Orang tersebut mendapat hukum di dunia disebabkan perbuatannya menolak perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Dia dihukum karena kesombongannya. Akhirnya dia tidak bisa mengangkat tangan kanannya disebabkan sikap sombongnya terhadap perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah di antara bentuk hukuman di dunia bagi orang yang sombong.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 750 kali, 1 untuk hari ini)