.

  • Cina dan Israel mempunyai kepentingan yang sama, yaitu melemahkan dan menghancurkan golongan Islam di Indonesia. Cina dan Israel sudah menguasai ekonomi nasional Indonesia. Tinggal selangkah lagi, menguasai kedaulatan politik.
  • … , melalui tokoh boneka seperti “Jokowi” sekarang ini, kelompok-kelompok Cina dan Zionis, menggunakan kekuatan lokal, mengendalikan Indonesia, supaya Indonesia tetap terjajah, sumber daya alamnya dikuasai, dan secara politik dikendalikan, sehingga tidak menjadi ancaman bagi : “Asing dan A Seng”.

JAKARTA – CSIS itu identik dengan istilah “Cina Senang, Israel Senang”. Karena, CSIS itu berdiri dari kolaborasi antara tokoh dan aktifis Katolik (Ordo Jesuit) dengan jenderal “abangan”.

Diantara, kalangan aktivis Katolik, seperti Pater Beek, Hary Tjan Silalahi, Sofjan Wanandi (Liem Bian Kie), Yusuf Wanandi (Liem Bian Koen), dan Markus Wanandi, Mari Elka Pangestu, Daud Yusuf, dan sejumlah tokoh lainnya.

Para tokoh militernya, yang berkolaborasi dengan kalangan aktivis Katolik, seperti Jenderal Ali Moertopo, Soedjono Humardani, dan Beny Murdani. Mereka inilah yang menjadi ‘backbone’ (tulang punggung) Soeharto, selama berkuasa.

Mereka berada di balik semua kebijakan yang menindas dan menghancurkan golongan Islam. CSIS menjadi ‘cover’ kepentingan Cina dan Zionis-Israel, yang ingin mengendalikan Indonesia.

Maka, sepanjang kekuasaan Soeharto, selama lebih tiga dekade, CSIS memberikan arah kebijakan yang tujuan ‘menukangi’ Islam, dan memberikan keleluasaan kepada kelompok Cina, yang merambah ke semua sektor ekonomi Indonesia.

Maka, selama tiga dekade, kelompok Cina, yang mula-mula ‘gembel’ dengan dukungan para jenderal ‘abangan’ yang memiliki akses langsung kepada kekuasaan Soeharto, mendapatkan berbagai privilege (keistimewaan), seperti mendapatkan lisensi (izin), modal, dan dukungan politik dari Soeharto.

Hanya dalam waktu kurang dari satu-setengah dekade, kelompok yang menjadi pilar kekuasaan Soeharto itu, sudah berhasil menguasai ekonomi Indonesia.

Kelompok Cina ini, mula-mula oleh Soeharto diberi lisensi ‘HPH’ (Hak Pengelolaan Hutan), yang membuat mereka menjadi ‘kaya raya’ alias menjadi ‘taipan-konglomerat’, seperti Liem Sieo Liong, Prayogo Pangestu, Eka Cipta, dan sejumlah konglomerat lainnya. Inilah cikal bakal lahirnya 200 konglomerat Indonesia, yang menguasai 80 persen ekonomi Indonesia.

Masih ditambah diakhir krisis ekonomi Indonesia l998, Soeharto mengeluarkan kebijakan dana talangan (bailout) kepada sejumlah bank yang menjadi milik konglomerat Cina, dan mereka memarkup bailout, yang dikenal BLBI yang jumlahnya mencapai Rp 650 triliun.

Diantara mereka ada yang melarikan hasil ‘rampokan’ mereka ke Singapura. Sementara itu, Jenderal Ali Moertopo, terus menyudutkan golongan Islam, melalui isu ‘Komando Jihad’, DOM di Aceh, Pembajakan Woyla, Tanjung Priok, Talangsari-Lampung, semuanya ini hanyalah tujuannya menghancurkan umat Islam.

Bahkan, Ali Moertopo, di awal Orde Baru, melarang investor asing melakukan kerjasama dengan pengusaha Islam. Tujuan menghancurkan ekonomi kalangan Islam dan pribumi. Jadi, golongan Islam dibuat oleh jaringan Cina Katolik (Ordo Jesuit) menjadi ‘zero’ (nol) di dalam segala sektor kehidupan, sampai menjadi golongan yang paria (gembel).

Sekarang, menjelang pemilu presiden 2014, masuk kelompok Cina Kristen, yang ingin mengulangi lagi, seperti sejarah awal Orde Baru, dan menggunakan tokoh ‘abal-abal’ Jokowi. Tujuannya sama : “Menghancurkan dan menindas golongan Islam”.

Tokoh yang baru muncul sekarang itu, Jacob Soetojo. Dia dekat dengan James Riyadi, pendeta Evengalis, yang menjadi murid Pendeta Pat Robertson, yang sangat membenci Islam dan umat Islam di Amerika. Pat Robertson, terlalu sering mengeluarkan pernyataan yang sangat membenci terhadap Islam. Dengan kata-kata yang ‘super jorok’ menghina Islam dan Nabi Muhammad Shallahu’alaihi Wassalam.

Sekarang, bagaimana Jacob Soetojo bisa menggalang dukungan dari Amerika, Inggris, Vatikan, dan sejumlah negara Barat lainnya, dan kemudian mereka bertemu dengan Mega, Jokowi dan Sabam Sirait di rumahnya. Sungguh luar biasa. CSIS ingin kembali menukangi “merekayasa” perubahan politik yang akan menguntungkan bagi : “Cina dan Israel”.

Indonesia yang penduduknya 240 juta itu, 85 persen Muslim. Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis, secara geopolitik dan ekonomi. Maka, CSIS yang menjadi ‘cover’ berbagai kepentingan itu, sudah bersumpah, harus “Jokowi” yang menjadi presiden Indonesia mendatang.

Mengapa Zionis-Israel ikut bermain di Indonesia? Ini bisa dilihat intensitas kunjungan Dubes Israel di Singapura ke Jakarta, dan melakukan pertemuan dengan berbagai kelompok dan organisasi, dan ingin merekayasa perubahan politik di Indonesia, tetap menguntungkan bagi kepentingan Zionis-Israel.

Cina dan Israel mempunyai kepentingan yang sama, yaitu melemahkan dan menghancurkan golongan Islam di Indonesia. Cina dan Israel sudah menguasai ekonomi nasional Indonesia. Tinggal selangkah lagi, menguasai kedaulatan politik.

Bayangkan, 85 persen saham perbankan sudah milik asing. Freeport, New Mont, Bumi Resources (Batu Bara), gas dan sumber daya lainnya, termasuk hutan, kelapa sawit, sudah menjadi milik mereka.

Sementara itu, Israel tidak ingin di Indonesia terjadi seperti di Timur Tengah, terjadi ‘Arab Spring’ (Musim Semi Arab), perubahan politik di dunia Arab, yang membahayakan kepentingan dan keamanan Israel.

Maka, melalui tokoh boneka seperti “Jokowi” sekarang ini, kelompok-kelompok Cina dan Zionis, menggunakan kekuatan lokal, mengendalikan Indonesia, supaya Indonesia tetap terjajah, sumber daya alamnya dikuasai, dan secara politik dikendalikan, sehingga tidak menjadi ancaman bagi : “Asing dan A Seng”.(jj/db/voa-islam.com) Jum’at, 24 Jumadil Akhir 1435 H / 25 April 2014 08:35 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.708 kali, 1 untuk hari ini)