(Terjadi sebelum maraknya medsos) di Masjid Agung Karanganyar (timur) Solo Jawa Tengah tahun 2006/ 1427H,
Ahad 26 Maret 2006M (25 Shafar 1427H) di antara arsipnya ini.

https://www.mail-archive.com/[email protected]…/msg05530.html

 
 

Catatan Redaksi NM:

Posted on 14 Januari 2020

by Nahimunkar.org

 

Kini ada laporan hasil perjalanan ke Xinjiang yang menguraikan betapa mencekamnya penguasa komunis China dalam melarang Muslim Uighur di Xinjiang untuk menunaikan ibadah shalat. Shalat dilarang. Bahkan masjid-masjid sudah dihancurkan dan ditutup. Tinggal sedikit sekali masjid yang buka, itu saja hanya untuk orang2 tua yang wajahnya sudah discan, bila yang wajahnya tidak tertera dalam scan maka tidak boleh masuk. Jumlah jamaah di masjid yang masih buka itu pun hanya satu baris lebih. Yang di camp Xinjiang, Umat Islam dipaksa makan daging babi dan minum khamr, yang sangat diharamkan dalam Islam.

Laporan perjalanan itu ditulis oleh pelakunya yang hadir di Xinjiang, yakni seorang tokoh FKAM Surakarta/ Solo Jawa Tengah, dimuat di fbnya, dan kemudian dikutip di nahimunkar.org. di link ini: https://www.nahimunkar.org/thejourneytoxinjiang-1-15/

Nah, berkaitan dengan da’wah, ternyata FKAM Solo
itu pernah menyelanggarakan dakwah di Masjid Agung Karanganyar tahun 2006/ 1427H,
Ahad 26 Maret 2006M (25 Shafar 1427H)
yang dainya dikeroyok oleh aliran yang ditengarai sesat.

 

Berikut ini arsip laporannya yang pernah beredar di media online.

 

Silakan simak baik-baik arsip laporan berikut ini.

 

Terimakasih.

 

Redaksi NM.

 

***

 

 

Terjadi di Masjid Agung Karanganyar Solo, Aliran Sesat LDII

Pamer Kekerasan dan Menghalangi Dakwah

 

 

Masjid Agung Karang Anyar/ foto trbn solo.

 

> Laporan Abul Hasan Assolowi

 

 

> ALIRAN sesat LDII pamer kekerasan dengan mengerahkan 5000 lebih

massa LDII, mengepung tabligh akbar di masjid, berupaya

menggelandang penceramahnya, memukuli para panitia, merampas tas

penceramah dengan isinya buku-buku dengan berat sekitar 10 kilogram,

menghancukan berkas-berkas milik penceramah, dan melempari mobil

polisi yang menyelamatkan penceramah.

>

> Empat orang yang mendampingi penceramah untuk diselamatkan

menuju ke Polres Karanganyar Solo, Jawa Tengah, dipukuli perusuh

dari aliran sesat LDII. Panitia yang dipukuli di antaranya Mulyono,

Jumadi, Fadlun Ali, dan Salim. Bahkan ketika penceramah sudah masuk

mobil polisi pun massa aliran sesat LDII itu melempari mobil polisi.

>

> Tindak kekerasan, menghalangi dakwah Islam bahkan berbau makar

itu semua digerakkan secara langsung oleh pentolan-pentolan aliran

sesat LDII di antaranya Syamsul Bahri ketua LDII Surakarta (Solo),

Rahib Samsul Alam yang mengaku dari LDII Sukoharjo, Sutrimo ketua

LDII Karanganyar, dan Khoiri dari LDII Karanganyar.

>

> Peristiwa pamer kekerasan aliran sesat LDII itu mengakibatkan

acara tabligh akbar di Masjid Agung Karanganyar Solo, Jawa Tengah,

Ahad 26 Maret 2006M (25 Shafar 1427H), diakhiri lebih awal. Sedianya

acara Tabligh Akbar yang diselenggarakan oleh FKAM (Forum Komunikasi

Aktivis Masjid) Karanganyar ini berlangsung pukul 08:00 wib sampai

dhuhur (sekitar jam 12:00 wib), namun karena masjid sudah dikepung

oleh massa aliran sesat LDII lebih dari 5000 orang, maka pengajian

umum ini diakhiri pukul 10.15. Pembahasan dalam tabligh akbar ini

berjudul Membongkar Aliran dan Paham Sesat di Indonesia.

>

> Tiada persoalan dalam pengajian

>

> Dua pembicara (Ustadz Hartono Ahmad Jaiz dari LPPI Jakarta dan

Ustadz Abdul Kholiq alumni Al-Azhar Mesir) telah berbicara masing-

masing setengah jam, demikian pula dua pemberi sambutan, dari pihak

panitia Jumadi dan ketua FKAM Pusat di Solo, Ustadz Kalono. Dahlan

Rais adik M Amien Rais (mantan ketua MPR) yang sedianya sebagai

pembicara terakhir tampak belum hadir, mungkin terhalang oleh massa

aliran sesat LDII yang berbaris pagar betis berlapis-lapis di

sekitar masjid.

>

> Tabligh akbar itu sendiri berlangsung tenang, tanpa ada

kegaduhan. Pembicara pertama, Ustadz Hartono Ahmad Jaiz membahas

penegakan Tauhid dan penghancuran kemusyrikan yang kini ada yang

berlabel pluralisme agama, menyamakan semua agama. Selama setengah

jam tidak ada masalah apa-apa. Demikian pula pembicara kedua, Ustadz

Abdul Kholiq membahas asal-usul kesesatan dari 4 golongan yaitu

khowarij, rofidhoh (Syi’ah), qodariyah, dan jabbariyah. Semua

pembahasan ini dalam kondisi tenang, tidak ada masalah di dalam

masjid. Namun di halaman masjid berdatangan orang-orang bertampang

sangar, jumlahnya 5000 lebih, mereka turun dari 20 truk dan 50-an

kendaraan roda empat lainnya, menuju ke halaman masjid, langsung

mengikuti aba-aba hingga mereka yang berseragam atau kebanyakan

berpakaian hitam dan klawu (abu-abu) ini mengepung masjid dengan

barisan pagar betis berlapis-lapis.

>

> Sebelumnya, ketika pintu gerbang halaman masjid masih tertutup,

massa aliran sesat LDII yang jumlahnya ber-truk-truk itu masuk ke

halaman masjid dengan memanjat pagar. Rupanya kemudian pintu pun

dibuka.

>

> Kondisi di dalam masjid lantai dua tempat berceramah mulai

mencekam, panitia mulai sibuk mondar-mandir ke arah moderator,

sedang pentolan-pentolan LDII pun mondar-mandir di arah samping

utara, karena di belahan ruang selatan untuk hadirat (wanita) dengan

ditutup pembatas.

>

> Akibatnya, moderator mengakhiri tabligh akbar tanpa dilanjutkan

dengan tanya jawab, karena kondisi sudah mencekam.

>

> Para jama’ah mulai bergerak untuk pulang, namun mereka kaget

ketika melihat di bawah, yaitu di halaman dan seluruh sekitar masjid

telah dikepung oleh massa aliran sesat LDII. Hingga jama’ah yang mau

pulang tidak bisa keluar. Sementara itu orang-orang yang ditengarai

sebagai pengikut aliran sesat LDII tampak tidak mau keluar dari

masjid. Hadirin di dalam ruangan masjid cukup banyak, karena ruangan

masjid yang cukup besar ini baik di dalam maupun di (serambi) luar

penuh hadirin, sekitar 1000-an orang.

>

> Tegang, para pentolan LDII mau menggelandang penceramah

>

> Panitia berupaya mengumumkan lewat pengeras suara dengan naik di

atas kursi bahwa pengajian telah selesai, maka hadirin diharap

meninggalkan tempat. Namun panitia ini diganggu oleh pentolan-

pentolan aliran sesat LDII yang sudah mulai merangsek untuk

mendekati penceramah. Pentolan-pentolan aliran sesat LDII makin

mendekat kepada penceramah yang posisinya di dekat mimbar, lalu

Samsul Alam pentolan aliran sesat LDII berupaya menarik tangan

penceramah untuk menggelandangnya keluar. Hanya saja sempat

dihalangi oleh para panitia yang rata-rata anak muda.

>

> Kemudian polisi datang ke lantai dua, dan penceramah diupayakan

untuk diselamatkan. Penceramah didampingi para panitia berjalan

turun, menuju halaman, di sana polisi menembus barisan pagar betis

ribuan orang massa aliran sesat LDII. Dalam kondisi polisi sibuk

mencarikan jalan untuk menyelamatkan penceramah itu, orang-orang

LDII berupaya untuk menarik penceramah, memukuli, dan sebagainya,

namun terkena para panitia, di antaranya 4 orang panitia-lah yang

terkena pukulan-pukulan ganas massa aliran sesat LDII.

>

> Perjalanan mengawal penceramah ini sangat menegangkan, berdesak-

deskan, kejar-kejaran, ditingkahi dengan pukulan dari massa aliran

sesat LDII. Tampaknya penceramah kicat-kicat telapak kakinya

kepanasan, karena berjalan di atas aspal tanpa alas kaki, dari

masjid ke halaman cukup panjang dengan memiak (menembus) pagar betis

barisan aliran sesat LDII, menuju jalan tempat mobil polisi

diparkir. Begitu penceramah dikejar-kejar untuk dipukuli dan kena

para pengawalnya, lalu dimasukkan ke mobil, lalu mereka yang dari

tadi berupaya mau memukul atau melempar namun belum sempat, maka

dengan ganasnya mereka melempari mobil polisi.

>

> Merampas barang penceramah dan menghancurkan berkas-berkasnya di

masjid

>

> Sementara itu berkas-berkas milik penceramah yang dibawa oleh

panitia di dalam masjid, dirampas oleh massa aliran sesat LDII dan

mereka hancurkan di dalam masjid itu, sambil salah seorang dari

mereka mengangkat-angkat Al-Qur’an milik penceramah. Sedang tas

berisi buku-buku dan bahan ceramah seberat sekitar 10 kilogram

(karena tampaknya ketika dibawa oleh panitia, tampak berat) dirampas

pula oleh massa aliran sesat LDII.

>

> Penceramah yakni Hartono Ahmad Jaiz diselamatkan polisi, dibawa

ke kantor Polres Kabupaten Karanganyar Solo, berjarak hampir 2

kilometer dari Masjid Agung. Tidak berapa lama, massa aliran sesat

LDII pun berdatangan ke kantor Polres, namun belasan polisi pun

menghadang mereka di pintu gerbang. Hanya saja pentolan-pentolan

aliran sesat LDII itu tampak masuk pula. Sementara massa LDII berada

di jalan sepanjang depan Polres. Karena banyaknya massa itu, maka

jalan di depan polres pun sementara ditutup.

>

> Menjemur massa

>

> Para pentolan aliran sesat LDII tampaknya belum puas menyiksa

5.000 lebih massanya yang telah dijemur sejak pagi di tempat panas

terik, padahal rata-rata berbaju hitam dan kelabu yang tentu saja

menambah sangat panasnya ke badan. Lalu di depan kantor Polres pun

pentolan aliran sesat pamer kedhaliman yang tampaknya biasa mereka

timpakan kepada massanya (dengan dalih taat amir/pemimpin) untuk

bisa dilihat orang. Di atas aspal dalam bakaran matahari panas terik

siang itu, pentolan aliran sesat LDII tampak memberi aba-aba kepada

massanya, hingga terjadi sahut menyahut antara pentolan LDII dan

massanya:

>

> “Bisa diatur atau tidak?!” Seru pentolan LDII.

> “Bisaa!” Jawab massa LDII.

> “Saya beri aba-aba tiga kali, langsung duduk. Tiga, dua,

satu!” seru pentolan LDII

>

> Prok, langsung duduk ngedeprok lah massa LDII itu di atas aspal

yang sangat panas. Bisa dibayangkan, mesti mereka kicat-kicat karena

pantatnya melepuh kebakar aspal yang kena panas terik matahari.

>

> Sementara itu di dalam ruangan Polres, tampaknya perundingan

antara pentolan-pentolan aliran sesat LDII yang mengerahkan massa

untuk mengepung tabligh akbar ini dengan pihak penceramah cukup

alot, hingga berjam-jam. Penceramah pun tampak tidak sudi untuk

diperlakukan secara dhalim sebagaimana massa LDII. Bahkan penceramah

tampak membalikkan argumen yang mengakibatkan gelagapannya para

pentolan aliran sesat LDII. Bahkan para pentolan aliran sesat LDII

dalam berunding di depan Wakapolres Kompol Sudarmi, mereka tampak

terpukul balik, karena telah terbukti menggerakkan massa yang

mengakibatkan tindakan penghalangan dakwah, kekerasan dengan

pemukulan, perampasan barang-barang milik penceramah, penghancuran

barang milik penceramah, bahkan pelemparan mobil polisi yang

maknanya melawan petugas.

>

> Penceramah juga menawarkan kepada para pentolan aliran sesat

LDII untuk dibacakan teks dari Staf Ahli Menhan Bidang Ideologi dan

Agama, Ir Soetomo, SA, Mayor Jendral TNI, bahwa “Beberapa contoh

aliran sempalan Islam yang bisa membahayakan aqidah Islamiyah, yang

telah dilarang seperti: Lemkari, LDII, Darul Hadis, Islam Jama’ah.”

(Jakarta 12 Februari 2000, Staf Ahli Menhan Bidang Ideologi dan

Agama, Ir. Soetomo, SA, Mayor Jendral TNI).

>

> Dalam perundingan untuk membuat teks yang harus ditandatangani

ketua LDII Karanganyar dan penceramah, juga tampaknya pihak LDII

gelagapan dan menolak sejadi-jadinya ketika ditulis fakta nyata dan

ada penderitanya di ruangan itu tentang pemukulan, perampasan tas

penceramah, penghancuran berkas-berkas milik penceramah, dan

pelemparan mobil polisi oleh massa LDII. Hingga pembuatan teks untuk

ditandatangani berdua inipun sangat alot. Ini menambah lamanya

penyiksaan bagi ribuan massa LDII yang oleh para pentolannya dijemur

sejak pagi di bawah panas terik matahari, di atas jalan beraspal.

>

> Masyarakat Solo dan sekitarnya, bahkan Jakarta dan berbagai

kota, saat itu pula sudah mendengar kasus kekerasan aliran sesat

LDII yang mengepung acara tabligh akbar itu. Di antaranya kasus

tabligh akbar yang dikepung massa LDII itu diberitakan oleh Radio

Elshinta di Jakarta, yang punya cabang-cabang di kota-kota lain.

Maka massa yang anti aliran sesat LDII pun mulai berdatangan ke

Masjid Agung Karanganyar, sementara massa aliran sesat LDII

berkonsentrasi di depan Polres.

>

> Sementara para pentolan aliran sesat LDII di dalam ruangan

Polres gelagapan menghadapi argumen penceramah dan tidak mudah

menekan-nekan seperti menekan bawahannya, ribuan massa LDII yang

sudah dijemur berjam-jam oleh para pentolannya itu sebentar lagi

bisa-bisa akan digrudug oleh orang-orang yang anti aliran sesat LDII

yang sudah menuju ke Masjid Agung Karanganyar. Belum lagi kalau

pihak panitia tabligh akbar menuntut para pentolan aliran sesat LDII

itu atas tindakan kekerasan yang terjadi akibat pengerahan massa

yang telah mereka lakukan, hingga ada pemukulan, perampasan,

penghancuran barang milik penceramah, penggangguan dakwah Islamiyah

dan lain-lain. Walaupun saat itu belum sempat dibicarakan, namun

masalah besar ini tentunya menjadi cacatan tebal bagi para panitia,

baik di cabangnya Karanganyar maupun di Solo, bahkan bagi umat Islam

pada umumnya yang sudah tahu sesatnya LDII, tipuannya, dan

sangarnya.

>

> Pengerahan ribuan massa itu tidak bisa menolong sama sekali

terhadap para pentolan LDII yang berupaya menekan penceramah namun

malah dibalikkan dengan argumentasi, silahkan kalian membuat jawaban

terhadap tulisan saya, nanti saya baca, baru saya tela’ah tulisan

saya, kalau memang salah, maka saya bersedia mempertimbangkan untuk

meralatnya,” kata Hartono Ahmad Jaiz. Karena yang ditulis Hartono,

menurutnya, telah berlandaskan pada:

>

> 1.. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat: Bahwa ajaran

Islam Jama’ah, Darul Hadits (atau apapun nama yang dipakainya)

adalah ajaran yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang

sebenarnya dan penyiarannya itu adalah memancing-mancing timbulnya

keresahan yang akan mengganggu kestabilan negara. (Jakarta, 06

Rabiul Awwal 1415H/ 13 Agustus 1994M, Dewan Pimpinan Majelis Ulama

Indonesia, Ketua Umum: K.H. Hasan Basri, Sekretaris Umum: H.S.

Prodjokusumo.

> 2.. Fatwa Majelis Ulama DKI Jakarta: Bahwa ajaran Islam

Jama’ah, Darul Hadits (atau apapun nama yang dipakainya) adalah

ajaran yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya

dan penyiarannya itu adalah memancing-mancing timbulnya keresahan

yang akan mengganggu kestabilan negara. (Jakarta, 20 Agustus 1979,

Dewan Pimpinan Majelis Ulama DKI Jakarta, K.H. Abdullah Syafi’ie

ketua umum, H. Gazali Syahlan sekretaris umum.

> 3.. Pelarangan Islam Jama’ah dengan nama apapun dari Jaksa

Agung tahun 1971: Surat Keputusan Jaksa Agung RI No: Kep-

089/D.A./10/1971 tentang: Pelarangan terhadap Aliran- Aliran Darul

Hadits, Djama’ah jang bersifat/ beradjaran serupa. Menetapkan:

Pertama: Melarang aliran Darul Hadits, Djama’ah Qur’an Hadits, Islam

Djama’ah, Jajasan Pendidikan Islam Djama’ah (JPID), Jajasan Pondok

Peantren Nasional (JAPPENAS), dan aliran-aliran lainnya yang

mempunyai sifat dan mempunjai adjaran jang serupa itu di seluruh

wilajah Indonesia. Kedua: Melarang semua adjaran aliran-aliran

tersebut pada bab pertama dalam keputusan ini jang bertentangan

dengan/ menodai adjaran-adjaran Agama. Ketiga: Surat Keputusan ini

mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan: Djakarta pada

tanggal: 29 Oktober 1971, Djaksa Agung R.I. tjap. Ttd (Soegih Arto).

> 4.. Buku-buku LPPI tentang Bahaya Islam Jama’ah, Lemkari, LDII

(1999); Akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiah (2004) .

> 5.. Teks pidato Staf Ahli Menhan Bidang Ideologi dan Agama Ir.

Soetomo, SA, Mayor Jenderal TNI bahwa “Beberapa contoh aliran

sempalan Islam yang bisa membahayakan aqidah Islamiyah, yang telah

dilarang seperti: Lemkari, LDII, Darul Hadis, Islam Jama’ah.”

(Jakarta 12 Februari 2000, Staf Ahli Menhan Bidang Ideologi dan

Agama, Ir. Soetomo, SA, Mayor Jendral TNI).

>

>

> Ribuan massa dijemur tanpa guna

>

> Entah karena takut digrudug oleh umat Islam yang anti aliran

sesat LDII, atau karena sudah tidak ada gunanya lagi dalam membantu

para pentolannya, atau karena diharapkan bubar oleh pihak keamanan,

walaupun para pentolan LDII masih gelagapan menghadapi masalah di

dalam kantor Polres, namun massa LDII dibubarkan sekitar pukul

13.30, setelah mereka dijemur berjam-jam di bawah terik matahari.

>

> Sebelum itu, massa LDII yang masih rasional, mereka tampak

memilih “melarikan diri” dari tekanan yang biasa disebut dengan taat

amir atau pimpinan itu, daripada terbakar di bawah terik matahari

berjam-jam. Maka mereka naik bus atau kendaraan umum lainnya untuk

pulang. Namun jama’ah yang terlalu patuh dan bahkan takut kepada

para pentolannya, maka menjadi pemandangan aneh, yaitu massa poyang-

payingan, ngetan-ngulon grudag-grudug ora karuhan (terombang-ambing,

ke barat arah Masjid Agungke timur arah Polres, berbondong-

bondong tidak tentu tujuan).

>

> Masyarakat memandangnya aneh, kenapa mereka jadi begitu.

Ternyata, mereka adalah massa LDII yang ketinggalan truk-truk yang

tadi mengangkutnya. Lha kalau mereka tidak membawa duit, sedangkan

perut lapar dan tenggorokan haus (itu pasti), masih pula rumahnya

jauh, misalnya, bagaimana? Karena ada khabar bahwa massa LDII ini

didatangkan dari 26 daerah (Jawa Tengah ada 35 kabupaten). Itulah,

nasib orang-orang yang tertindas tetapi nrimo (menerima saja), maka

akibatnya mereka keplantrang dan makin sengsara.

>

> Perundingan antara para pentolan LDII dengan penceramah di

Polres itu baru berakhir sekitar pukul 15.

>

> Perundingan itu berakhir dengan penandatanganan teks islah

antara Hartono Ahmad Jaiz dengan Drs. Sutrimo, MSi (Ketua LDII Kab

Karanganyar).

>

> Pihak LDII berjanji akan mencari tas penceramah dan isinya yang

dirampas oleh massa. Adapun yang dihancurkan, maka mereka tidak

berkomentar.

>

> Kasus penggangguan dakwah secara main kasar seperti itu telah

berkali-kali dilakukan oleh aliran sesat LDII di berbagai tempat.

Ini sama dengan menggali kuburnya sendiri. Kapan-kapan ketika

waktunya sudah tepat, maka bisa jadi umat Islam tidak mengulur waktu

lagi untuk melibas aliran sesat yang bermodal kekerasan, tipuan, dan

main paksa ini hingga untuk membuat perhitungan. Sebelum mereka

lebih besar lagi dan membahayakan masyarakat. Kasus seperti

dirusaknya rumah dan tempat ibadah LDII oleh massa di Lombok Timur

cukup menjadi pelajaran. Di antara beritanya sebagai berikut:

>

> Jamaah LDII Mengungsi ke Pulau Jawa

>

>

> Lombok Timur, CyberNews.

>

> Puluhan jamaah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) telah

diberangkatkan ke berbagai daerah di Pulau Jawa dengan menggunakan

dua unit bus. Mereka memilih mengungsi sementara di rumah

keluarganya yang tersebar di Pulau Jawa setelah beberapa hari

terpaksa mengungsi di aula Mapolres Lombok Timur.

>

> Para pengikut LDII terpaksa mengungsi ke Mapolres Lombok Timur

setelah massa melakukan aksi pengrusakan terhadap rumah dan tempat

ibadah aliran keagamaan tersebut beberapa pekan lalu.

>

> Kapolres Lombok Timur AKBP MA Wiguna menjelaskan, keinginan

mengungsi ke Pulau Jawa tersebut berasal dari para jamaah LDII

sendiri. “Meskipun aparat telah memberikan perlindungan dan menjamin

tidak ada serangan terhadap mereka, tetapi tetap memilih ke luar

sementara dari Lombok Timur,” ujarnya, Minggu (6/10).

>

> Seperti juga jamaah Ahmadiyah, yang sebelumnya juga mengungsi di

Mapolres Lombok Timur, akhirnya memilih dievakuasi ke Mataram dan

kini ditampung di Asrama Transito milik Dinas Transmigrasi Nusa

Tenggara Barat.

>

> Keinginan mereka ke luar sementara dari Lombok Timur tersebut

untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dan juga merasa

tidak mungkin terus bertahan di pengungsian terutama Mapolres Lombok

Timur.

>

> Mengenai rumah dan harta benda mereka yang tertinggal, Kapolres

mengatakan, diserahkan pengamanannya kepada aparat kepolisian yang

selanjutnya dikoordinasikan dengan aparat desa setempat.

> ”

> Pokoknya harta benda mereka yang ditinggal sementara itu akan

dijaga. Dan masyarakat setempat juga ikut membantu mengamankannya

agar tidak sampai dijarah orang lain,” katanya. Lebih lanjut

dikatakan, pemerintah daerah setempat masih terus melakukan upaya

penyelesaian secara damai.

>

> Seperti diberitakan sebelumnya, aksi pengrusakan terhadap aset

pengikut LDII dan Ahmadiyah di Lombok Timur terkait dengan ajaran

yang dilaksanakan aliran tersebut yang dianggap menyimpang dari

Islam.

>

> Meskipun pihak Kejaksaan Negeri Selong dan pemerintah daerah

setempat telah melarangnya, namun jamaah Ahmadiyah dan LDII tetap

melakukan aktivitasnya. Hal ini yang menyulut kemarahan warga

setempat.

>

> Sementara itu Walikota Mataram HM Ruslan mengatakan, pihaknya

tidak melarang warga Ahmadiyah maupun Lembaga Dakwah Islam Indonesia

(LDII) tinggal di kota ini. Hanya saja hal itu dilakukan dengan

persyaratan.

>

> HM Ruslan kepada wartawan di Mataram, Sabtu, menjelaskan,

persyaratan utama yang harus dipenuhi oleh warga Ahmadiyah dan LDII

adalah kembali ke ajaran Islam. Di samping itu, mereka tidak boleh

menghasut atau mengajak masyarakat untuk mengikuti ajarannya dan

harus tunduk kepada berbagai peraturan di mana mereka tinggal.

(ntr/snc/cn05)) Suara Merdeka, Minggu, 6/10/02 : 11.25 WIB).

>

>

>

> Kesesatan, kekerasan, dan penghalangan dakwah yang dilakukan

oleh aliran sesat LDII sudah nyata. Namun ketika diajukan

argumentasi tentang kesesatan dan tipuan-tipuannya, justru mereka

menuduh pemberi peringatan kepada masyarakat itu sebagai pemecah

belah umat. Padahal, perusakan umat yang nyata itu justru LDII lah

pelakunya, sampai-sampai salam pun tak mereka jawab. Tidak ada jalan

lain kecuali melibas aliran sesat yang sudah nyata berbahaya ini

sebelum sangat membesar, yang tentu lebih sulit untuk menghadapinya.

Bila tidak, maka bentrokan massa kemungkinan bisa terjadi di mana-

mana, bila antisipasi berupa pemberlakuan pelarangan secara intensip

terlena ditegakkan.

>

> Selasa 28 Maret 2006M/ 27 Shafar 1427H

 

 

 

 

 

 

MAIL-ARCHIVE.COM

 

[keluarga-islam] Re: Terjadi di Masjid Agung Karanganyar Solo kebringasan LDII

 

 

(nahimunkar.org)