Da’i Dikeroyok

(terjadi sebelum maraknya medsos) di antara arsipnya ini.

https://www.mail-archive.com/keluarga-islam@y…/msg05530.html

 

Catatan Redaksi NM:

Kini ada laporan hasil perjalanan ke Xinjiang yang menguraikan betapa mencekamnya penguasa komunis China dalam melarang Muslim Uighur di Xinjiang untuk menunaikan ibadah shalat. Shalat dilarang. Bahkan masjid-masjid sudah dihancurkan dan ditutup. Tinggal sedikit sekali masjid yang buka, itu saja hanya untuk orang2 tua yang wajahnya sudah discan, bila yang wajahnya tidak tertera dalam scan maka tidak boleh masuk. Jumlah jamaah di masjid yang masih buka itu pun hanya satu baris lebih. Yang di camp Xinjiang, Umat Islam dipaksa makan daging babi dan minum khamr, yang sangat diharamkan dalam Islam.

Laporan perjalanan itu ditulis oleh pelakunya yang hadir di Xinjiang, yakni seorang tokoh FKAM Surakarta/ Solo Jawa Tengah, dimuat di fbnya, dan kemudian dikutip di nahimunkar.org. di link ini: https://www.nahimunkar.org/thejourneytoxinjiang-1-15/

 

Nah, berkaitan dengan da’wah, ternyata FKAM Solo itu pernah menyelanggarakan dakwah di Masjid Agung Karanganyar tahun 2006/ 1427H, yang dainya dikeroyok oleh aliran yang ditengarai sesat.

Berikut ini arsip laporannya yang pernah beredar di media online.

Silakan simak baik-baik arsip laporan berikut ini.

Terimakasih.

Redaksi NM.

 

***

 

Terjadi di Masjid Agung Karanganyar Solo, Aliran Sesat LDII
Pamer Kekerasan dan Menghalangi Dakwah


Masjid agung Karang Anyar/ foto trbn solo.

> Laporan Abul Hasan Assolowi


> ALIRAN sesat LDII pamer kekerasan dengan mengerahkan 5000 lebih
massa LDII, mengepung tabligh akbar di masjid, berupaya
menggelandang penceramahnya, memukuli para panitia, merampas tas
penceramah dengan isinya buku-buku dengan berat sekitar 10 kilogram,
menghancukan berkas-berkas milik penceramah, dan melempari mobil
polisi yang menyelamatkan penceramah.
>
> Empat orang yang mendampingi penceramah untuk diselamatkan
menuju ke Polres Karanganyar Solo, Jawa Tengah, dipukuli perusuh
dari aliran sesat LDII. Panitia yang dipukuli di antaranya Mulyono,
Jumadi, Fadlun Ali, dan Salim. Bahkan ketika penceramah sudah masuk
mobil polisi pun massa aliran sesat LDII itu melempari mobil polisi.
>
> Tindak kekerasan, menghalangi dakwah Islam bahkan berbau makar
itu semua digerakkan secara langsung oleh pentolan-pentolan aliran
sesat LDII di antaranya Syamsul Bahri ketua LDII Surakarta (Solo),
Rahib Samsul Alam yang mengaku dari LDII Sukoharjo, Sutrimo ketua
LDII Karanganyar, dan Khoiri dari LDII Karanganyar.
>
> Peristiwa pamer kekerasan aliran sesat LDII itu mengakibatkan
acara tabligh akbar di Masjid Agung Karanganyar Solo, Jawa Tengah,
Ahad 26 Maret 2006M (25 Shafar 1427H), diakhiri lebih awal. Sedianya
acara Tabligh Akbar yang diselenggarakan oleh FKAM (Forum Komunikasi
Aktivis Masjid) Karanganyar ini berlangsung pukul 08:00 wib sampai
dhuhur (sekitar jam 12:00 wib), namun karena masjid sudah dikepung
oleh massa aliran sesat LDII lebih dari 5000 orang, maka pengajian
umum ini diakhiri pukul 10.15. Pembahasan dalam tabligh akbar ini
berjudul Membongkar Aliran dan Paham Sesat di Indonesia.
>
> Tiada persoalan dalam pengajian
>
> Dua pembicara (Ustadz Hartono Ahmad Jaiz dari LPPI Jakarta dan
Ustadz Abdul Kholiq alumni Al-Azhar Mesir) telah berbicara masing-
masing setengah jam, demikian pula dua pemberi sambutan, dari pihak
panitia Jumadi dan ketua FKAM Pusat di Solo, Ustadz Kalono. Dahlan
Rais adik M Amien Rais (mantan ketua MPR) yang sedianya sebagai
pembicara terakhir tampak belum hadir, mungkin terhalang oleh massa
aliran sesat LDII yang berbaris pagar betis berlapis-lapis di
sekitar masjid.
>
> Tabligh akbar itu sendiri berlangsung tenang, tanpa ada
kegaduhan. Pembicara pertama, Ustadz Hartono Ahmad Jaiz membahas
penegakan Tauhid dan penghancuran kemusyrikan yang kini ada yang
berlabel pluralisme agama, menyamakan semua agama. Selama setengah
jam tidak ada masalah apa-apa. Demikian pula pembicara kedua, Ustadz
Abdul Kholiq membahas asal-usul kesesatan dari 4 golongan yaitu
khowarij, rofidhoh (Syi’ah), qodariyah, dan jabbariyah. Semua
pembahasan ini dalam kondisi tenang, tidak ada masalah di dalam
masjid. Namun di halaman masjid berdatangan orang-orang bertampang
sangar, jumlahnya 5000 lebih, mereka turun dari 20 truk dan 50-an
kendaraan roda empat lainnya, menuju ke halaman masjid, langsung
mengikuti aba-aba hingga mereka yang berseragam atau kebanyakan
berpakaian hitam dan klawu (abu-abu) ini mengepung masjid dengan
barisan pagar betis berlapis-lapis.
>
> Sebelumnya, ketika pintu gerbang halaman masjid masih tertutup,
massa aliran sesat LDII yang jumlahnya ber-truk-truk itu masuk ke
halaman masjid dengan memanjat pagar. Rupanya kemudian pintu pun
dibuka.
>
> Kondisi di dalam masjid lantai dua tempat berceramah mulai
mencekam, panitia mulai sibuk mondar-mandir ke arah moderator,
sedang pentolan-pentolan LDII pun mondar-mandir di arah samping
utara, karena di belahan ruang selatan untuk hadirat (wanita) dengan
ditutup pembatas.
>
> Akibatnya, moderator mengakhiri tabligh akbar tanpa dilanjutkan
dengan tanya jawab, karena kondisi sudah mencekam.
>
> Para jama’ah mulai bergerak untuk pulang, namun mereka kaget
ketika melihat di bawah, yaitu di halaman dan seluruh sekitar masjid
telah dikepung oleh massa aliran sesat LDII. Hingga jama’ah yang mau
pulang tidak bisa keluar. Sementara itu orang-orang yang ditengarai
sebagai pengikut aliran sesat LDII tampak tidak mau keluar dari
masjid. Hadirin di dalam ruangan masjid cukup banyak, karena ruangan
masjid yang cukup besar ini baik di dalam maupun di (serambi) luar
penuh hadirin, sekitar 1000-an orang.
>
> Tegang, para pentolan LDII mau menggelandang penceramah
>
> Panitia berupaya mengumumkan lewat pengeras suara dengan naik di
atas kursi bahwa pengajian telah selesai, maka hadirin diharap
meninggalkan tempat. Namun panitia ini diganggu oleh pentolan-
pentolan aliran sesat LDII yang sudah mulai merangsek untuk
mendekati penceramah. Pentolan-pentolan aliran sesat LDII makin
mendekat kepada penceramah yang posisinya di dekat mimbar, lalu
Samsul Alam pentolan aliran sesat LDII berupaya menarik tangan
penceramah untuk menggelandangnya keluar. Hanya saja sempat
dihalangi oleh para panitia yang rata-rata anak muda.
>
> Kemudian polisi datang ke lantai dua, dan penceramah diupayakan
untuk diselamatkan. Penceramah didampingi para panitia berjalan
turun, menuju halaman, di sana polisi menembus barisan pagar betis
ribuan orang massa aliran sesat LDII. Dalam kondisi polisi sibuk
mencarikan jalan untuk menyelamatkan penceramah itu, orang-orang
LDII berupaya untuk menarik penceramah, memukuli, dan sebagainya,
namun terkena para panitia, di antaranya 4 orang panitia-lah yang
terkena pukulan-pukulan ganas massa aliran sesat LDII.
>
> Perjalanan mengawal penceramah ini sangat menegangkan, berdesak-
deskan, kejar-kejaran, ditingkahi dengan pukulan dari massa aliran
sesat LDII. Tampaknya penceramah kicat-kicat telapak kakinya
kepanasan, karena berjalan di atas aspal tanpa alas kaki, dari
masjid ke halaman cukup panjang dengan memiak (menembus) pagar betis
barisan aliran sesat LDII, menuju jalan tempat mobil polisi
diparkir. Begitu penceramah dikejar-kejar untuk dipukuli dan kena
para pengawalnya, lalu dimasukkan ke mobil, lalu mereka yang dari
tadi berupaya mau memukul atau melempar namun belum sempat, maka
dengan ganasnya mereka melempari mobil polisi.
>
> Merampas barang penceramah dan menghancurkan berkas-berkasnya di
masjid
>
> Sementara itu berkas-berkas milik penceramah yang dibawa oleh
panitia di dalam masjid, dirampas oleh massa aliran sesat LDII dan
mereka hancurkan di dalam masjid itu, sambil salah seorang dari
mereka mengangkat-angkat Al-Qur’an milik penceramah. Sedang tas
berisi buku-buku dan bahan ceramah seberat sekitar 10 kilogram
(karena tampaknya ketika dibawa oleh panitia, tampak berat) dirampas
pula oleh massa aliran sesat LDII.
>
> Penceramah yakni Hartono Ahmad Jaiz diselamatkan polisi, dibawa
ke kantor Polres Kabupaten Karanganyar Solo, berjarak hampir 2
kilometer dari Masjid Agung. Tidak berapa lama, massa aliran sesat
LDII pun berdatangan ke kantor Polres, namun belasan polisi pun
menghadang mereka di pintu gerbang. Hanya saja pentolan-pentolan
aliran sesat LDII itu tampak masuk pula. Sementara massa LDII berada
di jalan sepanjang depan Polres. Karena banyaknya massa itu, maka
jalan di depan polres pun sementara ditutup.
>
> Menjemur massa
>
> Para pentolan aliran sesat LDII tampaknya belum puas menyiksa
5.000 lebih massanya yang telah dijemur sejak pagi di tempat panas
terik, padahal rata-rata berbaju hitam dan kelabu yang tentu saja
menambah sangat panasnya ke badan. Lalu di depan kantor Polres pun
pentolan aliran sesat pamer kedhaliman yang tampaknya biasa mereka
timpakan kepada massanya (dengan dalih taat amir/pemimpin) untuk
bisa dilihat orang. Di atas aspal dalam bakaran matahari panas terik
siang itu, pentolan aliran sesat LDII tampak memberi aba-aba kepada
massanya, hingga terjadi sahut menyahut antara pentolan LDII dan
massanya:
>
> “Bisa diatur atau tidak?!” Seru pentolan LDII.
> “Bisaa!” Jawab massa LDII.
> “Saya beri aba-aba tiga kali, langsung duduk. Tiga, dua,
satu!” seru pentolan LDII
>
> Prok, langsung duduk ngedeprok lah massa LDII itu di atas aspal
yang sangat panas. Bisa dibayangkan, mesti mereka kicat-kicat karena
pantatnya melepuh kebakar aspal yang kena panas terik matahari.
>
> Sementara itu di dalam ruangan Polres, tampaknya perundingan
antara pentolan-pentolan aliran sesat LDII yang mengerahkan massa
untuk mengepung tabligh akbar ini dengan pihak penceramah cukup
alot, hingga berjam-jam. Penceramah pun tampak tidak sudi untuk
diperlakukan secara dhalim sebagaimana massa LDII. Bahkan penceramah
tampak membalikkan argumen yang mengakibatkan gelagapannya para
pentolan aliran sesat LDII. Bahkan para pentolan aliran sesat LDII
dalam berunding di depan Wakapolres Kompol Sudarmi, mereka tampak
terpukul balik, karena telah terbukti menggerakkan massa yang
mengakibatkan tindakan penghalangan dakwah, kekerasan dengan
pemukulan, perampasan barang-barang milik penceramah, penghancuran
barang milik penceramah, bahkan pelemparan mobil polisi yang
maknanya melawan petugas.
>
> Penceramah juga menawarkan kepada para pentolan aliran sesat
LDII untuk dibacakan teks dari Staf Ahli Menhan Bidang Ideologi dan
Agama, Ir Soetomo, SA, Mayor Jendral TNI, bahwa “Beberapa contoh
aliran sempalan Islam yang bisa membahayakan aqidah Islamiyah, yang
telah dilarang seperti: Lemkari, LDII, Darul Hadis, Islam Jama’ah.”
(Jakarta 12 Februari 2000, Staf Ahli Menhan Bidang Ideologi dan
Agama, Ir. Soetomo, SA, Mayor Jendral TNI).
>
> Dalam perundingan untuk membuat teks yang harus ditandatangani
ketua LDII Karanganyar dan penceramah, juga tampaknya pihak LDII
gelagapan dan menolak sejadi-jadinya ketika ditulis fakta nyata dan
ada penderitanya di ruangan itu tentang pemukulan, perampasan tas
penceramah, penghancuran berkas-berkas milik penceramah, dan
pelemparan mobil polisi oleh massa LDII. Hingga pembuatan teks untuk
ditandatangani berdua inipun sangat alot. Ini menambah lamanya
penyiksaan bagi ribuan massa LDII yang oleh para pentolannya dijemur
sejak pagi di bawah panas terik matahari, di atas jalan beraspal.
>
> Masyarakat Solo dan sekitarnya, bahkan Jakarta dan berbagai
kota, saat itu pula sudah mendengar kasus kekerasan aliran sesat
LDII yang mengepung acara tabligh akbar itu. Di antaranya kasus
tabligh akbar yang dikepung massa LDII itu diberitakan oleh Radio
Elshinta di Jakarta, yang punya cabang-cabang di kota-kota lain.
Maka massa yang anti aliran sesat LDII pun mulai berdatangan ke
Masjid Agung Karanganyar, sementara massa aliran sesat LDII
berkonsentrasi di depan Polres.
>
> Sementara para pentolan aliran sesat LDII di dalam ruangan
Polres gelagapan menghadapi argumen penceramah dan tidak mudah
menekan-nekan seperti menekan bawahannya, ribuan massa LDII yang
sudah dijemur berjam-jam oleh para pentolannya itu sebentar lagi
bisa-bisa akan digrudug oleh orang-orang yang anti aliran sesat LDII
yang sudah menuju ke Masjid Agung Karanganyar. Belum lagi kalau
pihak panitia tabligh akbar menuntut para pentolan aliran sesat LDII
itu atas tindakan kekerasan yang terjadi akibat pengerahan massa
yang telah mereka lakukan, hingga ada pemukulan, perampasan,
penghancuran barang milik penceramah, penggangguan dakwah Islamiyah
dan lain-lain. Walaupun saat itu belum sempat dibicarakan, namun
masalah besar ini tentunya menjadi cacatan tebal bagi para panitia,
baik di cabangnya Karanganyar maupun di Solo, bahkan bagi umat Islam
pada umumnya yang sudah tahu sesatnya LDII, tipuannya, dan
sangarnya.
>
> Pengerahan ribuan massa itu tidak bisa menolong sama sekali
terhadap para pentolan LDII yang berupaya menekan penceramah namun
malah dibalikkan dengan argumentasi, silahkan kalian membuat jawaban
terhadap tulisan saya, nanti saya baca, baru saya tela’ah tulisan
saya, kalau memang salah, maka saya bersedia mempertimbangkan untuk
meralatnya,” kata Hartono Ahmad Jaiz. Karena yang ditulis Hartono,
menurutnya, telah berlandaskan pada:
>
> 1.. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat: Bahwa ajaran
Islam Jama’ah, Darul Hadits (atau apapun nama yang dipakainya)
adalah ajaran yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang
sebenarnya dan penyiarannya itu adalah memancing-mancing timbulnya
keresahan yang akan mengganggu kestabilan negara. (Jakarta, 06
Rabiul Awwal 1415H/ 13 Agustus 1994M, Dewan Pimpinan Majelis Ulama
Indonesia, Ketua Umum: K.H. Hasan Basri, Sekretaris Umum: H.S.
Prodjokusumo.
> 2.. Fatwa Majelis Ulama DKI Jakarta: Bahwa ajaran Islam
Jama’ah, Darul Hadits (atau apapun nama yang dipakainya) adalah
ajaran yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya
dan penyiarannya itu adalah memancing-mancing timbulnya keresahan
yang akan mengganggu kestabilan negara. (Jakarta, 20 Agustus 1979,
Dewan Pimpinan Majelis Ulama DKI Jakarta, K.H. Abdullah Syafi’ie
ketua umum, H. Gazali Syahlan sekretaris umum.
> 3.. Pelarangan Islam Jama’ah dengan nama apapun dari Jaksa
Agung tahun 1971:
Surat Keputusan Jaksa Agung RI No: Kep-
089/D.A./10/1971 tentang: Pelarangan terhadap Aliran- Aliran Darul
Hadits, Djama’ah jang bersifat/ beradjaran serupa. Menetapkan:
Pertama: Melarang aliran Darul Hadits, Djama’ah Qur’an Hadits, Islam
Djama’ah, Jajasan Pendidikan Islam Djama’ah (JPID), Jajasan Pondok
Peantren Nasional (JAPPENAS), dan aliran-aliran lainnya yang
mempunyai sifat dan mempunjai adjaran jang serupa itu di seluruh
wilajah Indonesia. Kedua: Melarang semua adjaran aliran-aliran
tersebut pada bab pertama dalam keputusan ini jang bertentangan
dengan/ menodai adjaran-adjaran Agama. Ketiga: Surat Keputusan ini
mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan: Djakarta pada
tanggal: 29 Oktober 1971, Djaksa Agung R.I. tjap. Ttd (Soegih Arto).
> 4.. Buku-buku LPPI tentang Bahaya Islam Jama’ah, Lemkari, LDII
(1999); Akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiah (2004) .
> 5.. Teks pidato Staf Ahli Menhan Bidang Ideologi dan Agama Ir.
Soetomo, SA
, Mayor Jenderal TNI bahwa “Beberapa contoh aliran
sempalan Islam yang bisa membahayakan aqidah Islamiyah, yang telah
dilarang seperti: Lemkari, LDII, Darul Hadis, Islam Jama’ah.”
(Jakarta 12 Februari 2000, Staf Ahli Menhan Bidang Ideologi dan
Agama, Ir. Soetomo, SA, Mayor Jendral TNI).
>
>
> Ribuan massa dijemur tanpa guna
>
> Entah karena takut digrudug oleh umat Islam yang anti aliran
sesat LDII, atau karena sudah tidak ada gunanya lagi dalam membantu
para pentolannya, atau karena diharapkan bubar oleh pihak keamanan,
walaupun para pentolan LDII masih gelagapan menghadapi masalah di
dalam kantor Polres, namun massa LDII dibubarkan sekitar pukul
13.30, setelah mereka dijemur berjam-jam di bawah terik matahari.
>
> Sebelum itu, massa LDII yang masih rasional, mereka tampak
memilih “melarikan diri” dari tekanan yang biasa disebut dengan taat
amir atau pimpinan itu, daripada terbakar di bawah terik matahari
berjam-jam. Maka mereka naik bus atau kendaraan umum lainnya untuk
pulang. Namun jama’ah yang terlalu patuh dan bahkan takut kepada
para pentolannya, maka menjadi pemandangan aneh, yaitu massa poyang-
payingan, ngetan-ngulon grudag-grudug ora karuhan (terombang-ambing,
ke barat arah Masjid Agungke timur arah Polres, berbondong-
bondong tidak tentu tujuan).
>
> Masyarakat memandangnya aneh, kenapa mereka jadi begitu.
Ternyata, mereka adalah massa LDII yang ketinggalan truk-truk yang
tadi mengangkutnya. Lha kalau mereka tidak membawa duit, sedangkan
perut lapar dan tenggorokan haus (itu pasti), masih pula rumahnya
jauh, misalnya, bagaimana? Karena ada khabar bahwa massa LDII ini
didatangkan dari 26 daerah (Jawa Tengah ada 35 kabupaten). Itulah,
nasib orang-orang yang tertindas tetapi nrimo (menerima saja), maka
akibatnya mereka keplantrang dan makin sengsara.
>
> Perundingan antara para pentolan LDII dengan penceramah di
Polres itu baru berakhir sekitar pukul 15.
>
> Perundingan itu berakhir dengan penandatanganan teks islah
antara Hartono Ahmad Jaiz dengan Drs. Sutrimo, MSi (Ketua LDII Kab
Karanganyar).
>
> Pihak LDII berjanji akan mencari tas penceramah dan isinya yang
dirampas oleh massa. Adapun yang dihancurkan, maka mereka tidak
berkomentar.
>
> Kasus penggangguan dakwah secara main kasar seperti itu telah
berkali-kali dilakukan oleh aliran sesat LDII di berbagai tempat.
Ini sama dengan menggali kuburnya sendiri. Kapan-kapan ketika
waktunya sudah tepat, maka bisa jadi umat Islam tidak mengulur waktu
lagi untuk melibas aliran sesat yang bermodal kekerasan, tipuan, dan
main paksa ini hingga untuk membuat perhitungan. Sebelum mereka
lebih besar lagi dan membahayakan masyarakat. Kasus seperti
dirusaknya rumah dan tempat ibadah LDII oleh massa di Lombok Timur
cukup menjadi pelajaran. Di antara beritanya sebagai berikut:
>
> Jamaah LDII Mengungsi ke Pulau Jawa
>
>
> Lombok Timur, CyberNews.
>
> Puluhan jamaah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) telah
diberangkatkan ke berbagai daerah di Pulau Jawa dengan menggunakan
dua unit bus. Mereka memilih mengungsi sementara di rumah
keluarganya yang tersebar di Pulau Jawa setelah beberapa hari
terpaksa mengungsi di aula Mapolres Lombok Timur.
>
> Para pengikut LDII terpaksa mengungsi ke Mapolres Lombok Timur
setelah massa melakukan aksi pengrusakan terhadap rumah dan tempat
ibadah aliran keagamaan tersebut beberapa pekan lalu.
>
> Kapolres Lombok Timur AKBP MA Wiguna menjelaskan, keinginan
mengungsi ke Pulau Jawa tersebut berasal dari para jamaah LDII
sendiri. “Meskipun aparat telah memberikan perlindungan dan menjamin
tidak ada serangan terhadap mereka, tetapi tetap memilih ke luar
sementara dari Lombok Timur,” ujarnya, Minggu (6/10).
>
> Seperti juga jamaah Ahmadiyah, yang sebelumnya juga mengungsi di
Mapolres Lombok Timur, akhirnya memilih dievakuasi ke Mataram dan
kini ditampung di Asrama Transito milik Dinas Transmigrasi Nusa
Tenggara Barat.
>
> Keinginan mereka ke luar sementara dari Lombok Timur tersebut
untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dan juga merasa
tidak mungkin terus bertahan di pengungsian terutama Mapolres Lombok
Timur.
>
> Mengenai rumah dan harta benda mereka yang tertinggal, Kapolres
mengatakan, diserahkan pengamanannya kepada aparat kepolisian yang
selanjutnya dikoordinasikan dengan aparat desa setempat.
> “
> Pokoknya harta benda mereka yang ditinggal sementara itu akan
dijaga. Dan masyarakat setempat juga ikut membantu mengamankannya
agar tidak sampai dijarah orang lain,” katanya. Lebih lanjut
dikatakan, pemerintah daerah setempat masih terus melakukan upaya
penyelesaian secara damai.
>
> Seperti diberitakan sebelumnya, aksi pengrusakan terhadap aset
pengikut LDII dan Ahmadiyah di Lombok Timur terkait dengan ajaran
yang dilaksanakan aliran tersebut yang dianggap menyimpang dari
Islam.
>
> Meskipun pihak Kejaksaan Negeri Selong dan pemerintah daerah
setempat telah melarangnya, namun jamaah Ahmadiyah dan LDII tetap
melakukan aktivitasnya. Hal ini yang menyulut kemarahan warga
setempat.
>
> Sementara itu Walikota Mataram HM Ruslan mengatakan, pihaknya
tidak melarang warga Ahmadiyah maupun Lembaga Dakwah Islam Indonesia
(LDII) tinggal di kota ini. Hanya saja hal itu dilakukan dengan
persyaratan.
>
> HM Ruslan kepada wartawan di Mataram, Sabtu, menjelaskan,
persyaratan utama yang harus dipenuhi oleh warga Ahmadiyah dan LDII
adalah kembali ke ajaran Islam. Di samping itu, mereka tidak boleh
menghasut atau mengajak masyarakat untuk mengikuti ajarannya dan
harus tunduk kepada berbagai peraturan di mana mereka tinggal.
(ntr/snc/cn05)) Suara Merdeka, Minggu, 6/10/02 : 11.25 WIB).
>
>
>
> Kesesatan, kekerasan, dan penghalangan dakwah yang dilakukan
oleh aliran sesat LDII sudah nyata. Namun ketika diajukan
argumentasi tentang kesesatan dan tipuan-tipuannya, justru mereka
menuduh pemberi peringatan kepada masyarakat itu sebagai pemecah
belah umat. Padahal, perusakan umat yang nyata itu justru LDII lah
pelakunya, sampai-sampai salam pun tak mereka jawab. Tidak ada jalan
lain kecuali melibas aliran sesat yang sudah nyata berbahaya ini
sebelum sangat membesar, yang tentu lebih sulit untuk menghadapinya.
Bila tidak, maka bentrokan massa kemungkinan bisa terjadi di mana-
mana, bila antisipasi berupa pemberlakuan pelarangan secara intensip
terlena ditegakkan.
>
> Selasa 28 Maret 2006M/ 27 Shafar 1427H


 

 

MAIL-ARCHIVE.COM

[keluarga-islam] Re: Terjadi di Masjid Agung Karanganyar Solo kebringasan LDII

 

(nahimunkr.org)

(Dibaca 843 kali, 1 untuk hari ini)