Dakwah dengan Sikap Keras, Tegas, dan Lugas jika pada Tempatnya bukanlah Suatu Kezhaliman

Islam memiliki cara dan metode dalam berdakwah sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Tentunya hal itu tidak lepas dari bimbingan syari’at.

Pertama, dakwah harus disampaikan dengan sikap lemah lembut…

Ke-dua, terkadang dengan sikap keras, tegas, dan lugas…

Namun sikap yang kedua ini sering dianggap sebagai sikap yang salah dan tidak mengandung hikmah. Bahkan terkadang dianggap dapat menimbulkan akibat yang fatal bagi dakwah itu sendiri. Sehingga muncul protes dari berbagai pihak ketika salah seorang da’i bersikap keras, tegas dan lugas dalam dakwahnya.

Fenomena ini tampak ketika salah seorang Ahlus Sunnah berdakwah kepada Sunnah dan membela Ahlus Sunnah sekaligus membantah bid’ah dan ahlul bid’ah dengan tegas. Maka muncul berbagai macam protes dari berbagai kelompok dakwah yang ada. Mereka menganggap bahwa sikap keras, tegas, dan lugas dalam dakwah tidak mencerminkan akhlak mulia karena mengandung kezhaliman terhadap pihak lain dan menyebabkan umat lari dari seruan dakwah.

Anggapan mereka ini timbul dari prinsip dakwah mereka yang bathil berupa semboyan yang mengajak kepada perasatuan kaum Muslimin walaupun di atas kebathilan. Setiap hal yang berakibat memecah-belah kaum Muslimin harus dijauhkan dari dakwah.

Fakta ini sering memunculkan di tengah-tengah dakwah mereka sikap basa-basi, tidak terus terang dan lemah lembut yang bukan pada tempatnya.

Justru keberadaan dakwah mereka beserta segala sikap yang menyimpang itu menambah kekaburan bagi kaum Muslimin dalam menilai Al Haq.

Sehingga banyak kaum Muslimin tak bisa membedakan antara yang haq dan yang bathil serta tak sedikit pula diantara mereka yang menyangka bahwa yang haq itu adalah bathil dan yang bathil itu adalah haq.

Sikap keras, tegas, dan lugas dalam dakwah diperlakukan kepada orang yang menentang Al Haq dan menampakkan kefasikan dan kejelekannya secara terang-terangan.

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Manusia membutuhkan bujuk rayuan dan sikap lemah lembut tanpa kekerasan saat mereka diajak kepada kebaikan kecuali seorang yang menentang (Al Haq) dan menampakkan kefasikan berserta kejelekannya secara terang-terangan. Maka wajib atasmu mencegahnya (dengan keras) dan mengumumkannya (di hadapan khalayak ramai), karena dahulu dikatakan bahwa tak ada kehormatan bagi seorang yang fasiq. Oleh sebab itu orang yang seperti ini tak ada kehormatan baginya”.

(Al Amru bil Ma’ruf Wa An Nahyu ‘Anil Munkar, Al Khallal halaman 47).

Saudaraku, memperingatkan manusia dari kebatilan dan kesesatan (tahdzir) mempunyai dua faidah, yaitu :

1.Menghentikan mengalirnya dosa pada pencipta kesesatan, karena pencipta kesesatan dan penyebarnya akan mendapat dosa sebanyak orang yang mengikutinya.

2.Untuk menyelamatkan manusia dari terjerumusnya pada kesesatan.

Semoga kita tidak ikut-ikutan juga

Model dakwah,

“Hanya menyampaikan yang ma’ruf tapi meninggalkan nahi mungkar”.

Semoga Allah Ta’ala memberi berkah pada dakwah kita. Semoga hati manusia terbuka dengan dakwah Tauhid dan manisnya iman.

Semoga dakwah kita berbuah surga tertinggi. Aamiin…


Abu Musa Al Asy’ari

=====

Nell Hawadaa Chan

AL-FIRQAH AN-NAJIAH (Jalan Golongan yang Selamat)

1st5a rjaSmpoonsoSnrgmed  · 

Sikap keras, tegas, dan lugas dalam dakwah diperlakukan kepada orang yang menentang Al Haq dan menampakkan kefasikan dan kejelekannya secara terang-terangan.



 


Nell Hawadaa Chan

 menambahkan foto baru ke album: ʙᴇʀɪᴛᴀ ᴅᴀᴋᴡᴀʜ — mendukung 

Salafi Manhaj in Da’awah

 bersama 

Syiffa Aulia Dewi

 dan 

9 lainnya

 di 

Counting Minutes to Sunset

.

1st5a rjaSmpoonsoSnrgmed  · Al Khor, Qatar  · 

[Sᵉᵐᵒᵍᵃ ᵏⁱᵗᵃ ᵗⁱᵈᵃᵏ ⁱᵏᵘᵗ⁻ⁱᵏᵘᵗᵃⁿ ʲᵘᵍᵃ

ᴹᵒᵈᵉˡ ᵈᵃᵏʷᵃʰ, “ᴴᵃⁿʸᵃ ᵐᵉⁿʸᵃᵐᵖᵃⁱᵏᵃⁿ ʸᵃⁿᵍ ᵐᵃ’ʳᵘᶠ ᵗᵃᵖⁱ ᵐᵉⁿⁱⁿᵍᵍᵃˡᵏᵃⁿ ⁿᵃʰⁱ ᵐᵘⁿᵍᵏᵃʳ”.]


 

(Dibaca 131 kali, 1 untuk hari ini)