Oleh: Yusuf Maulana*

Recep Tayyip Erdoğan amat pantas bersyukur memiliki anak buah seperti Hakan Fidan. Sang kepala intelijen Turki ini berandil besar mencegah dan membongkar jaringan subversif para jenderal pelaku Kudeta 5 jam pada 15 Juli 2016. Hakan Fidan bekerja efektif memukul balik lawan sang atasannya, sekaligus memobilisasi rakyat Turki dalam mengamankan proses demokratisasi yang sudah berjalan di jalur benar.

Seorang intelijen mumpuni akan tahu benih-benih makar yang ada di beragam penjuru. Karena pelongsoran kekuasaan biasa saja dari sekitar penguasa. Atau kawan dari mancanegara yang teranggap sekutu, rupanya aktor di balik layar pemberi bantuan ke kelompok makar. Karenanya, bekerja membentengi kekuasaan memerlukan kejelian menangkap, memilah, dan mengolah informasi yang berseliweran. Tahu bagaimana dirinya mesti fokus kepada inti persoalan.

Di mana saja, intelijen negara bekerja mengabdi kepada penguasa. Ini lumrah. Termasuk bila intelijen pernah jadi bagian dari tim sukses penguasa tersebut. Di tanah air, sudah jamak diketahui soal ini. Demikian juga jika intelijen di kepolisian, atau bahkan institusi kepolisian secara kesatuan, menjadi pembela penguasa, ini juga hal biasa. Segenap potensi mengawasi warga mana saja yang potensial makar dan merebut kekuasaan sang tuan, itu memang bagian dari kerjanya.

Namun menjadi anak buah loyal dengan dan atas nama mengabdi kepada negara tentu saja memerlukan kecerdasan. Ini satu hal. Berikutnya, mesti ada kejernihan hati menangkap sinyal yang ada di publik. Soal kedua kita abaikan saja karena tidak akan saya bahas. Cukup soal kecerdasan para intelijen dalam beragam kesatuan.

Duh, amat pilu mendapati berita-berita terkait perlindungan intelijen dan kesatuan (terutama Polri) terhadap potensi ancaman. Tampak jelas betapa definisi ‘makar’, ‘kudeta’, amat lentur dan tak begitu mendasar. Komunikasi politik Kapolri soal ini sungguh jauh dari level seorang Hakan Fidan, yang sudah jelas menghadapi kelompok paralel bawah tanah Fethullah Gulen. Apakah sosok semacam Habieb Rizq, Arifin Ilham, hingga Bachtiar Nasir serupa Gulen? Atau karena ada dukungan moril dan logistik dari mantan presiden Susilo Yudhoyono dengan serta-merta ada rencana penggulingan kekuasaan?

Reputasi Kapolri sekarang memang tidak terlepas dari rekam jejak di kesatuannya. Nama Tito Karnavian, dalam catatan saya, moncer selama mengabdi di Datasemen Khusus Anti Terorisme 88 (Densus 88). Di sinilah inteligensi putra Palembang nan cerdas ini menemukan titik balik. Afiliasi hingga pemihakan kepada siapa, akan terlihat dari seorang anggota Polri semasa di Densus 88. Cetak biru kesatuan ini sudah rigid. Dan sayangnya, lebih sering tak ramah pada umat Islam, khususnya kalangan islamis “garis keras”.

Sudah jamak dikenal pula kalau Densus 88 sering bertindak di luar kemanusiaan. Hukum? Mohon maaf, atas nama apa saja bisa dikangkangi meski sering diperingati Komnas HAM hingga para arif cendekiawan. Atas nama mencegah terorisme, kekerasan diperkenankan. Sistematis dan struktur pula. Tidak hanya paradigma, namun juga alam berpikir anggota Densus 88 memang akut dalam soalan ini. Jangan tanya bagaimana akutnya mereka yang masuk di level pimpinan seperti Tito.

Di sinilah kita pun jadi paham mengapa cara-cara berkomunikasi saja dari Kapolri sering mewakili wajah lamanya semasa di Densus. Main gertak dan berbuat tindakan cepat tapi culas. Buat maklumat lewat fasilitas yang terkesan mubazir, karena terbiasa bekerja dengan dana melimpah dari luar negeri. Kerja menangkal aksi 2 Desember pun diserupakan dengan bakal adanya teror.

Ya, kita harap maklum, sekali lagi, Kapolri miliki lama berpikir teror dan teror terhadap setiap potensi yang mengusik di depannya. Tak jeli membedakan mana makar, mana sekadar aksi emosi anak bangsa.

Dan selagi di Densus 88 tak ada penegakan keadilan atau sekadar permohonan maaf tulus ketika ada kasus salah tangkap dan tindakan anggota main bunuh tersangka, demikianlah yang berlaku pada Tito. Ia akan representasikan kerja-kerja beringas tanpa ampun ketika melakukan deteksi dini kekuatan yang dianggap kudeta tadi. Tidak jeli membaca bahwa fakta sebenarnya tidak sampai ke sana. Saat yang sama, kita tak perlu kaget apabila ia juga amat pelit memohon maaf apabila ada silap. Ini bukan soal gengsi, melainkan soal kepribadian yang “tergadai” akibat kurikulum di kesatuan sebelumnya yang jauh dari adab dan toleransi kepada anak bangsa sendiri: umat Islam.[]

*N.B. Cara lain Densus 88 bekerja adalah memilah kelompok Islam. Ada “garis keras” ada “moderat”. Kelompok kedua dirangkul untuk memukul lawan. Didanai dan dibuat kampanye berbahasa santun dengan jargon indah: bhineka tunggal ika, NKRI, pancasila. Pola semacam ini tak aneh bila diulang saat Tito merangkul ormas partner lamanya dalam isu terorisme, ketika ia berkepentingan mencegah adanya demonstrasi umat Islam soal kasus penguasa Jakarta.
___
*Sumber: Tulisan penulis di fb/ portalpiyungan.info

(nahimunkar.com)

(Dibaca 5.238 kali, 1 untuk hari ini)