Dari Hotel ke Klub Bola, Dusta Bisnis Yusuf Mansur Diungkap


Suasana peluncuran buku “Yusuf Mansur Obong” karya HM Joesoef (kiri) di Sleman, Sabtu (7/3). (GATRA/Ridho Hidayat/akh)

 

Sleman, – Melalui buku berjudul “Yusuf Mansur Obong”, berbagai kegiatan bisnis pengusaha dan penceramah agama Yusuf Mansur yang diduga melanggar ketentuan dikupas. Beragam bisnis itu mulai dari investasi hotel hingga rencana pembelian klub sepak bola.

Penulis buku “Yusuf Mansur Obong”, HM Joesoef, menyatakan banyak aktivitas bisnis Yusuf Mansur bermasalah. Untuk itu, melalui buku ini, ia berharap Yusuf Mansur menghentikan dusta-dusta dalam bisnisnya itu.

“Banyak kasus. Buku ini supaya menyadarkannya dan menghentikan kegiatannya itu,” kata Joesoef saat meluncurkan bukunya di Condongcatur, Sleman, Sabtu (7/3).

Joesoef mengatakan selama 2017- 2018, Yusuf Mansur gencar membuat manuver. Antara lain mengumumkan rencana pembelian klub sepak bola di dalam dan luar negeri, juga menyatakan bakal membeli saham Bank Muamalat dan BRI Syariah.

Rencana itu membuat para jemaah Mansur berinvestasi melalui unit usahanya. Namun semua itu tidak terwujud atau tidak sesuai akad atau kesepakatan awal.

Menurut Joesoef, Mansur pun digugat oleh para mantan jemaah yang dirugikan dalam berinvestasi di unit usaha Mansur seperti di proyek Patungan Usaha, Patungan Aset, dan Condotel Moya Vidi.

Dia melakukan perbuatan melawan hukum. Bahasa sederhananya bohong. Berhentilah melakukan sesuatu yang menjadi perbincangan publik,” kata Joesoef

Padahal, sebagai teman Mansur, Joesoef menyatakan telah berkali-kali mengingatkan Mansur. Tapi hal itu tidak diindahkan oleh Mansur. “Jika isi buku ini ada yang salah, atau ada yang perlu dikoreksi, silakan dibuat buku tandingan. Nanti masyarakat yang akan mengujinya,” ucapnya.

Joesoef pun mengaku cukup kaget atas respons Mansur atas buku ini melalui media sosialnya. “Saya kaget juga. Dia kemarin ngancam sekitar 40 menit di Instagram. Ini proses demokrasi. Kalau sedikit-sedikit lapor polisi dan polisi bertindak sesuai kemauan pelapor maka hancur demokrasi,” katanya.

Selain Joesoef, seorang mantan tenaga kerja wanita (TKW), dari Sidoarjo, Jawa Timur, Hilwa, juga mengungkap kekecewaan pada Mansur.

Ia menyatakan menjadi korban bisnis Yusuf Mansur karena uangnya sekitar Rp50 juta sampai kini belum kembali setelah diinvestasikan di unit usaha Mansur, Paytren.

“Dulu awalnya kami percaya karena beliau ustaz. Tapi sampai sekarang saya tidak tahu uang saya di mana. Paytren tidak bisa digunakan, tapi beliau sampai sekarang ngomong kalau Paytren keren, Paytren cerdas,” ucapnya.


Reporter: Ridho Hidayat
Editor: A. Hernawan

Gatra.com | 07 Mar 2020 19:28

(nahimunkar.org)

(Dibaca 3.082 kali, 1 untuk hari ini)