Saka Imam Syafi’i Nganti Walisongo Wae Nganggep Slametan Kepaten/ Tahlilan Kuwi Ala

(Bahasa Jawa di bagian bawah)

al umm

ilustrasi

Bahasa Indonesia

Dari Imam Syafi’i Hingga Walisongo pun Anggap Selamatan Kematian/ Tahlilan Itu Buruk

Berikut Pendapat Imam Syafi’i ;

“Adapun membaca Al-Qur’an dan menjadikan pahalanya untuk mayat, sholat atas mayat dan juga yang semisal keduanya maka madzhab Asy-Syafi’i dan mayoritas ulama berpendapat bahwasanya hal hal tersebut tidak akan sampai kepada mayat” (Al- Minhaaj syarh Shahih Muslim 11/58).

Berikut penjelasan Tahlilan dari Wali Sanga ;

HET BOOK VAN BONANG buku ini
ada di perpustakaan Leiden Belanda , yang menjadi salah satu dokumen langka dari jaman Walisongo .Kalau tidak dibawa Belanda, mungkin dokumen yang amat penting itu sudah lenyap .
Buku ini ditulis oleh Sunan Bonang pada abad 15 yang berisi tentang ajaran- ajaran Islam . Dalam naskah kuno itu diantara nya menceritakan tentang Sunan Ampel memperingatkan Sunan Kalijogo yang masih melestarikan selamatan . ” Jangan ditiru perbuatan semacam itu karena termasuk BIDA’H ” .
Sunan Kalijogo menjawab : “ Biarlah nanti generasi setelah kita ketika Islam telah tertanam di hati masyarakat yang akan menghilangkan budaya tahlilan itu ”.

Sunan Ampel : “ Apakah tidak mengkhawatirkan di kemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam ? Jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi BID’AH ?

Sunan kudus menjawabnya bahwa ia mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari ada yang menyempurnakannya (hal 41, 64) .
Sunan Ampel , Sunan Bonang , Sunan Drajat , Sunan Gunung Jati dan terutama Sunan Giri berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan ajaran Islam secara murni , baik tentang aqidah maupun ibadah. Dan mereka menghindarkan diri dari bentuk singkretisme / mencampurkan , memadukan ajaran Hindu dan Budha dengan Islam. Tetapi sebaliknya Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Kalijaga mencoba menerima sisa-sisa ajaran Hindu dan Budha di dalam menyampaikan ajaran Islam. Sampai saat ini budaya itu masih ada di masyarakat kita , seperti sekatenan , ruwatan , shalawatan , tahlilan , upacara tujuh bulanan dll . [ Sumber : Abdul Qadir Jailani , Peran Ulama dan Santri Dalam Perjuangan Politik Islam di Indonesia ] , hal . 22-23, Penerbit PT. Bina Ilmu .

NASEHAT SUNAN BONANG
Salah satu catatan menarik yang terdapat dalam dokumen “ Het Book van Mbonang ” itu adalah peringatan dari sunan Mbonang kepada umat untuk selalu bersikap saling membantu dalam suasana cinta kasih , dan mencegah diri dari kesesatan dan BID’AH .
Bunyinya sebagai berikut :
“ Ee..mitraningsun ! Karana sira iki apapasihana sami-saminira Islam lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah“. Artinya : “ Wahai saudaraku ! Karena kalian semua adalah sama-sama pemeluk Islam maka hendaklah saling mengasihi dengan saudaramu yang mengasihimu. Kalian semua hendaklah mencegah dari perbuatan sesat dan BIDA’H .
Dokumen ini adalah sumber tentang walisongo yang dipercayai sebagai dokumen asli dan valid , yang tersimpan di Museum Leiden , Belanda . Dari dokumen ini telah dilakukan beberapa kajian oleh beberapa peneliti . Diantaranya thesis Dr. Bjo Schrieke tahun 1816 , dan Thesis Dr. Jgh Gunning tahun 1881 , Dr. Da Rinkers tahun 1910 , dan Dr. Pj Zoetmulder Sj , tahun 1935

Berikut Penjelasan dari Syaik Nawawi Al Bantani ;
Syekh Nawawi al-Bantani , Syekh Arsyad al-Banjary dan Syekh Nuruddin ar- Raniry yang merupakan peletak dasar-dasar pesantren di Indonesia pun masih berpegang kuat dalam menganggap buruknya selamatan kematian itu .
“ Shadaqah untuk mayit, apabila sesuai dengan tuntunan syara ’ adalah dianjurkan , namun tidak boleh dikaitkan dengan hari ke tujuh atau hari- hari lainnya , sementara menurut Syaikh Yusuf, telah berjalan kebiasaan di antara orang-orang yang melakukan shadaqah untuk mayit dengan dikaitkan terhadap hari ketiga dari kematiannya, atau hari ke tujuh , atau ke duapuluh, atau ke empatpuluh , atau ke seratus dan sesudah nya hingga di biasakan tiap tahun dari kematian nya, padahal hal tersebut hukumnya makruh. Demikian pula makruh hukumnya menghidangkan makanan yang ditujukan bagi orang-orang yang berkumpul pada malam penguburan mayit (biasa disebut al-wahsyah), bahkan haram hukum hukumnya biayanya berasal dari harta anak yatim ”. (an-Nawawy al-Bantani , Nihayah al-Zein fi Irsyad al-Mubtadi’ien (Beirut: Dar al-Fikr) hal 281) .
Pernyataan senada juga diungkapkan Muhammad Arsyad al-Banjary dalam Sabiel al-Muhtadien (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 87, serta Nurudin al-Raniry dalam Shirath al-Mustaqim (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 50)

* Semoga Bermanfaat –

Nodiey Nodi Nodie via fp nahimunkar.com

***

Bagaimana hukum Tahlilan Menurut Imam Syafii?

Benarkah bahwa imam Syafi’i yang diklaim sebagai madzab yang diikuti oleh sebahagian besar oleh umat Islam di negeri ini menganjurkan tahlilan/ selamatan kematian atau justru MELARANGNYA?

Ternyata kegiatan (semacam) tahlilan ini dari sejak jaman sahabat dianggap sebagai kegiatan meratap yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Dari Jabir bin Abdillah Al Bajaliy, ia berkata:”Kami  (yakni para Sahabat semuanya) memandang/menganggap (yakni menurut mazhab kami para Sahabat) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah (no 1612) dengan derajat yang shahih.

Dan an-niyahah/ meratap ini  adalah perbuatan jahiliyyah yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam;

Diriwayatkan dalam sahih Muslim dari Abu Hurairah radiyallahu anhu. bahawa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam  bersabda:

“Ada dua perkara yang masih dilakukan oleh manusia, yang kedua duanya merupakan bentuk kekufuran: mencela keturunan, dan meratapi orang mati”.

Pandangan Imam Syafii.

Nah, bagaimana dengan pandangan imam Syafii sendiri –yang katanya- mayoritas ummat Islam di Indonesia bermadzab dengannya, apakah ia sepakat dengan kebanyakan kaum muslimin ini atau justru beliau sendiri yang melarang kegiatan tahlilan ini?

Didalam kitab al Umm (I/318), telah berkata Imam Syafii berkaitan dengan hal ini;

“Aku benci al ma’tam, yaitu berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan.”

Jadi, imam Syafii sendiri tidak suka dengan kegiatan tahlilan yang dilakukan sebagaimana yang banyak dilakukan oleh ummat Islam sendiri.

Membaca Al Qur’an untuk orang mati (menurut Imam Syafi’i).

Dalam Al Qur’an, di surat An Najm ayat 38 dan 39 disebutkan disana;

[53.38] (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,

[53.39] dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.

Berkaitan dengan hal ini maka Al Hafidh Ibnu Katsir menafsirkannya sebagai berikut;

“Yaitu, sebagaimana seseorang tidak akan memikul dosa orang lain, demikian juga seseorang tidak akan memperoleh ganjaran/pahala kecuali apa-apa yang telah ia usahakan untuk dirinya sendiri.

Dan dari ayat yang mulia ini, al Imam Asy Syafii bersama para ulama yang mengikutinya telah mengeluarkan suatu hukum: Bahwa Al Qur’an tidak akan sampai hadiah pahalanya kepada orang yang telah mati.

Karena bacaan tersebut bukan dari amal dan usaha mereka. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mensyariatkan umatnya (untuk menghadiahkan bacaan Qur’an kepada orang yang telah mati) dan tidak juga pernah menggemarkannya atau memberikan petunjuk kepada mereka dengan baik dengan nash (dalil yang tegas dan terang) dan tidak juga dengan isyarat (sampai-sampai dalil isyarat pun tidak ada).

Dan tidak pernah dinukil dari seorang pun Sahabat (bahwa mereka pernah mengirim bacaan Al Qur’an kepada orang yang telah mati).

Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentu para Sahabat telah mendahului kita  mengamalkannya.

Dan dalam masalah peribadatan hanya terbatas kepada dalil tidak boleh dipalingkan dengan bermacam qiyas dan ra’yu (pikiran).”

Jadi, dari keterangan Ibnu Katsir ini jelas bahwa perbuatan membaca Al Qur’an dengan tujuan pahalanya disampaikan kepada si mayit tidak akan sampai, dan demikianlah pandangan ulama besar yang dianut oleh sebahagian besar kaum muslimin di negeri ini.

Lantas, mengapa mereka berbeda dengan imam mereka sendiri?

Wallahu a’lam.

Rujukan: Hukum Tahlilan (Selamatan Kematian) Menurut Empat Madzab & Hukum Membaca al Qur’an untuk Mayit bersama Imam Syafii, karya ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat./ http://aslibumiayu.wordpress.com, diringkas.

***

Bahasa Jawa

Saka Imam Syafi’i Nganti Walisongo Wae Nganggep Slametan Kepaten/ Tahlilan Kuwi Ala

Iki pamikire Imam Syafi’i ; 

“Ana dene maca Al-Quran lan dadekake
pahalanya kanggo mayit, sholat ingatase mayit karo sing samisal sakarone mula madzhab Asy-Syafii lan mayoritas ulama mamikir bahwasanya hal hal kesebut ora bakal teka marang mayit” (Al- Minhaaj syarh Shahih Muslim 11/58).

Iki panjelasan bab Tahlilan saka wali Sanga ;

HET BOOK VAN BONANG buku iki ana ing perpustakaan Leiden Walanda , sing dadi salah siji dokumen arang saka jaman Walisongo . Yen ora digawa Walanda, bokmenawa dokumen sing banget penting kuwi wis lenyap .
Buku iki tinulis saka Sunan Bonang ing abad 15 sing berisi babagan wulangan- wulangan Islam . Ing jero naskah kuna kuwi diantarane nyeritaake babagan Sunan Ampel wanti-wanti nyang Sunan Kalijaga sing isih nglestarekake slametan .  ” Aja ditiru panggawe sak-werna kuwi amarga klebu BIDA’H ” .
Sunan Kalijaga njawab : “ cik-ben mengko generasi sakwise awake dhewe pas Islam wis uwis ditandur neng ati, masyarakat sing arep ngilangi budaya tahlilan kuwi ”.

Sunan Ampel : “ Apa ora nguwatiri neng sak teruse dina menawa adat istiadat lan upacara lawas kuwi mengko dianggep dadi wulangan sing asale saka agama Islam ? nek hal iki dibenke mengkone bakal dadi BID’AH ?

Sunan kudus njawab, menawa dheweke nduweni keyakinan, menawa neng buri dina ana sing menyempurnakannya (hal 41, 64) .
Sunan Ampel , Sunan Bonang , Sunan Drajat , Sunan Gunung Jati lan paling utama Sunan Giri berusaha sakuwat tenaga kanggo menyampaikan wulangan Islam sacara murni , becik babagan aqidah ataupun ibadah. lan dekne kabeh menghindarkan awak saka bentuk singkretisme / mencampurkan , nggathukake wulangan Hindu lan Budha karo Islam. ning sawalike Sunan Kudus, Sunan Muria lan Sunan Kali nyoba nrima sisa-sisa wulangan Hindu lan Budha neng jero penyampaian wulangan Islam. nganti wektu iki budaya kuwi isih ana neng masyarakat awake dhewe , kaya sekatenan , ruwatan , shalawatan , tahlilan , upacara pitung wulanan lan liya-liyane . [ Sumber : Abdul Qadir Jailani , Peran Ulama dan Santri Dalam Perjuangan Politik Islam di Indonesia] , hal . 22-23, Penerbit PT. Bina Ilmu .

Nasehate SUNAN BONANG
Salah siji catetan penting sing ana jero dokumen “ Het Book van Mbonang ” kuwi yaiku peringata saka Sunan Mbonang marang umat kanggo sanuli bersikap padha saling mbantu kanthi asih kinasihan, lan mencegah awak saka kesesatan lan BID’AH .
Unine kayangene iki :
“ Ee..mitraningsun ! Karana sira iki apapasihana sami-saminira Islam lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dholalah lan bid’ah“. artine : “ Wahai sedulurku ! amarga kowe kabeh yaiku padha-padha pemeluk Islam mula supaya padha ngasihi karo sedulurmu sing ngasihi kowe. Lan kalian kabeh supaya mencegah saka panggawe sesat lan BID’AH .

Dokumen iki yaiku sumber babagan walisongo sing dipercayani dadi dokumen asli lan saheh , sing tersimpan neng Museum Leiden , Walanda . saka dokumen iki wis dilakoake beberapa kajian saka beberapa peneliti . Diantarane thesis Dr. Bjo Schrieke taun 1816 , lan Thesis Dr. Jgh Gunning taun 1881 , Dr. Da Rinkers taun 1910 , lan Dr. Pj Zoetmulder Sj , taun 1935
iki panjelasan saka Syaikh Nawawi Al Bantani ;
Syekh Nawawi al-Bantani , Syekh Arsyad al-Banjary lan Syekh Nuruddin ar- Raniry sing ngrupakne peletak dasar-dasar pesantren neng Indonesia pun isih nyekel kanthi kuwat ing panganggep alane slametan kepaten kuwi .
“ Shadaqah kanggo mayit, yen padha karo tuntunane syara ’ yaiku dianjurkan , ning ora oleh dikaitkan karo dina sing ka-pitu utawa dina- dina liyane , sementara miturut Syaikh Yusuf, wis mlaku kebiyasaan neng antarane wong-wong sing nglakoake shadaqah kanggo mayit dikaitkan karo dina ke-telu saka kematiane, utawa dina ka- pitu , utawa ke- duapuluh, utawa ke- empatpuluh , utawa ke-satus lan sawise nganti ing kebiyasaane saben taun saka kepatene, padahal bab iku hukume makruh. Mangkono uga makruh hukume menghidangkan panganan sing ditujukan kanggo wong-wong sing ngumpul nang bengine panguburan mayit (biyasa karan al-wahsyah), bahkan haram hukum hukume (yen) biayanya asale saka bandhane anak yatim ”. (an-Nawawy al-Bantani , Nihayah al-Zein fi Irsyad al-Mubtadiien (Beirut: Dar al-Fikr) hal 281) .
Ternyata senada uga diungkapake Muhammad Arsyad al-Banjary ing jero Kitab Sabiel al-Muhtadien (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 87, serta Nurudin al-Raniry ing jero Kitab Shirath al-Mustaqim (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 50)

* muga-muga manfaat – Nodiey Nodi Nodie via fp nahimunkar.com

***

Kepriye Hukume Tahlilan Miturut Imam Syafii?

Benarkah menawa imam Syafi’i sing diklaim dadi madzab sing diieloni dening sebahagian akeh saka umat Islam neng negeri iki nganjurake tahlilan/ slametan kepaten utawa malah nglarang?
Jebule kekegiatan (sejenis) tahlilan iki saka awit jaman sahabat dianggep dadi kegiatan meratap sing dilarang dening Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.
Riwayat saka Jabir bin Abdillah Al Bajaliy, dheweke kandha: ”Kami (yakni para Sahabat kabehe) memandang/nganggep (yakni manut mazhab kami para Sahabat) menawa ngumpul-ngumpul neng panggonan keluarga mayit lan nggawe panganan sawise dikubure mayit iku klebu saka bagian meratap.”
Hadits iki diwetokake saka Imam Ibnu Majah (no 1612) kanthi derajat sing shahih.
Lan an-niyahah/ meratap iki yaiku panggawe jahiliyyah sing dilarang dening Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam;
Diriwayatkan ing jero sahih Muslim saka Abu Hurairah radiyallahu anhu. bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “ana loro prakara sing isih dilakoake dening manusia, sing loro-orone ngrupakne bentuk kekufuran: (yaiku) nyacat keturunan, lan meratapi wong mati”.

Pandangane Imam Syafii.
Nah, kepriye karo pandangane imam Syafii dhewe –sing turene- mayoritas ummat Islam neng Indonesia bermadzab syafi’i, apa piyambake sepakat karo akeh-akehe kaum muslimin iki utawa malah piyambake dhewe sing nglarang kegiatan tahlilan iki?
Ing jero kitab al Umm (I/318), wis ngendika Imam Syafii berkaitan karo bab iki;
“Aku benci al-ma’tam, yaiku ngumpul-ngumpul neng omahe keluarga mayit sanajan ora ana tangisan, amarga sayekti sing mangkono kuwi bakal memperbaharui kesedhihan.”
Dadi, Imam Syafii dhewe ora dhemen karo kegiatan tahlilan sing dilakoake kaya sing akeh dilakoake dening ummat Islam dhewe.

Maca Al Qur’an kanggo wong mati (miturut Imam Syafi’i).
Ing jero Al Qur’an, neng Surat An-Najm ayat 38 lan 39 disebutkan disana;
[53.38] (yaiku) bahwasanya seseorang sing berdosa ora arep mikul dosane wong liya,
[53.39] lan bahwasanya sawong manusia tiada mekoleh kajaba apa sing wis diupayaake dheweke.
Berkaitan karo hal iki mula Al Hafidh Ibnu Katsir menafsirkannya mengkene iki;
“yaiku, padha karo seseorang ora arep mikul dosane wong liya, mangkono uga seseorang ora arep mekoleh ganjaran/pahala kajaba apa-apa sing wis dheweke upayaake kanggo awake dhewe.
Lan saka ayat sing mulia iki, al Imam Asy Syafii bareng para ulama sing mengikutinya wis ngetoake hukum: menawa Al Qur’an ora bakal teka hadhiyah pahalanya marang wong sing wis mati.
Amarga wacan kesebut dudu saka amal lan upadine dekne kabeh. Sarehdene kuwi Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ora tau mensyariatkan umatnya (kanggo menghadhiyahake wacan Qur’an marang wong sing wis mati) lan uga ora tau menggemarkannya utawa menehake pituduh marang dekne kabeh, baik itu dengan nash (dalil sing tegas lan padhang) lan ora uga dengan isyarat (nganti-nganti dalil isyarat wae ora ana).
Lan ora tau dinukil saka seorang Sahabat (menawa dekne kabeh tau ngirim wacan Al Qur’an marang wong sing wis mati).
Yen sakirane panggawe kuwi becik, tentu para Sahabat wis ndhisiki awake dhewe ngamalake bab kuwi.
Lan ing jero masalah peribadatan mung kewates marang dalil, ora oleh ditolehake karo bermacam qiyas lan ra’yu (pikiran).”
Dadine, saka keterangane Ibnu Katsir iki gamblang menawa panggawe maca Al Qur’an karo tujuan pahalanya katur marang si mayit iku ora bakal teka, lan mangkono uga pandangane ulama gedhe sing dianut saka sebahagian gedhe kaum muslimin neng negeri iki.
Sak banjure, geneya mereka kabeh beda karo imame mereka dhewe?
Wallahu a’lam.
Rujukan: hukum Tahlilan (slametan kepaten) manut papat Madzab & hukum maca al Qur’an kanggo Mayit bareng Imam Syafii, karya ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat/ http//aslibumiayuwordpresscom diringkas.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 37.125 kali, 1 untuk hari ini)