ilustrasi

.

JAKARTA – Dasar Yahudi. Sudah diselamatkan dari kehancuran dan kematian oleh Allah lewat Nabi Musa Alaihi Wassalam, tak bersyukur. Puak ‘Yahudi’ yang sangat menderita, dan miskin, diselamatkan oleh Allah dengan dibawa Musa dari kejaran balatentara Fir’aun. Sampai selamat menyeberangi laut Merah, dan tiba di Palestina.

Apa lacur? Justru diantara puak Yahudi itu, ada Samiri yang mengajak berbuat syirik dengan menyembah ‘Sapi’ yang terbuat dari patung emas. Itulah sifat bangsa Yahudi yang tidak bersyukur, dan menyembah ‘Sapi’.

Komunitas yang mengumpulkan kekayaan yang mereka bawa dari Mesir itu, terutama ‘emas’, atas arahan dari Samiri, kemudian membuat patung ‘Sapi’ emas, dan itulah yang menjadi sesembahan mereka. Mereka tidak mau menyembah Allah Rabbul ‘Alamin, tetapi mereka menyimpang dengan menyembah patung ‘Sapi’, sampai hari ini.

Golongan Yahudi sekarang selalu dikaitkan dengan penguasaan dunia, secara ekonomi dan politik, dan selalu dikaitkan dengan kemampuannya ‘menggenggam’ dunia, serta sepertinya tak ada kekuatan yang dapat mengalahkan bangsa yang merasa ‘super’ ini.

Bangsa lainnya hanyalah menjadi ‘ghoyyim’ alias budak Yahudi, dan hidupnya sekarang ini, terus-menerus menjadi sangat sombong. Sangat rasis, penuh kebencian, karena merasa sebagai bangsa ‘pilihan Tuhan’. Bangsa Yahudi menjadi musuh umat manusia.

Sejatinya, bangsa Indonesia diselematkan dan dibebaskan dari seorang ‘tiran’ dan ‘despostis’ Soeharto, yang berkuasa selama tiga puluh tahun,  di tahun l998, namun tidak tampak bersyukur, dan kembali secara politik, bukan semakin mendekatkan diri kepada Rabbul ‘Alamin, tetapi justru semakin jauh dari Rabbnya.

Ini terbukti, bagaimana ketika bangsa ini sudah dapat keluar dan terbebas dari ‘tiran’, kemudian tidak bersyukur, kembali memilih ‘Sapi’ yang bermoncong putih. Sehingga peristwa politik sesudah jatuhnya ‘tiran’ Soeharto, siklus politik kembali kepada kehidupan yang tidak semakin dekat dengan nilai-nilai kebaikan. Ini terbukti pemilu l999, bangsa Indonesia memilih ‘Sapi’, dan bahkan Jakarta seakan menjadi lautan ‘merah’.

Bangsa ini memuja ‘Sapi’ dan menggunakan atribut serba ‘merah’, dan penuh gelegak yang menghentakkan. Seakan-akan menjadi sebuah trace baru bagi bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia selama tiga puluh tahun dipaksa “menyembah” pohon ‘beringin’ oleh ‘tiran’ Soeharto, kemudian beralih kepada “menyembah” ‘Sapi’, sebagai simbol identitas, lambang eksistensi, dan perasaan in-group atau senasib. Dengan menggunakan simbol ‘Sapi’ itulah mereka berharap seperti orang-orang Yahudi, dapat menguasai jagad ini, dan segala bentuk kekuasaan dan eksesorisnya.

Selanjutnya, mereka yang memuja ‘Sapi’ itu, dan menjadikan trah ‘Soekarno’ menjadi sebuah kekuatan yang magis, yaitu Megawati benar-benar mendapatkan saluran emosi, dan kepercayaan bahwa Mega titisan ‘ratu adil’.

Tetapi, semua hanya impian yang kosong melompong, dan tidak pernah terbukti, sepanjang Megawati yang menggantikan Abdurrahman Wahid, sebagai presiden sampai akhir masa jabatannya, Oktober 2004. ‘Wong Cilik’ tetap menderita dan sengsara.

Di era Mega, bukan ‘wong cilik’ yang hidupnya semakin baik, tetapi yang semakin mulya tak lain, yaitu bangsa ‘Asing’ dan ‘A Seng’. Sementara itu kaum pribumi semakin menderita. Mega yang mendapatkan dukungan media, sebagai simbol ‘rakyat kecil’, mengalahkan Soeharto, dan mengalahkan simbol kekuasaan ‘tiran’ berupa ‘pohon beringin’.

Sekarang, begitu gegap gempita rakyat digiring, kembali menyembah  patung ‘Sapi’ yang menjadi simbol identitas, eksistensi, kebanggaan, in-group,  dan dengan  tokohnya bukan Samiri, tetapi ‘Jokowi’ yang dielu-elukan.

Patung emas ‘Sapi’ dan pengganti Mega, yaitu ‘Jokowi’ sudah dinisbatkan sebagai manusia super, titisan ‘dewa’ yang akan menyelamatkan bangsa Indonesia. Dengan seabrek gelar, mulai dari merakyat, jujur, bersih, tidak korup, dan segala puja-puji lainnya.

Seakan tak habis-habis pujian bagi Jokowi. Semua rekayasa itu dijalankan oleh media sekuler, liberal, dan kristen yang dibiayai oleh jaringan konglomerat cina dan yahudi.

Bangsa Indonesia memang tidak pernah belajar dari sejarah kehidupan. Selalu berulang dan berulang lagi, tentang peristiwa yang  penuh dengan muslihat, tipu-daya, dan segala kemunafikan, dan melihat ‘Sapi’ dan ‘Jokowi’ sebagai juru selamat masa depan Indonesia.

Mereka akan kaget begitu bangun dari mimpi. Bangsa Indonesia hidupnya sudah digantungkan dan diserahkan kepada ‘Sapi’ dan ‘Jokowi’. Nanti jangan salahkan siapa-siapa ketika ternyata kecewa lagi bahkan sampai mlongo. Wallahu a’lam.

(voa-islam.com) Sabtu, 4 Jumadil Akhir 1435 H / 5 April 2014 06:39 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.740 kali, 1 untuk hari ini)