.

 

Syiah mulanya hanyalah sebuah kelompok kecil yang iseng, dengan bersuara sumbang di tengah mayoritas “SUNNI”. Awalnya lahir dari kandungan mimpi seorang Yahudi, yang tidak rela Islam berkembang dan menguasai dunia. Sebagaimana disebutkan dalam Quran : “Dendam kusumat kebencian Yahudi itu tanpa tanding” kecuali menghendaki agama Islam tumbang, tidak meninggalkan jejak keimanan, melainkan bila semua muslim melepaskan keimanannya.

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰتَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. [QS: Al-Baqarah Ayat: 120 ]

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ  وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (QS: Al-Maidah Ayat: 82)

Permusuhan Yahudi terhadap Islam menonjol di Madinah, pada saat Islam sudah mengakar di tengah masyarakat Madinah. Awalnya memang bersatu, tetapi karena terlalu sering terjadi pengkhianatan, akhirnya Islam mengambil keputusan, “mengusir Yahudi dari tanah Madinah”.

Dendam Yahudi tumbuh subur, mengembang dan merebak di kalangan bangsa yahudi, memicu kebencian ter-asah dalam keberagaman dendam yahudi, dilampiaskan dalam bentuk tipu daya terhadap Islam. Hingga terjadi kesenjangan dan permusuhan yang berbuntut rincian kejahatan Yahudi tak bisa dibendung. Kebangkitan dan kemenangan Islam yang menjangkau luas alam Arab, merupakan bagian pemicu dendam Yahudi makin tidak senang dengan keberhasilan Islam.

Terlebih perjuangan Islam selalu membuahkan kemenangan di bawah kepemimpinan khilafah, akses dakwah Islam tak lagi bisa dibendung oleh kelompok manapun, tentu tidak lepas dari sorotan Yahudi yang terpasung dalam kebencian. Mau tidak mau merangsang yahudi merancang berbagai bentuk makar terhadap Islam, dengan satu tujuan melahirkan sikap alergi umatnya terhadap Islam.

Antaranya munculnya seorang talbis iblis dari sosok Yahudi, Abdullah bin Saba’, telah memberikan warna terhadap sebagian kelompok Islam dengan buah pemikirannya, mencetuskan rasa solidaritas anti ajaran Islam, dengan merumuskan ajaran ghuluw,  ajaran berlebihan dalam menokohkan seorang ahlul bait, bahkan lebih dari sekedar wali atau nabi. Abdullah Ibnu Saba’ perintis jalan sesat, menyeret kelompok awam dari kalangan bangsa Arab turut bersetru, bersuara sumbang dengan merekayasa  sebuah keyakinan baru, meletakkan Ali bin Abi Thalib dalam sebuah wacana ketuhanan. Abdullah bin Saba’ berhasil membawa pengikutnya mengikuti jejaknya, Bin Saba’ sebagai actor intelektual utama, pemeran awal munculnya legenda “Syiah dan Ghuluw terhadap ahlul bait” memang merupakan andil besar dalam pembangunan Syiah semesta.

Dapat dipastikan kalau Bin Saba’ adalah otak peristiwa penistaan syiah terhadap Sahabat, terlebih menelaah sejarah Abu Bakar dan Umar , dipastikan seorang Bin Saba’ andilnya cukup besar dalam penggunaan Persia [Iran] sebagai ladang pembentukan karakter Syiah. Meskipun gerakan makar Bin Saba’ lahir jauh setelah usainya 3 khilafah, Abu Bakar, Umar dan Usman. Kehadirannya di jaman Ali telah menjadi embrio dari kelahiran Syiah dalam segala bentuk dan wujudnya. Apapun jenisnya Syiah yang dilahirkan, pada intinya setali tiga uang dalam pelaksanaan kemunkaran teologi syiah dan ritual ibadahnya, selain menyeret agama ke-ranah politik, mempersoalkan politiknya, bukan ajarannya. Suatu politik [Taqiyah] yang diagungkan Syiah guna mencapai tujuan, sesuai target yang dibuat sebagai calup yang rapi, seolah“agama politik [taqiyah] “ Syiah bagian dari agama yang mesti diunggulkan dari pada teologi dan ibadah.

Wilayatul hukamah [sistem pemerintahan] diorbitkan Syiah sebagai obyek menata keyakinan adalah biasa, merupakan suatu sikap Syiah yang memang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang terarah.

Di lain sisi,“Persia” bukan tanpa dendam, setelah kekalahannya menghadapi Pasukan Umar bin Khatthab, sudah pasti Persia tidak bisa tinggal diam dengan kekalahan itu, karena Persia awalnya sangat lama memegang kekuatan ritual ketuhanan Persia lewat ambisi para Kaisar Persia. Ribuan tahun Persia merajai dunia kesesatan dengan ketuhanan  Mitras yang memiliki 12 Imam Suci sebagaimana yang dianut Syiah sekarang, hanya saja nama nama Imam imam Syiah sekarang  menggunakan nama oplosan ahlul bait, sebagai bentuk jajahan keyakinan, karena tidaklah mungkin Persia menggunakan kekuatan senjata untuk merebut kembali Persia, melainkan dengan merobah haluan cara beragama, yang di kenal dengan sebutan “SYIAH”

Written by Zulkarnain El Madury

[bagian pertama]

***

Antara Yahudi Persia [Iran] Dan Ibnu Saba [Dari Seminar LPMP Jakarta Selatan bag.2]

Written by Zulkarnain El Madury

Kedekatan Persia dan Yahudi merupakan satu pohon dalam membangun paganisme versi yahudi. Meng-unggulkan binatang dan manusia diatas manusia lainnya adalah pekerjaan Yahudi. Diantara salah satu pecahan bani Israel memang terdapat perangai yahudi,  itu pernah ditampilkan seorang “Samir”, menggantikan Tuhannya Musa dengan “ Anak Sapi”, yang diikuti bani Israel lainnya dalam satu paduan paganis, meng-agungkan “anak sapi” sebagai anak Tuhan. “Teologi Yahudi memang tak bisa terlepas dari kepentingan kelompoknya, sekalipun mereka tahu “Tuhan Allah” hanyalah satu satunya Tuhan, namun pola pikir Yahudi sering menggurui tuhan, seolah tuhan adalah barang mainan, sebagaimana dialog dialog tentang Yahudi dan Tuhan ini diberitakan Quran. “Fir’aun atau “haman”, keduanya cikal bakal kesesatan Yahudi yang kaya dengan karya kesombongan, misalnya “menyuruh “Haman” untuk membuat menara, agar bisa memanah Tuhan.

Tak heran kalau Ibnu Saba’ melahirkan sikap sikap antipati terhadap teologi Islam, bahkan didukung oleh kelompoknya dari Khawarij Syiah yang menentang keputusan Ali , agar Ibnu Saba’ dibakar saja oleh sebab perkataan “bahwa Ali adalah Tuhan”. Sebagaimana kisah berikut ini :

“Amirul Mukminin Ali radiyallahu ‘anhu ketika mendengar perkataan Abdullah bin Saba’ ini tentang dirinya sangat marah, lalu ia memanggil Abdullah bin Saba’. Abdullah bin Saba’ mengaku dengan mengatakan; ”Benar, engkau adalah Allah.” Amirul Mukminin berkata, “Kamu sudah dikuasai syetan. Tinggalkanlah ajaranmu dan bertaubatlah wahai orang yang celaka.” Setelah itu Ali radiyallahu ‘anhu memerintahkan agar Abdullah bin Saba’ untuk dibakar, namun kaum syiah (belakangan disebut juga Rafidhah) bersatu dalam menolak keputusan Ali dan mengatakan agar Abdullah bin Saba’ dibuang saja. Karena suhu politik pada masa itu masih kacau, Abdullah bin Saba’ diasingkan ke Mada’in dan diperintahkan untuk tidak menyiarkan ajarannya. Setelah itu Amirul Mukminin Ali radiyallahu ‘anhu mengambil tindakan keras terhadap orang yang masih menyiarkan ajaran Saba’iyah ini. Sebagian dari mereka ada yang diusir, sebagian lagi ada yang dibunuh dengan pedang atau dengan dibakar hidup-hidup. Di hadapan pengikutnya Amirul Mukminin Ali radiyallahu ‘anhu menerangkan bahwa ia hanyalah seorang hamba Allah yang taat kepada Tuhannya. Maka barangsiapa yang diketahui mereka adalah pengikut Saba’iyah maka mereka akan dijatuhi dengan hukuman bakar.  Dalam khotbahnya Imam Ali berkata, “Mengapa ada orang-orang yang memperkatakan terhadap dua orang pemuka Quraisy dan bapak kaum Muslimin, hal-hal yang saya sendiri jauh dari pandangan serta berlepas diri dari apa yang mereka katakan, dan aku akan menghukum orang yang memperkatakannya. Demi Allah yang menumbuhkan biji dan menciptakan jiwa, tidak mencintai mereka kecuali orang mukmin yang takwa, dan tidak membenci mereka kecuali orang durhaka dan rendah moral …”

Berhubung dengan sikap Ali radiyallahu ‘anhu yang keras terhadap golongan Saba’iyah ini, maka para pengikut Saba’iyah terpaksa menyembunyikan keyakinan mereka, dan mulailah mereka menyiarkan ajaran mereka dengan cara sembunyi-sembunyi dengan memakai kedok “At-Taqiyah”. Namun setelah Ali radiyallahu ‘anhu terbunuh oleh Abdurrahman Al Muljam, maka Abdullah bin Saba’ keluar dari Madain dan mulai menyebarkan ajarannya bahkan mereka menambah kesesatannya dengan mengatakan bahwa Ali tidak mati dan tidak dibunuh. Ia tidak akan mati sehingga ia menggiring bangsa Arab dengan tongkatnya dan memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya penuh dengan kezaliman.”

Saba’iyah, pengikut Ibnu Saba’ terdiri  dari para pengikut Ali yang membelot [dari kalangan syiah rafidhi].  Mereka sangat spekulatif dalam menumbangkan pemikiran tentang “sahabat nabi”, sikap penolakan dan hujatan “sabaiyah” memang embrio Yahudi yang tak bisa didustakan Sejarah. “Ibnu Saba’” bukan tokoh fiktif sebagaimana pendapat para pioner Syiah yang berusaha menghilangkan kebenaran sejarah, karena memang malu, bintang pujaan mereka adalah “yahudi laknatullah”. “Ibnu Saba’” sebagai biang kerok lahirnya Syiah Ghulat dan gagasannya melaknat para sahabat Nabi, tentu merupakan pahlawan bagi kelompok Syiah.

Dalam kisah tersebut, syiah mengambil sikap membangkang terhadap Ali Radhiallahu’anhu, mendukung gagasan gila Ibnu Saba’ sebagai dedengkut Syiah yang menempatkan kedudukan Ali sebagai Tuhan.  Perintah Ali yang menjatuhkan vonis Hukuman mati atas Ibnu Saba’, tidak bisa dilaksanakan Ali sebagai nakoda khilafah, lalu bagaimana Ibnu Saba’ menyebut dirinya Tuhan, apakah gaya Ibnu Saba’ itu hanya upaya memicu konflik internal wilayah kepemimpinan Ali, agar tidak berlangsung lama kendali kekuasaannya. Syiah yang mengambil keuntungan dengan perpecahan di tubuh khilafah Ali mensiasati untuk membunuh Ali dengan mengundang pembunuh Abdurrahman Al Muljam [Khawarij] yang berhasil menyusup ke pemerintahan Ali Radhiallahu’anhu.

Ibnu Saba’ sendiri tentu bisa dikategorikan sebagai salah satu perancang pembunuhan terhadap Ali dengan berkedok pemuja Ali [taqiyah pertama diajarkan Ibnu saba’] juga termasuk diantara orang yang berkepentingan dengan kehancuran Islam, meskipun tidak menyatakan hasratnya di depan para pengekornya kalangan Syiah Ghulat tersebut.

Hal itu bisa diyakinkan dengan retorika Syiah yang menolak “hukuman bakar” atas ibnu Saba’. Menjadi bukti utama bahwa kematian Ali dilakukan oleh orang orang yang berkedok cinta ahlul bait ketika itu. Sebab Ali radhiallah’anhu tidak pernah mengajarkan ta’ashub atau menyuruh umatnya dengan bersikap otoriter untuk menyembahnya. Sikap berlebihan Ibnu Saba’ ditunjukkan kepada Ali adalah diantara salah satu bukti talbis iblis , yang menyetarakan Ali dengan Tuhan. Syiah pembangkang vonis hukum bakar terhadap Ibnu Saba’ merupakan cerminan sikap Syiah yang antagonis, pemicu instabilitas Negara,  yang mengundang petaka, Ali harus mati mengenaskan di tangan orang orang Syiah juga, karena scenario itu berjalan alot sejak munculnya Ibnu Saba’ dan bala tentaranya dari Syiah yang tidak patuh dengan perintah Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu.

Miniatur Syiah itu adalah Ibnu Saba’, yang melahirkan kontribusi pemikiran sabaiyah yang hingga sekarang terus berlangsung menjadi latenisme Iran terhadap Negara Negara Islam.

http://koepas.org/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 851 kali, 1 untuk hari ini)