Perkembangan Kristen terpesat di dunia ada di Indonesia. 140 persen selama lima tahun. dan pemurtadan besar-besaran Muslim ada di negara Muslim terbesar di dunia, itulah Indonesia. Dua juta pertahun murtad!” .

Pernyataan tersebut diucapkan Brigjen Pol (purn) Anton Tabah, anggota Komisi Hukum dan HAM Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, saat menghadiri soft launching Badan Koordinasi Penanggulangan Penodaan Agama (Bakorpa) di Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (15/4/2016).

Menurut Anton presentase penduduk Muslim di negri kita tercinta saat ini mengalami penurunan drastis. Menurut data yang dilansir, Muslim Indonesia saat ini hanya tinggal 73 persen. Bandingkan dengan tahun 1950 yang sebanyak 99 persen, 89 persen paska lengsernya Suharto dan terus menurun  sejak adanya reformasi.

http://www.nugarislurus.com/2016/04/polemik-temuan-data-2-juta-muslimin-indonesia-murtad-setiap-tahun.html

Pakar Kristenisasi kenamaan, ustad Munzir Situmorang, menegaskan kabupaten Sukabumi, Cianjur,  Ciamis dan sekitarnya sejak beberapa tahun belakangan telah menjadi target kristenisasi para misionaris. Di kabupaten Cianjur, tak jauh dari tempat wisata Taman Bunga Cipanas, berdiri sebuah tempat wisata ziarah Kristen terbesar di Asia tenggara. Di tempat ini ratusan pasien setiap hari datang untuk berobat gratis untuk kemudian dimurtadkan.

Sedangkan untuk Sumatra, ustad Munzir mendapat informasi bahwa Lampung, Jambi, Bengkulu dan Palembang  adalah daerah yang masuk target pemurtadan. Bahkan Aceh yang selama ini dikenal dengan julukan Serambi Mekah dan Sumbar yang dikenal sebagai gudangnya para ulama, tak luput dari sasaran kristenisasi ! Naudzubillah min dzalik.

Ustad asli Medan ini juga mengingatkan betapa para pemuda Muslim di negri mayoritas Muslim ini amat sangat rentan di murtadkan. Keimanan yang tipis dan pengetahuan keislaman minim adalah penyebab utamanya.

“Berapa banyak lulusan S2 luar negri namun jadi imam shalat jenazah orang-tuanya saja tidak mampu. Bahkan tidak sedikit shalat Subuh saja terlewat. Ironisnya, orang-tuanya tidak menganggap sebagai masalah serius !”, keluh ustad Munzir.

“Jangankan shalat Subuh berjamaah, cobalah tengok sekeliling bapak-ibu sekalian, adakah anak muda di ruangan ini ???  “, tanyanya lagi, getir.

Kegelisahan ustad Munzir tampaknya sangat beralasan. Benteng keimanan terkuat adalah keluarga. Sekalipun miskin, iming-iming bantuan keuangan maupun pelayanan kesehatan gratis yang menjadi ujung tombak misionaris, tapi bila keimanan kuat tentu tak mudah pemurtadan terjadi. Ironisnya, pemurtadan tak jarang dilakukan oleh umat Islam sendiri !

Bahkan belakangan muncul pula ulama-ulama NU nyleneh yang kerap membuat pernyataan menyimpang, seperti yang diakukan Said Aqil Siraj, yang belakangan terindikasi beraliansi dengan Syiah. Terakhir ia menyatakan bahwa pemimpin kafir yang baik lebih utama dari pada seorang Muslim tapi dzalim. Untuk itu ia nekad mengajak dan mempromosikan Hari Tanoe kepada para santri suatu pesantren. Di tempat tersebut konglomerat non Muslim sekaligus politikus yang dikenal kerap berpindah dari satu partai ke partai lain tersebut, disambut bak seorang ulama besar. Para santri berebut bersalaman dan mencium tangannya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim”. (Terjemah QS. Al-Maidah (5):51).

Ayat di atas menunjukkan bahwa dzalim menurut kriteria Allah swt adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Jadi bagaimana mungkin seorang Said Aqil bisa mengatakan hal yang bertolak belakang. Anehnya ia bisa berhasil kembali terpilih sebagai ketua umum PBNU meski banyak tokoh NU menolaknya. Hingga akhirnya lahir NU garis lurus untuk menunjukkan bahwa ada NU yang tidak lurus alias melenceng.

Belum lagi tokoh-tokoh JIL ( Jaringan Islam Liberal) yang dengan ringannya suka menafsirkan ayat-ayat suci Al-Quran sesukanya tanpa mengacu hadist shoheh, dan seenaknya menyamakan semua agama adalah sama. Dengan lihainya mereka bertutur bahwa Injil maupun Al-Quran sama-sama diturunkan oleh  Sang Pencipta, Allah Azza wa Jala, Tuhannya semua orang, tanpa menerangkan terjadinya penyimpangan terhadap kitab yang dibawa nabi Isa as tersebut. Tentu bagi Muslim yang cetek ilmunya terdengar mengesankan, sekaligus menyesatkan!

Ini makin membuktikan bahwa JIL dan Syiah memang bukan Islam, dan sedang berusaha menghancurkan Islam dari dalam.

Menjadi pertanyaan besar, mungkinkah JIL dan Syiah adalah bagian dari “ The Grand Design New World Order Dajjal Si Mata Satu”?? Seperti juga penyebar isu Islam adalah teroris, penggagas ISIS yang jauh dari Islam dll, yang menjadi penyebab lahirnya Islamophobia akut. Ironisnya, korbannya bukan hanya non Muslim yang tidak pernah mengenal ajaran Islam tapi juga kaum Muslimin itu sendiri. Yaitu dengan munculnya rasa tidak percaya diri terhadap ke-Islam-annya … ?

Ntahlah, yang pasti, Kristenisasi bukan isapan jempol belaka. Para misionaris tidak main-main dengan “ Gerakan Penuaian Jiwa dan Transformasi 2005-2020”, sebuah program kristenisasi yang terdiri atas W10/40  dan W4/14. W10/40 atau Window 10/40 adalah sebuah kode untuk kawasan yang terbentang dari 10 sampai 40 derajat Lintang Utara garis Khatulistiwa. Itulah negara-negara dari Afrika Barat sampai Asia Timur. Negara-negara  mayoritas berpenduduknya Muslim ini adalah sasaran misionaris untuk pemurtadan.

Sedangkan W4/14 atau Window/14 adalah rentang anak usia 4 hingga 14 tahun yang disasar misionaris untuk   digarap menjadi ujung tombak Kristenisasi. Mengapa 4 hingga 14 ? Karena itu adalah usia rentan dimana anak mudah diiming-imingi “kesenangan sesaat”. Diantaranya melalui hiburan seperti game online, mainan boneka, permen dan aneka permainan lain. Apalagi dengan kondisi saat ini dimana kedua orang-tua sibuk bekerja mencari nafkah dan mengejar karir.

Mereka menargetkan kedua program tersebut sepanjang tahun 2005-2020. Dapat dibayangkan bila sekarang saja, yaitu tahun 2016, mereka telah berhasil memurtadkan 2 juta Muslim pertahun, dan membuat persentase Muslim merosot hingga menjadi 73 persen, bagaimana pada tahun 2020 nanti ???  Alangkah mengerikannya !! Sementara kita tahu di Barat masyarakat, sebagian besar ilmuwannya pula, justru berbondong-bondong memeluk Islam.

Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan Junaidi Salat, pemeran film tahun 70-an “ Ali Topan anak jalanan” yang menikahi gadis Batak kemudian murtad dan kini menjadi pendeta. Dengan lancang ia mengatakan bahwa sebagian besar orang Islam itu bodoh hIngga dengan mudahnya bisa dimurtadkan.  Pendeta ini menyatakan bahwa gereja tempat ia berdakwah, ditargetkan menjadi gereja yang diisi seluruhnya oleh jamaah mantan Muslim.

“Mantan Muslim yang jadi jamaah saya awalnya hanya 5 orang, Sekarang sudah mencapai ratusan”, aku pendeta yang suka memalsukan ayat-ayat Quran itu, dengan bangga.

http://www.kabarmakkah.com/2016/04/inna-lillahi-pdt-junaedi-palsukan-ayat.html

https://www.youtube.com/watch?v=AOnFr1SJ1PM

Video diatas memperlihatkan bagaimana seorang murtad memurtadkan teman dan keluarganya sendiri tanpa dalil yang jelas. Naudzu’billah min dzalik …

Berikut adalah ayat 30 – 36 surat Maryam yang menunjukkan Isa as hanyalah seorang nabi seperti juga nabi Muhammad saw, nabi Musa as, nabi Ibrahim as dll.

Berkata Isa:

“Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya:

“Jadilah”, maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus”. 

Yang juga memprihatinkan adalah peran pemerintah yang terkesan tidak peduli terhadap fenomena ini. Salah satu contohnya adalah Fauzi Bowo. Mantan gubernur  DKI ini di akhir jabatannya malah meletakkan batu pertama pembangunan sebuah gereja raksasa seluas 6000m2 dengan kapasitas 6000 jamaah. Padahal penghuni area yang meliputi 5 kelurahan di Cipayung Jakarta Timur tersebut bukan mayoritas Kristen. Tentangan dari warga sekitar yang masih terus terjadi hingga detik ini sama sekali tidak digubris.

Bandingkan dengan apa yang terjadi di Papua ketika kaum Muslimin ingin membangun rumah ibadah meski hanya sekedar mushola, bukan masjid. Dengan beringas dengan celurit di tangan warga menghancurkan dan membakar mushola sederhana tersebut. Tidak hanya itu, bahkan Persekutuan Gereja resmi menolak adanya pembangungan masjid di Papua. Namun adakah media main stream yang menyoroti hal tersebut ? Dimana suara Komnas  HAM??

http://islamedia.id/komnas-ham-membisu-melihat-umat-islam-papua-dilarang-membangun-masjid/

Mungkin inilah saatnya para ulama dan pendakwah harus bersatu, menjauhkan perbedaan dan merekatkan persamaan. Bukan lagi saatnya mempermasalahkan perbedaan kecil apalagi hanya di cabang. Aqidah umat harus diperkuat. Dakwah harus dari segala arah, disesuaikan dengan yang didakwahi. Anak-anak muda sudah waktunya mendapat perhatian khusus, didakwahi dengan materi dan cara yang sesuai dengan perkembangan jiwa dan kebutuhan mereka. Merekalah yang kelak akan  meneruskan perjuangan dakwah yang makin lama makin berat.

Yang juga patut diingat, Islam bukan melulu agama langit yang mengabaikan kesejahteraan kehidupan dunia. Artinya zakat infak sedekah harus benar-benar mengena sasaran yaitu menghilangkan kemiskinan. Karena kemiskinan beresiko melunturkan keimanan. Oleh karenanya masjid harus dikembalikan fungsinya bukan sekedar sebagai tempat shalat tapi juga sebagai pelayanan bantuan rakyat miskin, baik untuk bantuan keuangan maupun kesehatan.

Kristenisasi lewat perut yaitu mereka yang miskin harta dan aqidah, layanan kesehatan dan anak-anak muda yang lemah iman memerlukan perlawanan dan persatuan dari seluruh komponen Islam. Islamphobia harus segera diatasi agar rasa tidak percaya diri kaum Muslimin yang imannya sejak awal memang sudah tipis tidak makin menjadi tipis bahkan pudar dan hilang.

Untuk itu diperlukan tokoh panutan demi mengembalikan rasa percaya diri mereka. Para ulama harus dapat meyakinkan umatnya perlunya mempelajari dan memperdalam ilmu agama, tidak hanya puas sebagai Islam terlahir. Pentingnya ber-akhlak mulia, menjaga silaturahmi, hormat kepada orang-tua dll.

Akhir kata, semoga Allah swt ridho menjaga kita dan keluarga kita dari fitnah akhir zaman yang sungguh mengerikan tersebut. Semoga Allah Azza wa Jalla memberi kita kekuatan dan kesabaran di tengah keterasingan  seperti terasingnya para sahabat 14 abad silam, aamiin Allahumma aamiin …

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 15 Mei 2016.

Vien AM.

Sumber: vienmuhadi.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 7.941 kali, 1 untuk hari ini)