Siapa Bilang Jokowi Berhasil di Infrastruktur? Ini Data-Data Kegagalannya

Oleh: Muchtar Effendi Harahap*

Awal berkuasa, Presiden Jokowi dgn arogan mempromosikan dirinya akan membangun infrastruktur nasional. Ia mengklaim, Rezim2 sebelumnya gagal membangun infratruktur nasional sehingga kondisi infrastruktur saat ini lemah dan jauh tertinggal dibandingkan negara2 lain. Jokowi mengkritisi kondisi infrastruktur nasional sepeninggalan Rezim SBY antara lain:

Infrastruktur nasional tertinggal dibandingkan negara tetangga

Puluhan tahun, pembangunan Indonesia memang terhambat oleh minimnya infrastruktur; jalan sangat kurang, Bandara minim, pembangkit listrik tidak memadai, pelabuhan laut relatif sedikit.
Akibatnya, biaya logistik Indonesia menjadi amat mahal, bahkan menjadi salah satu tertinggi di dunia. Daya saing Indonesia menjadi rendah.

Bagi Jokowi, pembangunan infrastruktur merupakan salah satu program gencar dilaksanakan. Pembangunan infrastruktur dianggap akan meningkatkan konektivitas dan merangsang daya saing antardaerah di seluruh Indonesia. Dalam beberapa pidatonya, Jokowi mengatakan, program ini bagian dari implementasi mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat. Konektivitas infrastruktur dilakukan untuk mempermudah mobilitas masyarakat dalam bekerja dan berusaha. Jokowi berpandangan, selain untuk pemerataan distribusi barang/jasa, pembangunan ini juga akan meningkatkan produktivitas masyarakat dan daya saing. Bagaimana realisasi program infrastruktur Jokowi ini ?

Belakangan ini kalangan pendukung buta (data, fakta dan angka) Rezim Jokowi gencar membela dan mencitrakan Jokowi berhasil membangun infrastruktur. Mereka tanpa dasar metode iptek, standard kriteria evaluasi kinerja, cuma dgn asumsi langsung menyimpulkan, Jokowi sukses bangun infratruktur. Upaya pencitraan ini terus menerus mereka lakukan. Kita di media terlalu sering membaca pembenaran Jokowi, pemerataan dan penghilangan kesenjangan ekonomi antar-daerah menjadi dua alasan mendasar pelaksanaan pembangunan infrastruktur. Pd 2018 ini pembenaran itu mulai sirna, muncul pembenaran baru yakni Pembangunan SDM meski tanpa Roadmap. Secara tak langsung Jokowi mengakui kegagalan dan banyak program/proyek terpaksa “mangkrak” karena gagal menyediakan dana.

Tetapi, betulkah Jokowi berhasil ? Tidak juga. Bahkan, bisa. dinilai, secara holistik gagal total urus pembangunan infrastruktur. Secara kualitatif, penilaian kegagalan Jokowi ini ditandai sbb;

1. CNN Indonesia membeberkan, LIPI menyatakan, pembangunan infrastruktur kelistrikan, air bersih, dan transportasi publik era Jokowi buruk. Kesimpulan ini didapatkan dari hasil survei terhadap 145 ahli di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan.

2. Infrastruktur harus dibangun, kita sudah tak ada perdebatan soal itu. Tapi, persoalannya adalah pembangunan harus sesuai dengan kapasitas duit dipunya,” ungkap Mantan Menkeu Chatib Basri, detikFinance, (30/10/2017).

3. Rezim Jokowi akhirnya mengakui pembangunan Infrastruktur sebabkan Indonesia kriris. Rezim ingin menunda pembangunan proyek infrastruktur.

Dalam dokumen Nawacita butir ke tiga Jokowi berjanji, akan membangun Indonesia dari pinggiran selama ini tertinggal dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Pembangunan tidak hanya berorientasi ke wilayah Jawa atau Jawa-sentris, tapi juga Kalimantan, Papua, Nusa Tenggara Timur, dan lainnya.

Setelah 4 tahun berkuasa, ternyata rezim Jokowi kembali ke Jawa Sentris. Infrastruktur lebih banyak dibangun di Pulau Jawa. Konsep pinggiran kepung kota, hanya ada dalam mimpi Jokowi saat kampanye dan awal bekuasa. No implementasi!

Kegagalan Jokowi di bidang infrastruktur nasional sbb:

Kegagalan Jokowi di bidang “Tol Laut”

Jokowi menargetkan akan membangun 24 lokasi pelabuhan laut (RPJMN 2015-2019). Sudah empat tahun jadi Presiden, Jokowi belum juga bisa mencapai bahkan hanya separoh target capaian. Bahkan, pidato Jokowi 2 tahun terakhir terbebas dari program Tol Laut ini.

Juga target pengurangan atau penurunan harga barang2 kebutuhan pokok di daerah2 terpencil Timur Indonesia dan Indonesia Barat belum dapat dibuktikan Rezim Jokowi. Tidak ada bahkan pengaruh kebijakan Tol Laut terhadap penurunan harga barang2 seperti di Maluku Utara.

Kegagalan Jokowi di bidang perumahan rakyat

Jokowi buat target capaian pertahun pembangunan perumahan rakyat 1.000.000 unit pertahun atau 5.000.000 unit lima tahun. Faktanya? Ia gagal terus setiap tahun mencapai target. Hanya mampu mencapai sekitar 60 % pertahun.

Sumber data KemenPUPR menunjukkan, per 22 Desember 2015, realisasi pembangunan rumah MBR hanya 667.668 unit, terdiri dari 353.120 unit baru, 76.755 unit renovasi rumah. Rumah Non MBR tercapai 237.813 unit. Total realisasi meleset jauh dari target utk MBR 603.516 unit dan 396.484 unit utk Non MBR. Pd 2016, KemenPUPR mengklaim, telah merealisasikan program sejuta rumah dgn capaian 805.169 unit. Artinya, gagal mencapai target sejuta rumah.Pd tahun ketiga, hingga awal Desember 2017, realisasi program sejuta rumah sebanyak 765.120 unit, didominasi 619.868 unit utk MBR (81%) dan 145.252 unit utk Non MBR (19%).

Di lain pihak, Dirjen Penyediaan Perumahan KemenPUPR, Abdul Hamid, sebutkan capaian tahun 2015 hanya 699.770 unit; 2016 sebanyak 805.169 unit; 2017 sebanyak 906.169 unit. Tetapi, semua angka capaian masih di bawah target (1 juta unit per tahun). Pada 2018 ini capaian target masih sekItar 60 %. Tentu saja pd 2019 tak mungkin bisa lebih baik capaian mengingat Rezim Jokowi sibuk urus perolehan suara Pilpres.

Terakhir data KemenPUPR di medsos mencatat, capaian 2015 sebanyak 699.769 unit, 2016 sebanyak 867.950 unit, 2017 sebanyak 902.000 unit. Tetap saja gagal nersih target capaian.

Kegagalan di bidang Sumber Daya Air (SDA)

Jokowi masih alami kegagalan di bidang SDA. Sudah 4 tahun, Jokowi masih belum bisa membuktikan prestasi atau keberhasilan meraih target capaian baik waduk, jaringan irigasi maupun bendungan. Sekalipun secara vokal, Rezim Jokowi bisa bilang optimis, akan berhasil, tetapi 4 tahun pengalaman selama ini membuat kita percaya, Rezim Jokowi takkan sukses dengan proyek2 infrastuktur SDA hingga berakhir 2019. Hingga tahun 2017, hanya ada 43 bendungan dibangun.

Kegagalan di bidang “jalan dan jembatan”

Finalisasi pembangunan Jalan Tol selama ini adalah kelanjutan dari pembangunan era SBY. Di Sumatera misalnya tidak ada Jalan Tol telah selesai tahap konstruksi (operasional) hasil prakarsa era Jokowi. Hanya baru tahap kegiatan pra-konstruksi. Sisa waktu Jokowi berkuasa hanya 1 tahun lagi takkan mungkin berhasil mencapai sasaran dan target. Jika dibandingkan era SBY periode kedua, jelas kondisi kinerja Jokowi masih jauh di bawah SBY urus pembangunan minfrastruktur jalan dan jembatan nasional, termasuk Jalan Tol.

Data versi Kantor Staf Presiden (KSP), (Kompas.com, 20-10-2018) mencatat, setelah 4 tahun Jokowi jadi Presiden, terbangun Jalan 3.432 Km, Jalan Tol 947 Km, dan Jembatan 39,8 Km, Capaian dominan di Pulau Jawa.

Kegagalan di bidang “perkeretaapian”

Sudah 4 tahun berkuasa, Jokowi belum mampu merealisasikan target capaian. terutama di luar Pulau Jawa. Satu parameter pembanding, era Jokowi sudah lebih 4 tahun baru membangun 388 Km jalur KA (Kereta Api), sementara era SBY untuk 5 tahun mencapai 922 KM. Tidaklah berlebihan jika ada penilaian, kondisi kinerja Jokowi urus pembangunan infrastruktur perkeretaapian lebih buruk dan masih gagal mencapai target capaian. Kalaupun ada finalisasi pembangunan jalur KA (operasional), akhirnya bukan di luar Pulau Jawa seperti di Kalimantan, Sulawesi atau Sumatera, tetapi masih saja di Pulau Jawa seperti LRT. Di Palembang memang telah beroperasi LRT tetapi hal itu untuk kepentingan acara Asian Games di Kota itu. Kampanye Rezim Jokowi membangun dari daerah pinggiran, tidak menjadi realitas obyektif.

Kegagalan di bidang “perhubungan udara”

Era SBY jauh lebih mampu membangun Bandara. Ada 28 Bandara dibangun. Target pembangunan Bandara era Jokowi selama 5 tahun hanya 15 Bandara (sekitar 50% target era SBY). Meskipun lebih sedikit target era Jokowi, masih terseot-seot utk merealisasikan target tsb.

Kegagalan di bidang “perhubungan laut”

Rezim Jokowi menargetkan pembangunan 306 lokasi pelabuhan. Pada 2017, Rezim Jokowi baru mampu membangun 37 lokasi pelabuhan baru. Sementara, 2015-2017, telah membangun 105 lokasi pelabuhan. Maknanya, Rezim Jokowi selama 3 (tiga) tahun baru mampu merealisasikan target 306 lokasi pelabuhan atau hanya sekitar 50%. Tahun keempat tidak terbukti penambahan signifikan. Masih 50% lokasi pelabuhan harus terbangun. Sangat mustahil dapat dipenuhi.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan, Rezim Jokowi telah mengalami kegagalan-kegagalan di bidang infrastruktur. Pengalaman empat tahun ini dari indikator infrastruktur, Jokowi tidak layak lanjut sebagai Presiden RI. Ia Presiden gagal !

Lebih tragis lagi, pd Juli 2018 Rezim Jokowi akhirnya berencana menghentikan beberapa proyek infrastruktur. Langkah ini diambil karena pemerintah ingin mengurangi impor material. Selama ini neraca perdagangan Indonesia masih defisit karena nilai impor lebih besar dibandingkan ekspor. Rencana ini diperkuat realitas obyektif ketidakmampuan memenuhi pembiayaan infrastruktur yang telah direncanakan.

Hal ini memperkuat penilaian, pd tahun 2018 Jokowi juga gagal dan berkinerja buruk di bidang infrastruktur nasional. Tentu saja, dari sisi indikator urusan pembangunan infrastruktur nasional, kondisi kinerja buruk Jokowi dapat mendukung penilaian publik, Jokowi “tak layak” lanjut jadi Presiden RI.

Selama 4 tahun ini Presiden Jokowi berkinerja buruk dan gagal mencapai target di bidang infrastruktur. Beragam faktor penyebabnya.

Kini memasuki tahun ke-lima (tahun terakhir memegang kekuasaan negara, 2019), Rezim Jokowi mulai berdalih atau berkilah dari persepsi negatif Masyarakat bahwa Jokowi telah gagal urus infratruktur. Lalu, Jokowi mencari pembenaran dgn memprioritaskan di bidang SDM (Sumber Daya Manusia). Mulai meninggalkan promosi infrastruktur dan masuk promosi SDM.

Setelah empat tahun Jokowi urus infrastruktur, justru muncul dampak negatif, antara lain:

1. Data BPS 2016 menyebutkan, penyerapan tenaga kerja di sektor konstruksi justru turun 230 ribu orang. Karenanya, target mengurangi kemiskinan dan ketimpangan melalui pembangunan infrastruktur gagal.

2. Enam BUMN besar tercatat memiliki utang (liabilities) Rp 291,7 triliun pd kuartal I 2018 atau tumbuh 68% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 173,2 triliun. Keenam BUMN itu, yakni PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Hutama Karya (Persero), dan PT PP (Persero) Tbk.

3. Pelemahan rupiah juga didorong ambisi pemerintah dalam menggenjot pembangunan infrastruktur melampaui kemampuannya sendiri. Proyek infrastruktur mendongkrak kenaikan impor bahan baku dan barang modal belum bisa diproduksi di dalam negeri.

4. Pembangunan proyek strategis nasional (PSN) tidak berjalan mulus sepanjang 2018. Pada Januari-Oktober 2018 hanya ada 2 PSN baru rampung dikerjakan. Bila dihitung sejak 2016, total Rezim Jokowi baru menyelesaikan 32 PSN. Padahal, dalam Perpres No.56 tahun 2018 disebutkan, PSN 223 Proyek plus 3 program meliputi 12 Sektor Proyek dan 3 sektor Program.

*) Penulis adalah Ketua Tim Studi Network for South East Asian Studies (NSEAS)

SUMBER © NUSANEWS.ID

***

Subhanallah! Ma’ruf Amin Tega Bilang Hanya Orang Budeg dan Buta yang Tak Lihat Prestasi Jokowi, maka Telinganya Perlu Dibolongin

Posted on 10 November 2018 – by Nahimunkar.com

KH Ma’ruf Amin di acara Deklarasi Relawan BarNus/zul

***

Kata-kata kasar bukan dari akhlaq Muslim. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam justru menegaskan, Allah benci kata-kata kasar dan jorok. Beliau bersabda:

إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْفُحْشَ أَوْ يُبْغِضُ الْفَاحِشَ وَالْمُتَفَحِّشَ

 “Sesungguhnya Allah tidak menyukai perbuatan keji.” Atau, ” (Sesungguhnya Allah) membenci seorang yang berperangai buruk dan orang yang mengatai dengan kata-kata kotor / jorok.” (HR Ahmad, shahih lighairihi..).

***

“Orang-orang yang sehat dapat melihat jelas prestasi yang ditorehkan Pak Jokowi, kecuali orang budeg saja tidak mau mendengar. Kecuali orang-orang yang buta saja yang tidak bisa melihat realitas dan kenyataan,” ujar Ma’ruf Amin saat menghadiri deklarasi relawan Barisan Nusantara di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Sabtu (10/11).

“Karena itu harus dibukakan matanya, harus telinganya dibolongin supaya mendengar dan melihat,” imbuhnya. Demikian jawapos.com  10/11/2018, 21:30 WIB memberitakan.

Wakil Ketua Partai Gerindra Arief Pouyono menyayangkan pernyataan Cawapres 01, KH. Ma’ruf Amin yang menilai masyarakat yang tak tahu  dan mengakui prestasi Joko Widodo  selama menjadi Presiden RI, adalah orang yang buta, tuli dan bisu.

Menurut Arief, sebagai ulama panutan umat, Maruf Amin tidak pantas menyebut mayoritas orang Indonesia buta, tuli dan bisu hanya karena tak memuji Jokowi.

“Subhanallah! KH. Ma’ruf Amin kok tega  bilang masyarakat buta, tuli dan bisu hanya karena tidak tahu dan tak memuji Jokowi,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Sabtu (10/11).

Jangan jangan, lanjutnya, cuma Ma’ruf Amin yang tidak buta, tuli dan bisu, karena kelimpahan rejeki banyak selama Joko Widodo memimpin.

“Sedangkan mayoritas masyarakat buta dan tuli serta bisu karena udah pusing sama sembako yang mahal, listrik mahal dan susah cari kerjaan dan usaha,” ungkapnya.

Arief pun meminta agar Ma’ruf Amin menjelaskan berapa hutang negara yang sudah di cetak Jokowi dan bandingkan dengan pembangunan yang dilakukan pemerintah saat ini.

“Begini ya Mang Ma’ruf, dibangunyan jalan tol memang betul. Tapi mayoritas masyarakat tidak menikmati karena mereka tidak sanggup beli mobil. Terus dari setiap APBN selama Jokowi berkuasa janjinya ekonomi nasional bisa tumbuh 7%.  Loh kok ini cuma 5 persenan mang,” ujarnya.

Sementara itu, tambah Arief,  prestasi Jokowi itu cuma bisa ciptakan lapangan kerja di sektor informal yang tidak aman, seperti driver online yang menjamur setiap kota.

Sedangkan kuli-kuli bangunan karena pembiayaan infrastruktur dibiayai utang dari China, maka tenaga kerjanya  berasal dari China juga.

“Masyarakat budeg,tuli dan bisu karena sudah capek dengerin janji-janji Jokowi yang tak kunjung istiqomah, Akhir masyarakat lebih baik jadi tuli dan membisu seribu bahasa daripada kebohongan ditutup dengan  kebohongan oleh pasangan Mang Ma’ruf,” katanya.

Masyarakat itu, ulas Arief, tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Tidak semua yang  ketahui Dan dirasakan dan keluhan  harus diungkapkan. Tidak semua yang  dengar harus dibicarakan. Karena seringkali diam adalah pilihan terbaik yang membawa maslahat yang lebih besar.

“Terkadang kita perlu bersikap “pura-pura tidak tahu” atau “pura-pura tidak dengar”, apalagi demi menjaga persatuan dan kedamaian. Bila semua yang  diketahui selalu kita ungkapkan, maka seringkali ada hati yang tersakiti dan masalah semakin bermunculan,” tandasnya/ (jawapos/ moeslimchoice.com)

***

Kata-kata Kasar dan Jorok Bukan dari Akhlaq Muslim

Kata-kata kasar bukan dari akhlaq Muslim. Karena yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam justru menegaskan, Allah benci kata-kata kasar dan jorok. Beliau bersabda:

إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْفُحْشَ أَوْ يُبْغِضُ الْفَاحِشَ وَالْمُتَفَحِّشَ

 “Sesungguhnya Allah tidak menyukai perbuatan keji.” Atau, ” (Sesungguhnya Allah) membenci seorang yang berperangai buruk dan orang yang mengatai dengan kata-kata kotor / jorok.” (HR Ahmad, shahih lighairihi.. ).

«لَيْسَ المُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الفَاحِشِ وَلَا البَذِيءِ»

“Bukan orang mukmin yang sempurna, yang suka mencemarkan kehormatan, mengutuk, buruk akhlak dan yang berbicara kotor.” (HR. Tirmidzi dan beliau berkata, “hadits hasan gharib”, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani).

إِنَّ أَثْقَلَ مَا وُضِعَ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ خُلُقٌ حَسَنٌ، وَإِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ” (رقم طبعة با وزير: 5664) , (حب) 5693 [قال الألباني]: صحيح – “الصحيحة” (876).

“Sesungguhnya sesuatu yang paling berat yang diletakkan di ditimbangan seorang mukmin di hari kiamat adalah akhlaq mulia, dan sesungguhnya Allah membenci orang yang jelek akhlaqnya yang jelek perkataannya.”(diriwayatkan Ibnu Hibban , dishohihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah)

«الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ» متفق عليه

“Orang muslim yang sejati adalah orang, yang  mana orang-orang Islam lainnya selamat dari ucapan dan perbuatannya.” (riwayat Bukhari dan Muslim).

Akhlaq buruk sangat nista

Inilah peringatan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam .

عن عائشة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: يَا عَائِشَةَ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مَنْ  وَدَعَهُ-أَوْ تَرَكَهُ النَّاسُ- اتِّقَاءَ فُحْشِهِ

Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Wahai Aisyah, sesungguhnya sejelek-jelek kedudukan manusia di sisi Allah adalah orang yang ditinggalkan (atau dijauhi) oleh manusia karena takut akan kekejiannya”. [HR al-Bukhoriy: 6032, 6054, 6131, al-Adab al-Mufrad: 1311, Muslim: 2591, at-Turmudziy: 1996 dan Ahmad: VI/ 38. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad: 984, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1624, Shahih al-Jaami’ ash-Shaghir: 7925, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1049 dan Misykah al-Mashobih: 4829].

Maksudnya, jika ada seorang hamba dijauhi oleh orang lain lantaran takut dan khawatir akan perbuatan buruk dan jahatnya yang ditimpakan kepadanya berupa pukulan, pencurian, penipuan dan sejenisnya dari amalan tangan, atau ghibah, fitnah, namimah, cacian dan semacamnya dari amalan lisan, maka ia adalah orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah Azza wa Jalla pada hari kiamat kelak. Ia akan dijauhkan dari surga dan akan dijerumuskan ke dalam neraka dalam keadaan hina dina. Namun jika ia djauhi oleh orang lain lantaran sikapnya yang tepat dan tegas dalam mempertahankan dan memperjuangkan agama Allah maka hal itu tidaklah tercela dan bahkan kelak akan mendapat pujian dan sanjungan dari-Nya./ Abu Ubaidullah Alfaruq, Jun 5 2012 / /cintakajiansunnah, Yang Terbanyak Memasukkan Manusia ke dalam Neraka Adalah Farji dan Lisannya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَ إِنَّ اْلعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِاْلكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ تعالى لاَ يُلْقىِ َلهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فىِ جَهَنَّمَ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallambersabda, “Sesungguhnya seorang hamba mengatakan suatu kalimat yang mendatangkan murka Allah ta’ala yang ia tidak menaruh perhatian padanya namun mengakibatkannya dijerumuskan ke dalam neraka Jahannam”. [HR al-Bukhoriy: 6478, at-Turmudziy: 2314 dan Ibnu Majah: 3970. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan Ibni Majah, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1884, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 540, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1670 dan Misykah al-Mashobih: 4813].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Ucapan itu ada yang baik dan ada yang buruk. Yang mendatangkan keridloan Allah maka itulah yang baik, sedangkan yang mendatangkan kemurkaan-Nya maka dialah yang buruk”. [Bahjah an-Nazhirin: III/ 10].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ

“Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak menganggapnya berbahaya; dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal selama 70 tahun di dalam neraka”.[ HR at-Tirmidzi, no. 2314. Ibnu Majah, no. 3970. Ahmad, 2/355, 533. Ibnu Hibban, no. 5706. Syaikh al-Albâni menyatakan: “Hasan shahîh”].

Mari kita benahi diri dengan akhlaq yang mulia, singkirkan dan singkiri sumber-sumber penghancuran akhlaq, sehingga negeri ini semoga kembali bersuasana tenang damai, ramah sopan, saling hormat menghormati dan taat patuh agama hingga menjadi hamba-hamba yang diberkahi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.356 kali, 1 untuk hari ini)