“Kami memang belum pernah bertemu langsung dengan Pak Jokowi dan Pak JK, tapi Pak Jokowi sudah menemui teman-teman waria di Jakarta. Saat jadi Wali Kota Solo, saya dengar beliau juga sering mendatangi tempat kaum waria, gay dan lesbian,” kata Dede Utomo.

Dukungan dedengkot homosex beserta wadyabalanya itu erat kaitannya pula dengan penyuburan aliran sesat. Sebagaimana telah diberitakan, Demi bela aliran sesat Syiah dan Ahmadiyah, tokoh homosex sok tahu tentang agama, nahimunkar.com on 17 October 2012

Inilah berita tentang dukungankaum homosex, waria dan sebagainya terhadap Jkw-JK.

 

***

Kenapa Yah Pendukung Jokowi Kok Aneh-aneh? Ada Farhat Abbas, Ruhut Sitompul, Kaum Gay, Kaum Lesbi Dan Waria!

Puluhan kelompok minoritas Surabaya menyampaikan sikap politiknya pada Pilpres 9 Juli nanti untuk mendukung pasangan nomor urut 2, Jokowi-JK.

Mereka percaya, pasangan Jokowi-JK memiliki komitmen kuat memperjuangkan hak-hak azasi kaum minoritas.

Deklarasi dukungan kepada Jokowi-JK dilakukan di sela diskusi Aliansi Perempuan Surabaya untuk Revolusi Mental, Rabu (25/6/2014) sore.

Hadir dalam acara itu, Jurkamnas Jokowi-JK Eva Kusuma Sundari, Dewan Penasihat Gaya Nusantara Dede Utomo, dan mantan aktivis PRD Dhita Indah Sari.

“Kami memang belum pernah bertemu langsung dengan Pak Jokowi dan Pak JK, tapi Pak Jokowi sudah menemui teman-teman waria di Jakarta. Saat jadi Wali Kota Solo, saya dengar beliau juga sering mendatangi tempat kaum waria, gay dan lesbian,” kata Dede Utomo.

Dede berharap, jika Jokowi terpilih, hak kaum gay, lesbian dan waria serta minoritas bisa dijamin kesetaraannya dengan warga negara Indonesia lainnya, baik hak memperoleh pekerjaan dan hak-hak lainnya.

Pengajar Universita Airlangga Surabaya itu yakin, ada indikasi pengakuan dan penyetaraan bagi kaum minoritas.

“Pendukung pasangan calon lain, saya lihat banyak bergabung kelompok-kelompok anti-penyetaraan,” jelasnya.

Eva Kusuma Sundari mengatakan, pihaknya akan melakukan pendekatan-pendekatan kepada kelompok minoritas, korban diskriminasi kebijakan-kebijakan pemerintah.

Diskriminasi kelompok minoritas itu, seperti kelompok islam Syiah, Ahmadiyah, dan kelompok minoritas lain, termasuk komunitas waria dan gay.

***

Demi bela aliran sesat Syiah dan Ahmadiyah, tokoh homosex sok tahu tentang agama

 

Inilah beritanya:

Dede Utomo: Penistaan Agama Adalah Bagian Dari Hak

KEBERADAAN Syiah dan Ahmadiyah menjadi masalah berkepanjangan bagi umat Islam di Indonesia. Meski tokoh MUI sudah memfatwakan keduanya sesat, namun bagi Calon Komisioner Komnas HAM, Dede Utomo, kedua aliran ini patut diberikan haknya.

“Penistaan agama adalah hak yang diperlukan. Tidak masalah jika karena mengatakan ini saya tidak terpilih menjadi komnas HAM,” katanya dalam fit dalam fit and proper test di Komisi III DPR RI, Selasa (16/10/2012) malam.

Saat ditemui Islampos.com, Dede menjelaskan lebih jauh maksud dari perkataannya tersebut. Ia mengatakan penistaan agama perlu dilakukan sebagai kritik terhadap agama.

“Penistaan agama memang perlu, karena kalau tidak begitu, bagaimana kita dapat mengetahui agama,” ujarnya enteng.

Baginya, masalah Syiah dan Ahmadiyah adalah wilayah penafsiran. Dan para penggiat HAM  dilarang memasuki wilayah penafsiran karena hanya akan melahirkan perdebatan.

“Kita tidak masuk ke sana, kita bicara demokrasi dan hak asasi manusia,” paparnya.

Menanggapi pernyataan Dede, Ketua Umum MIUMI, Hamid Fahmi Zarkasy, menyatakan ucapan aktivis homoseksual itu ‘ngawur’.

“Tidak boleh semua orang menafsirkan agama sendiri-sendiri. Menafsirkan agama ada ilmunya, tidak sembarangan. Menistakan agama termasuk melanggar HAM. Di Amerika saja menistakan agama melanggar HAM,” katanya kepada Islampos.com, Rabu (17/10/2012).

HAM, lanjut Hamid, dilarang melampaui wewenang dan batas-batas di dalam agama.

“Karena kalau HAM mau menghukumi agama, bagaimana jika kemanusiaan juga dihukumi oleh agama?” tanya balik Hamid. (Pizaro/Islampos)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.976 kali, 1 untuk hari ini)