Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

Sejujurnya, saya seringkali merasa sedih dan ada perasaan yang tidak beraturan jika mengumumkan kajian-kajian kami, kemudian ada yang berkomentar semacam: ‘Betapa nikmatnya warga sana, dst…’ atau ‘Betapa nikmatnya anak ngaji Jakarta …’, disebabkan ada kajian-kajian kitab ini dan kitab itu.

Begini ya ikhwah, jangan dikira bahwa dirasat kami yang harian ini diikuti puluhan apalagi ratusan hamba Allah. Sama sekali tidak. Nyampai 10 saja kalau kajian rumahan, itu sudah bikin pagi kami lebih indah dari segala kicauan beburungan di area rumah. Sampai 40 saja untuk kajian Sabtu, itu sudah prestasi. 10 orang saja datang berkunjung untuk dirasat tafsir malam, sudah membuat tidur lebih bahagia. Karena membangun dirasat rutin secara independen, selain riskan, memang perlu pertolongan Allah benar-benar. Kalau bukan karena pertolongan-Nya, kami sudah bubaran sejak baheula. Tapi alhamdulillah.

Saya sangat bersyukur akan husnuzhan teman-teman bahwa kajian-kajian kami dihadiri banyak hamba Allah sampai meluber. Tapi kenyataannya tidak seperti yang dibaiksangkakan. Kami bukan siapa-siapa. Glamoritas promosi yang kami sodorkan di Facebook ini, bukan karena ingin atau menunjukkan bahwa hadirin kami banyak. Selain tidak ada niatan begitu, juga memang pada kenyataannya tidak begitu. Kalaupun yang datang satu orang pun, kami tetap jalan.

Karena kalau bukan kami yang promokan di sini, maka siapa lagi yang mau promokan? Sedangkan kami bukanlah siapa-siapa untuk memerintahkan hamba Allah dan memberatkan mereka dengan tugas yang belum tentu bermanfaat.

Saya selalu ingin, menunjukkan kepada siapapun yang pernah membantu kami dari segi pendanaan, fasilitas dan support maknawi sejak tahun 2013 dahulu, awal-awal merintis, bahwa kami masih exist dan selalu berusaha exist, bukan karena tujuan kami exist, tetapi agar mendapat existence di Surga Allah, amalan kita semua harus exist. Ada yang ditampilkan karena itu lebih bermaslahat. Ada yang disembunyikan karena itu lebih bermaslahat. Dan dengan exist-nya kami, setidaknya para muhsinin yang sebagiannya saya tidak tahu siapa, melihat dan berharap semoga apa yang mereka investasikan tidak sia-sia, dan apa yang mereka berikan kepada kami juga tidak ditelantarkan.

Selain itu, kita tahu bahwa kita tidak bisa menuntut orang sedangkan diri kita saja tidak mencontohkan. Kajian demi kajian kami, diharapkan untuk memicu adrenalin anak-anak muda, DKM-DKM masjid, para thullab dan siapapun yang Allah kehendaki, agar belajar lebih. Belajar lebih. Diharapkan kehadiran kami memberi inspirasi. Dan kami hadir pun, semua dengan izin Allah. Kami bukanlah siapa-siapa all along and after all.

Kalau dikatakan, betapa nikmatnya warga sekitar tempat kami belajar, maka kenyataannya: mayoritas tetangga justru enggan. Walau telah didekati baik-baik. Karena hidayah milik Allah. Kita hanya berusaha. Ketika orang-orang dekat membuang muka, hadirlah wajah-wajah dari kejauhan mendekat. Itu semua aturan dari Allah.

So, jika ada anggapan bahwa kami sebaik itu, kami tidak sebaik itu, ya ikhwah. Promo kajian-kajian kami tidak menunjukkan kekayaan kami. Kami hanya ingin memberi yang bisa diberi. Yang insya Allah kelak pun semoga anak kami juga mendengarkan, bahkan anak antum/antunna kelak bisa juga menyimak dirasat kami. Siapa tahu? Kami pun tak tahu. Hanya berusaha. Kuantitas bukan sasaran kami. Tapi diusahakan disiplin meskipun kuantitas minimal.

Zaadanallaahu ilma wa hirsha.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.914 kali, 1 untuk hari ini)