Bismillah..

Batu Akik

Ilustrasi, foto abeedee

Segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik. Begitu pula kecintaan terhadap akik. Apalagi jika mengatasnamakan sunnah, padahal tidak ada nash yang kuat mengenai masalah ini. Rasulullah shallaLlahu alaihi wa sallam memang memakai cincin. Fungsi utamanya sebagai stempel untuk kepentingan surat menyurat. Itu dilakukan oleh beliau setelah ada yang menyampaikan bahwa surat baru dianggap oleh para pemuka negeri-negeri jika ada stempelnya. Bahannya terbuat dari perak. Mata cincinnya pun terbuat dari perak. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang mengukirnya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan:

«كَانَ خَاتَمُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ وَرِقٍ، وَكَانَ فَصُّهُ حَبَشِيًّا»

“Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbuat dari perak, dan mata cincinnya berasal dari Habasyah (Ethiopia).” (HR. Muslim, Tirmidzi dan yang lainnya).

Hadis ini sering dijadikan sebagai hujjah “sunnah” memakai akik. Tetapi sesungguhnya tidak ada petunjuk yang sharih (gamblang, terang) tentang keutamaan memakai akik, tidak pula ada dorongan untuk memakai cincin (akik). Hadis ini hanya menunjukkan tentang cincin yang dipakai Rasulullah shallaLlahu alaihi wa sallam beserta bahannya. Sebagai penegas bahwa mata cincin Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bukan akik, dapat kita baca pada hadis lain yang juga dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

«كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ فِضَّةٍ، فَصُّهُ مِنْهُ»

”Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perak, dan mata cincin juga dari bahan perak.” (HR. Bukhari, Nasa’i dan yang lainnya).

Jadi, baik cincin maupun mata cincin terbuat dari perak.

Wallahu a’lam 
Sadar dan saling menyadari

Via Ummu Umar Al-faruq

(nahimunkar.com)

(Dibaca 911 kali, 1 untuk hari ini)