Pernyataan-pernyataan sengak dari Ulil Abshar Abdala dedengkot JIL (Jaringan Islam Liberal):

“Kalau memang benar Kaum Luth diazab, kenapa Allah tidak menurunkan azab yang sama di zaman sekarang?” celoteh Ulil di akun twitternya, tahun 2012.

twit ulil

Twitter Ulil Abshar Abdalla (IST)

“Apakah Quran dengan “sharih” (eksplisit) menjelaskan bahwa kaum sodom disiksa karena orientasi seksual mereka? Apa ada?” kicau Ulil di akun Twitter-nya @ulil, di tahun 2016.

 Mari kita simak kembali, untuk mengetahui betapa ingkarnya Ulil terhadap Al-Qur’an, dengan celotehnya:

“Kalau memang benar Kaum Luth diazab, kenapa Allah tidak menurunkan azab yang sama di zaman sekarang?” celoteh Ulil di akun twitternya, tahun 2012.

Paling kurang, ada dua masalah besar dalam celotehnya itu.

  1. Bermuatan mengingkari diazabnya kaum Luth yang dikenal perintis pertama kejahatan sex, hingga kaum Sodom itu dijadikan nama sex jahat, sodomi, homosex.
  2. Mempertanyakan kenapa Allah tidak menurunkan azab yang sama sekarang.

Keingkaran Ulil tentang diazabnya kaum Luth menunjukkan pengingkaran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an ini:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ (80) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (81)

وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ (82) فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ (83) وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ [الأعراف : 80- 84]

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan keji, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun sebelum kalian. “

“Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; malah kalian ini kaum yang melampaui batas.”

“Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.”

“Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (QS Al-A’raf: 80-84).

Setelah di tahun 2012 mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an itu, lalu di tahun 2016, Ulil memperbarui keingkarannya lagi:

“Apakah Quran dengan “sharih” (eksplisit) menjelaskan bahwa kaum sodom disiksa karena orientasi seksual mereka? Apa ada?” kicau Ulil di akun Twitter-nya @ulil, di tahun 2016.

Pertanyaan Ulil itu sejatinya hanya seperti kaum kafir dan munafik yang gagal faham.

{وَيَا قَوْمِ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِي أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَ قَوْمَ نُوحٍ أَوْ قَوْمَ هُودٍ أَوْ قَوْمَ صَالِحٍ وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيدٍ (89) وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ (90) قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفًا وَلَوْلَا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ } [هود: 89 – 91]

  1. Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu
  2. Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih
  3. Mereka berkata: “Hai Syu´aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami” [Hud,89-91]

{وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَفْقَهُونَ} [المنافقون: 7]

… Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami. [Al Munafiqun7].

Ulil juga gagal faham, ketika ayat-ayat Al-Qur’an menyebut perbuatan kaum Luth itu fahisyah/ keji. Dan mereka diadzab itu dengan disebut mujrimun, orang-orang berdosa. (lihat QS Hud: 89-91 tersebut di atas). Sedangkan Allah tidak akan membinasakan suatu negeri yang penduduknya muslihun, berbuat baik.


{وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ} [هود: 117]

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan [Hud: 117]

Dari ayat-ayat itu ya sudah jelas, bahwa diazabnya kaum Nabi Luth itu karena perbuatnnya yang keji, yaitu melakukan homosex, hingga dijuluki mujrimun, orang-orang yang berdosa. kalau mereka itu orang-orang shalih ya tidak diazab. (lihat Menyanggah Pertanyaan Ulil soal Kaum Sodom, Posted on Feb 2nd, 2016, by nahimunkar.com ).

Masih tersisa, Ulil mempertanyakan kenapa Allah tidak menurunkan azab yang sama sekarang. Padahal, pantaskah Allah itu dipertanyakan apa yang Dia perbuat?

{لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ} [الأنبياء: 23]

Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai [Al Anbiya”23]

Gaya pertanyaan dan ditujukan kepada perbuatan Allah Ta’ala itu tampaknya mirip dengan perkataan orang kafir dalam ayat-ayat ini:

{وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنُطْعِمُ مَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (47) وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (48) مَا يَنْظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ (49) فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَا إِلَى أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ } [يس: 47 – 50]

(47)Dan apabila dikatakakan kepada mereka: “Nafkahkanlah sebahagian dari rezki yang diberikan Allah kepadamu”, maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman: “Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata, (48)Dan mereka berkata: “Bilakah (terjadinya) janji ini (hari berbangkit) jika kamu adalah orang-orang yang benar?” (49)Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar, (50)lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiatpun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya [Ya Sin,47-50].

Bandingkan:

Perkataan orang kafir: “Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan.”

Perkataan Ulil: “Kalau memang benar Kaum Luth diazab, kenapa Allah tidak menurunkan azab yang sama di zaman sekarang?”

Pertanyaan Ulil itu menambah terperosoknya dia ke jurang gagal faham yang lebih dalam, yaitu tidak mau faham bahwa ada istidraj (diulur, diambulin, dilulu-Bahasa Jawa– tidak langsung diazab tetapi justru diberi keni’matan sementara) bagi orang-orang berdosa.

{وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ} [آل عمران: 178]

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan [Al ‘Imran178]

Oleh karena itu, sangat penting untuk dicamkan hadits berikut ini:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: سُئِلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟ قَالَ: «مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ» ، قِيلَ: فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ؟ قَالَ: «مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ» .

Riwayat dari Ali bin Zaid dari Abdir Rahman bin Abi Bakrah dari bapaknya yang berkata: Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam ditanya, manusia yang manakah yang paling baik? Beliau berkata: “Orang yang panjang umurnya dan baik perbuatannya”. Ditanya: Lalu manusia yang mana yang paling buruk? Beliau menjawab: “Orang yang panjang umurnya dan buruk perbuatannya”. (HR Tirmidzi, hadits hasan).

Homosex dan semacamnya itu jelas perbuatan fahisyah/ keji menurut Al-Qur’an, dan pelakunya adalah mujrimun, orang-orang pendosa. Begitu juga para pembelanya, hanyalah orang-orang pendosa lagi berpikiran keji serta tidak mau faham. Itulah seburuk-buruk manusia, bila panjang umurnya dan buruk kelakuannya, sebagaimana ditegaskan dalam hadits tersebut.

Jakarta, 24 Rabi’uts Tsani 1437H/ 3 Januari 2016.

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 38.801 kali, 1 untuk hari ini)